Bu Hartati menyuruh pembantunya membawakan teh lagi, lalu menutup pintu ruang itu rapat-rapat. Ketika ia mulai bicara, suaranya turun menjadi nyaris berbisik, seolah dinding pun mungkin punya telinga yang dibeli.
"Dua puluh tahun lalu," katanya, "Yusuf Wibawa masih advokat muda, sama sepertimu. Pintar, lapar, ambisius. Tapi tidak punya nama, tidak punya klien besar. Lalu suatu hari dia menangani sebuah perkara—sengketa tanah yang melibatkan seorang pengusaha muda bernama Ardian Cakra, yang waktu itu juga belum jadi siapa-siapa, baru merangkak naik."
Alika mendengarkan tanpa berkedip.
"Lawan Ardian dalam sengketa itu adalah keluarga petani yang punya sertifikat sah. Secara hukum, mereka pasti menang. Tapi Yusuf menemukan cara. Saksi-saksi tiba-tiba berubah keterangan. Dokumen lama tiba-tiba 'ditemukan' yang membatalkan sertifikat petani. Hakim yang awalnya keras tiba-tiba lunak. Keluarga petani itu kalah, kehilangan tanahnya, dan kepala keluarganya—" Bu Hartati menutup mata sejenak, "—gantung diri setahun kemudian. Aku tahu, karena aku pengacara keluarga petani itu. Aku kalah melawan Yusuf, padahal aku tahu aku di pihak yang benar. Aku tahu dia bermain curang, tapi aku tidak bisa membuktikannya. Itu kekalahan pertama dalam hidupku yang membuatku malu sampai hari ini."
"Dan Ardian?" tanya Alika.
"Ardian mendapat tanahnya. Di atas tanah itu dia membangun gedung pertamanya. Dari gedung itu dia membangun yang kedua, ketiga, lalu sebuah kerajaan. Dan Yusuf—" Bu Hartati membuka matanya, "—Yusuf mendapat klien seumur hidup. Bukan sekadar klien. Sebuah perjanjian tak tertulis. Ardian menyediakan modal dan kekuasaan; Yusuf menyediakan jalan keluar hukum untuk setiap mayat yang harus disembunyikan di sepanjang jalan. Itulah firma Wibawa & Rekan. Setiap marmer di lobinya, setiap penghargaan di dindingnya, dibeli dengan perkara-perkara 'yang dibereskan'. Sengketa yang seharusnya kalah jadi menang. Saksi yang seharusnya bicara jadi bisu. Dan kadang—" ia menatap Alika dengan getir, "—orang yang seharusnya hidup, jadi mati."
Alika merasakan pola itu mengunci tempatnya dengan bunyi mengerikan. Hendrawan. Saraswati. Ayahnya. Bima yang dipenjara. Darto yang dibungkam. Semuanya bukan kejadian terpisah. Semuanya adalah cara kerja firma itu, disempurnakan selama dua dekade, dijalankan ratusan kali sebelum sampai pada perkara 417.
"Berarti perkara Bima bukan yang pertama," kata Alika pelan. "Cuma yang paling besar."
"Dan paling ceroboh," Bu Hartati menambahkan tajam. "Karena nilainya terlalu besar—230 miliar—mereka harus membunuh terlalu banyak orang dalam waktu terlalu singkat. Hendrawan, lalu Saraswati, lalu ayahmu. Tiga kematian dalam beberapa bulan, semuanya terhubung ke satu perkara. Untuk orang yang tahu cara membaca pola, itu meninggalkan jejak yang terlalu jelas." Ia menatap Alika. "Kamu menemukan jejak itu, Nak. Yang lain melewatkannya selama tujuh tahun. Tapi kamu menemukannya."
"Bu," kata Alika, sebuah pikiran mulai terbentuk, "kalau Ibu tahu semua ini sejak dua puluh tahun lalu—soal keluarga petani, soal cara firma itu dibangun—apakah Ibu menyimpan dokumen? Catatan? Apa pun dari perkara lama itu?"
Untuk pertama kalinya sejak Alika datang, sesuatu seperti senyum—senyum dingin seorang petarung lama—muncul di wajah Bu Hartati.
"Aku kalah dari Yusuf sekali, Nak," katanya. "Tapi aku tidak pernah membuang berkas perkara yang kukalahkan secara tidak adil. Aku menyimpannya semua. Selama dua puluh tahun. Bukan karena aku berharap bisa membuka lagi—aku tidak. Tapi karena aku tidak mau melupakan rasa malunya. Aku ingin malu itu tetap menusuk, supaya aku tidak pernah lagi menyerah pada orang seperti Yusuf."
Ia bangkit dari kursi rotannya, melangkah ke rak buku tua di sudut, dan menarik sebuah map kanvas tebal yang menguning oleh waktu.
"Dokumen ini tidak akan membebaskan Bima," katanya, meletakkan map itu di pangkuan Alika. "Tapi dokumen ini membuktikan pola. Membuktikan bahwa Yusuf Wibawa punya sejarah memalsukan saksi dan dokumen demi Ardian Cakra, jauh sebelum perkara 417. Dan di pengadilan, Nak—pola adalah segalanya. Pola mengubah satu pemalsuan yang bisa dibantah sebagai kebetulan, menjadi satu cara kerja yang tidak bisa disangkal."
Alika menatap map menguning itu di pangkuannya, lalu menatap perempuan tua yang baru saja menyerahkan dua puluh tahun rasa malunya untuk dijadikan senjata. Dan ia tahu, pertarungan ini baru saja berubah.