“Putar lagi,” kata Ethan.
Samuel menekan tombol di alat perekam kecil itu.
Suara Jessica keluar dari pengeras suara, tipis dan bergetar.
Aku baik. Aku…
Lalu gemuruh itu. Rendah, panjang, makin keras, lalu memudar.
Ethan, aku mendengar…
“Lagi.”
Samuel memutarnya lagi. Dan lagi.
Semua orang di ruang tengah menatap Ethan yang berdiri dengan mata terpejam, kepala sedikit miring, seperti orang yang sedang mendengarkan musik dari kamar sebelah.
“Itu pesawat yang hendak mendarat,” katanya akhirnya.
Ryan langsung berdiri dari kursinya.
“Kamu yakin?”
“Dengar bunyinya. Tidak naik. Turun. Mesinnya ditahan pelan.” Ethan membuka mata. “Itu bunyi pesawat di jalur pendaratan terakhir. Rendah sekali. Mungkin kurang dari tiga ratus meter di atas tanah.”
“Dan Jessica mendengarnya cukup jelas untuk mencoba memberitahumu,” kata Samuel pelan.
“Dia pernah duduk di pagar landasan berjam-jam. Dia tahu bedanya.”
Ethan berjalan cepat ke meja makan dan membalik laptop Ryan ke arahnya.
“Jadwal kedatangan Changi. Sekarang.”
Ryan mengetik. Daftar penerbangan muncul di layar. Kedatangan dini hari dari Sydney, Dubai, Tokyo, Mumbai.
“Satu pesawat mendarat pukul satu lewat lima puluh delapan,” baca Ryan. “Berikutnya dua lewat nol. Lalu dua lewat dua.”
“Dua menit sekali,” gumam Ethan. “Dan saat Jessica bicara di telepon itu, sekitar pukul dua kurang dua, ada satu pesawat tepat di atasnya.”
“Landasan mana?” tanya Samuel.
Ryan membuka peta lain. Lingkaran biru dan garis-garis lurus di atas gambar satelit bandara Changi.
“Angin malam ini dari barat daya. Mereka mendarat melawan angin, jadi pesawat datang dari timur laut.”
Ethan membungkuk di atas layar dan menunjuk.
“Jalur pendaratan masuk dari sini.”
Jarinya bergerak mengikuti garis lurus yang menembus pinggir kota, melintasi kanal dan jalan raya, menuju ujung landasan.
“Pesawat serendah itu, dengan suara sejelas itu di dalam bangunan, berarti tempatnya tidak lebih dari dua kilometer dari ujung landasan. Tepat di bawah jalur ini.”
Ryan memperbesar peta.
Di bawah garis jalur pendaratan, dua kilometer dari ujung landasan, ada sebuah kawasan kecil. Deretan atap-atap persegi panjang di tepi kanal yang bermuara ke laut. Beberapa di antaranya tampak kusam dan rusak di gambar satelit.
“Gudang-gudang tua di Loyang,” kata salah satu orang Samuel yang berdiri di belakang mereka. Ia bicara untuk pertama kalinya malam itu. “Sebagian sudah kosong bertahun-tahun. Ada depot bahan bakar di dekat sana.”
Ethan memandang Samuel.
Samuel memandang peta itu lama sekali.
“Kalau kamu salah,” katanya, “kita kehilangan satu jam yang tidak bisa diulang.”
“Kalau aku menunggu dia memberitahu tempatnya, dia akan mengirimku ke tempat lain. Dia tidak akan pernah membawaku ke tempat Jessica berada.”
Samuel diam.
Lalu ia mengangguk satu kali.
“Ryan.”
“Sir.”
“Salin semua isi flash drive itu sekarang. Ke laptopmu dan ke ini.” Samuel menyerahkan sebuah cakram penyimpan kecil berwarna hitam. “Kalau yang asli harus diserahkan malam ini, kebenarannya tidak ikut hilang.”
Ethan mengeluarkan flash drive asli dari saku jaketnya dan menyerahkannya kepada Ryan.
Tangan Ryan sedikit gemetar saat menancapkannya ke laptop.
Bilah hijau di layar bergerak pelan.
Dua puluh persen.
Lima puluh.
Delapan puluh.
Selesai.
Ryan mencabutnya dan mengembalikannya kepada Ethan.
“Yang asli tetap padamu.”
Ethan memasukkannya kembali ke saku dalam jaketnya.
Lalu ia mengambil kertas dari meja, menulis sesuatu dengan cepat, dan menandatanganinya.
Surat pengunduran diri.
Wei Khang memandangi kertas itu dari sofa. Wajahnya menegang.
“Ethan…”
“Ini hanya kertas, Ayah.”
Ethan melipatnya dan menyelipkannya di saku yang sama dengan flash drive.
“Kalau kertas ini bisa membawa Jessica pulang, aku akan menulisnya seratus kali.”
Samuel membagi orang-orangnya dengan cepat.
Empat polisi militer yang ia percaya. Ryan. Dua mobil tanpa tanda. Mereka akan berangkat lebih dulu, mendekati kawasan itu dari sisi kanal, dengan lampu mati.
“Ethan pergi dengan mobilnya sendiri,” kata Samuel. “Seperti yang mereka minta. Sendirian. Kalau mereka mengawasi jalan, mereka hanya akan melihat satu mobil.”
“Aku ikut,” kata Wei Khang.
“Tidak.”
“Samuel, dia anakku.”
“Justru karena itu.” Samuel menatap sahabatnya. “Kamu dan Mei Lin harus ada di sini saat mereka pulang. Seseorang harus membuka pintu.”
Wei Khang memandanginya lama. Lalu ia duduk kembali perlahan di samping istrinya.
Mei Lin berdiri.
Ia berjalan ke Ethan dan meraih tangannya, lalu meletakkan sesuatu di telapaknya.
Gantungan kunci pesawat kecil dengan sayap yang tergores.
“Kembalikan ini kepadanya,” bisik Mei Lin. “Bawa dia pulang.”
Ethan menggenggam gantungan itu. Lalu menyerahkannya kembali ke tangan ibunya dan menutup jari-jari Mei Lin di atasnya.
“Ibu yang mengembalikannya,” katanya. “Saat dia pulang. Ibu yang menemukannya.”
Mei Lin menangis tanpa suara dan mengangguk.
Claire berdiri di dekat pintu.
Ketika Ethan lewat, ia menahan lengannya.
“Ethan.”
“Aku tahu.”
“Tidak. Dengar.” Mata Claire merah. “Dia menunggumu tiga belas hari. Jangan buat dia menunggu lagi.”
Pukul tiga lewat lima belas, Ethan mematikan mesin mobilnya di sebuah jalan kecil di tepi kawasan gudang Loyang.
Jalan itu gelap. Hanya ada satu lampu jalan yang berkedip-kedip di ujungnya. Di kanan, kanal hitam mengalir pelan menuju laut. Di kiri, deretan gudang tua dengan pagar seng berkarat.
Bau asin. Bau lumpur. Dan samar-samar, bau bahan bakar.
Di atas kepalanya, sebuah pesawat melintas sangat rendah dengan roda pendarat sudah turun. Lampu-lampunya menerangi atap-atap seng sebentar, lalu meninggalkan semuanya kembali gelap.
Ponselnya bergetar sekali.
Pesan dari Ryan.
“Van putih di depan gudang nomor sembilan. Satu jendela menyala. Kami di sisi kanal.”
Ethan memandang ke ujung jalan.
Gudang nomor sembilan. Dua ratus meter dari tempatnya berhenti.
Ia menyentuh saku jaketnya. Flash drive. Surat.
Lalu ia memejamkan mata sebentar dan membayangkan cincin kecil berbentuk sayap pesawat di jari manis kanan Jessica.
Pukul tiga lewat tiga puluh tepat, ponselnya berbunyi.
Nomor tidak dikenal.
Ethan mengangkat.
“Kau di mobil?”
“Ya.”
“Pergi ke Tuas. Pangkalan truk tua di ujung Jalan Tuas Selatan. Kau punya empat puluh lima menit.”
Tuas. Ujung barat Singapura. Jauh dari Changi, jauh dari pesawat-pesawat yang mendarat.
Jauh dari Jessica.
“Aku berangkat sekarang,” kata Ethan.
Ia menutup telepon.
Lalu ia membuka pintu mobil, keluar ke udara malam yang asin, dan berjalan kaki ke arah gudang nomor sembilan.