"Dek buruan. Nanti telat!"
Teriak Rizki dari ruang tamu, menunggu Lili yang sedari tadi tak kunjung turun. Rizki yang tidak tahan lagi menunggu Lili, memutuskan untuk melihat Lili di kamarnya.
"Dek."
Namun saat sampai di kamar Lili, Rizki benar-benar terkejut saat mengetahui keadaan Lili. Dia langsung berlari menuju Lili yang tergeletak di lantai. Rizki menganggkatnya dan menidurkan Lili di kasur.
"Dek bangun dek."
Rizki mengguncang pelan Lili, namun Lili tak kunjung membuka mata. Dia panik namun mencoba bersikap tenang. Rizki turun, lalu memberi tahu Lusi dan Adrian tentang keadaan Lili. Dengan segera Adrian menyiapkan mobil untuk membawa Lili ke rumah sakit dan Rizki menggendong Lili menuju mobil. Adrian dengan segela kecemasannya mengemudi dengan kecepatan tinggi.
"Lili kamu bertahan ya nak."
Lusi yang sedari tadi menangis semakin khawatir karena jalanan macet dan Lili yang sedari tadi tak kunjung sadar, bahkan badan Lili semakin dingin.
Memang ini bukan pertama kalinya Lili tidak sadarkan diri seperti saat ini, tapi tetap saja hati seorang ibu akan hancur bila melihat anaknya terluka. Lili memang tidak seperti remaja pada umumnya. Ia tidak bisa menikmati masa ramajanya seperti remaja pada umumnya, karena penyakit yang di deritanya.
Penyakit yang menjadi sumber hilangnya kebahagiaan Lili, juga keluarganya. Tapi Lusi selalu mengajarkan Lili agar selalu bersyukur. Tidak pernah mengeluh apalagi marah pada keadaan. Sampai akhirnya Lili yang pernah kehilangan senyumannya kini menjadi ceria kembali.
Setelah melewati macet dan rasa takut akan kehilangan Lili, akhirnya mereka sampai di rumah sakit dan Lili langsung masuk ke dalam UGD. Lusi hanya bisa menangis di d**a Adrian. Dan Rizki yang mondar-mondir di depan pintu UGD.
"Abang mending kamu sekolah aja, kamu baru masuk ke sekolah baru jangan sampai bolos." ucap Adrian dengan tangan yang masih mengelus pundak Lusi agar tenang.
"Mana bisa Iki sekolah kalo adek ada di dalem Pa. Iki ga akan bisa tenang."
Rizki duduk di kursi tunggu lalu menjambak rambutnya frustrasi. Seragamnya yang tadi tertata rapi kini sudah berantakan. Dua kancing teratasnya terbuka membuat kaos hitamnya terlihat, dan rambutnya acak-acakan.
Pintu Ruang UGD terbuka membuat Rizki, Lusi, dan Adrian spontan langsung berdiri berharap dokter keluar dengan membawa kabar baik. Tapi bukannya dokter yang keluar, tapi Lili yang terbaring dengan selang infus di hidungnya. Suster mendorong selang infus juga ranjang pasien tempat Lili berbaring dengan tergesa gesa. Tak lama dokter keluar.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?"
Lusi benar benar cemas, hingga ia rasanya ingin pingsan. Dokter tersenyum menenangkan. Tapi seorang dokter, tidak boleh memberikan berita palsu walau itu untuk membuat keluarga maupun pasien merasa tenang. Seorang dokter harus mengatakan apa adanya walau kenyataan akan membuat siapa saja terluka. Dan sekarang, dia harus memberitahukan keadaan Lili dengan jujur.
"Lili sangat drop, sehingga membuatnya kritis. Mungkin dia terlalu memikirkan sesuatu hingga dia setres dan berakibat buruk bagi kesehatannya. Kami sedang memindahkannya ke ruang ICU."
Dokter barlalu setelah memberitahu keadaan Lili. Membuat Lusi lemas tak bisa menopang tubuhnya. Adrian dengan segera menopang tubuh Lusi agar tidak jatuh dan mendudukkan Lusi di kursi tunggu. Rizki berlari ke mesin penjual minuman elektrik, dan membeli sebotol air putih.
Rizki memberikannya kepada Lusi agar lebih tenang. Rizki tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Dia sangat khawatir juga takut sama seperti Lusi. Dia takut akan kehilangan Lili selamanya. Tapi dia harus kuat agar Lili juga kuat menghadapi masa kritisnya.
*
"Kak Bim."
Panggilan Yola membuat Bima yang sedang asik bermain game itu mendongak. Saat melihat Yola di depannya, dia merasa akan ada sesuatu yang membuat dirinya terjebak di dalam lumpur lagi. Bima memasukkan ponselnya ke saku celana lalu menggeser duduknya agar Yola bisa duduk di sebelahnya.
"Apa?" tanya Bima sambil memperhatikan sekeliling.
Taman sekolah sekarang sedang sepi, karena baru lima menit lagi bel istirahat akan berbunyi. Jadi bisa dikatakan. Mereka berdua membolos pelajaran.
Yola menunduk, meremas ujung roknya gugup. "Kak Bima kan temennya Zaki. Jadi kak Bim-" ucapan Yola terptong karena Bima yang tiba-tiba menyela ucapannya.
"Gua tahu semuanya. Soal hubungan lo sama Zaki, soal hubungan Zaki sama Lili. Gua tau semuanya." ucap Bima dengan wajah datar.
Saat Yola menoleh untuk menatap Bima. Bima langsung mengubah mimik wajahnya menjadi tersenyum ramah.
"Saya mau ini semua selesai kak. Saya mau balik lagi kayak dulu sama Lili. Tapi Zaki selalu menghalangi saya. Kak Bima mau bantu saya?" ungkap Yola dengan pandangan sendu.
Mengingat seberapa jahatnya ia kepada sahabatnya sendiri dan bagaimana persahabatan mereka hancur hanya karena lelaki b******k seperti Zaki.
"Bukan gua nggak mau bantuin. Tapi lu sendiri yang jorokin diri lu ke jurang. Kalo emang lo bener-bener mau lepas dari Zaki, seharusnya lu bisa lepas gitu aja. Karena Zaki pun ga pernah nganggep lu ada. Cuma lunya Yol yang emang ga bisa lepasin Zaki. Karena lo udah buta sama cinta lo itu."
Pernyataan yang di berikan oleh Bima seolah menampar Yola dengan sangat kuat. Bima benar. Inti dari masalahnya adalah ia sendiri. Ia yang tak bisa melawan hatinya untuk berhenti mencintai Zaki. Ia yang tidak bisa memaksa dirinya mengihklaskan perasaanya agar ia dan Lili bisa kembali seperti dulu. Ia yang tidak bisa lepas dari Zaki membuat semuanya semakin runyam.
"Zaki yang ngajak lo jadian, dia juga yang nggak nganggep lu pacar. Lu punya beribu alasan buat mutusin dia, tinggal gimana aja lunya Yol. Kalau lu masih ada harga diri. Putusin Zaki terus mohon maaf sama sahabat yang udah lu sakitin." nasihat Bima kepada Yola yang terdiam.
Bima menepuk pelan pundak Yola untuk memberinya sedikit semangat lalu beranjak pergi. Memberikan Yola ruang untuk sendiri dan merenung.
Yola mendongak. Menghembuskan napas yang sedari tadi ia tahan, juga melepas air mata yang memaksa untuk keluar. Sekarang, ia benar benar benci dengan dirinya sendiri. Ia sudah membuat keputusan, ia akan mengakhiri hubungannya dengan Zaki. Demi menebus kesalahannya dengan Lili. Yola menghela napas sekali lagi, berharap ia tidak goyah dan tidak berubah pikiran.
Yola berjalan menuju kantin, tapi langkahnya terhenti karena melihat Zaki di depannya. Menatapnya dengan mata elang dan tangan yang dilipat di depan d**a. Membuat Yola gemetar.
Zaki melangkah mendekati Yola yang berdiri mematung. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Yola. Menatap tepat di bola mata Yola. Yola memejamkan matanya, meremang saat merasakan hembusan napas Zaki.
"Lu mau mutusin gue?" tanya Zaki tanpa menjauhkan wajahnya. Membuat Yola gemetar dan ingin ambruk. Jantungnya seolah meloncat keluar. Bagaimana bisa Zaki tau?
Yola mundur perlahan. Keberanian yang tadi ia kumpulkan pergi entah kemana. Mulutnya kelu tak bisa berucap satu kata pun. Zaki terus mendekati Yola yang berjalan mundur. Sampai Yola menabrak tembok, lalu Zaki mengurung Yola dengan tangannya.
"Buruan bilang kalo lo mau putus dari gue."
Yola menunduk, ia benar-benar tak bisa berbuat apapun sekarang, seperti orang yang terkena stroke. Zaki memegang dagu Yola dan mengangkat wajahnya agar dia bisa menatap mata Yola.
"Buruan bilang. Kalo lo mau putus, gue nggak bakal nahan lo."
Yola menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Zaki sedari tadi hanya diam menatap lurus Yola. Membuat Yola benar-benar tak tau harus bagaimana. Ia bisa merasakan kemarahan dalam tatapan Zaki.
Keputusan yang ia buat tadi, keberanian yang ia kumpulkan, semuanya seperti menguap begitu saja saat melihat Zaki. Yola menatap dalam bola mata coklat Zaki.
"Lu mau putus?" tanya Zaki sekali lagi.
Sontak Yola menggeleng tegas. Menandakan ia tak ingin kehilangan sosok yang sangat ia cintai.
Zaki menjauhkan tubuhnya dari Yola. Dia memandang Yola datar lalu berjalan meninggalkan Yola yang masih tak sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan. Yola masih mematung, menatap kepergian Zaki.
Lalu ia tersadar, bahwa tadi ia telah membuat semuanya kembali rumit. Yola menyadarkan badannya di tembok, meluruh perlahan lalu memeluk badannya sendiri. Menumpahkan tangisnya, merutuki dirinya yang begitu bodoh.
“Kenapa lo sebodoh ini sih Yol?” tanya Yola kepada dirinya sendiri.
Ia mendongak, mengusap kasar air matanya. Lalu ia berdiri, dan berlari menuju toilet. Ingin menumpahkan tangisnya dibalik bilik toilet, supaya tidak ada yang dapat melihatnya.
*
Hari sudah berganti malam, Rizki sedari tadi hanya diam menatap Lili yang masih terbaring dengan segala alat kesehatan yang menempel di tubuh mungilnya. Dia masih mengenakan baju sekolahnya. Tak ingin beranjak sedikit pun untuk meninggalkan adik satu satunya. Lusi menyentuh pundak Rizki membuat Rizki menoleh.
Dia menatap sendu Lusi, lalu langsung memeluk Lusi. Lusi hanya bisa mengelus punggung Rizki untuk memberikan anaknya ketenangan. Sedari tadi Rizki dan Lusi tidak beranjak sedikitpun, mereka berjaga jaga di depan ruang ICU berharap Lili segera sadar, sedangkan Adrian pergi sebentar untuk mengurusi urusan kantor.
Dokter keluar setelah memeriksa keadaan Lili. Sudah berkali kali dokter masuk ke dalam ruang ICU untuk memastikan perkembangan Lili. Rizki dan Lusi berharap kali ini akan mendengar kabar baik. Dan keingin sederhana mereka, terkabul.
"Keadaan Lili sudah stabil. Dia sudah melewati masa kritisnya dan kini sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat inap." Lusi dan Rizki seolah baru bisa bernapas sekarang.