Sidang pendahuluan digelar di aula yang lebih besar, dengan deretan bangku kayu untuk keluarga di bagian belakang.
Kali ini Jessica boleh masuk.
Ia duduk di antara Mei Lin dan Wei Khang, di bangku paling belakang. Dari sana ia bisa melihat punggung Ethan di kursi di depan, tegak dan diam. Jam tangan itu melingkar di pergelangan kirinya.
Ryan duduk dua bangku di depan Jessica. Lengan kirinya digendong kain penyangga, perban putih menyembul di balik kerah kemejanya. Setiap kali ia bergerak, wajahnya meringis sedikit, tetapi ia menolak pulang.
“Aku sudah tertembak demi sidang ini,” katanya kepada perawat yang mencoba menahannya pagi tadi. “Paling tidak aku harus menontonnya.”
Di sisi kanan aula, di kursi khusus, duduk Kolonel Adrian Koh.
Seragam lengkap. Medali berjajar di dada. Rambut disisir rapi.
Ia terlihat seperti seorang perwira teladan yang datang untuk menyaksikan anak buahnya diadili dengan adil.
Ethan dipanggil bersaksi pukul sepuluh.
Ia berdiri di depan dewan dan bercerita dengan suara tenang.
Tentang cuaca hari itu. Tentang lapisan awan. Tentang kapal kargo tanpa lampu dan tanpa transponder yang bergerak di bawah jalur terbangnya.
“Saya menyampaikannya lewat radio, Sir. Kalimat standar. Kontak permukaan, posisi, arah. Beberapa detik kemudian, semua instrumen saya padam.”
“Dan rekaman menara pengawas?” tanya ketua dewan.
“Rekaman itu kehilangan satu menit sembilan detik, Sir. Tepat di antara kalimat posisi terakhir saya dan gangguan statis. Berkasnya diubah sebelas jam setelah kecelakaan.”
Beberapa anggota dewan mencatat.
Ethan melanjutkan. Tentang benda hitam kecil di kompartemen avionik pada pagi terbang uji. Tentang Darren Soh di rekaman CCTV, di daftar unit, di Terminal Feri Tanah Merah. Tentang gudang di Loyang.
Ketika Ethan selesai, ketua dewan menoleh ke kanan.
“Kolonel Adrian Koh. Anda ingin menanggapi?”
Koh berdiri perlahan.
Ia tidak terlihat marah. Ia terlihat sedih.
“Saya sangat menghormati Captain Lim,” katanya. Suaranya hangat dan dalam. “Saya orang pertama yang menjenguknya di rumah sakit. Saya melihat sendiri keadaannya. Tiga belas hari terdampar di pulau, kehausan, terluka, sendirian.”
Ia menggeleng pelan.
“Tidak ada manusia yang keluar dari pengalaman seperti itu tanpa luka di dalam. Para dokter menyebutnya trauma. Ingatan yang muncul berminggu-minggu kemudian. Kapal hantu tanpa lampu. Satu menit yang hilang. Musuh di balik setiap bayangan.”
Jessica merasakan tangannya mengepal di pangkuan.
“Saya tidak menyalahkan Captain Lim,” lanjut Koh. “Saya menyalahkan diri sendiri karena tidak menyuruhnya beristirahat lebih lama. Saya menawarinya penugasan di luar negeri, jauh dari tekanan. Dia menolak. Dan sekarang, dalam keadaan bingung, dia menuduh orang-orang yang justru ingin menolongnya.”
Ia duduk kembali dengan wajah prihatin.
Di bangku depan, Ryan bergumam cukup keras untuk terdengar beberapa orang.
“Dia pandai sekali.”
Seorang petugas menoleh dan menatapnya tajam. Ryan mengangkat tangan kanannya, satu-satunya yang bisa ia angkat, sebagai permintaan maaf.
Sidang ditunda sampai lusa.
Di koridor, ketika orang-orang berjalan keluar, Jessica mendapati dirinya berjalan tepat di samping Koh.
Ia tidak sengaja. Koridor itu sempit, orang-orang berdesakan. Tapi Koh memperlambat langkahnya sampai mereka sejajar.
“Miss Jessica,” katanya pelan, tanpa menoleh. “Pergelangan tanganmu sudah membaik?”
Jessica berhenti berjalan.
Koh ikut berhenti. Ia tersenyum ramah, seperti seorang paman yang menanyakan kabar.
Jessica menatapnya. Pria yang menjenguk Ethan di rumah sakit. Pria yang menyimpan fotonya.
“Sudah, Kolonel,” jawabnya. Suaranya tidak gemetar. “Dan saya ingat setiap pesawat yang lewat di atas gudang itu.”
Senyum Koh tidak berubah.
Tapi matanya berkedip satu kali.
Lalu ia mengangguk sopan dan berjalan pergi.
Wei Khang, yang berdiri di belakang Jessica, meletakkan tangannya di bahu Jessica. Tangan itu gemetar.
“Kamu gila, nak,” bisiknya.
“Iya, Uncle.”
Malam itu, Samuel mendapatkan sesuatu yang ia tunggu selama berhari-hari.
Selembar surat bertanda tangan ketua dewan militer. Perintah resmi untuk membuka server cadangan menara pengawas.
“Rekaman radio disalin otomatis ke server cadangan di gedung terpisah,” jelas Claire di dalam mobil, dalam perjalanan ke sana. “Setiap hari, pukul enam sore. Hampir tidak ada yang pernah membukanya. Semua orang hanya memakai server utama.”
“Kalau seseorang menghapus satu menit di server utama…”
“…dia mungkin lupa salinannya sudah dibuat sore itu,” sambung Ryan dari kursi belakang. Ia memangku laptop dengan satu tangan. “Atau dia tidak tahu salinan itu ada.”
“Kamu tahu?” tanya Samuel kepada Claire.
“Aku tahu karena dua minggu itu aku yang disuruh memeriksa daftar cadangan,” jawab Claire. “Koh memintaku memastikan semua berkas investigasi lengkap. Waktu itu aku tidak mengerti kenapa dia bertanya terus soal salinan.”
Ruang server itu dingin dan berdengung.
Seorang petugas teknis yang mengantuk membaca surat dari ketua dewan dua kali, lalu menelepon atasannya, lalu membukakan pintu.
Ryan duduk di depan terminal. Claire berdiri di sampingnya, menyebutkan nama folder satu per satu.
Tanggal kecelakaan.
Rekaman menara pengawas.
Berkas itu ada di sana. Dengan catatan waktu salinan pukul enam sore pada hari kecelakaan, tiga jam sebelum berkas di server utama diubah.
Ryan memasang pengeras suara kecil dan menekan tombol putar.
Suara-suara yang sama. Laporan cuaca. Perubahan arah.
Falcon One, posisi aman.
Lalu, kali ini, sesuatu yang tidak ada di rekaman flash drive.
Suara Ethan. Tenang, jelas, seperti saat ia memesan teh.
Tower, Falcon One. Kontak permukaan. Kapal kargo tanpa transponder, tanpa lampu, di bawah jalur terbang, arah utara.
Jeda.
Falcon One, ulangi.
Kapal kargo, tanpa transponder, mengulangi…
Lalu desis statis.
Samuel memejamkan mata.
Claire menutup mulutnya dengan tangan.
Ryan memutarnya sekali lagi, hanya untuk memastikan semua orang di ruangan itu mendengarnya. Petugas teknis yang mengantuk tadi kini berdiri tegak di ambang pintu, matanya terbuka lebar.
“Satu folder lagi,” kata Claire dengan suara serak. “Berkas investigasi. Versi pertama. Sebelum disunting.”
Ryan membukanya.
Dokumen yang sama dengan yang ada di amplop cokelat Claire. Halaman demi halaman. Gangguan elektronik dari luar. Rekaman radar.
Halaman terakhir.
Bagian yang di flash drive tertutup hitam pekat kini terbaca jelas.
Teknisi yang terakhir tercatat berada di dekat pesawat: Darren Soh, dipekerjakan melalui kontraktor perawatan Aero-Sentra Services.
Hening lama sekali.
Lalu Samuel membuka matanya.
“Besok pagi,” katanya, “kita bicara dengan Darren Soh lagi.”