Jessica menghitung.
Itu satu-satunya hal yang bisa ia lakukan di dalam van yang gelap dan berguncang.
Belok kiri. Lurus lama sekali. Belok kanan. Jalan yang mulus, mungkin jalan tol. Lalu jalan yang lebih kasar, berbatu, dengan guncangan yang membuat bahunya membentur dinding logam.
Kain kasar yang menutup kepalanya berbau debu dan oli. Pergelangan tangannya diikat di depan tubuh dengan sesuatu yang plastik dan keras.
Ia tidak menangis.
Ia terlalu takut untuk menangis.
Empat puluh menit, pikirnya. Mungkin lima puluh. Dari Orchard Road, itu bisa ke mana saja.
Van berhenti.
Pintu geser terbuka. Udara malam masuk, lembap dan berbau asin.
Laut.
Dan sesuatu yang lain, samar dan tajam. Bau bahan bakar.
Seseorang menarik lengannya. Ia tersandung keluar, kakinya menginjak kerikil, lalu lantai beton. Pintu besar berderit. Gema langkah kaki di ruangan yang luas.
Ia didudukkan di kursi. Tangannya yang terikat ditarik ke belakang sandaran dan diikat lagi.
Lalu kain di kepalanya ditarik lepas.
Cahaya lampu kerja yang tergantung di atas membuat matanya perih.
Ia berada di sebuah gudang tua. Langit-langitnya tinggi, dengan rangka besi berkarat dan beberapa lembar seng yang bolong. Tumpukan peti kayu di satu sisi. Sebuah meja lipat dengan termos dan beberapa bungkus rokok di sisi lain. Pintu besi besar tertutup di depannya.
Dan di depan pintu itu, duduk di atas peti kayu dengan kaki disilangkan, pria berkemeja abu-abu.
Ia sudah melepas kacamata hitamnya. Matanya kecil dan tidak berekspresi.
Bekas luka di dagunya terlihat lebih jelas di bawah lampu.
“Jangan teriak,” katanya. “Tidak ada yang akan mendengar.”
Jessica menatapnya.
Raymond Goh. Ia ingat nama itu dari layar laptop Ryan. Baris ketujuh. Pas foto kecil berwarna pudar.
Ia tidak menyebut nama itu. Belum.
Waktu berjalan tanpa penanda.
Raymond tidak bicara. Ia merokok, memeriksa ponselnya, sesekali berjalan ke pintu dan mengintip lewat celahnya.
Jessica menggerakkan jari-jarinya pelan. Ikatan di pergelangannya tidak longgar sedikit pun. Bahunya mulai pegal, lalu nyeri, lalu mati rasa.
Lalu ia mendengarnya.
Gemuruh.
Rendah dan dalam, datang dari kejauhan. Makin lama makin keras, sampai lembaran seng di atap bergetar halus dan debu jatuh dari rangka besi.
Lalu suara itu memudar.
Jessica menahan napas.
Ia sudah mendengar suara itu ribuan kali. Di halaman rumah bersama Ayah. Di Changi Exhibition Centre, dengan kamera di tangan. Di pagar pembatas landasan, menunggu.
Pesawat.
Dan bukan pesawat yang lewat tinggi di atas kota.
Pesawat yang sangat rendah.
Ia mulai menghitung lagi. Kali ini menghitung detik.
Seratus sepuluh. Seratus sebelas. Seratus dua belas.
Gemuruh kedua datang.
Dari arah yang sama.
Jessica memejamkan mata dan mendengarkan dengan seluruh tubuhnya.
Ayah dulu yang mengajarinya membedakan. Mereka duduk di halaman rumah di Bandung, di tikar pandan, dan Ayah akan berkata, dengar.
Pesawat yang lepas landas suaranya menggelegar dan naik, seperti orang yang berteriak sambil berlari menaiki tangga.
Pesawat yang akan mendarat suaranya lebih lembut, panjang, dan turun. Seperti orang yang menghela napas sebelum pulang.
Suara di atas gudang ini menghela napas.
Turun.
Pelan.
Setiap dua menit.
“Kamu lapar?”
Jessica membuka mata. Raymond berdiri di depannya, memegang sebotol air mineral.
Ia membuka tutupnya dan mendekatkan botol itu ke bibir Jessica. Jessica minum. Air itu hangat dan berbau plastik, tetapi tenggorokannya terlalu kering untuk peduli.
“Terima kasih,” katanya.
Raymond tampak sedikit terkejut, seolah tidak terbiasa diberi ucapan terima kasih oleh orang yang ia ikat.
Jessica melihat celah kecil itu.
“Bekas luka di dagumu,” katanya pelan. “Dari latihan?”
Raymond tidak menjawab.
“Ethan juga punya bekas luka. Di dahi. Dari pulau itu.”
Raymond kembali duduk di peti kayu. Tapi kali ini ia memandang Jessica.
“Aku tahu tentang pulau itu.”
“Tentu saja kamu tahu.”
Raymond menyalakan rokok baru.
“Bukan aku yang memasang apa pun di pesawatnya, kalau itu yang kau pikirkan.”
“Lalu siapa?”
Raymond mengembuskan asap dan tidak menjawab.
Gemuruh ketiga datang. Lalu keempat.
Jessica memperhatikan sesuatu. Lewat lubang di atap seng, angin masuk dalam embusan pelan. Angin itu dingin dan asin, dan selalu datang dari arah yang sama. Dari kanan, dari dinding yang ditumpuki peti kayu.
Pesawat-pesawat itu datang dari kiri, melawan arah angin.
Ia ingat sesuatu yang pernah Ethan katakan di Marina Bay, sambil tertawa, saat ia bertanya kenapa pesawat selalu mendarat dari arah yang sama.
Kami selalu mendarat melawan angin, Jessica. Seperti burung.
Pesawat yang turun pelan setiap dua menit, melawan angin laut, sangat rendah di atas gudang yang berbau bahan bakar.
Hanya ada satu tempat seperti itu di Singapura.
Ujung landasan bandara.
“Kamu kenal Ethan?” tanya Jessica tiba-tiba.
Raymond mengangkat bahu.
“Semua orang di skuadron kenal Ethan Lim. Pilot yang sempurna. Anak kesayangan semua komandan.”
Ada sesuatu yang pahit di suaranya.
“Kamu juga dulu di skuadron?”
Raymond menatapnya tajam. Untuk sesaat Jessica mengira ia sudah terlalu jauh.
Lalu pria itu tertawa pendek.
“Kamu banyak bicara untuk orang yang sedang diikat.”
“Aku takut. Kalau takut, aku banyak bicara.”
Itu bukan sepenuhnya bohong.
Ponsel Raymond bergetar.
Ia membaca layar, berdiri, lalu menempelkannya ke telinga. Ia mendengarkan tanpa berkata apa-apa, kemudian berjalan ke arah Jessica dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
“Bicara. Singkat.”
Jessica mendengar napas di seberang. Lalu suara yang membuat seluruh dadanya runtuh.
“Jessica. Jessica, kamu baik-baik saja?”
Ethan.
Ia ingin menangis. Ia ingin berteriak. Ia ingin mengatakan seribu hal.
Tapi di atas gudang, gemuruh kelima mulai datang. Rendah. Turun. Menghela napas.
“Aku baik. Aku…”
Ia memaksakan dirinya berpikir.
“Ethan, aku mendengar…”
Raymond menarik ponsel itu dari telinganya.
Dari ponsel di tangan Raymond, Jessica mendengar suara serak seorang pria berkata cukup. Raymond menempelkan ponsel itu ke telinganya sendiri dan berjalan menjauh.
Jessica menunduk.
Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.
Tetapi Ethan seorang pilot. Ethan sudah ribuan kali mendarat di ujung landasan.
Kalau ada satu orang di dunia yang bisa mengenali suara pesawat yang hendak pulang, orang itu adalah Ethan.
Jessica mengangkat kepala dan memandang lubang di atap seng. Di baliknya, langit masih hitam.
Gemuruh kelima lewat tepat di atasnya.
Aku di sini, pikirnya. Di bawah pesawat-pesawat yang pulang.
Temukan aku.