Koh memilih restoran di lantai tiga sebuah hotel tua di pusat kota.
Langit-langitnya tinggi, lampu kristal menggantung di tengah ruangan, dan pelayannya berjalan tanpa suara di atas karpet merah tua. Di jam makan siang, hampir semua meja terisi oleh pengusaha berjas dan turis yang memotret makanannya.
Claire tiba lima menit lebih awal.
Ia memilih meja dekat jendela, sesuai permintaan Samuel. Tas tangannya ia letakkan di kursi kosong di sampingnya.
Di dalam tas itu, di antara dompet dan lipstik, ada amplop putih berisi flash drive tiruan.
Dan ada sesuatu yang lain, yang dipasang Samuel pagi tadi, yang Claire sendiri tidak tahu persis bentuknya.
“Duduk tegak. Bicara seperti biasa. Lupakan bahwa benda itu ada,” kata Samuel sebelum ia turun dari mobil.
Bagaimana mungkin ia lupa?
Di meja paling ujung, Samuel duduk sendirian dengan secangkir teh dan koran berbahasa Mandarin, terlihat seperti kakek pensiunan yang menghabiskan siang dengan santai. Ryan berada di lobi lantai bawah. Ethan menunggu di mobil di seberang jalan.
Claire meminum seteguk air.
Tangannya tidak gemetar. Ia sudah memastikan itu di toilet tadi, mencuci tangan tiga kali dengan air dingin sampai jari-jarinya kebas.
Pukul dua belas tepat, Kolonel Adrian Koh masuk.
Ia mengenakan setelan abu-abu gelap, bukan seragam. Rambutnya disisir rapi. Ia menyapa kepala pelayan dengan nama, lalu berjalan ke meja Claire dengan senyum seorang paman yang senang bertemu keponakan.
“Claire.”
“Kolonel.”
“Tidak usah formal. Kita sedang makan siang.”
Ia duduk, membuka menu, dan memesan sup sirip tiruan dan teh melati untuk mereka berdua tanpa bertanya.
“Kamu kurus,” katanya. “Kamu kurang tidur?”
“Sedikit.”
“Pekerjaan?”
“Pikiran.”
Koh tersenyum.
“Pikiran memang lebih melelahkan daripada pekerjaan.”
Sup datang. Koh menyesapnya perlahan, memuji rasanya, lalu meletakkan sendok.
“Pesanmu kemarin pagi menarik,” katanya. “Kamu bilang ada sesuatu yang ingin kamu akui.”
Claire menarik napas.
Ini saatnya.
“Saya berbohong kepada Kolonel.”
Koh tidak terlihat terkejut sama sekali.
“Oh?”
“Saya tidak menghancurkan semua salinan berkas investigasi Captain Lim. Saya menyimpan satu.”
Ia mengambil amplop putih dari tas dan meletakkannya di meja, di antara mereka.
“Ini. Satu-satunya.”
Koh memandangi amplop itu.
Tidak menyentuhnya.
“Kenapa kamu menyimpannya?”
“Karena saya takut. Saya pikir suatu hari saya butuh sesuatu untuk melindungi diri.”
“Dan kenapa sekarang kamu menyerahkannya?”
“Karena saya lebih takut sekarang.” Claire menatapnya. “Saya ingin keluarga saya dibiarkan tenang.”
Koh mengambil amplop itu.
Ia membukanya, mengeluarkan flash drive hitam kecil di dalamnya, dan memutarnya di antara jari-jarinya. Sinar lampu kristal memantul di permukaan logamnya.
“Siapa lagi yang sudah melihat isinya?”
“Tidak ada.”
“Tidak ada,” ulang Koh pelan.
Ia tersenyum.
Lalu, dengan gerakan yang sangat santai, ia meletakkan flash drive itu di atas meja dan menepuk saku dada jasnya. Dua kali. Seperti seseorang yang memastikan dompetnya masih ada.
“Kamu tahu, Claire,” katanya. “Zaman sekarang orang tidak perlu kabel untuk mendengar pembicaraan orang lain. Cukup sebuah ponsel di saku. Atau sesuatu yang lebih kecil, di dalam tas tangan.”
Claire merasakan darahnya berhenti mengalir.
Koh tidak melirik tasnya. Ia juga tidak melirik meja paling ujung, tempat seorang kakek pensiunan sedang membalik halaman koran.
Ia hanya terus menatap Claire, tersenyum.
“Karena itu aku selalu berhati-hati memilih kata,” lanjutnya. “Kebiasaan lama. Di unit lamaku, kami belajar bahwa kalimat yang paling berbahaya adalah kalimat yang terlalu jelas.”
“Saya tidak mengerti maksud Kolonel.”
“Tentu saja tidak.”
Koh memasukkan flash drive itu ke saku jasnya.
“Aku akan menyimpan ini. Terima kasih atas kejujuranmu.”
Ia melipat serbet dan meletakkannya di samping mangkuk.
“Aku orang yang murah hati, Claire. Aku akan memberimu waktu untuk berpikir.”
“Berpikir tentang apa?”
“Tentang di sisi mana kamu ingin berdiri. Dua jam. Itu cukup, bukan?”
Ia berdiri dan merapikan jasnya.
Lalu, sambil memasang kancing, seolah baru teringat sesuatu yang tidak penting, ia menambahkan.
“Adikmu, Emily. Dia masih suka kedai mi pedas dekat kampusnya, ya? Yang di sudut jalan, dengan papan nama kuning.”
Claire tidak bisa bernapas.
“Setiap Kamis, jam empat sore,” kata Koh. Senyumnya tidak berubah. “Hari ini Kamis.”
Ia mengangguk sopan, meletakkan beberapa lembar uang di meja untuk membayar sup yang hampir tidak disentuh, lalu berjalan keluar dengan langkah yang sama tenangnya seperti saat ia datang.
Claire duduk membeku.
Jam di dinding restoran menunjukkan pukul dua belas lewat dua puluh tiga.
Samuel sampai di mejanya kurang dari satu menit kemudian.
“Jangan bicara di sini.”
Ia membantu Claire berdiri, mengambil tas tangannya, dan membawanya keluar lewat pintu samping menuju tangga darurat. Di bordes, Claire akhirnya berhenti dan mencengkeram pagar besi dengan kedua tangan.
“Dia tahu,” bisiknya. “Dia tahu sejak awal.”
“Aku tahu.”
“Dia menyebut Emily. Dia tahu jam berapa Emily makan di sana.”
Samuel sudah memegang ponsel.
“Siapa yang paling dekat dengan kampus adikmu?”
“Aku tidak tahu. Aku…”
“Ryan.” Samuel bicara ke ponselnya. “Kampus Emily Wong. Kedai mi berpapan nama kuning. Sekarang. Bawa dia ke rumah ibunya dan jangan biarkan dia sendirian.”
Claire mengeluarkan ponselnya sendiri dengan tangan gemetar dan menekan nama adiknya.
Satu dering.
Dua dering.
Tiga.
“Halo, Kak?”
Suara Emily ceria, dengan latar belakang ramai.
Claire menutup mata. Air matanya jatuh.
“Kamu di mana?”
“Di perpustakaan. Kenapa?”
“Tetap di sana. Jangan ke mana-mana. Teman Kakak akan menjemputmu.”
“Kak, ada apa?”
“Nanti Kakak jelaskan. Tolong, Emily. Kali ini saja, dengarkan Kakak.”
Di mobil, Ethan mendengarkan rekaman yang baru saja diputar ulang Samuel lewat pengeras suara ponsel.
Suara Koh terdengar jernih.
Zaman sekarang orang tidak perlu kabel untuk mendengar.
Di sisi mana kamu ingin berdiri.
Adikmu, Emily.
Hari ini Kamis.
Ethan mengepalkan tangan di atas lutut.
“Dia tidak mengatakan apa-apa,” kata Samuel pelan. “Tidak satu pun kalimat yang bisa kubawa ke dewan sebagai ancaman. Dia bertanya tentang makanan kesukaan adik bawahannya. Dia memberi waktu berpikir. Pengacara mana pun akan bilang itu kebaikan seorang atasan.”
“Tapi dia mengambil flash drive itu.”
“Ya. Dan sebentar lagi dia akan tahu isinya hanya berkas kosong.”
Samuel memandang jam tangannya.
Pukul dua belas lewat tiga puluh satu.
“Dua jam,” gumamnya. “Dia memberi Claire dua jam. Pertanyaannya, apa yang akan dia lakukan setelah dua jam itu habis?”
Ethan menatap ke luar jendela mobil.
Langit siang di atas pusat kota cerah tanpa awan.
Ia mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan untuk Jessica.
“Claire selamat. Tapi Koh tahu. Tolong jangan keluar rumah hari ini.”
Balasan datang cepat.
“Aku di rumah bersama Auntie. Aku tidak akan ke mana-mana sendirian.”
Ethan membaca kalimat itu dua kali.
Bersama Auntie.
Tidak sendirian.
Seharusnya kalimat itu membuatnya tenang.