Ethan tidak tidur malam itu.
Ia duduk di meja kamarnya di rumah keluarga Lim, dengan lampu meja menyala dan jendela terbuka. Di kamar sebelah, Jessica akhirnya tertidur setelah Mei Lin menemaninya sampai lewat tengah malam.
Ia memejamkan mata dan mencoba kembali ke langit hari itu.
Awan gelap memenuhi cakrawala.
Hujan memukul kanopi.
Instrumen di depannya menyala hijau dan kuning. Suara napasnya sendiri di dalam masker oksigen.
Falcon One, posisi aman.
Falcon Two, copy.
Lalu apa?
Ethan mengepalkan tangan di atas meja.
Ia ingat menurunkan ketinggian sedikit untuk keluar dari lapisan awan paling tebal. Ia ingat laut di bawahnya, kelabu dan berbuih. Ia ingat sesuatu yang bergerak di permukaan laut itu.
Sebuah kapal.
Kapal kargo berukuran sedang, berlayar tanpa satu lampu pun di tengah cuaca seburuk itu. Di layar instrumennya, kapal itu tidak muncul sama sekali. Tidak ada tanda pengenal. Tidak ada transponder.
Seperti hantu.
Dan ia melaporkannya.
Ia ingat sekarang. Ia menekan tombol radio dan menyampaikannya dengan kalimat pendek, seperti yang diajarkan sejak akademi. Kontak permukaan. Kapal kargo tanpa transponder di bawah jalur terbang. Tanpa lampu. Koordinatnya.
Hal yang biasa. Hal yang sudah ratusan kali ia lakukan saat latihan. Ia melaporkan kapal nelayan, kapal tanker, kapal yang tersesat. Itu pekerjaan rutin. Ia bahkan tidak pernah memikirkannya lagi setelah itu.
Karena beberapa detik kemudian, semua instrumennya padam.
Ethan membuka mata.
Jantungnya berdebar keras.
Selama ini ia mengira gangguan itu datang tiba-tiba, tanpa sebab. Tapi gangguan itu datang tepat setelah ia menyebut kapal itu di radio.
Semua berawal dari kapal yang tidak boleh kamu lihat.
Keesokan paginya, Ethan duduk di samping ranjang Ryan di rumah sakit bersama Claire.
Ryan bersandar pada tumpukan bantal, bahu kirinya dibalut tebal. Laptop di pangkuannya berisi salinan seluruh isi flash drive yang ia buat pada malam penculikan itu. Claire duduk di kursi di sisi lain, membawa buku catatan.
Ethan menceritakan ingatannya.
Ryan mendengarkan tanpa bercanda sekali pun.
“Kalau kamu melaporkannya lewat radio,” kata Claire perlahan, “berarti menara pengawas merekamnya. Semua komunikasi latihan gabungan direkam.”
“Dan rekaman itu ada di flash drive,” kata Ryan. Ia sudah membuka berkasnya. “Percakapan menara pengawas, hari kecelakaan.”
Ia memutar rekaman itu.
Suara-suara pilot dan petugas menara memenuhi kamar rumah sakit yang sunyi. Laporan cuaca. Perubahan arah. Suara Ethan sendiri, lebih muda dan lebih tenang dari yang ia ingat.
Falcon One, posisi aman.
Lalu desis statis.
Lalu suara petugas menara memanggil Falcon One. Berulang-ulang. Tanpa jawaban.
Ryan menghentikan rekaman.
“Tidak ada,” katanya. “Tidak ada suaramu soal kapal itu.”
Ethan menatap layar.
“Aku melaporkannya. Aku yakin.”
“Aku percaya,” kata Claire.
Ia mencondongkan tubuh ke laptop dan menunjuk deretan angka kecil di bawah gelombang suara.
“Lihat jam di rekaman ini. Pukul sepuluh lewat empat belas menit tiga puluh dua detik, Ethan bilang posisi aman. Desis statis mulai pukul sepuluh lewat lima belas menit empat puluh satu detik.”
Ryan mengerutkan dahi.
“Satu menit sembilan detik.”
“Ke mana satu menit itu?” tanya Claire.
Hening.
Ryan membuka keterangan berkas rekaman. Deretan tulisan kecil memenuhi layar.
Claire membacanya lebih cepat daripada Ryan. Ia sudah dua minggu bekerja dengan berkas-berkas seperti ini.
“Berkas ini diubah,” katanya. Suaranya hampir berbisik. “Pada hari yang sama. Pukul sembilan malam, sebelas jam setelah kecelakaan. Saat semua orang masih sibuk mencarimu.”
Ethan merasakan seluruh tubuhnya dingin.
Seseorang memotong satu menit dari rekaman itu.
Satu menit berisi suaranya sendiri, melaporkan sebuah kapal tanpa lampu yang seharusnya tidak pernah ada.
Mereka masih duduk di kamar rumah sakit itu ketika ponsel Ethan berdering.
Wei Khang.
“Pulang sekarang,” kata ayahnya. Suaranya tegang. “Ada orang dari skuadronmu di depan pintu.”
Ada tiga mobil di depan rumah keluarga Lim ketika Ethan tiba.
Dua mobil polisi militer. Satu mobil dinas dengan bendera kecil di kap depannya.
Komandan skuadron berdiri di halaman. Pria yang selama bertahun-tahun memimpin briefing pagi, yang selalu berkata kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal. Wajahnya keras, tetapi matanya tidak mau bertemu mata Ethan.
“Captain Lim.”
“Sir.”
“Kantor pusat pertahanan mengajukan tuduhan resmi terhadapmu. Membocorkan dokumen rahasia negara. Kolonel Adrian Koh menyerahkan sebuah flash drive yang ia terima dari Claire Wong sebagai bukti bahwa salinan berkas investigasi kecelakaanmu beredar di luar jalur resmi.”
Ethan tidak bergerak.
Flash drive tiruan. Yang hanya berisi berkas-berkas kosong.
Koh tidak membutuhkan isinya. Ia hanya membutuhkan benda itu ada.
“Kamu diskors mulai hari ini,” lanjut komandan skuadron. “Kamu akan dibawa ke markas untuk pemeriksaan dewan militer. Claire Wong juga diperiksa. Paspornya ditahan.”
Ethan mendengar Mei Lin menahan napas di belakangnya.
Ia menoleh.
Jessica berdiri di ambang pintu rumah.
Pergelangan tangannya masih dibalut kasa putih. Gantungan kunci pesawat tergantung di jari-jarinya. Wajahnya pucat, tetapi ia berdiri tegak.
Ethan berjalan ke arahnya. Dua polisi militer bergerak, tetapi komandan skuadron mengangkat tangan sedikit.
“Dua menit, Captain.”
Ethan berdiri di depan Jessica.
“Aku akan kembali.”
“Aku tahu.”
Suara Jessica bergetar. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat.
“Jangan menangis,” bisik Ethan.
“Aku tidak menangis.”
“Matamu basah.”
“Itu debu dari gudang. Masih ada.”
Ethan tertawa. Tawa yang pecah di tengah.
Ia menyentuh pipi Jessica, tepat di samping goresan merah yang mulai mengering.
“Kapal itu nyata, Jessica. Aku melaporkannya. Seseorang menghapusnya.”
Mata Jessica melebar.
“Ceritakan kepada Samuel,” bisik Ethan. “Semuanya. Ryan dan Claire tahu.”
“Captain,” panggil komandan skuadron. “Waktunya.”
Ethan mundur selangkah. Lalu satu langkah lagi.
Ia berbalik dan berjalan ke mobil polisi militer. Salah satu petugas membukakan pintu belakang.
Jessica berdiri di ambang pintu dengan gantungan pesawat di tangan.
Ia tidak menangis. Ia menahan semuanya di dada, di tenggorokan, di balik bibir yang terkatup rapat, sampai mobil itu keluar dari halaman dan menghilang di ujung jalan.
Baru setelah itu ia membiarkan Mei Lin memeluknya.
Dan baru setelah itu, air matanya jatuh.