Brak!!
Suara gaduh di bawah membuat pemuda tampan yang sedang berdiri di pinggir jendela terlonjak kaget. Belum puas dengan perasaan cemas dan khawatir terhadap gadis yang di cintainya, kini suasana hatinya akan bertambah buruk jika mengetahui kejadian yang terjadi di bawah. Kaki jenjangnya melangkah meningglkan kamar dan menuju asal kegaduhan.
Saat sampai di ruang tamu yang sangat luas. Dia menggeram marah, rahangnya mengeras, giginya gemerlatuk menahan amarah, buku-buku jarinya memutih karena tangannya terkepal kuat.
Pemandangan di depannya sangat membuatnya muak. Pria yang dulunya selalu menjadi panutannya, pria yang dulunya penuh kasih sayang. Kini sedang melangkah gontai, dengan penampilan acak-acakan. Bukan, bukan itu yang membuat pemuda itu geram. Tapi wanita dengan pakaian kekurangan bahan yang membopong tubuh ayahnya.
"Anda pulang membawa jalang yang berbeda lagi?" tanya pemuda itu dingin, menahan emosi yang siap meletup kapanpun.
Pria dengan tubuh tegap, rahang yang tegas dengan bulu-bulu tipis, jaz kantornya sudah berantakan, dia mengangkat kepalanya menatap anak tunggalnya itu dengan pandangan marah. Sedangkan wanita di sebelahnya hanya memutar bola matanya malas.
"Jaga ucapan mu Zaki!" teriak pria itu dengan penuh emosi dan menggelegar ke seluruh penjuru rumah. Pemuda itu, Zaki berdecih. Dia menatap jijik kepada wanita di sebelah ayahnya itu. Oh bukan, bahkan Zaki tidak sudi memanggilnya ayah.
"Sadarlah. Anda sudah tua dan selalu bergonta-ganti jalang setiap hari. Apa anda tidak takut dengan penyakit kelamin? Oh saya tau. Anda pasti merindukan istri anda dan ingin segera menyusulnya ke sana. Tapi bisa dengan cara lain? Saya tidak ingin istri anda, yang juga mama saya merasa sedih karena kelakuan b***t anda." ucap Zaki dengan nada dingin, tapi mampu menusuk siapa saja bak pedang. Dia sudah tidak peduli dengan statusnya sebagai anak dari pria di depannya ini. Dia sudah muak dengen kelakuan b***t ayahnya.
"JAGA UCAPAN KAMU ZAKI!" peringatnya sekali lagi dengan amarah yang sudah meletup-letup.
Bugh!
Satu pukulan mendarat mulus di rahang Zaki. Zaki terhuyung ke belakang. Dia memegang sudut bibirnya yang terasa perih, ternyata bibirnya sobek dan mengeluarkan sedikit darah. Zaki berdecih dan menatap pria di depannya dengan tajam.
"Rendrik sudah." ucap wanita di sebelahnya.
Ia melirik sinis Zaki. Baginya Zaki hanya penghalang, Zaki hanya membuang-buang waktunya. Oh come on, ia kemari hanya untuk b******a dengan pria tua berengsek di sampingnya lalu pergi dengan tas penuh uang. Dan yang di lakukan Zaki sekarang, hanya membuang-buang waktunya.
"Silahkan hiasi rumah kosong ini dengan desahan-desahan b*****t anda." ucap Zaki lalu berlalu pergi meninggalkan Rendrik yang sedang emosi. Zaki menaiki motornya dan melajukannya dengan kecepatan di atas rata-rata membelah padatnya jalanan kota Jakarta.
*
"Jadi berapa mbak?" tanya Lili kepada seorang kasir.
Penjaga kasir itu menyebutkan jumlah yang harus dibayar oleh Lili. Ia keluar dengan sekantong belanjaan yang isinya hanya makanan ringan dan sedikit kebutuhannya.
Ia sedang berada di supermarket yang sedikit jauh dari rumahnya, entahlah ia hanya ingin pergi menikmati angin padahal ada supermarket yang dekat dengan rumahnya. Bukannya Lili baru pulih? Ya. Dan keinginnannya berbelanja sendiri di tentang mentah-mentah oleh keluarganya apalagai Rizki.
Tapi dengan keras kepala yang tidak bisa di tandingi siapapun. Lili akhirnya di izinkan berbelanja sendiri, tapi dengan satu syarat. Ia harus di antar, dan yang mengantarnya adalah Mang Ujang dan juga ia menelpon Yola untuk menemaninya, karena Lili tidak ingin ditemani oleh Rizki.
Setelah berbelanja Lili tidak segera pulang, ia malah duduk di depan supermarket dan menatap kosong jalanan, sambil menunggu Yola yang belum selesai berbelanja. Ia merogoh saku jaketnya dan mengambil ponsel. Ia sangat ingin menyampaikan pesan singkat kepada Zaki, tapi jari-jarinya kelu untuk mengirim pesan singkat kepada Zaki. Dan entah mengapa, perasaannya di liputi dengan perasaan khawatir. Ia khawatir dengan Zaki dan perasaannya tidak enak.
"Woy Li malah ngelamun." ucap Yola yang telah selesai berbelanja mengagetkan Lili.
"Eh udah selesai?" tanya Lili kepada Yola. Yola mengangguk sebagai jawabannya.
"Lo jadi nginep di rumah gue kan?" tanya Lili sekali lagi.
"Ya iyalah. Masak gue balik malem-malem gini." jawab Yola.
Yola memang berniat menginap di rumah Lili, dan sekarang pun ia sedang mengenakan pakaian Lili. Karena pakaiannya tadi tak sengaja terkena tumpahan teh. Wangi tubuh Lili melekat pada tubuh Yola, dan jujur Yola sangat nyaman akan aroma Lili. Sangat menenangkan.
"Ya udah yuk pulang. Keburu malem, nanti bang Rizki nyariin." ucap Yola.
Lili tampak berpikir membuat dahi Yola berkerut. Lili mengecek kantong belanjaannya dan ternyata masih ada yang belum ia beli.
Lili masuk ke dalam supermarket lagi untuk membeli kebutuhan 'spesial'. Yola memasukkan belanjaannya dan belanjaan Lili ke dalam mobil. Karena mesin mobilnya mati, otomatis AC di dalam mobil pun mati. Karena kegerahan, Yola memutuskan untuk keluar dari mobil. Baru ia keluar dari mobil, ada peristiwa yang mencurigakan di sebrang jalan.
Yola memicingkan matanya. Di sana terdapat pemuda berbadan tegap sedang adu jotos degan pria berambut grondong dan plontos. Yola merasa mengenali pria itu. Yola membekap mulutnya terkejut. Pria berbadan tegap itu sedang tersungkur di tananh dengan luka yang di wajahnya. Lalu dua pria itu pergi meninggalkannya setelah memaki.
Yola refleks langsung memgambil kotak P3K dari mobil dan menyebrang untuk menolong pria itu. Yola memang tidak mengetahui siapa pria itu, tapi instingnya mengatakan bahwa ia harus menolongnya. Setelah dekat dengan pria itu, Yola lebih terkejut. Ternyata pria itu adalah pria yang di cintainya, sekaligus pria yang di cintai sahabatnya. Zaki.
"Zaki!" seru Yola dan langsung membantu Zaki berdiri. Yola mendudukkan Zaki di salah bangku halte, karena lokasinya memang di halte. Yola memandang Zaki cemas, sedangkan Zaki hanya memandang kosong ke bawah.
"Zak kamu gapapa?" tanya Yola. Zaki hanya diam, masih menatap kosong ke bawah. Dia tidak terganggu dengan kehadiran Yola bahkan tidak terganggu dengan luka-lukanya.
Yola dengan segela kekhawatirannya mengambil kotak P3K dan mulai mengobati lebam di wajah Zaki. Zaki hanya diam, menatap tajam Yola yang seenaknya menyentuhnya. Tapi Zaki tidak menolak, karena ada satu hal yang membuatnya tertarik. Dan Yola pun tidak terganggu dengan tatapan tajam Zaki, yang di pikirkannya sekarang adalah mengobati luka Zaki.
"Kamu kenapa sampai berantem sama preman-preman itu. Kamu ada masalah sama mereka?" tanya Yola setelah selesai mengobati luka Zaki. Entah sejak kapan Yola mengganti cara bicaranya menjadi 'aku kamu' mungkin semenjak statusnya menjadi pacar Zaki, atau lebih tepatnya selingkuhan yang hanya di peralat oleh Zaki.
Zaki hanya diam, ada satu hal yang membuatnya tertarik juga bingung. Namun dengan segala kekalutannya, Zaki menarik Yola kedalam dekapannya. Yola mematung seketika, detak jantungnya tidak bisa di kontrol lagi. Zaki memeluknya. Dan jantungnya terasa sudah melompat dari tempatnya karena perasaan senang yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Zaki, dengan pikiran yang kalut karena masalah di rumahnya. Entah apa yang di lakukan ini di bawah alam sadarnya atau di sengaja. Tapi yang membuat Zaki melakukan ini adalah, aroma tubuh Lili yang melekat di tubuh Yola. Zaki menghirup aroma tubuh Yola yang lebih di d******i oleh aroma tubuh Lili, menghirupnya rakus seolah tak ada hari esok.
Hanya aroma ini yang mampu membuatnya tenang. Hanya aroma ini yang mampu menghilangkan kekalutannya dalam sekejap. Aroma yang selalu menjadi favoritnya. Aroma yang penuh kehangatan dan kasih sayang. Aroma yang selama ini tak pernah dia hirup lagi. Aroma yang teramat dia rindukan. Aroma tubuh Lili.
Setelah sekian lama tidak menghirup aroma yang sudah menjadi nikotin baginya. Zaki seolah tersihir. Tidak memperdulikan lagi siapa pemilik aroma menenangkan yang sedang di dekapnya.
"Aku kangen kamu Lili," ucapnya di bawah alam sadar.
Hanya empat kata yang terucap dari bibir merah menggoda itu. Sudah mewakili segalanya, bahwa Zaki masih sangat mencintai Lili dan itu semakin memperjelas semuanya. Empat kata itu, mencabik-cabik hati yang tadinya berbunga-bunga. Seakan memberhentikan detak jantung yang tadinya berdetak tak karuan. Membuat mata yang tadinya berbinar bahagia meneteskan air mata pilu.
"Dan lagi, aku merasa sakit. Dengan kenyataan yang menampar ku berkali-kali tapi tak kunjung membuat ku sadar. Bahwa hati mu tak pernah untuk ku. Tidak akan pernah. Dan dengan bodohnya aku masih di sini. Terjerat akan hubungan dan rasa sakit ini," ucap Yola yang tak mungkin terdengar oleh siapapun. Hanya ia dan Tuhan yang bisa mendengarkan ungkapan hati yang tersakiti amat dalam.