Keputusan dewan militer dibacakan seminggu kemudian, pada pagi yang cerah tanpa awan.
Jessica tidak berada di dalam ruangan. Ia menunggu di halaman markas, duduk di bangku batu di bawah pohon flamboyan, dengan Mei Lin di satu sisi dan Wei Khang di sisi lain.
Pintu gedung terbuka pukul sepuluh lewat dua puluh.
Ethan keluar lebih dulu.
Ia mengenakan seragam dinas lengkap. Dan di dadanya, di tempat yang seminggu ini kosong, kini tersemat kembali lencana sayap penerbang.
Jessica berdiri.
Ethan tidak berjalan ke arahnya. Ia berlari.
Ia mengangkat Jessica dari tanah dan memutarnya satu kali di bawah pohon flamboyan, di depan polisi militer yang berjaga, di depan perwira-perwira yang keluar dari gedung, di depan ayah dan ibunya.
Jessica tertawa dan menangis bersamaan.
“Skorsnya dicabut,” kata Ethan di rambutnya. “Semua tuduhan dibatalkan. Aku boleh terbang lagi setelah evaluasi medis.”
Samuel keluar beberapa menit kemudian, berjalan pelan dengan tongkatnya, diikuti Ryan yang lengannya masih digendong kain penyangga.
“Kolonel Adrian Koh ditahan dan akan diadili di pengadilan militer,” kata Samuel kepada Wei Khang. “Marcus Teo ditangkap kemarin di kantornya. Raymond Goh dan pria di gudang itu juga. Darren Soh akan menjadi saksi utama. Istri dan anaknya sudah aman.”
Wei Khang menjabat tangan sahabatnya lama sekali.
“Terima kasih, kawan.”
“Jangan berterima kasih kepadaku.” Samuel menoleh ke arah Jessica, yang masih dipeluk Ethan di bawah pohon. “Berterima kasihlah kepada calon menantumu. Dia yang menyusun bukti paling rapi di seluruh berkas itu.”
Wei Khang tidak membantah kata calon menantu.
Mei Lin melihatnya dan tersenyum diam-diam.
Claire keluar paling akhir.
Ia berjalan sendirian, mengenakan blazer abu-abu. Di tangannya ada sebuah map kecil, dan di atas map itu, sebuah paspor bersampul merah.
Ia berhenti di tangga gedung dan memandang ke arah pohon flamboyan.
Jessica melepaskan diri dari pelukan Ethan dengan lembut.
“Sebentar.”
Ethan memandangnya, lalu ke arah Claire, lalu mengangguk.
Mereka duduk di kafe dekat pangkalan.
Kafe yang sama. Jessica menyadarinya ketika mereka masuk, ketika ia melihat jalan di depan kafe, tempat seorang anak kecil pernah berlari mengejar balon merah.
Claire memilih meja dekat jendela. Mereka memesan dua cangkir teh dan tidak menyentuhnya untuk waktu yang lama.
“Mereka mengembalikan pasporku pagi ini,” kata Claire akhirnya.
“Aku senang.”
“Aku juga menerima surat dari kantor pusat. Ada lowongan di kantor atase pertahanan di London. Dua tahun. Mungkin lebih.”
Jessica memandangnya.
“Dulu aku pernah mendapat tawaran seperti itu,” lanjut Claire. Ia memutar cangkir tehnya pelan. “Tiga tahun lalu. Aku menolaknya karena tidak ingin jauh dari Ethan. Kali ini aku menerimanya.”
“Kapan berangkat?”
“Bulan depan.”
Claire mengangkat kepala dan menatap Jessica untuk pertama kalinya hari itu. Matanya merah, tetapi ia tidak menangis.
“Jessica. Pesan-pesan itu. Foto akademi. Kalimat-kalimat itu.”
Ia berhenti, menarik napas.
“Itu aku. Kamu sudah tahu. Ethan sudah tahu. Tapi aku belum pernah mengatakannya langsung kepadamu.” Suaranya pelan. “Aku minta maaf. Aku melakukan hal yang jahat kepada orang yang tidak bersalah. Dan aku melakukannya karena aku tidak bisa menerima bahwa aku kalah.”
Jessica diam lama.
Di luar jendela, sebuah jet melintas tinggi di atas pangkalan.
“Waktu aku di gudang itu,” kata Jessica akhirnya, “aku berpikir tentang semua orang yang mungkin sedang mencariku. Ethan. Ryan. Auntie dan Uncle. Uncle Samuel.”
Ia memandang Claire.
“Dan kamu. Aku tahu kamu pasti duduk di ruang tengah itu, menyalahkan dirimu sendiri. Anehnya, itu membuatku sedikit lebih tenang. Karena aku tahu kamu juga ingin aku pulang.”
Claire menunduk. Bahunya bergetar.
“Aku memaafkanmu,” kata Jessica. “Bukan karena kamu sudah membantu kami. Tapi karena aku tidak mau membawa kemarahan ini sepanjang hidupku.”
Claire mengusap matanya dengan punggung tangan dan tertawa kecil.
“Ethan benar. Kamu memang keras kepala.”
“Dia bilang begitu?”
“Dengan bangga.”
Malam itu, Ethan dan Jessica duduk di anak tangga teras rumah keluarga Lim.
Di pangkuan Ethan ada kotak kecil yang sejak lama tersimpan di laci mejanya. Kotak dari Claire, dengan pita yang mulai pudar.
Buka nanti.
“Sekarang?” tanya Jessica.
“Sekarang. Bersamamu.”
Ethan melepas pitanya dan membuka tutupnya.
Di dalamnya ada selembar foto.
Foto kelulusan akademi penerbangan. Dua kadet muda berseragam putih berdiri di depan sebuah pesawat latih, tertawa ke arah kamera. Yang laki-laki berambut cepak, kurus, dengan senyum lebar. Yang perempuan berambut sebahu, memegang topinya agar tidak terbawa angin.
Ethan memandangi foto itu lama.
Di bawah foto itu, ada secarik kertas yang dilipat dua. Tulisan tangan Claire yang rapi, dengan tinta biru.
Ethan membukanya, lalu membacanya pelan, cukup keras agar Jessica juga mendengar.
Ethan,
Ini foto pertama kita sebagai penerbang. Aku menyimpannya sepuluh tahun. Aku pikir selama foto ini ada padaku, sebagian dirimu juga ada padaku.
Ternyata tidak begitu cara kerjanya.
Aku memberikan foto ini kepadamu supaya aku tidak lagi menyimpannya. Simpan, buang, terserah. Itu milikmu sekarang.
Terima kasih untuk sepuluh tahun. Aku akan belajar terbang sendiri.
Pulanglah selalu kepada orang yang menunggumu.
Claire.
Ethan melipat surat itu kembali. Tangannya sedikit gemetar.
Jessica tidak berkata apa-apa. Ia hanya menyandarkan kepalanya di bahu Ethan.
Mereka duduk di sana lama sekali, di bawah langit malam yang bersih.
“Aku akan menyimpannya,” kata Ethan akhirnya. “Fotonya.”
“Aku tahu.”
“Kamu tidak keberatan?”
Jessica tersenyum.
“Itu foto sahabatmu. Dan itu foto dirimu yang belum mengenalku.” Ia mengambil foto itu dari tangan Ethan dan memandanginya. “Aku ingin tahu seperti apa kamu sebelum aku datang.”
Ethan tertawa pelan.
“Kurus dan bodoh.”
“Masih kurus,” kata Jessica. “Tapi sudah tidak terlalu bodoh.”
Ethan tertawa sampai bahunya berguncang.
Lalu tawanya mereda. Ia memandang langit, ke arah utara, tempat Pangkalan Udara Paya Lebar berada di balik deretan atap rumah.
“Besok aku mulai evaluasi medis,” katanya. “Kalau dokter setuju, beberapa minggu lagi aku terbang.”
Jessica menggenggam tangannya.
“Aku akan datang.”
“Ke pagar landasan?”
“Ke pagar landasan. Seperti dulu.”
Ethan mengecup punggung tangannya, tepat di atas cincin sayap kecil di jari manis kanannya.