Dua jam itu berlalu tanpa kejadian apa pun.
Pukul dua lewat tiga puluh, Ryan mengabarkan Emily sudah berada di rumah ibunya, kesal karena dijemput seperti anak sekolah, tetapi selamat. Dua orang Samuel berjaga di depan rumah itu.
Pukul tiga, kenalan Samuel di kantor pusat mengabarkan Koh kembali ke ruangannya dan tidak keluar lagi.
Pukul lima, tetap tidak ada apa-apa.
Tidak ada telepon. Tidak ada pesan. Tidak ada mobil gelap di depan pagar rumah keluarga Lim.
Keheningan itu justru lebih menakutkan daripada ancaman.
Menjelang pukul tujuh malam, Mei Lin turun dari kamarnya dengan tas tangan dan jaket tipis.
Jessica, yang sedang bekerja di ruang tengah, mengangkat kepala.
“Auntie mau ke mana?”
Mei Lin tampak sedikit bersalah.
“Toko buku di Orchard Road. Besok ulang tahun Wei Khang yang keenam puluh lima. Aku sudah memesan buku yang dia cari bertahun-tahun, cetakan pertama tentang sejarah pelabuhan Singapura. Tokonya hanya menyimpan pesanan sampai malam ini.”
“Auntie, Ethan bilang…”
“Aku tahu. Tapi itu toko buku, Jessica. Ramai, terang, dan aku sudah tua. Siapa yang mau berurusan dengan nenek-nenek yang membeli buku sejarah?”
Jessica menutup laptopnya.
Ia teringat janjinya di teras. Jangan keluar rumah sendirian.
Janji itu berlaku untuk dirinya. Tapi rasanya tidak benar membiarkan Mei Lin pergi sendirian, sementara ia duduk aman di rumah.
“Aku ikut, Auntie.”
“Tidak usah…”
“Aku ikut. Dan kita minta dua orang Uncle Samuel mengantar.”
Ethan sedang berada di rumah Samuel bersama Claire ketika Jessica meneleponnya.
Ia mendengarkan, lalu diam lama.
“Aku tidak suka ini.”
“Aku tahu.”
“Ibuku bisa mengambilnya besok pagi.”
“Tokonya hanya menyimpan sampai malam ini. Dan Auntie sudah memakai jaket.”
Di seberang, Jessica mendengar Ethan menghela napas panjang. Lalu suara Samuel di latar belakang, bertanya ada apa.
“Dua orang Samuel ikut,” kata Ethan akhirnya. “Kalian masuk, ambil bukunya, keluar. Tidak lebih dari tiga puluh menit. Kirim pesan setiap sepuluh menit.”
“Baik, Captain.”
“Jessica.”
“Hm?”
“Hati-hati.”
Toko buku di Orchard Road itu masih sama seperti terakhir kali Jessica datang. Lampu kuning hangat, rak kayu sampai langit-langit, bau kertas baru dan kopi dari kafe kecil di sudut.
Di sinilah Mei Lin pernah menemukannya dulu. Tidak lama sesudahnya, di sebuah kafe kecil, Mei Lin meminta maaf dan berkata menganggapnya keluarga.
Rasanya sudah lama sekali.
Dua pria berkemeja polos dari tim Samuel menunggu di pintu masuk. Salah satunya bertubuh besar dan pendiam, yang lain lebih muda dan sering melirik jam.
Buku itu dibungkus kertas cokelat dengan pita merah. Mei Lin memeluknya seperti memeluk bayi.
“Dia akan menangis,” katanya. “Wei Khang tidak pernah menangis. Tapi untuk buku ini, dia akan menangis.”
Jessica tertawa dan mengirim pesan kepada Ethan.
“Bukunya sudah didapat. Kami turun ke parkiran sekarang.”
Parkiran bawah tanah itu sepi.
Lampu neon berdengung di langit-langit. Deretan mobil diam di antara tiang-tiang beton bertanda huruf dan angka. Mobil keluarga Lim diparkir di blok C, tidak jauh dari lift.
Mereka berjalan berempat. Pria besar di depan, pria muda di belakang, Jessica dan Mei Lin di tengah.
Mereka hampir sampai di mobil ketika suara itu terdengar.
Benturan keras.
Lalu alarm mobil meraung dari arah blok E. Seseorang berteriak minta tolong. Suara laki-laki, panik.
“Tolong! Dia pingsan! Tolong!”
Pria besar berhenti dan menoleh.
Di ujung lorong parkiran, sebuah sedan menabrak tiang beton. Kap mesinnya penyok, asap tipis keluar. Seorang pria berlutut di samping pintu pengemudi, melambai-lambaikan tangan.
Pria besar ragu sesaat. Lalu ia memberi isyarat kepada rekannya.
“Jaga mereka. Aku lihat sebentar.”
Ia berlari ke arah sedan itu.
Pria muda mendekat ke Jessica dan Mei Lin, matanya bergerak dari sedan yang berasap ke lorong-lorong di sekitar mereka.
“Masuk ke mobil, Ma’am. Sekarang.”
Jessica membuka pintu belakang untuk Mei Lin.
Di kejauhan, pria yang tadi berlutut di samping sedan itu tiba-tiba berdiri. Ia tidak lagi terlihat panik. Ia berbalik dan berlari ke arah tangga darurat.
Pria besar berteriak sesuatu.
Pria muda menoleh ke arah suara itu.
Hanya satu detik.
Dan dalam satu detik itu, sebuah van putih tanpa jendela belakang meluncur dari balik tiang beton di samping mereka. Ban berdecit di lantai licin. Pintu sampingnya sudah terbuka sebelum van itu berhenti.
Jessica melihat kemeja abu-abu.
Kacamata hitam.
Bekas luka kecil di dagu.
Ia sempat berteriak. Ia sempat mendorong Mei Lin masuk ke mobil dan membanting pintunya. Ia sempat memukul lengan yang mencengkeram pergelangan tangannya.
Tas di bahunya terlepas dan jatuh ke lantai.
Lalu sesuatu yang kasar menutup kepalanya, dan dunia menjadi gelap.
Ia mendengar Mei Lin menjerit memanggil namanya.
Ia mendengar pria muda itu berteriak.
Ia mendengar pintu van dibanting.
Lalu hanya ada deru mesin dan lantai logam yang dingin di bawah tubuhnya.
Mei Lin keluar dari mobil dengan kaki gemetar.
Van putih itu sudah hilang di tikungan menuju pintu keluar parkiran. Pria muda dari tim Samuel berlari mengejarnya, lalu berhenti di tanjakan, memegangi kepala dengan kedua tangan.
Pria besar berlari kembali dari blok E. Sedan yang menabrak tiang itu ditinggalkan kosong. Pengemudinya sudah lenyap lewat tangga darurat.
Semuanya terjadi dalam waktu kurang dari setengah menit.
Mei Lin berdiri di tengah lorong parkiran, di bawah lampu neon yang berdengung.
Di kakinya, di atas aspal yang kotor, tergeletak tas tangan Jessica. Isinya berhamburan. Dompet. Lipstik. Buku catatan kecil.
Ponsel Jessica tergeletak dengan layar retak, masih menyala. Di layar itu terlihat pesan terakhir yang ia kirim, belum sempat dibaca.
Dan di samping ponsel itu, terpisah dari tasnya, tergeletak sebuah gantungan kunci kecil berbentuk pesawat.
Mei Lin berlutut dan memungutnya.
Gantungan itu dingin di telapak tangannya. Salah satu sayap kecilnya tergores.
Ia mengenali benda itu. Ethan dulu menggantungnya di ritsleting tasnya sejak kuliah. Lalu suatu hari benda itu tidak ada lagi, dan Ethan hanya tersenyum ketika ditanya.
Sekarang Mei Lin tahu ke mana benda itu pergi.
Dengan tangan yang tidak berhenti gemetar, ia mengeluarkan ponselnya sendiri.
Ethan menjawab pada dering pertama.
“Ibu?”
Mei Lin membuka mulut, tetapi suaranya tidak keluar.
“Ibu? Ibu, ada apa?”
“Ethan…”
Ia menggenggam gantungan pesawat kecil itu di dada.
“Mereka membawa Jessica.”