Claire baru saja menyalakan komputernya ketika dua orang berseragam berdiri di depan mejanya.
“Claire Wong?”
“Ya.”
“Ikut kami ke bagian keamanan Paya Lebar. Sekarang.”
Seisi ruangan mendadak sunyi. Rekan-rekannya berhenti mengetik. Seseorang di meja sebelah pura-pura sibuk dengan berkas.
Claire berdiri perlahan.
Ia sudah menunggu saat ini selama tiga hari. Setiap pagi ia masuk kantor dengan perasaan seperti berjalan di atas es tipis. Namun ketika saat itu benar-benar datang, lututnya tetap terasa lemas.
Ia mengambil tas tangannya.
“Tasnya ditinggal,” kata salah satu petugas.
Claire meletakkannya kembali.
Mobil dinas membawanya ke Pangkalan Udara Paya Lebar. Ruang pemeriksaan bagian keamanan berada di lantai dasar sebuah gedung di dekat gerbang utama. Tanpa jendela. Hanya ada meja abu-abu, tiga kursi, dan jam dinding yang berdetak terlalu keras.
Dua perwira duduk di seberangnya. Yang satu berusia empat puluhan, berkumis tipis. Yang lain lebih muda, memegang tablet.
“Empat malam lalu, pukul sebelas lewat delapan belas, seseorang membuka ruang arsip lama di gedung administrasi Paya Lebar,” kata perwira berkumis. “Kode yang dipakai terdaftar di bagian administrasi investigasi. Bagian tempat Anda bertugas dua minggu setelah kecelakaan Captain Ethan Lim.”
Claire mengangguk.
“Saya pernah bertugas di sana, Sir.”
“Anda tahu kode itu?”
“Semua orang di bagian itu tahu. Kode itu tertulis di map biru di laci meja depan. Kami memakainya kalau harus mencari nomor berkas lama.”
“Siapa saja yang bisa membuka laci itu?”
“Siapa saja yang masuk ke ruangan itu, Sir. Lacinya tidak pernah dikunci.”
Perwira muda mencatat sesuatu di tabletnya.
“Di mana Anda empat malam lalu, pukul sebelas?”
“Di rumah ibu saya. Adik saya ulang tahun. Kami makan kue sampai tengah malam.”
Itu benar.
Emily berumur dua puluh tahun malam itu. Claire masih ingat lilin yang menolak padam dan Emily yang tertawa sampai menangis.
Ia juga ingat bahwa sejak sore ia sudah tahu Ethan dan Ryan akan masuk ke arsip.
“Ada yang bisa membenarkan?”
“Ibu saya, adik saya, dan dua tetangga yang ikut makan kue.”
Perwira berkumis memandanginya lama.
“Anda dekat dengan Captain Ethan Lim.”
“Kami satu angkatan di akademi.”
“Hanya itu?”
Claire menatapnya lurus.
“Kami bersahabat sepuluh tahun. Semua orang di skuadron tahu.”
“Captain Lim berada di pangkalan malam itu.”
“Dia memang sering berlatih di simulator malam hari, Sir. Itu juga semua orang tahu.”
Pertanyaan-pertanyaan itu terus datang.
Tentang kapan terakhir ia membuka arsip.
Tentang berkas investigasi kecelakaan.
Tentang apakah ia pernah membuat salinan dokumen apa pun.
Claire menjawab semuanya dengan suara rendah dan datar. Ia tidak menambah apa-apa. Ia tidak menjelaskan lebih dari yang ditanyakan.
Satu jam berlalu.
Dua jam.
Jam dinding di atas pintu terus berdetak. Tenggorokan Claire kering, tetapi tidak ada yang menawarinya air.
Pada jam ketiga, pintu terbuka. Seorang pria lain masuk dan membisikkan sesuatu kepada perwira berkumis.
Claire tidak mendengar kata-katanya. Tapi ia melihat satu hal.
Saat pria itu berbalik, di saku kemejanya terselip sebuah kartu nama dengan kop kantor pusat pertahanan.
Kantor Koh.
Perwira berkumis kembali duduk.
“Miss Wong, apakah Anda pernah diperintahkan menghancurkan dokumen terkait kecelakaan Captain Lim?”
Jantung Claire seperti berhenti.
Pertanyaan itu hanya bisa datang dari satu orang.
Ia tahu kalau ia berkata ya, ia harus menyebut nama. Dan kalau ia menyebut nama Koh di ruangan ini, di depan orang yang membawa kartu dari kantor Koh, ia tidak akan keluar dari gedung ini dengan aman.
“Saya diperintahkan mengarsipkan dokumen sesuai aturan,” katanya. “Dan saya melakukannya.”
“Itu bukan jawaban atas pertanyaan saya.”
“Itu satu-satunya jawaban yang saya punya, Sir.”
Perwira itu mencondongkan tubuh.
Tepat saat itu, telepon di dinding berdering.
Perwira muda mengangkatnya.
“Bagian keamanan.”
Ia mendengarkan, lalu wajahnya berubah. Ia berdiri lebih tegak meskipun lawan bicaranya tidak bisa melihat.
“Ya, Sir. Ya. Baik, Sir.”
Ia menyerahkan gagang telepon kepada perwira berkumis.
Perwira berkumis mendengarkan lebih lama. Rahangnya mengencang beberapa kali.
“Ya, Brigadier Jenderal. Saya mengerti.”
Ia menutup telepon.
Lalu memandangi Claire seolah perempuan itu baru saja berubah menjadi teka-teki yang lebih sulit.
“Anda boleh pergi, Miss Wong. Untuk saat ini.”
Claire keluar dari gedung itu pukul dua belas lewat empat puluh.
Matahari siang menyilaukan matanya.
Ia berjalan menuju gerbang dengan langkah yang terlalu cepat. Baru setelah sampai di halte di luar pagar, ia sadar kedua tangannya gemetar hebat sampai ponselnya hampir jatuh saat ia mencoba memesan taksi.
“Claire.”
Ia berbalik.
Ethan berdiri di bawah pohon di samping halte, masih mengenakan seragam dinasnya. Wajahnya pucat.
“Ryan bilang kamu dipanggil,” katanya. “Aku menunggu di sini sejak pagi.”
“Kamu gila. Kalau mereka melihatmu…”
“Biar saja.”
Claire menjatuhkan diri ke bangku halte.
“Siapa yang menelepon?” tanyanya. “Seseorang memanggilnya Brigadier Jenderal.”
“Samuel Ong. Teman ayahku. Mantan penasihat hukum militer. Kepala bagian keamanan di sini dulu muridnya.”
Claire tertawa kecil. Tawa yang hampir pecah menjadi tangis.
“Tiga jam,” katanya. “Mereka menanyaiku tiga jam. Dan yang terakhir datang dari kantor Koh. Aku melihat kartunya.”
Ethan mengepalkan tangan.
“Kamu tidak menyebut namanya.”
“Kalau aku menyebut namanya di sana, aku tidak akan pulang.”
Mereka terdiam.
Sebuah pesawat angkut melintas rendah di atas pangkalan. Suaranya menenggelamkan semuanya untuk beberapa detik.
“Claire,” kata Ethan setelah suara itu menjauh. “Ambil cuti. Bawa ibumu dan Emily ke luar kota. Samuel bisa membantu mencarikan tempat.”
Claire menggeleng.
“Tidak.”
“Dia sudah mulai bergerak.”
“Justru itu.” Claire menatapnya. “Kalau aku menghilang sekarang, dia tahu aku bersalah. Dan kalau aku tidak lagi duduk di kantornya, tidak ada lagi yang bisa mendengar kapan dia menelepon siapa, siapa yang datang ke ruangannya, dokumen apa yang dia minta.”
“Itu terlalu berbahaya.”
“Ethan, aku sudah sepuluh tahun duduk di dekatmu tanpa pernah berguna untuk hal yang penting.”
Suaranya bergetar, tetapi matanya kering.
“Biarkan aku berguna sekarang.”
Ethan memandanginya lama.
Perempuan yang dulu mengirim pesan anonim kepada Jessica. Perempuan yang menangis di bangku taman. Perempuan yang baru saja duduk tiga jam di ruangan tanpa jendela dan tidak menyebut satu nama pun.
“Kalau ada apa-apa, telepon Ryan,” katanya akhirnya. “Atau Samuel. Siang atau malam.”
“Aku tahu.”
Sebuah taksi berhenti di depan halte. Claire berdiri, membuka pintunya, lalu berhenti.
“Bagaimana Jessica?”
Pertanyaan itu membuat Ethan sedikit terkejut.
“Dia baik. Dia tinggal di rumah orang tuaku sekarang.”
Claire mengangguk.
“Bagus. Jaga dia baik-baik.”
Ia masuk ke taksi dan pergi tanpa menoleh.
Ethan berdiri di halte sampai taksi itu hilang di tikungan.
Di saku seragamnya, ponselnya bergetar.
Pesan dari nomor yang tidak dikenal.
“Tinggal dua hari, Captain.”