Lima minggu kemudian, pada pagi hari Selasa, Jessica bangun sebelum alarm berbunyi.
Ia duduk di tepi ranjang kamar tamu yang kini terasa seperti kamarnya sendiri. Di meja kecil di samping jendela tergeletak kamera, gantungan kunci pesawat dengan sayap yang tergores, dan secangkir teh yang dibawakan Mei Lin setengah jam lalu dan sudah dingin.
Hari ini Ethan terbang.
Penerbangan pertamanya sejak semuanya selesai.
Ponselnya berbunyi. Panggilan video.
Wajah Nadia muncul di layar, lengkap dengan rambut berantakan dan kantong mata.
“Kamu tahu ini jam berapa di Jakarta?”
“Sama dengan di sini, kurang satu jam.”
“Jam lima pagi, Jessica. Aku bangun jam lima pagi demi kamu.” Nadia menguap lebar. “Jadi? Hari ini pilotmu terbang?”
“Iya.”
“Kamu takut?”
Jessica memandang ke luar jendela. Langit masih biru tua, dengan semburat jingga di ujung timur.
“Sedikit.”
“Bohong. Kamu pasti takut sekali.”
Jessica tertawa.
“Iya. Takut sekali.”
Nadia berhenti menguap. Wajahnya melunak.
“Dia akan pulang, Jessica. Dia selalu pulang. Aku yang bilang begitu kepadamu sebelum kamu berangkat ke Singapura dengan koper kecil dan wajah seperti hantu.”
“Aku ingat.”
“Telepon aku kalau dia sudah mendarat. Aku mau dengar suaramu waktu kamu sudah tidak takut lagi.”
Pagar pembatas landasan di Pangkalan Udara Paya Lebar terbuat dari kawat yang dilapisi cat hijau tua.
Jessica berdiri di sana pukul delapan pagi bersama Mei Lin dan Wei Khang. Ryan berdiri di samping mereka. Lengan kirinya sudah tidak digendong lagi, tetapi ia masih menggerakkannya dengan hati-hati.
“Dua minggu lagi giliranku,” katanya. “Dokter bilang bahuku hampir pulih.”
“Kamu bilang itu setiap hari,” kata Jessica.
“Karena setiap hari memang hampir.”
Di landasan, deretan jet berbaris diam di bawah matahari pagi. Teknisi-teknisi bergerak di sekitarnya. Kali ini, Ryan sendiri yang memeriksa daftar nama mereka kemarin. Semuanya teknisi skuadron. Tidak satu pun dari kontraktor luar.
Di ujung pagar, agak jauh dari mereka, seorang perempuan berambut sebahu berdiri sendirian dengan kacamata hitam dan koper kecil di sampingnya.
Claire.
Penerbangannya ke London berangkat dari Changi sore nanti. Ia tidak mendekat. Ia hanya mengangguk sekali ke arah Jessica, dan Jessica mengangguk kembali.
Lalu, dari arah hanggar, sebuah sosok berjalan keluar dengan flight suit biru tua dan helm di tangan.
Jessica mengenalinya dari kejauhan.
Cara Ethan berjalan. Bahunya yang tegap. Bahkan cara ia menoleh sebentar ke arah pagar, seolah tahu tepat di mana Jessica berdiri.
Ethan mengangkat tangan.
Jessica mengangkat tangannya juga.
Ethan menaiki tangga, masuk ke kokpit, dan kanopi jet itu menutup perlahan di atas kepalanya.
Mesin menyala.
Suaranya menggelegar dan menggetarkan pagar kawat di bawah telapak tangan Jessica. Jet itu bergerak pelan ke ujung landasan, berbelok, lalu berhenti sesaat.
Jessica menggenggam gantungan kunci pesawat di saku jaketnya.
Lalu jet itu melesat.
Lepas landas, roda terangkat, hidungnya mendongak ke langit. Suaranya naik dan naik, seperti seseorang yang berteriak sambil berlari menaiki tangga.
Persis seperti yang Ayah ajarkan dulu.
Jet itu menembus lapisan awan tipis di atas pangkalan.
Lalu menghilang.
Jessica tidak bergerak.
Langit di atasnya kosong. Hanya biru dan awan. Suara mesin semakin jauh, semakin pelan, sampai akhirnya tidak terdengar sama sekali.
Ia memejamkan mata.
Tiba-tiba ia kembali ke ruang tunggu markas itu. Kursi plastik biru. Peta digital di layar besar. Suara perwira yang berkata belum ditemukan.
Tangannya mencengkeram pagar kawat lebih erat.
Mei Lin melihatnya dan meletakkan tangan di punggung Jessica, tanpa berkata apa-apa.
Jessica berdoa.
Ia berdoa dalam hati, dengan kalimat yang sama seperti hari pertama di Changi dulu. Ia juga teringat Ayah, dan semua orang yang bertugas mengantarkan penerbang pulang.
Antar dia pulang. Kali ini, antar dia pulang dengan selamat.
Dua puluh tiga menit.
Ryan menghitungnya dengan jam tangan, meskipun Jessica tidak memintanya.
Lalu, dari arah selatan, suara itu kembali.
Rendah. Panjang. Turun.
Seperti orang yang menghela napas sebelum pulang.
Jessica membuka mata.
Jet itu muncul dari balik awan, kecil di kejauhan, lalu semakin besar. Roda pendaratnya sudah turun. Hidungnya sedikit terangkat.
Ia melayang di atas ujung landasan, rendah sekali, sangat tenang.
Lalu menyentuh aspal.
Mulus. Hampir tanpa suara selain desis ban.
Ryan bersiul panjang.
“Pamer,” gumamnya. “Dia pamer.”
Wei Khang, yang sejak tadi berdiri kaku dengan tangan di belakang punggung, mengembuskan napas panjang. Mei Lin tertawa kecil sambil mengusap matanya.
Jessica tidak tertawa.
Ia hanya berdiri di sana, dengan air mata mengalir tanpa ia sadari, memandangi jet itu bergerak pelan kembali ke depan hanggar.
Kanopi terbuka.
Ethan melepas helmnya, turun dari tangga lebih cepat daripada seharusnya, dan menyerahkan helm itu kepada teknisi terdekat tanpa melihat.
Lalu ia berlari.
Melintasi aspal. Melewati jet-jet yang berbaris. Melewati dua teknisi yang menoleh heran. Ke arah pagar.
Ke arah gerbang kecil di ujung pagar yang sudah dibukakan Ryan sejak tadi tanpa memberi tahu siapa pun.
Jessica berlari juga.
Mereka bertemu di gerbang itu.
Ethan memeluknya begitu erat sampai kaki Jessica terangkat dari tanah. Flight suit-nya berbau bahan bakar dan keringat dan langit.
“Aku pulang,” bisiknya.
“Aku tahu.”
“Kamu menangis.”
“Itu debu landasan.”
Ethan tertawa di bahunya.
“Alasanmu selalu sama.”
“Karena alasannya selalu benar.”
Ethan melepaskan pelukan itu sedikit, cukup untuk memandang wajah Jessica. Ia mengusap pipinya dengan ibu jari. Goresan merah dari gudang itu sudah lama hilang, hanya menyisakan garis pucat yang hampir tidak terlihat.
“Waktu aku di atas,” katanya, “aku melihat ke bawah.”
“Kamu selalu melihat ke bawah.”
“Aku melihat pagar ini. Aku melihatmu. Kecil sekali, seperti titik.” Ia tersenyum. “Itu pertama kalinya aku terbang dan tahu persis ke mana aku harus pulang.”
Jessica menoleh ke ujung pagar.
Claire sudah tidak ada di sana. Hanya bekas roda koper kecil di rumput, menuju jalan keluar.
Jessica mengeluarkan ponselnya dengan tangan yang masih gemetar dan menekan nama Nadia.
Nadia menjawab pada dering pertama.
“Jadi?”
Jessica menatap Ethan, lalu tertawa di antara sisa air matanya.
“Dia sudah mendarat.”