Pintu besi gudang nomor sembilan dicat biru, tetapi catnya sudah mengelupas di banyak tempat.
Ethan berdiri di depannya.
Dari celah di bawah pintu, garis cahaya kuning keluar dan jatuh di atas kerikil. Ia bisa mendengar sesuatu di dalam. Suara langkah. Suara laki-laki yang bicara pelan lewat telepon.
Di atas kepalanya, pesawat lain melintas, rendah dan bergemuruh.
Ethan menunggu sampai suara itu lewat.
Lalu ia mengangkat tangan dan memukul pintu besi itu tiga kali.
Keras.
Suara di dalam langsung berhenti.
“Raymond Goh,” kata Ethan dengan suara lantang. “Aku membawa yang kalian minta.”
Hening.
Ethan berdiri tegak. Kedua tangannya terangkat sedikit, terbuka, menunjukkan bahwa ia tidak memegang apa-apa.
Pintu itu terbuka sedikit. Hanya sejengkal.
Wajah dengan bekas luka di dagu muncul di celahnya. Matanya melebar.
“Kau seharusnya di Tuas.”
“Aku tidak pernah suka disuruh pergi ke tempat yang salah.”
Ethan mengeluarkan flash drive dari saku jaketnya perlahan dan mengangkatnya di antara dua jari, di bawah cahaya lampu yang keluar dari celah pintu.
“Ini yang asli. Dan suratnya. Semua yang kalian minta. Tukar dengan Jessica. Sekarang.”
Raymond menatap flash drive itu. Lalu menatap jalan gelap di belakang Ethan.
“Kau sendirian?”
“Kau lihat mobil lain?”
Raymond ragu.
Ethan bisa melihat pikirannya bekerja di balik mata yang kecil itu. Perintah atasannya. Barang yang ada di depan matanya. Risiko kalau ia menolak.
Pintu terbuka lebih lebar.
“Masuk. Pelan-pelan.”
Ethan melangkah masuk.
Gudang itu luas dan berdebu. Lampu kerja tergantung di tengah ruangan, menerangi lingkaran kecil di lantai beton.
Dan di tengah lingkaran cahaya itu, Jessica.
Duduk di kursi kayu, tangan terikat di belakang sandaran. Rambutnya berantakan, wajahnya kotor oleh debu, ada goresan merah di pipinya.
Tetapi matanya terbuka.
Dan ketika matanya bertemu mata Ethan, Jessica tidak menangis.
Ia tersenyum.
Senyum kecil yang gemetar, seolah ia baru saja memenangkan sesuatu.
Kamu mendengarnya, kata senyum itu. Kamu datang.
Ethan memaksa dirinya tidak berlari ke sana.
Di sudut ruangan, seorang pria lain berdiri dari kursi lipat. Pria yang tadi berlutut di samping sedan di parkiran, yang berteriak minta tolong. Ia memegang sesuatu di tangannya, dan Ethan tidak perlu melihat jelas untuk tahu benda apa itu.
“Letakkan di meja,” kata Raymond. “Flash drive dan suratnya.”
Ethan berjalan ke meja lipat. Pelan. Setiap langkah membawanya sedikit lebih dekat ke kursi Jessica.
Ia meletakkan surat pengunduran diri di atas meja.
Lalu flash drive.
Raymond mendekat untuk mengambilnya.
Dan pada saat itu, dari arah belakang gudang, terdengar bunyi logam berdentang. Pintu belakang yang menghadap kanal terbuka dengan keras.
“Polisi militer! Jangan bergerak!”
Semuanya terjadi sekaligus.
Pria di sudut berbalik ke arah suara itu.
Raymond berbalik ke arah Ethan.
Ethan tidak menunggu. Ia menerjang Raymond dengan bahunya, bahu yang masih sakit, dan keduanya jatuh menghantam meja lipat. Termos dan bungkus rokok berhamburan. Debu dari rangka besi di atas mereka jatuh seperti hujan abu.
Sebuah letusan memecah gudang itu.
Lalu teriakan.
Ethan merasakan Raymond meronta di bawah tubuhnya. Ia menahan lengan pria itu ke lantai dengan seluruh berat badannya, sampai dua orang berseragam gelap datang dan mengambil alih, menekan Raymond telungkup ke beton.
Di sudut, pria yang satunya sudah tertelungkup juga, dengan dua polisi militer di atasnya.
Ethan bangkit dengan napas tersengal.
“Ryan?”
Tidak ada jawaban.
“Ryan!”
Ia menoleh ke arah pintu belakang.
Ryan duduk bersandar di tumpukan peti kayu, satu tangan menekan bahu kirinya. Di sela jari-jarinya, merah merembes, gelap di bawah lampu.
Wajahnya pucat. Tapi ia nyengir.
“Aku baik,” katanya dengan suara serak. “Ternyata ditembak jauh lebih sakit daripada tes kebugaran.”
Salah satu polisi militer sudah berlutut di sampingnya, menekan kain ke bahunya, bicara cepat lewat radio.
“Pergi,” kata Ryan kepada Ethan, sambil mengangguk ke tengah ruangan. “Dia sudah menunggu terlalu lama.”
Ethan berlari.
Ia berlutut di samping kursi kayu itu. Seorang polisi militer menyodorkan pisau lipat. Ethan memotong ikatan plastik di pergelangan tangan Jessica dengan tangan yang gemetar begitu hebat sampai ia hampir melukainya.
Ikatan itu putus.
Jessica jatuh ke depan.
Langsung ke pelukannya.
Ethan memeluknya begitu erat sampai ia takut menyakitinya. Jessica mencengkeram jaketnya dengan kedua tangan yang masih kebas dan menempelkan wajahnya di dada Ethan.
Di luar, sirene mulai terdengar. Satu, lalu dua, lalu banyak. Lampu biru dan merah menembus celah-celah dinding seng, berputar di antara debu yang masih melayang di udara.
“Kamu mendengarnya,” bisik Jessica di dadanya.
“Aku mendengarnya.”
“Pesawat yang mau mendarat.”
“Iya.”
“Ayah yang mengajariku membedakannya.”
Ethan tertawa. Tawa yang pecah dan basah.
“Kalau begitu aku berutang kepada ayahmu.”
Jessica mengangkat wajahnya. Debu menempel di bulu matanya. Goresan merah di pipinya terlihat jelas di bawah lampu.
Ethan menyentuh pipi itu dengan ibu jarinya, sangat pelan.
“Mereka menyakitimu?”
“Tidak terlalu.” Jessica memegang pergelangan tangannya sendiri, yang memerah dan lecet. “Hanya ini. Dan aku sangat haus.”
Seseorang menyodorkan botol air. Jessica meminumnya sampai habis.
Di lantai, Raymond Goh yang masih ditekan dua polisi militer memalingkan wajah ke arah mereka.
“Kau pikir ini selesai, Captain?” katanya dengan suara tercekik. “Aku hanya orang suruhan. Dia punya lebih banyak orang daripada aku.”
Ethan tidak menjawab.
Ia membungkuk, memungut flash drive kecil yang tergeletak di antara pecahan meja dan puntung rokok, lalu memasukkannya kembali ke saku jaket. Surat pengunduran dirinya ia biarkan di lantai, terinjak dan kotor.
Lalu ia membantu Jessica berdiri, merangkulnya dengan satu tangan, dan membawanya melewati debu, keluar ke udara malam.
Di luar, langit masih gelap. Udara menjelang subuh terasa dingin dan asin.
Ambulans berhenti di depan gudang. Petugas medis berlari masuk membawa tandu untuk Ryan. Samuel berdiri di samping salah satu mobil tanpa tanda, bertumpu pada tongkatnya, wajahnya lebih tua sepuluh tahun daripada kemarin.
Ketika melihat Jessica keluar dari gudang, pria tua itu memejamkan mata dan menghela napas panjang.
Ethan mendudukkan Jessica di tepi ambulans. Ia melepaskan jaketnya, memindahkan flash drive itu ke saku celana, lalu menyelimutkan jaket itu ke bahu Jessica.
Saat itu, di atas mereka, sebuah pesawat lain melintas. Rendah. Pelan. Roda pendaratnya sudah turun.
Jessica mendongak.
Ethan ikut mendongak.
Mereka memandangi pesawat itu menghilang ke arah landasan, tempat seseorang di suatu tempat sedang menunggu penumpangnya pulang.
Jessica meraih tangan Ethan dan menggenggamnya.
“Aku ingin pulang,” katanya.
Ethan mencium keningnya.
“Kita pulang.”