"Zaki," panggil Lili kepada Zaki yang sedang memejamkan matanya di rooftop sekolah. Zaki memandang lekat Lili yang sedang berjalan mendekatinya. Dia menyipitkan mata saat melihat Lili.
Sinar matahari membuatnya sedikit silau melihat Lili, dan angin menerbangkan rambut Lili hingga berantakan. Zaki berdiri, mensejajarkan posisinya dengan Lili. Lili meneguk salivanya kasar, menghembuskan napas perlahan. Lalu mendongak menatap Zaki.
"Kamu mau tau alasan aku ninggalin kamu begitu aja tanpa kabar?"
Lili menelan salivanya lagi. Ia menunggu Zaki untuk melontarkan kata-kata yang bahkan begitu pedas. Tapi Zaki hanya diam, Ia mendongak menatap Zaki. Tapi Zaki hanya diam sembari memandanginya. Ia memutuskan untuk menyelesaikan ucapannya.
"Selama ini, aku pergi bukan tanpa alasan. Aku pergi ke Singapura, buat pengobatan. Aku,"
Lili menggantungkan ucapannya. Sedikit ragu untuk meneruskan ucapannya. Ia takut akan kemungkinan yang akan terjadi. Zaki menjadi kasihan kepadanya, atau yang malah mengerikan. Zaki menganggapnya gadis yang penyakitan dan berakhir dengan rasa jijik.
Lili meneguk salivanya. Mau tidak mau ia harus mengatakan kebenarannya kepada Zaki. "Selama ini aku, menderita kanker." ucap Lili yang pada akhirnya mengungkapkan segalanya.
Lili memandang lekat Zaki yang seddang menatpnya datar, berharap semoga angan-angannya tidak menjadi kenyataan. Nemun ternyata, perkataan Zaki lebih menyakitkan dari segela angan-angan yang selama ini bersarang di otaknya.
"Kamu pikir aku bakal mau sama orang penyakitan kek kamu? mending sama Yola. Kita putus Lili."
Setelah mengatakn kalimat yang begitu mencabik hati Lili. Zaki melangkah pergi, meninggalkan Lili begitu saja.
Lili berlari, menyusul Zaki dan mencekal tangannya. Air matanya bercucuran. Ia tidak ingin putus dengan Zaki. Ia butuh Zaki untuk memberinya semangat hidup. Ia sangat membutuhkan Zaki.
Namun Zaki menghentakkan tangan Lili kasar, menatapnya dengan tatapan jijik. Lili mematung melihat tatapan Zaki, tanpa berkedip, air matanya terus bercucuran membuat pipinya basah kuyup. Ia memandangi kepergian Zaki dengan d**a yang begitu sesak.
Lili memegangi dadanya, memukulnya dengan begitu kuat. Berharap rasa sakit itu mau kelar dari d**a lemahnya.
"Zaki!" teriak Lili menggelegar.
Namun pada saat itu juga, ia bangun dari tidurnya dengan peluh yang membasahi dahi dan napas tersenggal. Mimpi yang terasa sangat nyata. Lili melihat jendela, sudah malam. Ia memandang kelap-kelap di langit, bukan bintang tapi lampu-lampu Jakarta.
Lili memeluk boneka kesayangannya, yang juga pemberian Zaki. Air matanya menetes membayangkan jika mimpinya akan menjadi kenyataan. Lili sudah memutuskan. Biarlah Zaki tidak tahu cerita sebenarnya dan dendam kepada dirinya. Daripada ia melihat rasa kasian atau rasa jijik Zaki kepadanya. Ia akan tetap merahasiakan semuanya, sampai hari akhirnya.
*
Lili duduk di sofa ruang tamu dengan Rizki yang bermain game di sebelahnya. Ia melihat layar tvnya dengan hampa, masih memikirkan mimpinya semalam.
Wajah Lili sangat pucat, dan terlihat sangat lemah. Tidak seperti Lili yang biasanya. Lili memegang rambutnya, sebentar lagi rambutnya akan lenyap karena efek pengobatan. Lili memejamkan mata, mencoba menerima semuanya dengan ikhlas.
Lili menggelengkan kepala, menyudahi lamunannya. Ia mengambil remote tv lalu menoleh ke samping. Rizki yang tadi duduk di sebelahnya sekarang menghilang. Lili hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Tidak memperdulikan Rizki yang suka datang dan menghilang dengan tiba-tiba.
"Sini lu duduk."
Rizki kembali lagi ke ruang tamu, tapi dengan tamu tak di undang, Bima. Lili tersenyum, menyambut Bima yang tetap nekat walau sudah ia larang untuk datang menjenguknya.
"Lo kok pucet Li?”
Bima heran melihat keadaan Lili. Seperti bukan melihat Lili, karena orang yang di depannya terlihat pucat dan lemah. Tidak seperti Lili yang biasanya, bugar dan ceria.
"Kecapean dia." jawab Rizki sambil mengambil kantong plastik yang di bawa Bima.
Isinya martabak manis juga es campur. Rizki langsung melenggang ke dapur dengan membawa kantong plastik yang berisi rejeki nomplok baginya.
"Gue tadi bawain buat lu Li suer."
Bima mengacungkan tanda peace dengan wajah polosnya membuat Lili terkekeh. Bima menyenderkan badannya di punggung sofa lalu menoleh ke tv yang menayangkan kartun.
Lili mengamati Bima yang mengenakan kemeja putih, celana hitam, dan rambut yang tertata rapi.
"Mau kemana atau darimana lu kak rapi amat?" tanya Lili yang sedikit basa basi.
Bima menoleh. "Mau apel harus rapi lah." Bima menjawab sambil menaik turunkan alisnya.
Lili bergidik ngeri, membuat Bima tertawa.
"Lu tau kagak gua habis pemotretan. Biasa model."
Bima menyisir rambutnya kebalakang mambuat Lili semakin ngeri melihat Bima. Tingkat kepedeannya terlalu tinggi.
"Model obat panu maksudnya," sambar Rizki yang datang dengan nampan yang berisi makanan pemberian Bima.
"Thank's ya nyet."
Rizki mengambil mangkuk yang berisi es campur, merampas remote dari Lili lalu langsung menghadap tv dan menikmati es campurnya dengan khidmat.
"Li, gua udah ganteng belum?"
Lili yang sedang memakan martabak menoleh kepada Bima dengan mulut penuh martabak. Lili hendak menyemburkan martabaknya keluar mulut, tapi tidak jadi karena sayang. Bagaimana tidak tertawa, Bima sedang mengenakan kaca mata bundarnya sambil berselfi ria seperti anak abg. Membuat Lili benar-benar geli melihat kelakuan Bima.
"Sumpah ya hasil cetak mama papa gua top banget dah. Sampai gua seganteng gini ck." Bima bergumam, masih sibuk dengan ponselnya dan berselfi.
Lili heran, bagaimana bisa ada makhluk seperti Bima di muka bumi ini. Semoga saja cuma ada satu makhluk seperti dia, kalau sampai ada sepuluh. Bisa-bisa ia mati di tempat.
Lili menaruh martabaknya lalu berdiri dari sofa saat mendengar ada yang mengetuk pintu. Lili membuka pintu dengan senyum hangat siap untuk menyambut siapa yang datang. Tapi tiba-tiba senyum manisnya hilang, di gantikan dengan bibirnya yang melongo kaget saat melihat siapa yang datang.
"Ngapain kamu di sini Zak? nanti di gebukin Bang Iki lagi gimana?"
Lili menengok ke ruang tamu, dimana Bima yang asik memakan martabaknya setelah puas selfi dan Rizki yang masih fokus dengan tvnya.
Lili mendorong d**a bidang Zaki agar dia mundur, Lili menutup pintu lalu menoleh ke Zaki. Posisinya saat ini, membuat Lili seolah di peluk oleh Zaki. Lili ingin bersandar di d**a bidang Zaki, menumpahkan segala kekesalannya terhadap keadaan. Atau bisa di bilang, rasa keputus asaan.
Tapi Lili mundur, menunduk dan melihat kakinya yang t*******g. Zaki mengelus puncak kepalanya membuat ia mendongak menatap Zaki. Zaki menyodorkan sebuah kantong plastik putih. Lili melihat isinya. Coklat, cemilan, dan es cream. Lili menatap Zaki lagi. Tersenyum malu dan mengatakan terima kasih.
Zaki memasukkan kedua tangannya di saku celana, menatap Lili intens. "Kemana?"
Lili menatap Zaki dengan tatapan bingung, membuat Zaki berdecak karena penyakit lola Lili kambuh.
"Oh,emm itu Lili ada urusan." bohong Lili. Tidak mungkin ia mengatakan semuanya pada Zaki. Ia benar-benar takut akan keadaan yang akan ia hadapi nantinya. Ia akan terus berbohong seperti ini, biarlah Zaki semakin membencinya asal ia masih bisa dekat dengannya.
"Ada urusan apa sakit?"
Zaki bertanya dengan wajah datarnya membuat Lili mematung seketika. Jantungnya berpacu dua kali lebih cepat rasanya. Apa mungkin mimpinya akan menjadi kenyataan hari ini?
"Pucet," kata Zaki sambil memegang dahi Lili.
Hangat, pasti Lili sedang tidak enak badan, tapi tadi ia bilang sedang ada urusan. Zaki berdecih, lagi-lagi Lili membohonginya. Selalu saja seperti itu, menjawab baik-baik saja padahal ia sedang dalam keadaan yang jauh dari kata baik-baik saja. Seolah ia sangat tidak mempercayainya sebagai kekasih.
"Istirahat, jangan banyak tingkah, gua pulang."
Zaki melangkah hendak meninggalkan rumah Lili, tapi sebuah suara membuatnya berhenti dengan tangan terkepal.
"Mas bro!"
Zaki tau benar,itu suara sahabatnya, Bima. Zaki menoleh ke bakalang, mendapati Bima sedang berjalan ke arahnya. Dengan mengenakan kaca mata, membuat Bima terlihat benar-benar aneh dimata Zaki.
"Mbak bro tadi lu di cariin Mas Rizki di suruh masuk katanya takut lu kedinginan, gua pulang dulu ya. Udah di jemput belahan jiwa." ucap Bima sambil merogoh kantong celananya untuk mengambil kunci motor.
"Yuk sayang."
Bima berjalan ke arah Zaki, saat sudah berada di sebelah Zaki dan ingin mengamit tangan Zaki. Zaki langsung memberikan bogem di depan muka Bima membuat Bima mengerucutkan bibir sebal.
Bima dan Zaki menoleh ke belakang, melihat Lili yang sedang menyilangkan tangannya di depan d**a sambil menggembungkan pipi sebal. Disini yang kekasih Zaki adalah Lili, tapi yang mesra dengan Zaki malah Bima. Lili selalu saja kesal jika Bima dan Zaki sedang berdua. Pasti terasa seperti obat nyamuk.
Bima dan Zaki menghampiri Lili. Keduanya mengulurkan tangan hendak mengelus kepala Lili, membuat mereka saling melontarkan tatapan tajam. Zaki menghempas tangan Bima, lalu Bima mendorong badan Zaki sehingga Zaki sedikit terhuyung. Dan alhasil, terjadilah adu senggol antara Zaki dan Bima.
Lili memutar bola matanya malas, membalikkan badan lalu melangkah masuk. Meninggalkan dua sejoli yang sedang bermesraan. Saat melihat Lili hendak memasuki rumah. Bima berteriak membuat Lili berhenti.
"Lilipali tunggu jangan masuk dulu."
Bima berteriak sambil memegang muka Zaki agar menjauhinya. Zaki menyentil dahi Bima membuat sang empunya mengaduh kesakitan.
"Namanya Lili nyet."
Zaki mengambil kaca mata yang bertengger di hidung mancung Bima lalu berlari menuju Lili. Dia tahu bahwa kaca mata yang di kenakan Bima adalah kaca mata Lili, karena gadis itu membelinya saat sedang jalan-jalan bersamanya dulu.
"Nggak ada akhlak emang lu."
Teriak Bima kesal yang tak di hiraukan Zaki. Zaki menyerahkan kaca mata Lili, dan langsung di ambil Lili dengan kesal. Zaki tersenyum miring, melihat ekspresi kesal Lili yang sangat dia sukai.
"Tidur!" titah Zaki sambil menarik pelan hidung Lili. Lalu membalikkan badan meninggalkan Lili yang sedang berbunga-bunga.
Bima mengamit kepala Zaki dengan langannya, membuat Zaki harus menonjok pelan perut Bima. Bima mengaduh kesakitan dan melepaskan tangannya dari kepala Zaki. Zaki tertawa mengejek kepada Bima. Lalu menaiki motornya, memakai helm lalu melajukan motornya. Di susul dengan Bima di belakang Zaki.
Di balik gelak tawa mereka, ada hati yang melihat mereka dengan perasaan iri juga sakit. Meratapi nasibnya yang tidak bisa berada di posisi Lili.