"Hai, Charlene." Victor melambai kepada manajer kantor yang malang itu, saat dia melewati alun-alun kota sambil berada di atas tunggangan barunya, Binatang Hitam Murmurin. "Ada apa?"
Manajer guild balas menatapnya. 'Kantornya' terdiri dari papan, meja, dan kursi di tengah alun-alun kota, gnoll dan kobold sering memeriksa beberapa permintaan yang tersedia.
Murmurin telah berkembang tiga kali lipat sejak 'War of the Hoard', dengan minion membangun lebih banyak rumah atau tenda untuk menampung pendatang baru. Patung batu raksasa Vainqueur berdiri di tengah kota, dengan Vainqueur Junior terkubur di bawah tanah tepat di sebelahnya, siap menyergap siapa pun yang mencoba menarik pedang palsu itu.
Mereka terpaksa membekali penduduk setempat dengan kapak dan tombak, atau sebaliknya, Junior menjadikan mereka sarapan.
"Ada apa?" Charlene mengulangi kata-kata Victor dengan nada yang bisa memotong baja. Dia mengangkat setumpuk kertas setinggi lengan bawahnya. "Ini yang ada, Tuan Bupati. Dua puluh enam keluhan sejak kemarin sore."
"Kemarin sore ada dua belas."
"Sekarang dua puluh enam. Kobold di terowongan barat bilang gnoll mengambil kambing mereka. Gnoll bilang kambing itu berjalan sendiri ke wilayah berburu, dan menurut hukum berburu, apa yang berjalan sendiri adalah daging. Troll menolak berpihak karena troll tidak makan kambing. Dan succubus itu mengajukan permohonan izin usaha lagi."
Victor turun dari Binatang Hitam Murmurin, yang langsung berbaring di tengah alun-alun seperti anjing besar dan mulai mengunyah sebuah batu. Penduduk kota berjalan mengitarinya tanpa panik. Dua bulan lalu makhluk itu adalah ciptaan terhebat seorang lich yang dimaksudkan untuk memakan seluruh benua. Sekarang anak-anak kobold memanjatinya untuk mengambil layang-layang.
"Berikan yang kambing dulu," kata Victor.
Inilah yang tidak pernah dijelaskan siapa pun kepadanya waktu dia masih menjadi pencuri yang tidur di selokan Haudemer: memerintah bukan soal duduk di kursi besar dan menunjuk-nunjuk. Memerintah adalah kambing. Selalu kambing. Dua belas jam sehari, tujuh hari seminggu, kambing.
Dia membaca keluhan itu dua kali, lalu memutuskan bahwa kambing yang berkeliaran akan dikembalikan tapi dengan denda dua ekor ayam bagi pemilik yang membiarkan pagarnya rusak, karena masalahnya bukan gnoll dan bukan kobold, melainkan pagar. Kedua pihak pergi sambil menggerutu, yang menurut pengalaman Victor selama enam minggu terakhir adalah tanda keputusan yang benar. Kalau satu pihak pergi tersenyum, biasanya dia baru saja ditipu.
Selamat! Karena memutuskan sengketa antara dua kelompok rakyat tuanmu tanpa memihak siapa pun, kamu memperoleh level di kelas [ Bupati ]!
Kamu memperoleh Perk kelas [ Wewenang yang Dipinjam ]!
[ Wewenang yang Dipinjam ]: selama tuanmu masih hidup dan belum mencabut gelarmu, perintahmu dihitung sebagai perintahnya untuk semua tujuan yang berkaitan dengan sumpah, kontrak, dan Perk. Semua penalti atas keputusan yang buruk tetap milikmu sendiri.
"Tentu saja penaltinya milikku sendiri," gumam Victor. "Kenapa aku bahkan terkejut."
"Kamu bicara pada udara lagi," kata Charlene.
"Aku bicara pada sistem."
"Itu lebih buruk."
Kantor sebenarnya dari Bupati Murmurin adalah sebuah meja di bawah tenda kanvas di sisi timur alun-alun, karena Victor menolak duduk di dalam gedung. Alasan resminya adalah agar rakyat mudah menemuinya. Alasan sebenarnya adalah bahwa rumah besarnya masih dihuni tiga puluh kerangka iblis yang membersihkan segalanya tanpa henti, dan minggu lalu mereka membersihkan karpetnya sampai habis.
Antrean pagi itu panjang. Seorang pedagang dari Haudemer datang membeli enam ratus kilogram daging kering dan mencoba membayar dengan surat utang; Victor menolaknya, meminta koin, dan pedagang itu membayar koin, karena orang lapar selalu punya koin. Seorang kepala keluarga golem meminta izin membangun rumah di lereng; dikabulkan. Seorang gnoll muda bernama Hukk melaporkan bahwa saudaranya hilang di terowongan bawah kastil; Victor berhenti menulis, mengirim empat pemburu dan dua kerangka, dan menandai kertas itu dengan tinta merah, satu-satunya kertas hari itu yang mendapat tinta merah.
Dan sepanjang waktu itu, sabit di punggungnya berbisik.
"Kamu memutuskan soal pagar dengan benar," kata Furibon, dengan nada seseorang yang tersedak sesuatu. "Aku membencinya, tapi itu benar."
"Aku tidak butuh pujianmu, tulang."
"Itu bukan pujian, itu observasi." Lich itu diam sebentar. "Kamu akan mengalami masalah dengan gudang."
Victor menaruh penanya. "Kenapa?"
"Karena kamu menaruh enam gudang makanan di dalam satu tembok yang sama, di sebelah satu sumur yang sama, di kota yang sekarang menjual makanan kepada wilayah yang kelaparan." Suara kering itu terdengar hampir sabar, seperti guru yang lelah. "Dua ratus tahun aku memerintah wilayah ini, anak muda. Aku tidak dikalahkan oleh pahlawan. Aku dikalahkan sekali, di tahun keenam puluh, oleh seorang petani yang menaruh racun di satu sumur. Pisahkan gudangmu. Pisahkan sumurmu. Dan jangan pernah biarkan satu orang pun memegang kunci keduanya."
Victor menatap sabitnya cukup lama sehingga Charlene menoleh.
"Kenapa kamu memberitahuku ini?"
"Karena aku terjebak di dalam senjata di punggungmu," kata Furibon pahit, "dan kalau kota ini mati, aku akan menghabiskan lima ratus tahun berikutnya terkubur di bawah reruntuhan bersama tikus. Aku bukan menolongmu. Aku menolong diriku sendiri. Jangan sekali-kali salah paham soal itu."
"Tentu saja tidak."
"Bagus."
Victor menulis di kertas barunya: pisahkan gudang, empat lokasi. Gali sumur kedua di sisi utara. Kunci dipegang dua orang berbeda. Lalu, di bawahnya, dengan huruf yang lebih kecil: tanya si tulang soal saluran air.
Menerima nasihat pemerintahan dari lich jahat yang selama dua abad meneror wilayah ini adalah, dia sadar betul, hal yang akan sangat sulit dijelaskan kepada siapa pun. Tapi kalau ada satu hal yang dipelajarinya sejak dia mencoba merampok sebuah gua dan malah mendapat karier, adalah bahwa nasihat bagus tidak berhenti menjadi bagus hanya karena mulut yang mengucapkannya menjijikkan.
Surat dari Gardemagne akhirnya dibuka pada tengah hari, di bawah tenda, dengan Savoureuse membaca dari balik bahunya sambil memakan telur rebus.
Segelnya asli. Lilin merah, cap tiga matahari, benang emas. Isinya tiga bagian, dan bagian pertama adalah yang paling menyenangkan: Yang Mulia Charles Gardemagne, dengan segala keengganan yang bisa dituangkan ke dalam bahasa resmi, mengakui klaim Vainqueur Knightsbane atas baroni Murmurin sesuai janji yang diumumkan bagi siapa pun yang menghancurkan Furibon. Wilayah itu, batas-batasnya, hak tambangnya, semuanya sah.
Bagian kedua adalah tagihan pajak tahunan sebesar dua ribu koin emas.
"Yang Mulia tidak akan membacanya," kata Savoureuse dengan yakin.
"Yang Mulia akan memakan orang yang membawanya."
"Jadi kita tidak akan memberitahunya?"
"Kita akan memberitahunya," kata Victor, "dengan mengatakan bahwa raja mengirim tagihan, dan bahwa satu-satunya cara membalas penghinaan sebesar itu adalah dengan membayarnya penuh, tepat waktu, di depan umum, supaya seluruh benua tahu Kaisar Murmurin punya dua ribu koin yang bisa dibuang begitu saja."
Lizardkin itu berhenti mengunyah. "Vic, itu jahat."
"Itu anggaran."
Bagian ketiga surat itu tidak ditulis oleh juru tulis kerajaan. Tulisannya lebih kecil, lebih cepat, dan tintanya berbeda.
Sepuluh hari yang lalu, langit di atas ladang gandum Aubevigne terbuka. Iblis-iblis tumpah keluar tanpa formasi, tanpa komandan, tanpa tuntutan apa pun. Enam ratus dua belas penduduk desa selamat menyeberangi jembatan. Ksatria Cemerlang, Kia Bekele, memegang ujung utara jembatan itu sendirian sampai matahari terbenam, dan tidak kembali.
Victor membaca kalimat itu tiga kali.
Dia belum pernah bertemu perempuan itu. Yang dia tahu tentangnya hanyalah nama yang selalu disebut Charlene dengan nada khusus, dan sebuah perintah tua di meja seorang marquise yang menyuruhnya membunuh seekor naga yang sekarang menggaji Victor. Tapi dia pernah menjadi orang yang berlari, dan dia tahu persis berapa harga seseorang yang memilih untuk tidak berlari.
"Iblis tanpa komandan," katanya pelan. "Furibon."
"Bukan aku," kata sabit itu, dan untuk pertama kalinya suara lich itu tidak terdengar mengejek sama sekali. "Aku mengumpulkan iblis. Aku tidak membuangnya ke ladang gandum. Membuang sumber daya seperti itu adalah pemborosan yang gila."
"Kalau begitu siapa?"
Keheningan dari senjata itu berlangsung lama sekali.
"Kamu belum siap mendengar jawabannya," kata Furibon akhirnya, "dan aku belum cukup putus asa untuk mengatakannya."
Victor melaporkan surat itu kepada tuannya siang itu juga, di kolam lava, tempat Vainqueur sedang berbaring dengan mahkota emasnya miring ke satu sisi dan tiga ekor kobold menghitung ulang timbunannya untuk keempat kalinya minggu itu.
Bagian baroni diterima dengan puas. Bagian pajak berjalan persis seperti yang direncanakan Victor: naga itu marah selama empat puluh detik, lalu menyadari bahwa membayar dua ribu koin di depan umum akan membuat setiap bangsawan di benua ini menelan ludah, lalu memerintahkan agar jumlahnya dibulatkan menjadi dua ribu lima ratus "supaya kelebihannya terasa seperti tamparan".
Bagian ketiga dibacakan terakhir.
Vainqueur mendengarkan sampai selesai. Untuk ukuran seekor naga yang biasanya menyela di kalimat ketiga, itu sendiri sudah aneh.
"Ksatria Cemerlang," katanya akhirnya.
"Ya, Yang Mulia."
"Manling yang dikirim untuk membunuhku."
"Ya, Yang Mulia."
Naga itu diam. Lava berdenyut pelan di sekelilingnya. Di kejauhan, para gnoll menyanyikan sesuatu yang berirama sambil mengangkat balok untuk menara kelima.
"Enam ratus dua belas," kata Vainqueur. "Itu jumlah yang dijaganya."
"Itu yang tertulis."
"Dan dia berdiri sendirian di ujung jembatan, tanpa dibayar, tanpa hadiah, tanpa timbunan, sampai matahari terbenam." Naga itu mengeluarkan suara dari dalam dadanya, dalam dan panjang, yang oleh Victor pada awalnya dikira geraman. Butuh beberapa detik sebelum dia sadar bahwa itu bukan geraman. "Minion Victor. Itu bodoh."
"Ya, Yang Mulia."
"Itu sangat, sangat bodoh. Tidak ada satu koin pun di dalamnya."
"Tidak ada, Yang Mulia."
Vainqueur Knightsbane, Pertama Namanya, Kaisar Murmurin, memandang ke arah utara cukup lama sehingga Victor mulai merasa tidak nyaman.
"Aku akan mengizinkan namanya diukir di alas patungku," kata naga itu akhirnya, dengan nada seseorang yang memberikan hadiah yang sangat mahal dan tidak ingin dibantah soal itu. "Di bagian belakang. Huruf kecil. Karena patung itu tetap patungku."
"Aku akan mengurusnya, Yang Mulia."
"Dan Minion Victor." Satu mata sebesar perisai terbuka. "Cari tahu siapa yang membuka langit di atas ladang gandum itu. Bukan karena manling itu. Karena siapa pun yang membuang iblis ke wilayah tetanggaku hari ini akan membuang iblis ke wilayahku besok, dan wilayahku berisi rakyatku, dan rakyatku membayar pajak."
"Tentu saja, Yang Mulia. Alasan yang sangat ekonomis."
"Aku senang kamu mengerti."
Sore itu, seorang asing masuk ke Murmurin lewat jalan selatan.
Charlene melihatnya lebih dulu, karena mengawasi pendatang adalah pekerjaannya sejak hari dia dipindahkan ke kota ini oleh serikat yang jelas-jelas ingin menyingkirkannya. Perempuan itu tinggi, jauh lebih tinggi dari rata-rata, berkulit gelap, dengan rambut dipotong pendek dan abu vulkanik di seluruh tuniknya. Dia tidak membawa senjata. Dia tidak membawa apa pun kecuali kalung kulit dengan satu taring kecil.
Yang membuat Charlene meletakkan penanya bukan itu. Yang membuatnya meletakkan penanya adalah cara perempuan itu berjalan melewati gerbang: satu tatapan ke kiri untuk menghitung penjaga, satu tatapan ke atas untuk mencari pemanah, satu tatapan ke bawah untuk mencari tanah yang goyah. Dia melakukannya tanpa sadar, seperti orang bernapas.
Charlene sudah melihat ratusan petualang. Tak satu pun berjalan seperti itu.
"Selamat datang di Murmurin," katanya, dengan senyum profesional yang telah menyelamatkan nyawanya lebih dari sekali. "Kantor guild ada di sini. Mendaftar?"
"Kalau boleh." Suara perempuan itu rendah dan tenang. "Aku dengar kota ini membayar untuk pekerjaan."
"Kota ini membayar untuk pekerjaan, ya. Nama?"
Ada jeda. Sangat singkat. Charlene, yang menghabiskan hidupnya membaca orang di seberang meja, menandainya seperti orang menandai sebuah kertas dengan tinta merah.
"Bekele," kata perempuan itu.
"Kelas?"
"Belum banyak yang bisa dibanggakan."
"Level?"
"Dua."
Charlene menulisnya. "Kami punya permintaan pengawal karavan, permintaan menggali saluran air, dan permintaan mencari seekor kambing yang jelas-jelas tidak ingin ditemukan. Yang mana—"
Dia tidak sempat menyelesaikannya.
Perempuan itu, sambil menunggu, telah bersandar ke tepi patung batu raksasa di tengah alun-alun, dan tangannya, dengan kelalaian seseorang yang seumur hidup terbiasa memegang gagang sesuatu, menutup di sekitar pedang palsu yang tertancap di alasnya.
Tanah meledak.
Vainqueur Junior keluar dari bawah alun-alun seperti kematian yang sangat antusias: peti kayu setinggi manusia dengan seratus gigi, lidah merah panjang, dan sepasang rapier yang dipegangnya dengan dua tentakel dengan teknik yang, harus diakui, sangat baik untuk seekor mimik berumur empat bulan. Seluruh alun-alun berteriak. Seorang penjual sup melompat ke belakang gerobaknya. Charlene menjatuhkan pena dan berteriak, "TIDAK, JANGAN YANG ITU, DIA BARU DAFTAR—"
Perempuan bernama Bekele bergerak.
Dia tidak berteriak dan tidak mundur. Dia melangkah masuk, ke arah gigi itu, karena bagian yang berbahaya dari makhluk seperti itu adalah lengkung rahangnya dan satu-satunya tempat aman adalah di dalam jangkauannya. Tangan kirinya menangkap salah satu tentakel bersenjata di bagian yang paling lemah, tepat di belakang gagang. Bahunya masuk ke bawah peti itu. Lalu dia mengangkat, dan tiga ratus kilogram mimik terguling ke samping ke dalam tumpukan keranjang.
Semuanya berlangsung dua detik.
Perempuan itu berdiri di tengah alun-alun, terengah-engah, sangat terkejut pada dirinya sendiri. "Aku... seharusnya tidak bisa melakukan itu," katanya.
"Kamu tidak bisa," kata Charlene lemah. "Kamu level dua."
Vainqueur Junior bangkit, mengibaskan keranjang dari lidahnya, dan menatap perempuan itu dengan seluruh seratus giginya. Lalu, tanpa alasan yang bisa dimengerti siapa pun, mimik itu menutup mulutnya dan berjalan mundur ke lubangnya, seperti anjing yang menemukan sesuatu di halaman yang tidak ingin digalinya.
Alun-alun tetap hening. Lalu seseorang di barisan antrean bertepuk tangan, dan dalam waktu tiga detik seluruh pasar bertepuk tangan, karena penduduk Murmurin sudah terbiasa menganggap segala sesuatu yang tidak berakhir dengan kematian mereka sebagai hiburan yang bagus.
Ferba melintasi alun-alun saat itu, membawa dua ekor babi hitam di bahunya. Matriark itu berhenti. Mata kuningnya turun dari wajah perempuan asing itu ke kalung kulit di lehernya, ke taring kecil yang tergantung di sana, dan berhenti di situ jauh lebih lama dari yang sopan.
Lalu, tanpa mengatakan apa pun, Ferba menurunkan salah satu babi dari bahunya dan meletakkannya di tanah, di depan kaki perempuan itu.
Charlene, yang telah menghabiskan enam minggu terakhir menyusun panduan tata krama antarspesies untuk pendatang baru, membuka mulut untuk menjelaskan bahwa menolak akan sangat, sangat berbahaya.
Perempuan bernama Bekele berlutut, meletakkan telapak tangannya di atas bangkai itu, dan mengucapkan sesuatu dalam tiga kata.
"Daging adalah hidup."
Seluruh gnoll di alun-alun itu berbalik menghadapnya sekaligus.
Di sisi timur alun-alun, di bawah tenda kanvasnya, Victor Dalton berdiri perlahan-lahan.
Dan di punggungnya, sabit itu berbisik dengan suara yang tidak pernah didengar Victor darinya sebelumnya, bukan mengejek, bukan pahit, melainkan sesuatu yang sangat mirip dengan ketakutan.
"Anak muda," kata Furibon, "aku mendaftar setiap jiwa di benua ini selama dua ratus tahun, dan aku memberitahumu sekarang: perempuan itu tercatat mati sepuluh hari yang lalu."