Geylang pada malam hari tidak pernah benar-benar tidur.
Lampu-lampu kedai makan menyala sampai larut. Bau sate dan durian bercampur dengan asap knalpot. Sepeda motor berlalu-lalang di antara lorong-lorong bernomor.
Ryan memarkir mobil di seberang rumah susun tua di dekat Lorong 23.
Gedungnya sembilan lantai, catnya hijau pudar, dengan jemuran bergelantungan di hampir setiap balkon.
“Lantai enam,” kata Ryan sambil menunjuk. “Unit paling ujung.”
Jendela unit itu gelap.
Mereka menunggu dua puluh menit.
Tidak ada cahaya. Tidak ada gerakan.
“Mungkin dia memang sudah pindah,” kata Ryan.
“Atau dia sedang keluar.”
Ethan membuka pintu mobil.
“Samuel bilang melihat,” Ryan mengingatkan.
“Kita hanya melihat dari dekat.”
Lift rumah susun itu rusak. Mereka naik lewat tangga yang berbau cat lama dan minyak goreng.
Di lantai enam, lorongnya panjang dan remang. Di depan salah satu unit, seorang perempuan tua sedang menyiram tanaman dalam kaleng bekas biskuit.
Ia memandangi mereka dengan curiga.
“Cari siapa?”
“Teman lama, Auntie,” kata Ryan dengan senyum paling ramah yang ia punya. “Unit ujung.”
Perempuan tua itu mendengus.
“Dia baru pergi. Sejam lalu. Bawa tas besar, buru-buru seperti dikejar setan. Pintunya bahkan tidak dikunci benar.”
Ia kembali menyiram tanamannya.
“Anak muda zaman sekarang.”
Ethan dan Ryan berjalan ke ujung lorong.
Pintu unit itu tertutup, tetapi kuncinya tampak murahan dan kusennya sudah lapuk dimakan rayap. Ryan memutar gagangnya pelan.
Terkunci.
“Kita pulang saja,” bisik Ryan. “Kita sudah melihat. Dia tidak ada.”
Ethan memandangi pintu itu.
Di balik pintu ini mungkin ada satu-satunya petunjuk ke orang yang memasang benda hitam di pesawatnya. Kalau Darren sudah kabur, besok tempat ini bisa saja sudah dikosongkan orang lain.
“Kalau dia sudah pergi, kita tidak akan pernah tahu ke mana.”
Ryan menatapnya, lalu menghela napas dan mundur selangkah.
Ethan menempelkan bahu kanannya ke pintu, lalu mendorong dengan seluruh berat badannya.
Kusen yang lapuk itu retak dengan bunyi derak keras.
Pintu terbuka.
Unit itu kecil. Satu ruangan dengan dapur di sudut dan kamar mandi di belakang pintu kayu.
Dan semuanya berantakan.
Laci-laci terbuka. Pakaian berserakan di lantai. Sebuah kasur tipis dibalik setengah, seolah seseorang mencari sesuatu di bawahnya dengan tergesa-gesa.
Di meja dapur, sebuah asbak penuh puntung. Ryan menyentuh salah satunya.
“Masih hangat.”
Ethan berjalan ke tengah ruangan.
Di dinding, di samping kalender bergambar pemandangan Batam, tergantung foto kecil dalam bingkai plastik. Sekelompok pria berseragam berdiri di depan sebuah hanggar.
Di dada mereka, pin elang perak.
Darren Soh berdiri di ujung barisan. Paling muda. Paling kurus. Tersenyum ke arah kamera seolah dunia masih miliknya.
Di tengah barisan berdiri Kolonel Adrian Koh, lebih muda, dengan tangan di belakang punggung.
Ethan memotret foto itu.
“Ethan.”
Ryan berdiri di dekat kasur yang dibalik. Di tangannya ada sebuah amplop cokelat yang tadinya terselip di antara rangka kasur dan dinding.
Ia membukanya.
Sebuah paspor.
Ryan membuka halaman pertamanya. Foto di dalamnya adalah wajah tirus yang sama dengan pas foto di arsip. Rambutnya sekarang lebih panjang, ada kumis tipis.
Tetapi namanya bukan Darren Soh.
Daniel Seah.
“Paspor palsu,” bisik Ryan.
Di bawah paspor itu, terselip selembar tiket kertas.
Feri dari Terminal Feri Tanah Merah ke Batam. Sekali jalan. Tanggalnya tujuh hari dari malam ini.
“Dia mau kabur,” kata Ethan.
“Seminggu lagi.”
“Kenapa tidak sekarang?”
Ryan menatap tiket itu.
“Mungkin dia masih menunggu bayaran terakhir.”
Ethan mengeluarkan ponsel dan memotret paspor itu. Setiap halaman. Lalu tiketnya, depan dan belakang.
“Kita bawa?” tanya Ryan.
Ethan ragu sebentar.
“Tidak. Kalau barangnya hilang, dia tahu ada yang menemukannya. Dia akan memakai jalan lain, dan kita kehilangan jejaknya. Kalau barangnya tetap di sini, dia akan memakai nama ini.”
Ryan memasukkan paspor dan tiket kembali ke amplop, lalu menyelipkannya di tempat semula.
Saat itulah mereka mendengar langkah kaki di tangga.
Berat. Cepat.
Naik.
Ryan langsung mematikan senter ponselnya.
Ethan menarik Ryan keluar dari unit itu, menutup pintunya sebisanya, lalu bergegas ke ujung lorong yang lain, ke tangga darurat sisi belakang.
Mereka berhenti di bordes antara lantai enam dan tujuh, merapat ke dinding.
Dari celah pagar besi, mereka bisa melihat sebagian lorong lantai enam.
Seorang pria muncul dari tangga utama. Bertopi, berjaket hitam, kepalanya menunduk.
Ia berjalan cepat melewati perempuan tua yang menyiram tanaman tanpa menyapa.
Berhenti di depan unit ujung.
Melihat kusen pintunya yang retak.
Pria itu membeku.
Untuk beberapa detik ia hanya berdiri di sana, menatap pintu. Lalu ia menoleh ke kanan dan kiri lorong.
Ethan menahan napas. Ryan di sampingnya tidak bergerak sama sekali.
Pria itu masuk ke unit. Kurang dari setengah menit kemudian ia keluar lagi, memeluk sesuatu di dada.
Amplop cokelat.
Ia berlari menuruni tangga utama.
Ethan baru berani bergerak setelah langkah itu tidak terdengar lagi. Ia setengah berlari ke pagar tangga dan memandang ke bawah, ke halaman rumah susun.
Sebuah sepeda motor menyala, lalu melesat ke arah jalan besar.
“Dia mengambil paspornya,” kata Ryan dengan napas terengah.
“Bagus.”
Ryan memandangnya tidak percaya.
“Bagus?”
“Sekarang dia tahu seseorang masuk ke tempatnya. Dia akan panik. Dan orang yang panik akan memakai satu-satunya jalan keluar yang sudah dia siapkan.”
Ethan mengangkat ponselnya. Foto paspor Daniel Seah masih terpampang di layar.
“Dan kita tahu nama jalan keluar itu.”
Di mobil, Ethan menelepon Samuel.
Ia menceritakan semuanya. Pintu yang didobrak. Paspor. Tiket. Pria bertopi.
Samuel mendengarkan sampai selesai.
Lalu ia diam begitu lama sampai Ethan mengira sambungan terputus.
“Aku bilang melihat,” kata Samuel akhirnya.
“Aku tahu.”
“Kamu mendobrak pintu rumah orang.”
“Aku tahu.”
Samuel menghela napas panjang. Napas seorang pria tua yang terlalu sering dibuat cemas oleh orang-orang yang lebih muda.
“Kirimkan foto paspornya. Semua halaman.”
Ethan mengirimnya.
Beberapa detik kemudian Samuel bicara lagi. Nada suaranya sudah berubah. Lebih pelan. Lebih tajam.
“Daniel Seah. Aku punya kenalan di bagian imigrasi pelabuhan. Kalau nama ini muncul di Tanah Merah, besok, lusa, atau seminggu lagi, aku akan tahu dalam lima menit.”
Ethan memejamkan mata.
“Terima kasih, Uncle.”
“Jangan berterima kasih dulu,” kata Samuel. “Pulang. Dan jangan pernah mendobrak pintu lagi tanpa aku.”
Ryan, yang mendengar dari kursi pengemudi, menahan tawa.
Ethan menutup telepon.
Di luar jendela mobil, Geylang masih ramai. Lampu-lampu masih menyala. Seseorang tertawa keras di kedai di seberang jalan.
Dan di suatu tempat di kota itu, Darren Soh sedang memacu sepeda motornya dengan sebuah paspor palsu di dada.
Untuk pertama kalinya, Ethan merasa bukan dirinya yang sedang diburu.