Ryan bangun dari operasi menjelang tengah hari dengan bahu kiri terbalut perban tebal dan selera humor yang masih utuh.
“Dokter bilang pelurunya tidak mengenai tulang,” katanya begitu melihat Ethan di samping ranjangnya. “Aku bisa terbang lagi dalam dua bulan. Berarti aku masih lebih cepat sembuh daripada kamu.”
“Itu bukan perlombaan.”
“Semua hal adalah perlombaan kalau kamu kalah terus.”
Ethan tertawa, lalu menunduk dan memegang tangan sahabatnya yang sehat.
“Terima kasih.”
Ryan memalingkan wajah ke jendela, pura-pura tertarik pada gedung parkir di seberang.
“Jangan mulai. Nanti aku menangis dan perawatnya mengira aku kesakitan.”
Di kamar sebelah, Jessica duduk di tepi ranjang dengan kedua pergelangan tangan dibalut kasa putih. Dokter sudah memeriksanya dua kali. Lecet di pergelangan, memar di bahu, goresan di pipi. Dehidrasi ringan.
“Kamu beruntung,” kata dokter itu.
Jessica tidak merasa beruntung. Ia merasa sangat lelah, dan setiap kali menutup mata, ia mendengar pintu van dibanting.
Pintu kamar terbuka.
Mei Lin masuk lebih dulu, diikuti Wei Khang. Mereka berdua masih mengenakan pakaian semalam. Wajah mereka kusut, mata merah karena tidak tidur.
Mei Lin berhenti di ambang pintu.
Ia memandangi Jessica. Kasa di pergelangan tangan. Goresan di pipi.
Lalu ia berjalan cepat dan memeluk Jessica seperti memeluk anaknya sendiri.
“Maafkan aku,” bisiknya berulang-ulang. “Maafkan aku. Kalau aku tidak bersikeras pergi membeli buku itu…”
“Auntie, bukan salah Auntie.”
“Kamu mendorongku masuk mobil. Kamu menyelamatkan aku, lalu mereka membawamu.”
“Mereka memang datang untukku, Auntie. Bukan untuk Auntie.”
Mei Lin melepaskan pelukannya dan mengusap air mata dengan punggung tangan. Lalu ia membuka telapak tangannya.
Di sana tergeletak gantungan kunci pesawat kecil. Salah satu sayapnya tergores.
Jessica menatapnya.
“Aku menemukannya di aspal,” kata Mei Lin. “Di samping ponselmu. Ethan bilang aku yang harus mengembalikannya.”
Jessica mengambil gantungan itu dengan jari-jari yang masih sedikit kebas. Ia menggenggamnya di dada dan memejamkan mata.
Sejauh apa pun aku terbang, aku akan selalu mencari jalan untuk pulang kepadamu.
Kali ini dirinya yang pulang.
“Terima kasih, Auntie.”
Wei Khang berdiri di dekat jendela, memandangi mereka berdua.
Ia berdeham.
“Kamu tidak apa-apa, nak?”
“Tidak apa-apa, Uncle.”
Wei Khang mengangguk kaku. Lalu ia menoleh ke jendela, dan Jessica melihat bahunya bergetar sedikit.
Mei Lin mengeluarkan bungkusan berpita merah dari tas belanjanya yang kusut.
“Selamat ulang tahun,” katanya kepada suaminya. “Hampir terlambat.”
Wei Khang memandangi bungkusan itu lama. Ia membukanya perlahan.
Cetakan pertama buku tentang sejarah pelabuhan Singapura. Sampulnya kulit cokelat yang sudah pudar.
Pria tua itu membuka halaman pertama. Lalu menutupnya lagi dan mendekapnya ke dada.
Mei Lin benar.
Wei Khang menangis.
Kabar itu datang keesokan paginya, pukul tujuh lewat dua belas.
Ethan sedang duduk di kantin rumah sakit dengan secangkir kopi yang tidak diminumnya ketika Samuel menelepon.
“Daniel Seah,” kata Samuel tanpa salam. “Dia mencoba membeli tiket feri pagi ke Batam setengah jam lalu di Terminal Feri Tanah Merah. Tiket lamanya untuk feri sore nanti, tapi rupanya dia tidak sabar menunggu beberapa jam lagi. Kenalanku di imigrasi menahan paspornya di loket.”
Ethan berdiri begitu cepat sampai kursinya terdorong ke belakang.
“Dia ditahan?”
“Polisi militer membawanya sekarang. Dia tidak melawan. Katanya dia hanya ingin berlibur.”
“Aku mau menemuinya.”
Hening sebentar.
“Kamu boleh duduk di ruangan itu,” kata Samuel akhirnya. “Sepuluh menit. Aku ada di sana. Dan kamu tidak menyentuhnya.”
Ruang pemeriksaan di markas polisi militer itu kecil dan dingin.
Darren Soh duduk di balik meja logam, kedua tangannya di atas meja. Ia lebih kurus daripada di foto. Rambutnya panjang tidak terurus, kumisnya tipis, matanya cekung seperti orang yang sudah lama tidak tidur.
Ketika Ethan masuk, Darren mengangkat kepala.
Untuk sesaat, mereka hanya saling menatap.
Pria di rekaman CCTV yang menoleh ke kamera sebelum layar menjadi hitam.
Pria yang pernah berdiri di samping pesawatnya, beberapa jam sebelum ia lepas landas menuju tiga belas hari di laut.
Ethan duduk di kursi di seberangnya.
Samuel berdiri di sudut ruangan, bertumpu pada tongkat.
“Kamu tahu siapa aku,” kata Ethan.
Darren tidak menjawab.
“Aku tidak ingat wajahmu di hanggar pagi itu. Tapi kamera mengingatnya.”
Darren memandangi tangannya sendiri.
“Kamu ada di pesawatku. Beberapa jam sebelum aku berangkat.”
Diam.
“Aku tiga belas hari di pulau itu, Darren. Aku minum air hujan dari daun. Aku menghitung hari dengan menggores batu. Aku tidak tahu apakah ada orang yang masih mencariku.”
Darren tetap menunduk.
“Dan semalam, temanmu mengikat perempuan yang kucintai di kursi dalam gudang.”
Kali ini Darren mengangkat kepala.
Ada sesuatu di matanya. Bukan rasa bersalah, belum. Tapi sesuatu yang mirip ketakutan.
“Aku tidak tahu soal gudang itu,” katanya. Suaranya biasa saja. Tidak serak. Tidak dibuat-buat.
Tapi Ethan memperhatikan sesuatu. Cara Darren menarik napas sebelum bicara. Jeda kecil di ujung kalimat.
Ia pernah mendengar jeda itu. Lewat telepon.
“Kamu yang menelepon,” kata Ethan pelan.
Darren menatapnya.
Lalu ia tersenyum. Senyum yang lelah dan pahit.
“Kamu pilot yang baik, Captain Lim. Semua orang bilang begitu. Kamu selalu memperhatikan instrumenmu. Selalu melaporkan semua yang kamu lihat.”
Ethan mengerutkan kening.
Darren mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
“Itu masalahnya,” bisiknya. “Semua berawal dari kapal yang tidak boleh kamu lihat.”
“Kapal apa?”
Darren bersandar kembali ke kursinya dan melipat tangan di dada.
“Aku tidak akan bicara lagi tanpa pengacara.”
Samuel melangkah maju dari sudut ruangan.
“Waktunya habis, Captain.”
Ethan berdiri perlahan. Kakinya terasa berat.
Kapal.
Kapal yang tidak boleh ia lihat.
Bukan kapal yang tidak boleh ia temukan. Bukan kapal yang tidak boleh ia kejar. Darren memilih kata itu dengan sengaja.
Lihat.
Saat ia berjalan ke pintu, sebuah ingatan muncul di kepalanya. Samar, seperti bayangan di balik kaca berembun.
Cuaca buruk. Awan gelap memenuhi cakrawala. Suara radio di telinganya.
Dan di bawah, jauh di bawah, di antara ombak kelabu, sebuah bentuk gelap yang bergerak tanpa lampu.