Changi Exhibition Centre pada sore hari itu sepi seperti biasanya.
Tidak ada keramaian pameran. Tidak ada ribuan pengunjung. Tidak ada jet tempur yang melesat membentuk formasi berlian di atas kepala.
Hanya angin, rumput yang bergoyang di tepi landasan, dan pagar pembatas yang membentang panjang di bawah langit yang mulai berubah warna.
Jessica berdiri di dekat pagar itu dengan kamera di tangan.
Ethan yang mengajaknya ke sini. Ia hanya berkata ingin melihat matahari terbenam di tempat pertama mereka bertemu, sebelum Jessica kembali ke Jakarta minggu depan untuk mengurus pekerjaannya dan menjemput ibunya.
“Kenapa di sini?” tanya Jessica tadi di mobil.
“Karena di sini semuanya dimulai.”
“Kamu mulai puitis seperti Ayahku.”
“Aku sedang belajar dari yang terbaik.”
Sekarang Ethan berdiri beberapa langkah di belakangnya. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan celana hitam, seperti saat menjemput Jessica di Bandara Changi pertama kali, berbulan-bulan lalu. Di pergelangan kirinya melingkar jam tangan yang pernah ia tinggalkan di rumah dan yang pernah dititipkan Jessica lewat ayahnya.
Ia tidak bicara. Ia hanya memperhatikan Jessica memotret langit.
Klik.
Awan tipis berwarna merah muda.
Klik.
Matahari yang separuh tenggelam di balik ujung landasan.
Klik.
Sebuah pesawat komersial melintas tinggi, meninggalkan garis putih yang perlahan berubah keemasan.
Jessica menurunkan kameranya dan tersenyum.
“Indah sekali.”
“Iya,” kata Ethan.
Jessica menoleh.
Ethan tidak sedang memandang langit. Ia memandang Jessica.
“Kamu tahu,” katanya, “waktu itu aku hampir tidak berhenti untuk menangkap kameramu.”
Jessica tertawa.
“Bohong.”
“Sungguh. Pikiranku sudah di ruang persiapan dan di kokpit. Tapi lalu aku melihat seorang perempuan yang memotret langit seperti sedang memotret orang yang ia cintai. Lalu kameranya jatuh.”
“Kamu menangkapnya.”
“Aku menangkapnya.” Ethan tersenyum. “Dan aku tidak pernah benar-benar melepaskannya lagi.”
Ia berjalan mendekat sampai berdiri tepat di depan Jessica.
Angin sore menggerakkan rambut Jessica. Di jari manis tangan kanannya, cincin kecil berbentuk sayap pesawat berkilau tertimpa cahaya jingga.
Ethan memandangi cincin itu.
“Waktu aku memberikan ini,” katanya pelan, “aku bilang ini bukan cincin lamaran.”
Jessica merasakan jantungnya mulai berdebar.
“Aku ingat.”
“Aku bilang ini pengingat. Supaya apa pun yang terjadi, kamu tetap menjadi alasan aku pulang.”
“Aku ingat, Ethan.”
Ethan menatap matanya.
“Boleh aku melepasnya?”
Jessica memandangi pria di depannya. Pria yang menangkap kameranya di bawah langit ini. Pria yang pulang dari tiga belas hari di laut. Pria yang masuk ke gudang gelap sendirian membawa flash drive kecil di antara dua jari.
Ia mengulurkan tangan kanannya sendiri.
Ethan memegang tangan itu dengan sangat hati-hati, seperti memegang sesuatu yang bisa pecah. Ia memutar cincin sayap kecil itu pelan, lalu melepaskannya dari jari Jessica.
Ia membalik tangan Jessica dan meletakkan cincin itu di telapaknya.
“Simpan ini,” katanya. “Jangan dibuang. Ini cincin yang menemanimu menunggu.”
Jessica menutup jari-jarinya di atas cincin itu.
Lalu Ethan mundur satu langkah.
Dan berlutut.
Di atas rumput, di depan pagar pembatas landasan, di bawah langit Singapura yang terbakar jingga.
Jessica menutup mulutnya dengan tangan kiri.
Ethan mengeluarkan sebuah kotak kecil beludru biru tua dari saku kemejanya dan membukanya.
Di dalamnya, sebuah cincin perak sederhana dengan satu batu kecil yang memantulkan cahaya matahari terbenam.
“Jessica Aurellia Pratama.”
Suaranya bergetar. Pilot yang tetap tenang ketika semua instrumennya padam kini tidak bisa menahan getaran di suaranya sendiri.
“Aku tidak bisa menjanjikan hidup yang mudah. Aku akan sering pergi. Akan ada hari-hari ketika aku tidak bisa memberi kabar. Akan ada malam-malam ketika kamu berdiri di pagar seperti ini dan menunggu.”
Ia menarik napas.
“Tapi aku bisa menjanjikan satu hal. Sejauh apa pun aku terbang, aku akan selalu mencari jalan untuk pulang kepadamu. Dan aku ingin pulang kepadamu setiap hari, selama sisa hidupku.”
Air mata Jessica jatuh.
“Maukah kamu menikah denganku?”
Untuk sesaat, dunia seakan berhenti.
Suara angin.
Suara rumput.
Bahkan suara pesawat di kejauhan.
Semuanya menghilang.
Jessica menurunkan tangan dari mulutnya. Ia memandang pria yang berlutut di depannya, dengan cincin di tangan dan langit di belakangnya.
“Ya,” katanya.
Suaranya jelas. Tidak bergetar sedikit pun.
“Ya, Ethan. Aku mau.”
Ethan memejamkan mata sebentar, seperti seseorang yang baru saja mendarat setelah penerbangan paling panjang dalam hidupnya.
Lalu ia mengambil tangan kiri Jessica dan menyematkan cincin perak itu di jari manisnya.
Pas.
Jessica tertawa di antara air matanya.
“Bagaimana kamu tahu ukurannya?”
“Ibumu. Dia mengukur jarimu waktu kamu tidur siang di Bandung.”
“Ibu tahu?”
“Semua orang tahu. Ibuku, ayahku, ibumu, Ryan, Nadia, Samuel.” Ethan berdiri dan menggenggam kedua tangan Jessica. “Ryan bahkan bertaruh kamu akan menangis sebelum aku selesai bicara.”
“Aku memang menangis.”
“Kalau begitu dia menang.”
Jessica tertawa dan memeluknya erat.
Ethan memeluknya kembali, menenggelamkan wajahnya di rambut Jessica, dan untuk waktu yang lama mereka hanya berdiri di sana, di depan pagar pembatas landasan, di tempat yang sama di mana semuanya dimulai.
Di atas mereka, sebuah jet tempur melintas rendah dari arah pangkalan. Suaranya menggelegar, lalu memudar ke arah laut.
Jessica mendongak.
“Itu dari skuadronmu?”
“Itu Ryan,” kata Ethan sambil tersenyum. “Penerbangan pertamanya hari ini. Dia bilang ingin lewat di atas kita kalau kamu bilang ya.”
“Bagaimana dia tahu aku bilang ya?”
Ethan menunjuk sebuah mobil yang diparkir jauh di tepi jalan. Di sampingnya berdiri dua sosok kecil yang melambai-lambaikan tangan dengan liar.
Mei Lin dan Wei Khang.
Jessica tertawa sampai perutnya sakit.
Lalu, perlahan, tawanya mereda. Ia memandang Ethan, menyentuh wajahnya, bekas luka kecil di dahinya yang sudah memudar.
“Kamu ingat apa yang kamu tulis sebelum menutup kanopi hari itu?” tanyanya. “Hari kamu berangkat dan tidak pulang selama tiga belas hari.”
Ethan mengangguk.
“Aku akan pulang.”
Jessica tersenyum.
“Kamu menepatinya.”
Ethan menggenggam kedua tangan Jessica: tangan kiri dengan cincin perak di jari manis, dan tangan kanan yang masih menggenggam cincin sayap kecil.
“Jessica.”
“Hm?”
“Aku sudah pulang,” bisiknya. “Kepadamu.”
Langit di atas Changi perlahan berubah gelap. Satu per satu, lampu landasan menyala di kejauhan, seperti bintang-bintang kecil yang menuntun pesawat-pesawat pulang ke rumah.
Dan di bawah langit itu, dua orang yang pernah dipisahkan oleh laut, jarak, dan orang-orang yang ingin memisahkan mereka, akhirnya berdiri di tempat yang sama.
Bukan untuk menunggu.
Melainkan untuk pulang bersama.
TAMAT