"Yola kemana?"
Tanya gadis berambut hitam tergarai itu. Ia menutup bagasi setelah menaruh semua kantong plastik berisi belanjaannya. Lili memasukkan handphonenya kedalam saku, dan matanya tidak sengaja menangkap pemandangan yang membuat gejolak aneh muncul di dadanya. Di sebrang sana, tepatnya di halte. Lili melihat sebuah adegan berpelukan. Lumrah memang dilakukan banyak kekasih. Tapi entah mengapa kakinya melangkah kesana. Seolah ingin menunjukkan sesuatu.
Setelah menyebrangi jalan yang padat. Akhirnya Lili sampai ke tempat yang dituju. Tapi, pemandangan yang sedang ia saksikan, menohok hatinya dengan amat keras. Memukul relung hatinya, membuatnya tak kuasa menahan air mata. Air mata mengurai deras dari mata indahnya, mewakili semua perasaan yang tidak bisa diungkapkan.
Tangannya membekap mulutnya sendiri agar tidak menimbulkan suara berisik. Dengan berurai air mata, kakinya berjalan mundur perlahan. Masih dengan mata yang memandang lekat pemandangan yang amat sangat menyakitkan itu.
"Aduh! Kalo jalan liat-liat dong, gimana sih!" gerutu seseorang yang tidak sengaja ditabrak oleh Lili.
Suara pria tadi membuat pelukan hangat dua sejoli itu terlepas. Mereka menoleh, dan terkejut saat melihat Lili. Salah satunya menatap Lili dengan amat sangat terkejut, sedangkan satunya hanya menatap Lili datar menutupi keterkejutannya. Sedangkan Lili, masih menatap mereka dengan deraian air mata.
Mereka berdiri, berjalan menghampiri Lili. Hendak menjelaskan kejadian yang barusan disaksikan langsung oleh Lili. Mencoba menepis segala prasangka Lili, dan berusaha menutupi fakta yang ada.
"Li, ini nggak seperti yang lo lihat. Gue," belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya Lili menggeleng dengan kuat. Berharap dirinya sedang bermimpi.
"Lo kenapa pelukan sama Zaki Yol?" tanya Lili lirih.
Yola menunduk, tidak tahu lagi harus berkata apa. Dunianya seperti berhenti berputar saat itu juga, ia tidak menyangka akan tertangkap basah secepat ini. Yola mendongak, mencoba menjelaskan situasi sebenarnya kepada Lili. Tapi gelengan kepala dan tatapan penuh luka yang tersirat jelas dari mata Lili, membuat bibirnya kelu.
Lili berjalan mendekat, membuat kaki Yola terasa lemas. Ia takut akan kemungkinan buruk yang akan terjadi. Yola memejamkan mata erat, bersiap akan menerima tamparan dari Lili. Sudah cukup lama ia menutup mata, namun ia sama sekali tidak merasakan apapun. Yola membuka matanya ketika mencium aroma tubuh Lili yang menenangkan melewati dirinya. Yola menoleh ke belakang, lalu menghembuskan napas yang sedari tadi ia tahan.
"Zaki kamu kenapa? Kok wajah kamu lebam-lebam?" tanya Lili sambil memegang bagaian wajah Zaki, yang lebam karena pukulan preman tadi. Luka yang tadinya ingin Yola obati, namun belum sempat karena pelukan Zaki yang sangat tiba-tiba.
Zaki hanya diam menatap Lili, menatapnya amat dalam. Zaki menatap tepat di bola mata hitam Lili. Mata yang selalu membawa secercah cahaya terang yang selalu membuat Zaki semangat setiap harinya. Lalu turun ke pipi Lili. Pipi yang dulunya sering dia cubit, sering dia mainkan layaknya squisy.
Lalu turun lagi ke bibir Lili, bibir tipis merah muda yang selalu tersenyum tulus. Membawa kebahagiaan bagi siapapun yang melihat senyumnya. Ingin rasanya Zaki menarik tubuh mungil itu kedalam dekapannya. Minghirup aroma tubuhnya yang selalu menjadi obat saat dia sedang sedih. Seperti yang dia rasakan sekarang.
Lili menoleh ke belakang. Menatap Yola yang menggenggam kotak P3K. "Yol, Zaki kenapa?" tanya Lili membuat lamunan Yola buyar.
"Tadi gue liat Zaki di kroyok preman. Jadi gua mau obatin luka Zaki." jelas Yola dengan gugup. Ia hanya menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Tapi entah mengapa ia merasa amat sangat gugup berhadapan dengan Lili saat ini.
"Jadi tadi lo mau obatin Zaki? Bukannya pelukan?" tanya Lili sekali lagi.
Yola hanya diam. Tak mampu menjawab apapun. Lili mengambil kotak P3K yang di pegang Yola dan kembali menatap Zaki yang sedari tadi masih menatapnya lekat-lekat.
"Zak. Aku obatin dulu luka kamu ya?" ucap Lili dengan suara lembut yang dirindukan Zaki.
Membuat hati Zaki bergetar hebat. Bahkan dia sudah lupa akan rasa sakit di badannya. Lili memegang tangan Zaki dan menuntunnya untuk duduk di kursi halte lagi. Lili sedikit terkejut, karena Zaki hanya diam dan menurut saat ia memegang tangannya. Biasanya Zaki akan langsung menepis kasar tangan Lili. Tapi sekarang bukan itu yang Lili pikirkan. Ia hanya ingin mengobati luka Zaki.
Lili mengobati luka Zaki dengan perlahan dan sangat hati-hati. Sedangkan Zaki hanya diam menatap Lili. Melupakan fakta bahwa masih ada satu hati disana, menyaksikan adegan yang meremukkan hatinya. Dan lagi, keberadaannya tidak pernah dianggap.
Yola menghembuskan napas beratnya lagi. Berharap air matanya tidak tumpah di tempat itu. Yola mundur perlahan, berniat meninggalkan tempat yang akan membuat hatinya lebih hancur jika tetap berada di tempat itu.
"Yol. Lo mau kemana?" tanya Lili yang menyadari kepergian Yola.
Yola menghentikan langkahnya dan berbalik. "Gue mau balik ke mobil aja Li. Gue tunggu di sana ya." jawab Yola dan langsung meninggalkan halte.
Yola masuk ke dalam mobil dan tangisnya langsung pecah disana. Dadanya terasa sesak. Sangat sesak. Ia masih bisa merasakan aroma tubuh Zaki yang maskulin dan menenangkan. Yola memeluk dirinya sendiri, mengenang pelukan hangat Zaki. Andai keberuntungan berpihak padanya. Ia ingin terus memeluk Zaki. Menikmati aroma tubu dan kehangatannya. Walaupun Zaki menganggapnya Lili, tidak masalah. Yang penting ia masih bisa memeluk Zaki.
"Zak." panggil Lili.
Zaki hanya bergeming dan masih menatap Lili. Lili juga ikut menatap Zaki. Ia amat merindukan sosok yang berada di depannya.
"Masih sakit?" tanya Lili dengan penuh perhatian.
Ingin rasanya ia masuk kedalam dekapan Zaki yang hangat, menyalurkan kekuatan untuknya. Lili tahu betul, bahwa Zaki sedang sedih. Karena Zaki tidak akan pernah mengajak orang lain berkelahi tanpa alasan, kecuali jika dia ingin melampiaskan amarahnya. Tapi Lili terlalu takut akan kemarahan Zaki. Jadi Lili memutuskan untuk diam, mengelus lembut luka diwajah tampannya. Berharap luka itu tidak membuat Zaki kesakitan lagi.
Zaki hanya menatapnya datar. Menyembunyikan rasa hangat yang menjalar di dadanya. Zaki menatap bibir ranum Lili. Senyum itu, senyum yang sangat dia rindukan. Dia ingin melihat bibir itu tersenyum karenanya lagi. Tapi Zaki menepis jauh-jauh pemikiran itu, dendamnya lebih besar dari rasa rindunya.
Zaki berdiri. Menenggelamkan tangannya di saku celana, lalu menunduk, menatap Lili dengan wajah datar. "Gua cuma mau ngasih tau ke lo. Kalau gua udah jadian ama Yola." ucap Zaki tanpa beban. Seolah yang dia ucapkan tadi hanya angin lalu.
Tapi tidak dengan Lili. Bagai tersambar petir, Lili diam mematung. Berharap yang ia dengar hanyalah mimpi buruk dan seseorang segera membangunkannya. Namun Lili sadar, bahwa apa yang ia hadapai kini adalah kenyataan. Lili berdiri, menatap lekat-lekat Zaki. Ia sangat ingin tidak mempercayai perkataan Zaki. Karena bagaimanapun Yola adalah sahabatnya. Tidak mungkin Yola menghianatinya.
"Gak! Kamu bohongkan?! Aku tau kamu benci ama aku. Tapi setidaknya jangan rusak persahabatan aku Zak!" ucap Lili dengan air mata yang tanpa di sadarinya sudah mengalir membasahi pipi mulusnya.
Zaki tersenyum miring. Sama sekali tidak ada rasa kasihan di matanya. Air mata itu, dia sudah membuatnya jatuh berkali-kali. Rasa bersalah dan sedih pasti ada di hati kecilnya. Tapi apa daya. Dendam di hatinya lagi-lagi mengalahkan segalanya.
"Kalau lo nggak percaya. Lo bisa tanya sendiri sama Yola."
Zaki menatap Lili sebentar, memaksa dirinya untuk merasa puas dengan air mata Lili. Namun dia tidak bisa berbohong, bahwa hatinya terasa sangat sakit. Tidak ingin pertahanannya runtuh, Zaki berbalik dan melangkah menjauh dari Lili.
"Terus hubungan kita gimana Zak?! Kita putus? Iya?!" teriak Lili disela isakannya.
Zaki berhenti, tanpa memutar badan atapun menoleh. Zaki menjawab pertanyaan Lili dengan begitu kejamnya. "Putus? Gue belum pernah mutusin lo. Jadi artinya lo tetep jadi pacar gue."
Setelah mengucapkan kalimat yang mengoyak habis hati Lili. Zaki pergi begitu saja, meninggalkan Lili sendiri. Dengan gelapnya malam, dan juga luka yang mendalam. Lili yang masih tidak ingin mempecayai perkataan Zaki, menghapus air matanya yang sedari tadi mengalir.
Ia berlari meninggalkan halte, menuju keberadaan Yola. Lili terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dikatakan Zaki hanyalah kebohongan. Tapi, Zaki tidak pernah main-main dengan perkataanya.
Yola yang sadar akan kedatangan Lili. Mengusap air matanya yang sedari tadi keluar, dan memasang topeng bahagianya. Lili membuka pintu mobil dan menatap Yola. Yola mengernyitkan dahi bingung saat melihat Lili berderaian air mata. Lili tidak seharusnya mengeluarkan air mata, saat ia baru saja bersama dengan Zaki. Yang seharusnya menangis adalah dirinya, karena ialah yang sangat tersakiti.
"Yol gue mau tanya sama lo. Tapi lo harus jawab sejujurnya."
Lili menatap dalam Yola, tidak mampu mengatakan apa yang ingin ia dengar dari mulut Yola. Ia ingin tahu kebenarannya, namun ia juga terlalu takut mendengar kenyataan yang begitu menyakitkan keluar dari mulut sahabatnya sendiri. Sahabat yang amat ia sayangi.
"Lo jadian sama Zaki?" tanya Lili lirih.
Lili menatap Yola dalam, berharap sang sahabat akan menggeleng tegas dan menertawakannya. Karena telah menanyakan pertanyaan yang begitu konyol. Namun melihat reaksi Yola, sepertinya ia harus mau menelan pil pahit sekali lagi.
Yola terbelalak. Tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. "Ma,maksud lo?"
Tenggorokannya seolah tercekat. Baru saja ia menghirup napas lega, karena ketakutannya tidak terjadi. Namun ternyata, ia harus melihat persahabatan mereka hancur malam itu juga.
"Nggak mungkin kan Yol? Tolong bilang ke gue kalau semua itu bohong."
Lili memegang lengan Yola. Berharap Yola mengeluarkan aksi jahilnya saat ini. Karena ia masih tidak bisa percaya, bahwa sahabat yang benar-benar ia percaya melebihi apapun. Menghianatinya.
Cukup dengan anggukan kepala Yola sudah menjelaskan semua. Lili membekap mulutnya dan air matanya kembali mengalir dengan deras tanpa di komando. Lili mundur perlahan dan menggelengkan kepalanya tidak percaya. Berharap bahwa semuanya hanyalah mimpi.
Yola berjalan menghampiri Lili. Mencoba menjelaskan semuanya, dan berharap persahabatan mereka tidak hancur. Namun semua sudah terlambat, Yola harus melihat persahabatan yang membuat harinya berwarna harus hancur saat itu juga. Karena kesalahannya sendiri, ia menghancurkan persahabatan yang tidak mungkin ia dapat dimanapun.
"Gue ga nyangka Yol. Lo itu sahabat gue. Tapi lo nusuk gue dari belakang. Apa salah gue ama Yol?" lirih Lili di depan Yola. Tenaganya benar-benar terkuras habis, bersamaan dengan air mata yang semakin deras jatuh dari pelupuk matanya.
Yola menahan napas, tak mampu menghirup oksigen yang ada. Ia tau ia jahat. Ia tau ia berhianat. Tapi ini semua juga bukan sepenuhnya kesalahannya. Ia lelah disalahkan oleh keadaan, tanpa ada yang mendengarkan keluh kesahnya sekalipun.
"Iya gue tau gua salah. Gue tau udah ngehianatin persahabatan kita. Tapi ini semua juga karena elo Li. Coba aja lo nggak ngilang. Lo nggak buat Zaki kesepian. Asal lo tau. Selama lo ngilang. Zaki frustasi, Zaki kacau. Saat itu gue menghibur Zaki karena gue nggak mau liat lo sedih karena pacar lo sedih. Tapi ternyata. Rasa ini muncul dengan sendirinya. Gue nyaman sama Zaki, gua suka sama Zaki. Dan saat perasaan ini muncul. Lo dateng tanpa bersalah. Seolah lo ga ngelakuin kesalah apa-apa. Ini semua juga salah lo Li!" teriak Yola menumpahkan segala isi hatinya.
Napasnya terengah. Seperkian detik kemudian, Yola membeku. Menatap kosong Lili, dengan air mata yang semakin deras mengalir. Yola seperti berdiri di lubang hitam, melayang-layang tidak tahu arah. Ia tidak menyangka, bahwa mulutnya bisa mangatakan hal sekeji itu.
"Gue ga nyangka Yol. Gue kira lo itu sahabat terbaik gue. Yang bakal ngertiin gue. Tapi ternyata,"
Lili tersenyum getir. Menertawakan takdir yang sangat senang mempermainkan dirinya. Setelah kekasih yang sangat dicintainya, kini ia juga harus menelan pil pahit dari penghianatan sahabatnya sendiri? ia tidak tahu, berapa banyak lagi pil yang harus ia telan.
Namun kini, ia akan menelan habis semua pil itu, walau pada akhirnya ia akan mati rasa. Ia tidak peduli, ia hanya akan diam dan menikmati setiap luka yang ditorehkan begitu dalam.
Lili mendorong bahu Yola. Masuk kedalam mobil dan membanting pintunya. Lili menyuruh Mang Ujang menjalankan mobil segera munuju rumah. Meninggalkan Yola sendiri dengan segala lukanya. lili berteriak sekeras mungkin, menghiraukan Mang Ujang yang sangat mengkhawatrikan keadaannya. Lili hanya ingin memangis sampai air matanya kering, karena ia benar-benar tidak tahu cara bertahan dari rasa sakit yang membunuhnya perlahan ini.
Yola menutup matanya yang benar-benar perih. Ia menangis menumpahkan rasa sesak di dadanya, menghiraukan segala pandangan yang tertuju padanya. Hembusan angin malam menusuk ke dalam kulitnya, menembus piyama tipis yang ia kenakan. Yola tidak tahu bahwa rasanya akan sangat menyakitkan, sekarang ia tidak bisa membayangkan hari esok.
Semuanya seolah hancur seketika itu juga. Yola terus terisak, menghiraukan angin malam yang berhembus semakin kencang. Yola membuka mata saat merasakan sesuatu yang hangat memeluknya. Yola terdiam saat seorang ojek online sedang menatapnya canggung.
“Maaf mbak kalau saya lancang, saya cuma nggak tega lihat mbak kedinginan nantinya.”
Yola melihat jaket ojek online itu memeluk tubuhnya, ia baru bisa merasakan dinginnya angin malam yang menusuk kulitnya saat itu juga. Yola mengernyit bingung akan kedatangan ojek online yang begitu tiba-tiba itu. Ia ingin menanyakan alasan keberadaan ojek online itu, namun tenggorokannya begitu kering. Tidak mampu mengeluarkan sepatah kata apapun.
“Oh iya, saya kesini atas nama customer Lili. Tertulis disini untuk mengantarkan mbaknya pulang. Benarkan dengan mbak Yola?” Jelas sang ojek online yang memahami arti tatapan Yola.
Yola menggigit bibir bawahnya yang bergetar. Ia ingin berteriak sekeras mungkin untuk meminta maaf kepada Lili. Walaupun ia harus bersujud di depan Lili, ia akan melakukannya. Tangisnya pecah kembali, merutuki kebaikan hati Lili yang membuatnya semakin terlihat hina.
"Maafin gue Li maafin gue." gumam Yola sambil menutup wajahnya untuk meredam tangisnya.
Ia tidak menyangka telah mengatakan semua hal k**i itu. Ia sadar. Ia telah melukai hati Lili yang lembut bagai malaikat. Ia amat sangat menyesal. Ia membalas semua kebaikan, ketulusan, dan kelembutan hati Lili dengan penghianatan.
Malam yang gelap tanpa bintang, dengan hembusan angin yang menusuk kulit. Menjadi saksi bisu akan hancurnya dua hati dan hancurnya persahabatan hanya karena sebuah cinta.