Ruang tunggu di markas itu berdinding krem, dengan deretan kursi plastik biru dan sebuah televisi yang tidak menyala.
Jessica sudah duduk di sana sejak pukul delapan pagi.
Dewan militer yang memeriksa Ethan bersidang di balik pintu kayu besar di ujung lorong. Pintu itu dijaga dua polisi militer. Tadi pagi, ketika Jessica mencoba mendekat, salah satu dari mereka menggeleng dengan sopan tetapi tegas.
“Maaf, Miss. Hanya keluarga inti dan saksi yang dipanggil.”
“Aku…”
Jessica berhenti.
Aku apa? Kekasihnya? Perempuan yang menunggunya? Tidak ada kata yang cukup untuk membuka pintu itu.
Mei Lin menggandeng lengannya dan membawanya kembali ke kursi plastik biru.
“Duduk di sini bersamaku,” kata Mei Lin. “Kita menunggu bersama.”
Jadi mereka menunggu.
Satu jam.
Dua jam.
Sesekali pintu kayu itu terbuka, seorang perwira keluar membawa map, lalu masuk lagi. Setiap kali pintu terbuka, Jessica mengangkat kepala. Setiap kali pintu tertutup, ia menunduk lagi.
Di pangkuannya ada tas kecil. Di dalam tas itu, dibungkus sapu tangan, jam tangan Ethan.
Jam yang diserahkan Wei Khang kepadanya di koridor markas yang lain, beberapa minggu lalu, ketika Ethan masih hilang di laut. Jam yang ia genggam di pagar pembatas landasan Changi. Jam yang ia pandangi semalaman sebelum terbang uji.
Ia mengeluarkannya dan memandangi jarumnya bergerak.
Wei Khang keluar dari ruang sidang menjelang pukul sebelas untuk minum air. Wajahnya letih. Dasinya sudah dilonggarkan.
“Mereka akan memanggil Ayah sebentar lagi,” katanya kepada Mei Lin. “Samuel bilang dewan ingin mendengar dari keluarga.”
Jessica berdiri.
“Uncle.”
Wei Khang menoleh.
Jessica mengulurkan jam tangan itu dengan kedua tangan.
“Bisakah Uncle memberikan ini kepadanya?”
Wei Khang memandangi jam itu. Lalu memandangi Jessica.
“Ini jam yang aku berikan kepadamu.”
“Iya, Uncle. Aku menyimpannya sejak hari itu.” Suara Jessica pelan. “Tolong bilang kepada Ethan, ada yang menunggunya pulang. Supaya dia ingat. Di dalam sana, kalau dia mulai lelah.”
Wei Khang menerima jam itu.
Ia menggenggamnya lama di telapak tangannya yang keriput.
Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia memasukkannya ke saku jas, di atas dada.
Ruang sidang dewan militer itu panjang dan sunyi.
Lima perwira tinggi duduk di balik meja panjang di ujung ruangan. Di satu sisi, Ethan duduk tegak di kursinya, mengenakan seragam dinas tanpa lencana sayap penerbang di dadanya. Di sisi lain, seorang perwira hukum dari kantor pusat pertahanan.
Kolonel Adrian Koh tidak hadir. Ia cukup mengirim berkas tuduhannya.
Wei Khang berjalan ke kursi saksi dengan langkah pelan.
Ketua dewan, seorang Brigadier Jenderal berambut abu-abu, memandanginya.
“Mr. Lim, Anda ayah terdakwa.”
“Saya ayah Captain Ethan Lim, Sir.”
Wei Khang tidak duduk.
“Saya tidak mengerti hukum militer. Saya tidak mengerti pesawat tempur. Saya bahkan tidak pernah setuju anak saya menjadi pilot.”
Beberapa anggota dewan saling melirik.
“Waktu dia hilang di laut, tiga belas hari, saya duduk di ruang tunggu di gedung ini. Saya mendengar Anda semua bilang harapan semakin kecil. Saya sudah memilih baju untuk pemakamannya.”
Suaranya bergetar sedikit, lalu menguat lagi.
“Dia pulang. Dan sekarang dia duduk di sini, dituduh sebagai pengkhianat, karena dia ingin tahu siapa yang mencoba membunuhnya.”
Ia menatap ketua dewan lurus-lurus.
“Keluarga Lim bukan keluarga besar. Kami tidak punya jenderal di meja makan. Tapi nama kami bersih. Hari ini saya mempertaruhkan nama itu untuk anak saya. Kalau dia berbohong kepada Anda semua, Anda boleh mengambil nama itu dari kami.”
Ruang sidang sunyi.
Ketua dewan memandang Wei Khang lama, lalu mengangguk pelan.
“Terima kasih, Mr. Lim. Anda boleh duduk.”
Wei Khang berjalan kembali. Tapi ia tidak menuju kursi keluarga di belakang. Ia berhenti di samping kursi Ethan.
Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya dan meletakkannya di meja di depan anaknya.
Jam tangan itu.
Ethan menatapnya.
“Dari Jessica,” kata Wei Khang pelan, cukup pelan agar hanya Ethan yang mendengar. “Dia bilang, ada yang menunggumu pulang.”
Ethan memandangi jam itu lama sekali.
Lalu ia memakainya di pergelangan tangan kirinya, mengencangkan talinya, dan duduk lebih tegak.
Sore itu, di ruang baca rumahnya di Bukit Timah, Samuel menerima tamu.
Jessica datang bersama Mei Lin, membawa map plastik bening yang ia susun semalaman.
Ia meletakkan isinya satu per satu di meja kayu besar.
Tiga lembar cetakan foto dari kameranya. Pria berkacamata hitam di dekat halte bus, dengan tali pengenal Aero-Sentra Services di lehernya.
Foto dirinya menarik anak kecil dari jalan, dengan tanda silang merah di wajah. Masih di dalam kantong plastik dari orang Samuel.
Dan selembar kertas berisi tulisan tangannya yang rapi.
“Ini dari ponsel Ethan,” kata Jessica. “Polisi militer mengembalikan barang-barang pribadinya ke rumah kemarin. Aku menyalin semua panggilan dari nomor tidak dikenal. Jam, tanggal, lama panggilan.”
Ia menunjuk baris paling atas.
“Yang ini malam setelah Claire memberikan amplop itu. Panggilan pertama. Tidak direkam. Tapi nomornya ada. Dua puluh tiga detik.”
Lalu baris-baris berikutnya.
“Yang ini malam penculikan. Pukul sembilan lewat dua puluh delapan. Lalu pukul dua pagi kurang tiga menit. Lalu pukul tiga lewat tiga puluh.” Ia menatap Samuel. “Nomornya berbeda-beda. Tapi Uncle punya rekaman yang dua terakhir. Kalau suaranya sama dengan penelepon pertama…”
“…berarti satu orang yang sama mengancam Ethan sejak awal,” lanjut Samuel pelan.
Ia memandangi kertas itu. Lalu memandangi Jessica di balik kacamatanya.
“Siapa yang mengajarimu menyusun bukti seperti ini?”
“Tidak ada. Aku hanya terbiasa merapikan pekerjaan sebelum menyerahkannya ke klien.”
Samuel tertawa pendek. Tawa pertama yang Jessica dengar darinya.
“Kalau saja separuh jaksa yang pernah kukenal serapi kamu.”
Keesokan harinya, dewan militer memanggil saksi berikutnya.
Claire Wong masuk ke ruang sidang dengan blazer hitam dan wajah tanpa riasan.
Paspornya sudah ditahan. Kariernya mungkin sudah habis. Ia tahu itu.
Ia duduk di kursi saksi, melipat tangan di pangkuan, dan menatap kelima perwira di depannya satu per satu.
“Saya Claire Wong. Saya bekerja di bawah Kolonel Adrian Koh.”
Ia menarik napas.
“Dan Kolonel Adrian Koh memerintahkan saya menghancurkan berkas investigasi kecelakaan Captain Ethan Lim. Ketika saya tidak melakukannya, ia mengancam akan menghancurkan karier saya dan keluarga saya. Ia menyebut nama jalan rumah ibu saya. Ia menyebut nama adik saya, Emily, dan jam berapa adik saya biasa makan di kedai dekat kampusnya.”
Ruang sidang menjadi sangat sunyi.
“Saya berbohong kepadanya dua kali karena saya takut,” lanjut Claire. Suaranya tidak bergetar sedikit pun. “Hari ini saya tidak akan berbohong lagi.”