Rumah ibu Jessica di Bandung berdiri di ujung gang kecil yang menanjak, dengan pagar besi bercat putih dan pohon jambu air di halaman depan.
Di bawah pohon itu masih tergelar tikar pandan yang sama.
Jessica berhenti di depan pagar dan memandanginya lama.
“Di situ?” tanya Ethan pelan di sampingnya.
“Di situ. Aku dan Ayah. Setiap sore.”
Ethan memandangi tikar pandan yang sudah pudar warnanya. Lalu memandang langit di atasnya. Langit Bandung siang itu berawan tipis, dan dari kejauhan terdengar dengung pesawat yang hendak mendarat di bandara kota.
Di belakang mereka, Wei Khang dan Mei Lin turun dari mobil sewaan. Wei Khang mengenakan kemeja batik yang dibelikan Jessica di Singapura minggu lalu. Ia sudah tiga kali bertanya apakah kemeja itu terlalu mencolok.
Pintu rumah terbuka sebelum mereka sempat mengetuk.
Ibu Jessica berdiri di ambang pintu dengan daster bermotif bunga dan selendang tipis di bahu. Tubuhnya kecil, rambutnya sudah beruban, dan matanya sama persis dengan mata Jessica.
Ia memandangi putrinya. Lalu memandangi pria tinggi di samping putrinya. Lalu memandangi dua orang tua di belakang mereka yang berdiri canggung di depan pagar.
“Astaga,” katanya. “Kenapa kalian berdiri di luar? Masuk, masuk. Ibu sudah masak dari subuh.”
Ruang tamu rumah itu kecil dan penuh.
Di dinding tergantung foto-foto lama. Jessica kecil dengan seragam sekolah. Jessica remaja memegang kamera pertamanya. Dan seorang pria berkumis dengan senyum lebar, memangku gadis kecil berkepang dua di atas tikar pandan sambil menunjuk ke langit.
Ethan berdiri di depan foto itu lama sekali.
“Itu Ayah,” kata Jessica di sampingnya.
“Aku tahu.” Ethan tersenyum. “Dia menunjuk pesawat.”
Ibu Jessica menghidangkan nasi liwet, ayam goreng, sayur asem, sambal, dan kerupuk yang cukup untuk dua puluh orang. Mei Lin mencicipi sambal dan langsung terbatuk-batuk. Ibu Jessica tertawa dan menyodorkan segelas teh manis.
“Pedas, ya, Bu?” tanya Ibu Jessica, dalam bahasa Indonesia.
Jessica menerjemahkan. Mei Lin mengangguk dengan mata berair, lalu mengambil sambal lagi.
Ibu Jessica tertawa lebih keras.
“Ibu suka sama dia,” bisiknya kepada Jessica.
Setelah makan, ketika teh kedua sudah dituang dan kerupuk tinggal remah, ruang tamu itu menjadi sunyi.
Ethan meletakkan cangkirnya.
Jessica melihat tangannya sedikit gemetar. Tangan yang sama yang tetap tenang di kokpit saat semua instrumen padam.
“Ibu,” kata Ethan.
Ia mengucapkannya dalam bahasa Indonesia. Jessica sudah mengajarinya selama seminggu. Kata-kata berikutnya keluar perlahan, dengan logat yang membuat Ibu Jessica mencondongkan tubuh untuk mendengarkan.
“Saya mencintai Jessica.”
Ibu Jessica tidak bergerak.
“Saya pilot. Pekerjaan saya berbahaya. Saya pernah hilang tiga belas hari, dan Jessica menunggu saya. Saya tidak bisa janji hidup yang mudah.”
Ia menarik napas.
“Tapi saya ingin menikahi Jessica. Kalau Ibu merestui, saya akan menjaga dia seumur hidup saya.”
Ia berhenti, lalu menoleh kepada Jessica dengan wajah cemas.
“Aku salah bicara?” bisiknya dalam bahasa Inggris.
Jessica menggeleng, tidak bisa bicara. Matanya basah.
Ibu Jessica memandangi Ethan lama. Lalu memandang Jessica.
Tetapi sebelum ia sempat menjawab, Wei Khang berdiri.
Semua orang menoleh kepadanya.
Pria tua itu merapikan kemeja batiknya yang terlalu mencolok, lalu membungkuk dalam-dalam di depan Ibu Jessica.
Ia bicara dalam bahasa Inggris, pelan, dan Jessica menerjemahkan dengan suara yang bergetar.
“Saya harus minta maaf kepada Ibu.”
Ibu Jessica memandanginya terkejut.
“Waktu Ethan pertama kali bercerita tentang Jessica, saya menolaknya. Saya bilang Singapura tidak kekurangan perempuan baik. Saya bilang perbedaan negara hanya akan menyulitkan anak saya.”
Wei Khang menegakkan tubuhnya.
“Saya salah. Putri Ibu menunggu anak saya ketika semua orang sudah menyerah. Putri Ibu menyelamatkan istri saya. Putri Ibu duduk di gudang gelap dan masih bisa menghitung pesawat. Saya tidak pernah bertemu perempuan seberani dia.”
Suaranya pecah sedikit.
“Saya malu pernah menolaknya. Dan saya akan sangat bangga kalau dia mau menjadi anak saya.”
Ruang tamu itu sunyi.
Mei Lin meraih tangan suaminya dan menggenggamnya.
Ibu Jessica berdiri perlahan. Ia berjalan ke Wei Khang, memegang kedua tangan pria tua itu, dan berkata sesuatu dalam bahasa Indonesia, pelan dan jelas.
Jessica menerjemahkan.
“Ibu bilang, Uncle tidak perlu malu. Semua orang tua takut kehilangan anaknya. Itu bukan dosa.”
Wei Khang menunduk, matanya merah.
Lalu Ibu Jessica berbalik kepada putrinya.
“Jessica.”
“Iya, Bu.”
“Ibu mau dengar dari kamu. Bukan dari dia. Bukan dari ayahnya.”
Jessica memandang ibunya. Lalu memandang Ethan, yang duduk diam di sampingnya dengan wajah tegang. Lalu memandang foto Ayah di dinding, pria berkumis yang menunjuk pesawat di langit.
Setiap pesawat membawa seseorang pulang kepada orang yang menunggu.
“Aku ingin hidup bersama Ethan, Bu,” katanya. “Aku sudah memikirkannya lama. Di ruang tunggu itu. Di gudang itu. Di pagar landasan. Setiap kali dia pergi, aku takut. Tapi setiap kali dia pulang, aku tahu aku tidak mau menunggu orang lain.”
Ibunya menatapnya lama.
“Dia orang Singapura. Kamu orang Indonesia.”
“Iya, Bu.”
“Nanti kamu tinggal di sana?”
“Mungkin. Pekerjaanku bisa dikerjakan dari mana saja. Dan Ibu bisa datang kapan saja. Atau kami yang pulang ke sini.”
“Ibu tidak bisa bahasa Inggris.”
Mei Lin, yang rupanya mengerti sebagian, mengangkat tangan.
“Saya belajar,” katanya dengan bahasa Indonesia yang terpatah-patah. “Saya belajar. Bahasa Indonesia.”
Ibu Jessica memandang Mei Lin, lalu tertawa. Tawa yang membuat matanya ikut basah.
Ia menoleh kembali kepada Ethan.
“Nak Ethan.”
Ethan berdiri dengan cepat, hampir menjatuhkan cangkir tehnya.
“Iya, Ibu.”
“Jaga anak Ibu. Dan pulanglah selalu kepadanya.”
Ethan membungkuk dalam-dalam.
“Saya janji, Ibu.”
Jessica memeluk ibunya. Mei Lin memeluk Jessica dari belakang. Wei Khang berdiri canggung di samping mereka, lalu akhirnya menepuk punggung Ethan dua kali dengan keras.
Sore itu, ketika matahari mulai turun, Ethan dan Jessica duduk di atas tikar pandan di bawah pohon jambu air.
Sebuah pesawat melintas tinggi di atas Bandung, meninggalkan garis putih tipis di langit jingga.
Ethan menunjuknya.
Persis seperti pria di foto itu.
Jessica tertawa dan menyandarkan kepalanya di bahu Ethan.