Darren Soh datang ke ruang pemeriksaan dengan pengacaranya, seorang wanita muda berkacamata yang terus memeriksa jam tangannya.
Ia duduk di kursi yang sama seperti lima hari sebelumnya. Rambutnya sudah dicukur pendek oleh petugas tahanan. Tanpa rambut panjang dan kumis, wajahnya kembali menyerupai pas foto kecil di daftar unit elang perak.
Lebih muda. Lebih takut.
Di seberang meja duduk Samuel, seorang penyidik polisi militer yang ditunjuk dewan, dan Ethan.
Ethan masih diskors. Ia hadir karena ketua dewan sendiri yang memintanya.
“Klien saya sudah menyatakan tidak akan bicara,” kata pengacara itu sebelum siapa pun membuka mulut.
“Klien Anda boleh diam,” jawab Samuel tenang. “Kami hanya ingin dia mendengarkan sesuatu.”
Ia memberi isyarat kepada penyidik.
Penyidik meletakkan sebuah pengeras suara kecil di meja dan menekan tombolnya.
Suara Ethan memenuhi ruangan itu.
Tower, Falcon One. Kontak permukaan. Kapal kargo tanpa transponder, tanpa lampu, di bawah jalur terbang, arah utara.
Darren mengangkat kepala.
Falcon One, ulangi.
Kapal kargo, tanpa transponder, mengulangi…
Desis statis.
Penyidik menghentikan rekaman.
Wajah Darren berubah pucat.
“Itu rekaman menara pengawas dari server cadangan,” kata Samuel. “Satu menit yang dihapus dari server utama pada malam yang sama. Ternyata seseorang lupa ada salinannya.”
Ia membuka map di depannya dan menggeser selembar kertas ke tengah meja.
Halaman terakhir berkas investigasi. Versi yang belum dihitamkan.
Nama Darren Soh tercetak jelas di sana.
Aero-Sentra Services.
Darren memandangi kertas itu. Jari-jarinya bergerak gelisah di atas meja.
“Kami juga punya rekaman dua panggilan telepon ke ponsel Captain Lim pada malam penculikan,” lanjut Samuel. “Seorang ahli sedang membandingkannya dengan suaramu. Dan seorang pria bernama Raymond Goh sudah memberi tahu kami siapa yang menyuruhnya menunggu di gudang di Loyang.”
Pengacara itu mencondongkan tubuh dan berbisik di telinga Darren.
Darren tidak mendengarkannya.
Ia menatap Ethan.
“Dia akan membunuh mereka,” katanya tiba-tiba. Suaranya serak, kali ini bukan dibuat-buat. “Kalau aku bicara, dia akan membunuh mereka.”
“Siapa?” tanya Ethan.
“Istriku. Anakku.” Darren menelan ludah. “Anakku baru empat tahun. Mereka tinggal di Woodlands. Orang-orang Marcus tahu alamatnya. Mereka mengirimiku foto anakku di depan taman kanak-kanaknya.”
Ethan merasakan dadanya mengencang.
Foto. Tanda silang merah. Nama jalan rumah ibu Claire.
Cara yang sama.
Samuel menoleh kepada penyidik. Penyidik itu mengangguk dan bicara pelan lewat radio di bahunya.
“Dalam satu jam, dua petugas akan berada di depan rumah istrimu,” kata Samuel. “Dalam tiga jam, mereka akan dipindahkan ke tempat yang tidak diketahui siapa pun selain dewan. Itu janji ketua dewan, bukan janjiku. Ia menandatanganinya pagi ini.”
Ia menggeser selembar kertas lagi. Surat dengan stempel resmi.
Darren membacanya.
Lama sekali.
Lalu bahunya turun. Seperti seseorang yang akhirnya meletakkan beban yang sudah terlalu lama ia pikul.
“Lima tahun lalu, aku dikeluarkan dari unit,” katanya pelan. “Karena aku menolak ikut satu operasi. Koh bilang aku pengecut. Dia mencoret namaku dengan tinta merah di depan semua orang.”
Ia tertawa kecil, pahit.
“Setahun kemudian aku menganggur. Utangku menumpuk. Lalu Marcus Teo datang. Dia bilang ada pekerjaan di perusahaannya. Gajinya besar. Aku hanya perlu ikut perintah.”
“Perintah siapa?”
“Marcus bilang perintah datang dari atas. Tapi aku tahu siapa yang di atas. Aku pernah dua tahun di bawahnya.”
Darren mengangkat kepala.
“Pagi sebelum latihan gabungan itu, Marcus mengirimku ke Paya Lebar dengan seragam teknisi dan kartu kontraktor. Dia memberiku benda kecil. Dia bilang pasang di kompartemen avionik pesawat Captain Lim. Hanya untuk berjaga-jaga.”
“Berjaga-jaga dari apa?” tanya penyidik.
“Dia tidak bilang. Aku tidak bertanya. Aku hanya ingin anakku punya rumah.”
Ruangan itu sunyi.
Ethan mendengarkan dengan kedua tangan terkepal di bawah meja. Jam tangan di pergelangannya terasa berat.
“Aku memasangnya,” kata Darren. “Aku tahu kamera di hanggar merekamku. Aku menoleh ke arahnya dengan sengaja.”
Ethan menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena aku ingin seseorang suatu hari tahu itu aku.” Mata Darren basah. “Aku pikir kalau pesawatmu jatuh, setidaknya ada yang tahu siapa yang memasang benda itu. Ternyata mereka menghapus bagian akhir rekamannya juga.”
“Dan telepon-telepon itu?”
Darren memejamkan mata.
“Aku. Semuanya aku. Malam setelah kamu menerima amplop dari Claire Wong. Lalu malam penculikan. Marcus memberiku kalimat yang harus kuucapkan. Kata per kata.”
“Dan kapal itu?” tanya Ethan pelan.
Darren membuka mata. Ketakutan kembali di wajahnya.
“Aku hanya tahu kapal itu membawa sesuatu yang membuat Koh kaya. Aku tidak tahu apa. Hanya Koh yang tahu semuanya.”
Penyidik menutup buku catatannya.
“Itu cukup untuk sekarang.”
Pukul tiga sore, ponsel Samuel berbunyi.
Ia mendengarkan, lalu wajahnya berubah. Ia berjalan cepat ke luar ruang pemeriksaan, setengah menyeret tongkatnya.
Ethan menyusul.
“Ada apa?”
“Seseorang di markas ini membocorkan bahwa Darren sedang diperiksa,” kata Samuel. “Setengah jam lalu, Koh meninggalkan kantornya tanpa memberi tahu siapa pun. Kenalanku di imigrasi baru saja menemukan namanya di daftar penumpang pesawat sewaan. Bandara Seletar. Tujuannya Bangkok. Jadwal berangkat pukul empat lewat lima belas.”
Ethan melihat jam tangannya.
Pukul tiga lewat enam menit.
“Polisi militer?”
“Ketua dewan sedang menandatangani perintah penangkapan. Tapi dari sini ke Seletar empat puluh menit dengan lalu lintas sore ini. Mereka akan terlambat.”
Ethan memandang Samuel.
“Aku kenal jalan pintasnya. Aku latihan terbang ringan di Seletar selama dua tahun sebelum masuk skuadron.”
Samuel menatapnya lama.
Lalu ia memasukkan tangan ke saku jasnya dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah alat perekam kecil, tidak lebih besar dari korek api.
“Ini sudah menyala,” katanya. “Selipkan di saku dadamu. Kalau dia bicara, aku ingin setiap katanya tersimpan.”
Ethan mengambilnya.
“Jangan halangi dia sendirian kalau dia bersenjata,” kata Samuel. “Tahan dia dengan kata-kata. Kamu hanya perlu membuatnya tetap di darat sampai polisi militer datang.”
“Aku mengerti.”
Ethan berlari ke parkiran.
Di dalam mobil, sebelum menyalakan mesin, ia mengirim satu pesan.
“Koh mencoba kabur dari Seletar. Aku ke sana. Aku akan pulang.”
Ia tidak menunggu balasan.
Mesin mobil menderu. Ethan memutar kemudi, keluar dari gerbang markas, dan memacu mobilnya ke arah utara.
Di atas kota, langit sore berwarna keemasan. Sebuah pesawat kecil melintas dari arah Seletar, terbang rendah, menuju utara.
Ethan menggenggam kemudi lebih erat.
Belum, pikirnya.
Belum yang itu.