Dua hari kemudian, Samuel Ong meletakkan selembar foto di meja ruang bacanya. Ethan, Ryan, dan Wei Khang duduk mengelilingi meja itu.
Foto upacara militer. Barisan perwira berseragam lengkap berdiri di bawah tenda putih. Di tengahnya, Kolonel Adrian Koh menyematkan medali di dada seorang pria berkacamata tebal.
“Marcus Teo,” kata Samuel. “Ajudan pribadi Koh selama enam tahun. Keluar dari dinas empat tahun lalu, setahun setelah unit elang perak dibubarkan.”
Ia meletakkan selembar kertas lain di samping foto itu. Salinan akta pendirian perusahaan.
“Tiga bulan setelah keluar, dia mendirikan perusahaan. Namanya Aero-Sentra Services.”
Ethan memandangi dua lembar kertas itu.
Ryan bersiul pelan.
“Jadi perusahaan yang mengirim teknisi palsu ke hanggarku milik ajudan Koh sendiri.”
“Di atas kertas, milik Marcus Teo,” koreksi Samuel. “Pengacara mana pun akan bilang seorang mantan ajudan berhak berbisnis. Dan Koh akan bilang dia tidak tahu apa-apa soal pegawai perusahaan itu.”
Jessica, yang duduk di sofa di sudut ruangan, mengangkat kepala.
“Semua yang kita temukan selalu berakhir dengan kalimat itu. Belum cukup.”
Samuel menoleh kepadanya dan tersenyum tipis.
“Kamu cepat belajar, Miss Jessica.”
“Aku desainer. Kalau klien terus bilang belum cukup, artinya aku belum menunjukkan hal yang dia cari.”
“Lalu apa yang dewan cari?” tanya Ethan.
Samuel melepas kacamatanya.
“Suara Koh sendiri. Pengakuannya. Atau rekaman dia memerintahkan sesuatu. Selama dia tidak pernah bicara langsung, dia bisa menyalahkan siapa saja di bawahnya.”
Ruangan itu sunyi.
Lalu suara lain terdengar dari dekat jendela.
“Aku bisa membuatnya bicara.”
Semua orang menoleh.
Claire berdiri di sana, dengan blazer abu-abu dan tas tangan yang dipeluk di depan dada. Ia datang lima belas menit sebelumnya, diantar Ryan, dan sejak itu belum mengucapkan sepatah kata pun.
Jessica melihatnya dan merasakan dadanya mengencang. Ini pertama kalinya mereka berada di ruangan yang sama sejak ruang rapat kecil di pangkalan, saat Claire meletakkan amplop cokelat di atas meja. Sejak pesan-pesan dari nomor tidak dikenal itu, mereka belum pernah benar-benar bicara.
Claire tidak memandang Jessica. Matanya tertuju pada Samuel.
“Koh percaya aku sudah menghancurkan semua salinan. Dia bertanya dua kali, dan dua kali aku bilang sudah.” Ia menarik napas. “Bagaimana kalau aku menemuinya dan mengaku aku berbohong? Bahwa aku masih menyimpan satu salinan, dan aku takut. Aku ingin menyerahkannya, asal dia berhenti mengganggu keluargaku.”
Samuel memandanginya lama.
“Lalu dia akan bicara.”
“Dia akan ingin memastikan salinan itu satu-satunya. Dia akan bertanya siapa saja yang sudah melihatnya. Dan kalau dia marah, dia akan mengancam.” Claire menelan ludah. “Dia selalu mengancam dengan kalimat yang sangat jelas.”
“Kamu akan memberinya flash drive yang asli?” tanya Ryan.
“Tidak,” jawab Ethan lebih dulu. “Yang asli tetap padaku.”
Ia menyentuh saku dalam jaketnya. Sejak Ryan selesai membuka isinya, flash drive itu tidak pernah lepas dari tubuhnya.
“Kita buat tiruannya,” kata Samuel perlahan, seolah sedang menyusun potongan-potongan teka-teki di kepalanya. “Flash drive dengan merek dan warna yang sama. Isinya beberapa berkas lama yang tidak berbahaya. Claire menyerahkannya. Dan aku akan merekam seluruh pembicaraan.”
“Bagaimana caranya?” tanya Wei Khang.
“Itu urusanku.”
Samuel tersenyum tipis.
“Dua puluh tahun di pengadilan militer, Wei Khang. Aku tahu cara merekam yang akan diterima dewan.”
Jessica berdiri.
“Aku ikut.”
Semua orang menoleh kepadanya.
“Aku tidak akan masuk ke tempat pertemuan,” lanjut Jessica cepat. “Aku hanya ingin berada di dekatnya. Di mobil, di parkiran, di mana saja. Kalau terjadi sesuatu pada Claire…”
“Tidak.”
Ethan juga berdiri.
“Jessica, orang-orang Koh sudah tahu wajahmu. Mereka mengirim fotomu dengan tanda silang. Kalau mereka melihatmu di dekat tempat itu, semuanya hancur. Dan kamu…”
Ia berhenti.
“Kamu tidak bisa ada di sana. Aku tidak bisa.”
Jessica memandangnya.
Ia ingin membantah. Ia ingin berkata bahwa ia sudah memotret pria berkacamata hitam itu dengan tangannya sendiri. Bahwa ia bukan perempuan yang hanya bisa menunggu di rumah.
Tetapi ia melihat wajah Ethan. Wajah yang sama seperti di teras dua malam lalu.
Aku takut sekali.
Jessica duduk kembali perlahan.
“Baik,” katanya. “Tapi kabari aku setiap lima belas menit.”
“Setiap sepuluh,” kata Ethan.
Claire menoleh kepada Jessica untuk pertama kalinya.
Hanya sebentar. Matanya cepat kembali ke lantai.
“Aku tahu apa yang kulakukan,” katanya, kepada semua orang dan kepada tidak seorang pun. “Aku tahu risikonya. Dia mungkin tidak percaya. Dia mungkin tahu aku berbohong. Tapi aku yang memulai semua ini waktu aku menyimpan salinan itu. Biar aku yang menyelesaikan bagianku.”
Ethan memandangnya.
“Claire, kamu tidak perlu…”
“Aku perlu, Ethan.”
Suaranya tenang. Jauh lebih tenang daripada di bangku taman.
“Kalau aku tidak melakukannya, Koh akan terus mengirim orang ke depan rumah ibuku. Emily baru dua puluh tahun. Dia bahkan belum tahu kenapa kakaknya tidak pernah lagi mengajaknya keluar malam.”
Tidak ada yang membantah lagi.
Samuel mengangguk perlahan.
“Lusa,” katanya. “Kita butuh dua hari untuk menyiapkan semuanya. Claire, kirim pesan kepada Koh besok pagi. Bilang kamu ingin bicara empat mata. Biar dia yang memilih tempatnya.”
“Kenapa dia yang memilih?”
“Karena orang yang memilih tempat merasa memegang kendali. Dan orang yang merasa memegang kendali lebih banyak bicara.”
Saat semua orang bersiap pulang, Jessica menemukan Claire berdiri sendirian di teras, memandangi sangkar burung kosong yang berayun.
Jessica ragu.
Lalu ia mengambil secangkir teh dari meja dan membawanya keluar.
“Untukmu.”
Claire menoleh. Ia memandangi cangkir itu seolah tidak yakin apa yang harus dilakukan dengannya.
“Terima kasih,” katanya akhirnya, dan menerimanya.
Mereka berdiri berdampingan tanpa bicara.
Angin sore menggerakkan daun-daun mangga.
“Lusa,” kata Jessica pelan. “Hati-hati.”
Claire menggenggam cangkir itu dengan kedua tangan.
“Aku akan pulang,” jawabnya.
Jessica tersenyum kecil. Tanpa sengaja, Claire baru saja mengucapkan kalimat yang paling sering Jessica dengar dari Ethan.
Kalimat yang selalu Jessica pegang.
Malam itu, di kamarnya di rumah keluarga Lim, Ethan mengeluarkan flash drive asli dari saku jaket.
Ia memandanginya lama di bawah lampu meja.
Benda sekecil ini menyimpan seluruh kebenaran tentang hari ia jatuh dari langit.
Lalu ia membuka laci meja. Di dalamnya ada sebuah kotak kecil. Kotak dari Claire. Masih terbungkus, belum pernah dibuka.
Buka nanti.
Ethan menyentuh tutupnya. Lalu ia menutup laci.
Belum sekarang.