Ruang tengah rumah keluarga Lim penuh orang, tetapi tidak ada yang bersuara.
Mei Lin duduk di sofa dengan jaket masih di bahu. Di pangkuannya ada bungkusan buku berpita merah yang belum diserahkan dan gantungan kunci pesawat kecil yang terus ia genggam. Wei Khang duduk di sampingnya, satu tangan di punggung istrinya, matanya kosong menatap lantai.
Samuel berdiri di dekat jendela, bicara pelan lewat ponsel dengan seseorang. Dua pria dari timnya berjaga di teras.
Claire duduk di kursi makan, wajahnya pucat seperti kertas.
“Ini salahku,” bisiknya untuk ketiga kalinya. “Kalau aku tidak menemuinya siang tadi…”
“Dia sudah merencanakannya jauh sebelum siang tadi,” kata Ryan, yang baru tiba dari rumah ibu Claire. “Sedan itu, van itu, orang yang pura-pura panik. Itu tidak disiapkan dalam dua jam.”
Ethan berdiri di tengah ruangan.
Ia belum duduk sejak tiba. Ponsel Jessica yang retak ada di tangan kirinya, ponselnya sendiri di tangan kanan.
Di layar ponsel Jessica masih terpampang pesan terakhir yang ia kirim.
“Bukunya sudah didapat. Kami turun ke parkiran sekarang.”
Pukul delapan lewat tujuh. Ethan baru membacanya sesudah telepon ibunya, ketika van itu sudah hilang.
“Kita harus lapor polisi,” kata Wei Khang tiba-tiba.
Samuel menutup teleponnya.
“Polisi militer sudah tahu. Dua orangku melapor ke komandan mereka. Pencarian van sudah dimulai di semua jalan keluar Orchard. Tapi Wei Khang…” Ia menatap sahabatnya. “Kalau Koh punya orang di kepolisian, sirene di setiap jalan hanya akan membuat penculiknya panik.”
“Lalu kita menunggu?”
“Kita menunggu dia menelepon.”
“Bagaimana kalau dia tidak menelepon?”
Samuel tidak menjawab.
Pukul sembilan lewat dua puluh delapan, ponsel di tangan kanan Ethan bergetar.
Semua orang membeku.
Nomor tidak dikenal.
Ethan menatap layar itu. Jarinya tidak bergerak.
“Angkat,” kata Samuel pelan. “Dengarkan saja.”
Ethan menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinga.
“Halo.”
Hening.
Hanya napas seseorang di seberang. Berat, lambat.
Lalu suara itu.
Serak, dibuat-buat, seperti suara orang yang menekan tenggorokannya sendiri.
“Captain Ethan Lim.”
Ethan mengenalinya seketika. Suara yang sama. Malam setelah Claire memberinya amplop cokelat. Kalau kamu masih ingin Jessica tetap hidup.
“Di mana dia?”
“Dia aman. Untuk sekarang.”
“Aku mau bicara dengannya.”
“Kau tidak dalam posisi untuk meminta.”
Ethan memejamkan mata.
“Apa maumu?”
“Dua hal. Flash drive yang asli. Bukan mainan kosong yang diberikan perempuan bodoh itu siang tadi.” Jeda. “Dan surat pengunduran dirimu dari Republic of Singapore Air Force. Ditandatangani. Bertanggal hari ini.”
Ethan merasakan lututnya hampir menyerah.
“Kau punya waktu enam jam. Jam dua pagi aku menelepon lagi.”
“Enam jam…”
“Tanpa polisi. Tanpa temanmu yang suka membuka panel pesawat. Tanpa kakek tua dari Bukit Timah.” Suara itu tertawa pendek. “Kau datang sendirian. Kalau aku melihat satu mobil lain, kau tidak akan pernah melihatnya lagi.”
“Tunggu…”
Sambungan terputus.
Ethan menurunkan ponselnya perlahan.
Tangannya gemetar begitu hebat sampai ponsel itu hampir jatuh. Ryan menangkap pergelangan tangannya dan memegangnya erat.
“Ethan. Ethan, lihat aku. Apa katanya?”
Ethan memandang wajah-wajah di sekelilingnya.
Ibunya yang menggenggam gantungan pesawat. Ayahnya yang berdiri setengah bangkit dari sofa. Claire yang menutup mulut dengan kedua tangan. Samuel yang menatapnya dengan mata kecil yang tajam.
“Flash drive asli,” katanya. Suaranya terdengar jauh, seperti suara orang lain. “Dan surat pengunduran diriku. Enam jam. Dia menelepon lagi jam dua.”
Mei Lin mengeluarkan suara kecil, seperti tangis yang tertahan.
“Dia tahu tentang flash drive tiruan,” lanjut Ethan. “Dia tahu Ryan membuka panel pesawat. Dia tahu tentang Samuel.”
“Tentu saja dia tahu,” kata Samuel. “Itu suara yang sama?”
“Sama.”
Samuel mengangguk perlahan. Ia berjalan ke meja, membuka tas kerjanya, dan mengeluarkan sebuah alat perekam kecil dengan kabel tipis.
“Panggilan malam itu tidak terekam,” katanya. “Yang ini juga tidak. Tapi jam dua nanti, setiap kata yang dia ucapkan akan tersimpan.”
Ia memasang alat itu di ponsel Ethan dengan gerakan cepat dan tenang.
“Kalau dia menelepon lagi, jangan bicara terlalu banyak. Minta bicara dengan Jessica. Itu wajar. Dan biarkan dia bicara sebanyak mungkin.”
Ethan mengangguk.
Ia menatap jam dinding.
Pukul sembilan lewat tiga puluh.
Enam jam lagi. Pukul setengah empat pagi.
Malam berjalan sangat lambat.
Mei Lin membuat teh yang tidak diminum siapa pun. Wei Khang duduk di teras bersama dua orang Samuel, menatap jalan tanpa berkedip. Ryan membuka laptop di meja makan dan menatap peta Singapura, seolah peta itu bisa menunjukkan van putih kalau ia menatap cukup lama.
Claire duduk di samping Mei Lin.
Untuk waktu yang lama mereka tidak bicara.
Lalu Mei Lin meraih tangan Claire dan menggenggamnya. Claire menatap tangan itu dengan terkejut, lalu menangis tanpa suara.
Ethan berdiri di depan jendela.
Di tangannya ada flash drive asli. Ia mengeluarkannya dari saku jaket untuk pertama kalinya malam itu dan memandanginya di bawah lampu.
Benda kecil ini, atau Jessica.
Kebenaran tentang hari ia jatuh dari langit, atau perempuan yang menunggunya tiga belas hari tanpa pernah berhenti percaya.
Pilihan itu bahkan bukan pilihan.
Ia bisa menyerahkan flash drive ini seribu kali. Ia bisa menandatangani seribu surat pengunduran diri. Ia bisa tidak pernah terbang lagi seumur hidupnya.
Asal Jessica pulang.
Pukul dua pagi kurang tiga menit, ponselnya bergetar lagi.
Lampu kecil di alat perekam Samuel menyala merah.
Ethan mengangkat.
“Aku mau bicara dengan Jessica.”
Hening.
Lalu bunyi gesekan. Langkah kaki. Bunyi pintu logam.
Dan suara yang membuat seluruh tubuh Ethan seperti dialiri listrik.
“Ethan?”
Serak. Lelah. Tapi itu suaranya.
“Jessica. Jessica, kamu baik-baik saja?”
“Aku baik. Aku…”
Ia berhenti. Di latar belakang, terdengar sesuatu. Gemuruh rendah yang semakin keras, lalu menjauh.
“Ethan, aku mendengar…”
Bunyi gesekan lagi. Suara Jessica terputus.
Suara serak itu kembali.
“Cukup.”
“Kalau kau menyakitinya…”
“Siapkan barangnya. Duduk di mobilmu, sendirian, dengan mesin menyala. Jam tiga lewat tiga puluh aku menelepon dan memberitahu ke mana kau harus pergi. Kalau kau terlambat satu menit, kau tahu akibatnya.”
Klik.
Lampu merah di alat perekam padam.
Ethan berdiri diam di tengah ruangan.
Di telinganya masih tertinggal gemuruh rendah yang tadi terdengar di belakang suara Jessica.
Ia mengenal bunyi itu lebih baik daripada suara mana pun di dunia.
Mesin jet.