Rizki masuk ke dalam ruangan. Menggenggam tangan Lili, lalu menciumnya lembut. Dia terluka, saat melihat adik tersayangnya berbaring tak berdaya seperti ini, lagi. "Dek lu ga mau bangun apa?" tanya Rizki kepada Lili yang masih tertidur. Belum siuman juga setelah di pindahkan dari ruang ICU.
"Bang kamu yakin mau jaga Lili malem ini?" tanya Lusi yang bersiap akan pulang dengan Adrian. Karena Rizki yang sedari tadi menyuruh mereka agar pulang. Dia tidak ingin orang tuanya kelelahan.
"Iya. Udah Bunda sama Papa pulang aja. Istirahat."
Lusi dan Adrian mengiyakan, mereka akhirnya pulang. Meninggalkan Rizki bersama Lili yang masih memejamkan mata. Rizki mengecup kening Lili, berharap hari esok Lili sudah membaik. Rizki membaringkan tubuhnya yang lelah di sofa. Lalu memejamkan mata melepaskan penatnya.
*
Zaki duduk di balkon kamarnya dengan kaleng soda di tangan. Dia meneguk soda sambil melihat ponselnya. Ada yang aneh hari ini. Dia tidak melihat Lili di sekolah, juga Lili tidak mengiriminya pesan sama sekali. Meskipun Zaki tidak pernah membalas pesannya, tapi Lili tidak pernah lelah untuk mengirimnya pesan. Walau hanya sekedar mengingatkan makan atau lainnya.
Zaki meremas kaleng sodanya hingga remuk lalu meleparnya ke tempat sampah. Dia menyambar jaket kulit juga kunci motornya. Menyalakan motor, lalu melajukannya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia memberhentikan motor ninjanya di depan sebuah rumah besar. Rumah Lili. Rumahnya begitu sepi, hanya ada lampu kamar atas dan teras yang menyala.
Zaki mengernyitkan dahi bingung. Kemana gadis itu? Biasanya dia masih bergelut dengan bukunya sampai tengah hari. Tapi kini? lampu kamarnya bahkan tidak menyala. Apa mereka sedang berlibur? Tapi mengapa Lili tidak bercerita kepadanya.
Drtt Drrt
Sebuah notifikasi membuyarkan lamunanya. Zaki mengangkat alisnya lalu tersenyum miring saat membaca otifikasi yang muncul di layar ponselnya.
Yola
Gue mau ketemu. Di cafe deket sekolah. Sekarang. Bisa?
Zaki memacu motornya lagi, menuju tempat yang diminta Yola. Zaki memasuki cafe dengan kedua tangan yang di masukkannya ke saku celana. Berhenti di depan pintu masuk dan celingak celinguk mencari keberadaan Yola. Membuat beberapa gadis berbisik karena terpesona dengan ketampanan Zaki. Yola melambaikan tangannya saat Zaki menoleh, llau Zaki berjalan mendekat.
"Ngapain ngajak ketemu?"
Zaki melipat tangannya di depan d**a. Menatap Yola yang sedang menunduk memainkan ujung roknya.
Yola mendongak, menatap Zaki yang masih menatapnya dengan ekspresi datar. Yola menelan salivanya kasar. Ia ingin mengakhiri hubungannya sekarang. Tapi lagi lagi, bibirnya kelu tak mampu berucap apapun.
Entah mengapa setiap kali bertemu dengan Zaki rasanya Yola tak mampu menguasai dirinya sendiri. Yola yang sedari dulu tidak pernah merasakan apa itu cinta apalagi berpacaran, membuatnya tak tau harus bersikap bagaimana kepada pacarnya sekarang. Atau lebih tepatnya, pacar sahabatnya yang juga pacarnya.
"Gue kasih lima menit. Kalo lo ga ngomong juga gue bakal pergi."
Yola meneguk salivanya lagi. Tenggorokannya terasa kering, namun ia bahkan tidak mampu untuk memegang gelas yang berisi jus di depannya.
Masih hening, Yola masih merangkai kata-kata juga mengumpulkan keberaniannya. Pikirannya berkecamuk. Otaknya berkata ia harus mengakhiri semuanya sekarang, tapi hatinya berkata ia harus mempertahankan ini meskipun hanya untuk sementara. Waktu semakin berlalu, kesempatannya berbicara kepada Zaki hampir habis.
Zaki berdecih, lalu berdiri hendak pergi. Namun Yola memegang tangan Zaki membuat langkah Zaki terhenti. Dia melihat tangan Yola yang sedang menyentuhnya. Dengan sekali hentakan tangan Yola terlepas dari tangan besarnya.
"Gue pengen di cintai kayak pacar normal liannya. Plis liat gue. Gue bener bener tulus sama lo."
Yola seakan kehilangan kendali atas badannya. Mulutnya berucap seperti itu dengan sendirinya walau sebenernya ia tak mau mengatakan hal yang membuat dirinya terlihat semakin hina.
"Gue nggak bisa. Gue tetep sayang Lili. Dan lo, cuma alat gue buat balas dendam. Lo tau itu bitch."
Zaki beranjak pergi setelah mengatakan yang hal yang sangat melukai Yola. Bagai pedang berkarat yang menancap tepat di relung hatinya.
Yola tak bisa menahan air matanya lagi. Air matanya menetes dengan deras. Ia memegang dadanya yang terasa amat sesak. Tak memerdulikan pandangan pengunjung cafe lainnya yang melihatnya dengan pandangan yang bermacam macam.
*
Zaki memberhentikan motor ninjanya di sebuah tempat yang begitu sepi. Dia melangkah menuju lapangan basket dekat kompleknya. Tidak ada orang yang berlalu lalang di sana. Hanya ada satu orang di lapangan basket itu, meliuk liukkan badannya sambil memantulkan bola basket. Lalu melompat untuk memasukkan bola basket ke dalam ring. Sedikit aneh menurut Zaki. Olahraga di malam hari, tanpa menggunakan kaos?
"Lo tau dimana Lili?"
Zaki langsung saja bertanya ke inti permasalahan. Dia memandang ke depan dengan tatapan datara, sambil memasukkan tangannya ke saku celana.
Sedangkan yang di tanya tidak kunjung menjawab. Dia malah melempar asal bola basketnya lalu meneguk minumnya. Dia tersenyum ke arah Zaki, menghampirinya dengan keringat yang masih bercucuran. Perut yang membentuk eman bentuk persegi itu mengkilat tersorot lampu. Otot-ototnya terlihat jelas walau di kegelapan malam.
"Lu kan pacarnya kenapa tanya gue?" bukannya jawaban yang Zaki dapat tapi malah pertanyaan kembali.
Zaki menghembuskan napasnya gusar. Ia menunduk untuk mengambil bola basket. Memantulkannya sebentar lalu langsung menembakkannya kedalam ring.
"Three point anjir."
Zaki menoleh lalu melemparkan dengan keras bola basket kepada orang yang selalu membuatnya kesal setiap hari itu.
"Nggak guna lo Bim."
Zaki merebahkan dirinya di tengah lapangan basket. Suasana benar-benar sunyi, membuatnya semakin merindukan Lili. Zaki menatap langit, gelap gulita tanpa bintang.
"Dimana emang Lili? gua juga nggak liat dia di sekolah tadi."
Bima duduk di sebelah Zaki lalu meneguk lagi minumnya.
"Tanya sekali lagi gue kasih bogem rasa sayang lu." Ancam Zaki.
Bima tertawa. Dia memasukkan jarinya kedalam ketiak yang basah, lalu dia usapkan ke pipi Zaki.
Zaki langsung meninju lengan Bima membuat sang empunya mengaduh kesakitan. Tapi tak menghentikan tawanya karena berhasil membuat Zaki kesal. Bima tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya yang sedikit sakit karena tertawa. Sedangkan Zaki sibuk membersihkan pipinya yang ternodai oleh keringat bau Bima.
"Lo pasti tau kalo gue tertarik sama Lili. Tapi gue ga mau persahabatan kita ancur. Dan lo juga tau kalo Lili cuma sayang sama lo. Jadi, kita bersaing secara sehat dengan imunisasi setiap bulannya." ucap Bima yang entah serius atau tidak.
Bima yang sedari tadi melihat Zaki mengusap pipinya terus menerus membuat dirinya penasaran. Dia memasukkan lagi jari ke ketiaknya sendiri, lalu menciumnya. Seketika itu juga nyawanya seakan melayang. Bima menjulurkan lidahnya, sambil menghentakan tangannya yang teramat bau. Bima segera mengambil minum dan meneguknya dengan rakus, berharap bisa menghilangkan rasa mualnya.
Zaki yang melihat kelakuan Bima yang tidak pernah benar tersenyum tipis. Dia menendang Bima yang sudah tergeletak karena mencium aroma tubuhnya sendiri. Bima bangun lalu terbatuk batuk, berlagak seperti orang ingin mutah. Lalu tidak jadi, dia mengatupkan mulutnya lalu meneguk lagi minumnya.
Entah terbuat dari apa otak Bima. Ganteng? sangat. Tapi kelakuannya seperti orang upnormal. Benar-benar membuat Zaki menggelengkan kepalanya. Namun hanya Bima yang selalu menyemangati Zaki. Meskipun Bima mengatakan bahwa dia tertarik dengan Lili, Zaki tidak peduli. Bima tetap sahabatnya, Bima tidak mungkin menusuknya dari belakang. Toh Lili juga hanya sayang kepadanya.
"Semoga aja Lili besok sekolah. Kangen deh gue sehari nggak ketemu." ucap Bima yang dihadiahi tonjokan gratis dari Zaki, bertubi tubi.
*
Zaki berjalan di koridor sekolah dengan tas tersampir di pundak kanannya. Dan seperti biasanya, dia berjalan dengan angkuh. Menatap keseliling, berharap menemukan Lili. Tapi bukannya Lili, malah Bima yang melambaikan tangan kepadanya seperti anak kecil membuat Zaki malu.
"Pagi zheyenk." sapa Bima sambil mengedipkan sebelah matanya ke Zaki. Zaki langsung menutup muka Bima dengan tasnya, lalu berlalu begitu saja. Meninggalkan Bima dengan tasnya.
Zaki semakin mempercepat langkahnya saat melihat Yola yang sedang berjalan perlahan, dengan kepala menunduk. Zaki mensejejerkan langkah mereka. Membuat para murid lainnya berbisik heran.
Yola masih belum menyadari kehadiran Zaki. Ia masih menunduk dengan meremas ujung tasnya. Zaki berdehem, membuat Yola sangat terkejut. Semakin terkejut lagi saat melihat Zaki di sebelahnya.
Zaki melihat kedalam kelas Yola, yang juga kelas Lili. Melihat bangku gadis itu masih kosong. Padahal bel sebentar lagi berbunyi. Apakah Lili hari ini tidak sekolah lagi? lalu dia kemana? Zaki terus bertanya kepada dirinya sendiri. Sebenernya dia gelisah saat tidak melihat Lili.
Zaki menoleh ke Yola yang menatapnya kikuk. Ia menyisir rambutnya ke belakang, mencoba menghilangkan sedikit rasa gugupnya. Sebenarnya dia sedikit merasa bersalah karena berkata begitu kasar kepada Yola kemarin malam. Saat itu dia sedang kalut memikirkan Lili.
"Perkataan gue yang semalem gue harap ga lu masukin ke hati." ucap Zaki lalu melenggang pergi.
Bukan Zaki namanya kalo tidak memiliki ego setinggi langit. Dia tidak akan pernah meminta maaf terlebih dulu. Semasa hidupnya, dia hanya mengatakan maaf kepada dua orang. Ibunya dan juga Lili. Selain mereka berdua merupakan sebuah pantangan bila Zaki mengatakan maaf.
Yola menatap kepergian Zaki. Bagaimana bisa ia tidak memasukkan ke hati perkataan Zaki? sedangkan setiap kata yang dia ucap selalu menancap di hatinya, menorehkan luka yang semakin dalam. Yola menghela napas, ia kira pagi ini akan spesial karena Zaki yang menghampirinya pagi-pagi begini. Tapi harapannya, ternyata terlalu tinggi.