Paket itu datang pukul sepuluh pagi.
Seorang kurir bersepeda motor berhenti di depan pagar, menekan bel, lalu menyerahkan kotak kecil berbungkus kertas cokelat kepada Mei Lin. Ia sudah pergi sebelum Mei Lin sempat membaca tulisan di labelnya.
Miss Jessica Aurellia Pratama.
Alamat rumah keluarga Lim.
Tidak ada nama pengirim.
Mei Lin berdiri di depan pagar dengan kotak itu di tangan, lama sekali, sampai Wei Khang keluar dan bertanya ada apa.
Mereka berdiri mengelilingi meja makan.
Kotak itu tergeletak di tengah, belum dibuka.
“Jangan dibuka,” kata Ryan, yang datang setengah jam setelah Ethan meneleponnya. “Kita panggil orang Samuel.”
“Itu namaku di labelnya,” kata Jessica pelan.
“Justru itu.”
Jessica memandangi tulisan tangan di label itu. Huruf kapital yang rapi, ditulis dengan spidol hitam. Siapa pun yang menulisnya tahu ejaan nama lengkapnya. Tahu bahwa ia tidak lagi tinggal di apartemen sewa.
Tahu bahwa ia ada di rumah ini.
Satu jam kemudian, seorang pria pendiam berkemeja polos datang atas suruhan Samuel. Ia memeriksa kotak itu dengan alat kecil, mengangkatnya, menimbangnya, lalu membukanya dengan hati-hati di teras.
Isinya hanya satu amplop.
Dan di dalam amplop itu, satu lembar foto.
Pria itu menyerahkannya kepada Jessica tanpa berkata apa-apa.
Jessica menatap foto itu.
Lalu tangannya mulai gemetar.
Itu dirinya.
Sore itu, di depan kafe dekat pangkalan. Ia sedang menarik tubuh seorang anak kecil dari jalan, tepat sebelum sebuah mobil melintas. Wajahnya tampak dari samping, rambutnya berkibar, dan di atas kepalanya terlihat ujung balon merah yang terlepas ke langit.
Ia ingat hari itu. Ia ingat anak itu. Ia ingat ibunda anak itu yang berulang kali mengucapkan terima kasih.
Ia tidak tahu ada orang lain yang mengingatnya juga.
Di atas wajahnya, seseorang menggoreskan tanda silang besar dengan spidol merah.
Mei Lin menutup mulut dengan kedua tangan.
Ethan merebut foto itu dari tangan Jessica, memandangnya, lalu membaliknya.
Di belakangnya tidak ada tulisan apa pun.
Tidak perlu.
“Ini hari yang sama,” bisik Jessica. “Hari aku menunggumu di kafe. Sebelum kamu mengantarku pulang dan bilang aku jangan pergi sendirian.”
Ethan menatapnya.
“Mereka sudah mengawasimu sejak hari itu.”
“Dan aku tidak tahu.”
Jessica memeluk dirinya sendiri. Tiba-tiba ruang makan yang hangat itu terasa dingin.
“Kamu pindah ke hotel,” kata Ethan.
Jessica mengangkat kepala.
“Apa?”
“Hari ini. Hotel di pusat kota. Penjaga di lobi, kamera di setiap lorong. Samuel bisa mengatur pengawalan.”
“Ethan…”
“Mereka tahu kamu di sini. Mereka tahu alamat rumah ini.”
“Kalau begitu mereka juga akan tahu alamat hotelnya.”
“Setidaknya di sana…”
“Di sana aku sendirian.”
Suara Jessica lebih keras dari yang ia maksudkan. Ryan menunduk. Wei Khang menarik lengan Mei Lin dan membawanya ke dapur tanpa berkata apa-apa.
Jessica menarik napas.
“Di sini ada Auntie. Ada Uncle. Ada kamu di kamar sebelah. Kalau aku di hotel, aku duduk di kamar yang tidak kukenal, menunggu setiap ketukan di pintu dan bertanya-tanya apakah itu petugas kamar atau orang yang memotretku.”
“Aku hanya ingin kamu tidak terluka.”
“Dan aku tidak ingin dikirim pergi setiap kali kamu takut.”
Kata-kata itu jatuh di antara mereka seperti piring yang pecah.
Ethan memandangnya dengan wajah yang belum pernah Jessica lihat. Bukan marah. Lebih buruk dari marah.
Terluka.
“Begitu menurutmu?”
Jessica tidak menjawab. Ia mengambil foto itu dari meja, lalu berjalan naik ke kamar tamu dan menutup pintu.
Siang itu berlalu dengan sunyi yang menyakitkan.
Jessica duduk di depan laptop di kamar, menatap rancangan yang tidak bergerak sama sekali. Foto bertanda silang merah tergeletak terbalik di meja.
Ponselnya berbunyi.
Ibu.
Jessica memandangi nama itu lama sebelum mengangkat.
“Halo, Bu.”
“Kamu sudah makan?”
Jessica hampir tertawa. Ibunya dan Ethan selalu menanyakan hal yang sama.
“Belum, Bu.”
“Suaramu aneh. Kamu sakit?”
“Tidak, Bu. Hanya capek.”
Ibunya diam sebentar.
“Jessica. Ibu ini ibumu. Ibu tahu kalau kamu bohong.”
Jessica memejamkan mata.
Ia tidak menceritakan foto itu. Tidak menceritakan Koh, atau gudang arsip, atau benda hitam di pesawat. Ia hanya berkata bahwa ia bertengkar dengan Ethan.
“Soal apa?”
“Dia terlalu khawatir.”
“Laki-laki yang terlalu khawatir biasanya laki-laki yang terlalu sayang,” kata ibunya. “Ayahmu dulu juga begitu. Kalau kamu demam sedikit saja, dia bisa tidak tidur semalaman.”
Jessica tersenyum dengan mata basah.
“Ibu selalu membela Ayah.”
“Karena Ayahmu selalu benar soal satu hal. Dia tidak pernah membiarkan pertengkaran menginap sampai pagi.”
Malam itu Jessica menemukan Ethan di anak tangga teras.
Ia duduk sendirian dengan siku bertumpu di lutut, memandangi pagar yang kini dijaga dua pria berkemeja polos dari tim Samuel.
Jessica duduk di sampingnya. Tidak terlalu dekat.
Untuk beberapa saat tidak ada yang bicara.
“Aku minta maaf,” kata mereka berdua bersamaan.
Mereka saling menoleh.
Jessica tertawa kecil. Ethan tidak tertawa, tapi sudut bibirnya bergerak.
“Kamu dulu,” kata Jessica.
Ethan memandangi tangannya sendiri.
“Waktu aku di pulau itu, tiga belas hari, aku tidak takut mati. Sungguh. Aku hanya takut tidak bisa pulang kepadamu.”
Jessica diam.
“Tadi pagi, waktu melihat tanda silang di wajahmu, aku merasakan ketakutan yang sama. Bahkan lebih buruk.” Suaranya serak. “Aku ingin menaruhmu di tempat yang tidak bisa dijangkau siapa pun. Aku lupa bertanya apa yang kamu mau.”
“Ethan…”
“Aku takut, Jessica. Itu saja. Aku takut sekali.”
Jessica bergeser mendekat dan menyandarkan kepalanya di bahu Ethan.
“Aku juga takut,” bisiknya. “Tapi rasa takutku hilang sedikit kalau kamu ada di dekatku. Bukan di hotel. Di sini.”
Ethan memejamkan mata.
“Kalau begitu, tetaplah di sini.”
“Aku akan tetap di sini.”
“Tapi satu hal saja.”
Jessica mengangkat kepala.
“Jangan keluar rumah sendirian. Ke mana pun. Ajak ibuku, atau aku, atau orang Samuel. Hanya itu yang kuminta.”
Jessica memandang wajahnya. Wajah lelah seorang pria yang sudah berhari-hari tidak tidur nyenyak.
“Baik,” katanya. “Aku janji.”
Ethan menghela napas panjang, seperti orang yang baru saja mendarat setelah penerbangan yang berat.
Jessica meraih tangannya dan menggenggamnya di pangkuan.
Di atas mereka, langit malam bersih. Bulan separuh menggantung di antara awan tipis.
“Ibuku bilang Ayah tidak pernah membiarkan pertengkaran menginap sampai pagi,” kata Jessica.
“Ayahmu pria yang bijak.”
“Kamu pasti menyukainya, kalau saja sempat bertemu.”
Ethan menoleh kepadanya.
“Aku akan menyukai apa pun yang membuatmu menjadi dirimu.”
Jessica menyembunyikan wajahnya di bahu Ethan, tersenyum di balik kain kemejanya.
Di belakang mereka, di ruang tengah, Mei Lin mematikan lampu. Ia sengaja membiarkan pintu teras sedikit terbuka.