Bima mengamit kepala Zaki dengan langannya, membuat Zaki harus menonjok pelan perut Bima. Bima mengaduh kesakitan dan melepaskan tangannya dari kepala Zaki. Zaki tertawa mengejek kepada Bima. Lalu menaiki motornya, memakai helm lalu melajukan motornya. Di susul dengan Bima di belakang Zaki.
Di balik gelak tawa mereka, ada hati yang melihat mereka dengan perasaan iri juga sakit. Meratapi nasibnya yang tidak bisa berada di posisi Lili.
Ia meremas dadanya yang terasa sangat sesak, mengambil napas dalam lalu menghembuskan napasnya perlahan. Ia menatap rumah besar Lili dengan tatapan hampa. Menggenggam tali sling bagnya lalu melangkah meninggalakan rumah Lili.
"Assalamualaikum Yola pulang." teriaknya begitu sampai rumah. Melepas flat shoesnya dan menaruh di rak sepatu. Ia melangkah masuk kedalam rumah yang sempit itu.
Bagi Yola rumah kecil itu adalah segalanya. Karena hanya inilah tempat Yola dan Neneknya berlindung dari dunia yang bisa sangat kejam kapanpun itu.
Yola membuka sebuah pintu usang, mengecek keadaan Neneknya, syukurlah Neneknya sudah terlelap. Yola menutup lagi pintu itu lalu masuk kedalam kamarnya. Kamarnya jauh dari kata mewah. Temboknya hanya di cat warna putih, kasurnya bukan kasur yang empuk. Hanya sekedar kasur usang yang setiap bulan rajin ia jemur.
Yola menaruh sling bagnya lalu menghempaskan tubuhnya ke kasur. Menatap langit-langit kamarnya yang sudah usang. Meratapi nasibnya yang sangat jauh berbeda dari Lili.
Lili cantik, pandai bergaul, memiliki banyak teman, dan kasih sayang yang berlimpah ruah. Terkadang terbesit rasa iri kepada sahabatnya yang sangat berbanding terbalik dengannya itu.
Lili tinggal di rumah besar dengan keluarga yang hangat, kasur empuk dan segala kebutuhan terpenuhi. Sedangkan ia? hanya tinggal di rumah kecil dan sempit dengan Neneknya seorang. Tidak ada Ayah Ibu, karena mereka pun enggan mengasuh Yola sampai besar.
Orang tuanya hanya mengirimkannya uang setiap bulan, nominalnya memang besar. Namun berapapun uangnya tidak bisa menggantikan keinginan Yola untuk melihat dan merasakan kasih sayang kedua orang tuanya.
Lili juga memiliki Rizki, Bima, dan Zaki yang sangat menyayanginya. Berbeda dengan dirinya yang hanya alat balas dendam dan juga pelarian bagi Zaki. Mengapa ia harus merasa kesepian seperti ini?
Niatnya tadi ia ingin berkunjung ke rumah Lili dan meminta maaf, tapi belum sampai untuk melaksanakan niatnya. Ia sudah melihat pemandangan yang sangat menyesakkan hati.
Meskipun Yola iri kepada Lili, tapi Lili tetap satu satunya sahabat Yola. Satu satunya orang yang mau berteman dengannya tanpa rasa kasihan. Lili sangat tulus kepadanya dan selalu membantunya saat ia kesusahan. Tapi apa balasannya? ia malah menghianati Lili dan mencintai kekasihnya.
Ia sangat benci kepada dirinya, kepada takdir, dan juga kepada semuanya.Yola menutupi wajahnya dengan bantal dan menumpahkan segala kekesalannya disana. Menangis terisak isak, berharap seseorang memeluknya dan membisikkan kata-kata bahwa ia tidak sendiri. Tapi kenyataanya, ia sendiri di dunia ini.
*
Yola mencoba menggapai asal suara yang sangat mengganggu tidurnya. Yola mengambil ponselnya dan mematikan alarmnya, pukul 04.10. Yola menguap lalu duduk di tepi ranjang, ia mencepol asal rambutnya lalu berdiri, malakukan tugasnya seperti biasa.
Membersihkan rumah, masak, lalu berangkat sekolah. Setelah merapikan rumahnya, Yola pergi ke dapur untuk memasak makanan. Ia hanya masak ayam goreng, tempe, dan sup. Sederhana memang, karena yang akan makan hanya ia dan Neneknya. Setelah menyiapkan di meja makan, Yola menyiapkan diri untuk berangkat ke sekolah.
Yola membangunkan Neneknya dan membantunya membersihkan diri. Yola menuntun Neneknya pelan-pelan menuju meja makan. Yola makan hanya sedikit, sesuatu yang menggangu pikirannya membuat ia tidak memiliki nafsu untuk makan.
Ia sangat malas untuk berangkat sekolah, menunggu angkot lalu sampai di sekolah yang sekarang terasa benar-benar membosankan. Yola jadi ingat kejadian kemarin, waktu Zaki mengantarnya pulang.
Hatinya benar-benar penuh dengan bunga sampai ia tidak bisa berhenti tersenyum saat perjalanan pulang. Walau mereka hanya diam, tapi Yola sangat menikmatinya. Saat sampai di depan rumahnya, Zaki langsung melajukan motornya meninggalkan Yola sebelum ia sempat menawarkan Zaki mampir.
"Sayang," panggilan dari Neneknya membuat Yola tersadar dari lamunannya.
"Kamu kenapa? ada masalah? cerita sama Nenek kalo kamu ada masalah nak." Nenek Yola mengelus rambut Yola. Yola tersenyum dan memegang tangan Neneknya yang sudah keriput.
"Engga Nek, Yola cuma bingung masalah tugas. Tapi udah selesai kok."
Yola menggenggam tangan Neneknya. Mengecup tangan yang sudah membesarkannnya dengan susah payah. Satu-satunya orang di dunia ini yang ia rasa sangat menyayanginya. Yola tidak punya siapa-siapa di dunia ini selain Neneknya.
Yola berdiri, membersihkan meja makan lalu berpamitan kepada Neneknya. "Yola pergi sekolah dulu ya Nek. Nenek baik-baik ya di rumah."
Yola mencium tangan Neneknya lalu meninggalkan rumah. Nenek Yola menghela napas, ia tahu bahwa cucu tersayangnya itu menyembunyikan sesuatu. Namun ia enggen bercerita karena takut membuat sang nenek khawatir.
Yola menatap jalanan yang begitu padat dengan pandangan kosong, sesekali ia menghela napas untuk menghilangkan sesak di d**a. Yola menyapu pandangannya untuk menemukan angkot. Tapi tidak seperti biasanya, entah kenapa pagi ini tidak ada satupun angkot yang berlalu-lalang. Yola melirik jam tangannya. Pukul 6, jika ia hanya diam di sini menunggu angkot yang tidak pasti bisa saja ia terlambat.
Yola memutuskan untuk berjalan, siapa tau di tengah perjalanan ada angkot lewat. Yola sudah berjalan cukup lama, tapi tetap tidak ada satupun angkot yang dapat ia tumpangi. Jika adapun pasti sudah sangat penuh. Yola mendesah pelan. Ia tadi hanya sarapan sedikit dan sekarang ia harus berjalan sampai sekolah?
"Spada!" sapa seseorang membuat Yola terlonjak kaget.
Ia menoleh dan mendapati seseorang dengan motor ninjanya dan helm full face yang ia kenakan membuat Yola tidak bisa mengenali orang itu. Dia memberhentikan motornya, membuat Yola mengernyitkan dahi bingung. Siapa dia? tapi dia mengenakan seragam yang sama dengannya, pasti dia murid sekolahnya juga.
Saat dia membuka helm full facenya Yola terdiam."Sini naik bareng gue aja daripada jalan." dia menaik turunkan alisnya membuat Yola sedikit meringis.
"Ngga usah Kak Bim, saya jalan aja sambil nunggu angkot."
Yola menolak ajakan Bima dengan berat hati. Bukannya ia tidak mau, tapi ia sungkan. Apalagi Bima adalah sahabat Zaki. Ia benar-benar tidak ingin berhadapan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Zaki, ia ingin segera untuk melupakan Zaki.
"Daripada nunggu angkot yang ga pasti kayak harapan dia, mending sama gue aja. Buruan, ga semua orang lo bisa di bonceng sama Bima sang perkasa." pagi-pagi sudah mulai alaynya Bima.
Yola menggigit bibirnya gugup. Ia tidak ingin menyusahkan Bima, namun jika ia menolak maka ia akan telat datang ke sekolah. Akhirnya Yola memutuskan menerima ajakan Bima. Ia naik ke motor Bima dengan canggung. Bima mengenakan lagi helmnya dan melajukan motornya dengan kecepatan rata-rata.
"Kalo ngomong sama gue santai aja. Ga usah pakek saya sayaan. Kek orang penting aja gue." Bima berucap di tengah keheningan mereka.
Yola gelagapan sendiri karena tidak mendengar apa yang Bima katakan. Hembusan angin di tambah dengan Bima yang mengenakan helm membuat ia tidak mendengar apa yang Bima katakan.
"Apa Kak? Saya ga denger?"
Yola mencondongkan wajahnya ke depan supaya bisa mendengar perkataan Bima. Bima memundurkan kepalanya sedikit, membuat pipi Yola menempel di helm Bima. Yola mematung, saat menyadari posisinya sangat intens dengan Bima.
"Ga usah pakek saya sayaan. Santai aja sama gue." ulang Bima.
Yola segera manarik kepalanya mundur dan membuat jarak. Ia menganggukkan kepala atas perkataan Bima tadi, mencoba menutupi kegugupannya. Bima terkekeh lalu kembali fokus kepada jalanan.
Setelah sampai di parkiran. Yola segera turun dari motor Bima dan Bima membuka helm. Membenarkan tatanan rambutnya sambil melihat spion. Saat merasa poninya sudah kece badai, Bima bersiul dan menaik turunkan alisnya. Terpesona dengan wajahnya sendiri.
"Makasih ya kak." ucap Yola membuat Bima menoleh.
"Sans mawon neng." jawab Bima sambil tersenyum.
Lalu derum motor Zaki terdengar dan parkir di sebelah Bima. Yola meneguk salivanya saat melihat Zaki. Zaki membuka helmnya dan mengangkat alisnya heran saat melihat Yola di parkiran.
"Saya permisi dulu kak." ucap Yola, ingin cepat-cepat pergi dari hadapan Bima dan Zaki.
"Saya lagi. Hadeh,"
Bima menggelengkan kepalanya lalu berjalan meningkalkan tempat parkir, disusul Zaki yang berjalan dengan memasukkan tangannya di saku celana.
"Lu berangkat ama Yola?" tanya Zaki datar.
Bima bersiul dan sesekali mengedipkan mata saat ada adik kelas cantik yang lewat. Rutinitas Bima saat di pagi hari, menebar pesona agar mendapat pahala. Karena jika dia membuat para gadis tersenyum, berarti itu adalah pahala baginya. Entah dari mana teori itu, namun Bima menyukainya.
"Iye tadi dia jalan nunggu angkot. Gua kasian ya gua kasih tebengan aja." jawab Bima membuat Zaki mencekal tangan Bima sehingga langkah mereka berhenti.
"Nggak Lili nggak Yola. Tikung aja terus." sindir Zaki dengan tatapan datarnya. Sedikit tidak terima saat sahabatnya selalu selangkah ada di depannya saat berurusan dengan masalah hati.
"Iri bilang bos."
Bima menoel dagu Zaki lalu segera berlari menjauhi Zaki. Sedangkan Zaki menggeram sebal. Dia dengan sekuat tenaga menahan hasrat untuk membunuh Bima. Namun dia bukan tipe orang yang mudah untuk mengontrol emosi.
Zaki melepaskan salah satu sepatunya lalu berlari untuk menghabisi Bima. Bima yang tidak ingin tatanan rambutnya berantakan, semakin mempercepat larinya untuk menghindari Zaki. Dua sahabat yang memiliki sifat yang bertolak belakang itu, selalu saja menjadi sorotan karena pertengkaran konyol mereka.
Yola menghembuskan napas lega saat ia rasa sudah jauh dari Zaki dan Bima. Ia membenarkan tasnya yang agak merosot dari bahunya, lalu melanjutkan langkahnya menuju kelas dengan lesu. Ia benci sekolah, semua seolah terasa menyiksa saat Lili tidak bersamanya. Yola benar-benar tidak tahu harus berbuat apa jika tidak ada Lili.
Langkah Yola terhenti, saat melihat Lili dan Rizki. Lili yang selama ini terlihat ceria, kini benar-benar berbeda. Wajah Lili sangat pucat, sehingga membuat Yola khawatir. Yola sangat ingin menyapa Lili dan menanyakan keadaanya, tapi ia takut akan memancing kemarahan Lili maupun Rizki.
Tapi kakinya, tanpa sadar melangkah mendekati Lili dengan perlahan. Rizki dan Lili menghentikan langkahnya saat melihat Yola yang sedang berjalan mendekat, mereka memandang Yola dengan tatapan yang sulit di artikan. Saat sadar dari lamunannya Yola gelagapan. Berlari meninggalkan Lili dan Rizki begitu saja.
Ia memasuki kelas, duduk di bangkunya lalu meletakkan kepalanya di atas meja. Membenturkan kepalanya pelan di meja, merutuki kebodohannya. Namun tidak dapat dipungkiri, ia sangat merindukan dan mengkhawatirkan Lili.
"Kalo ada apa-apa telpon gue,"
Yola tau, itu adalah suara Rizki. Ia menggigit bibir bawahnya, lalu mengangkat kepalanya dan melihat Lili yang berjalan perlahan memasuki kelas. Lili benar-benar terlihat pucat dan sangat lemas. Yola spontan berdiri dan menghampiri Lili, membantunya berjalan sampai ke bangku. Ia hanya takut jika tiba-tiba Lili tidak kuat menopang tubuhnya lalu limbung. Dan saat ia membantu Lili, Lili hanya diam dan menurut.
Yola tersenyum samar, mungkin ini kesempatannya untuk meminta maaf kepada Lili. "Lo kenapa Li?" Yola bertanya saat Lili sudah duduk.
"Nanti istirahat gue mau ngomong." setelah mengatakan itu Lili memainkan ponselnya sambil menaruh kepalanya di atas meja. Yola hanya terdiam, dengan seribu pertanyaan yang berputar di kepalanya.