"Pola membuktikan niat," kata Bu Hartati keesokan harinya, kini resmi menjadi penasihat dalam perjuangan Alika, "tapi pola tidak membebaskan Bima. Yang membebaskan Bima adalah satu hal sederhana: membuktikan dia tidak mungkin pelakunya. Dan untuk itu, kita kembali ke visum."
Mereka duduk di ruang kerja Bu Hartati yang kini berubah menjadi markas kecil—dokumen tersebar di meja, papan tulis penuh garis penghubung, kopi dan teh berganti-ganti. Reno bergabung, lensa kameranya tergantung di leher seperti biasa.
"Masalahnya," kata Reno, "visum asli Saraswati cuma ada satu salinan. Dengan tanda tangan basah, ya, tapi tetap satu kertas. Pihak Ardian akan bilang itu palsu, dibuat-buat oleh Alika untuk membela klien. Suara mati melawan kekuatan hidup."
"Karena itu kita butuh forensik kedua," kata Alika. "Bukan untuk memeriksa jenazah—Hendrawan sudah lama dikubur, sudah tujuh tahun. Tapi untuk menguatkan kesimpulan visum asli secara ilmiah. Seorang ahli yang bisa berdiri di pengadilan dan berkata: berdasarkan arah luka yang dicatat di visum asli ini, pelaku memang kidal; dan berdasarkan kondisi yang dicatat, waktu kematian memang antara jam tujuh sampai delapan malam. Kita butuh otoritas hidup yang menopang kesaksian orang mati."
Bu Hartati mengangguk. "Tapi setiap ahli forensik di negeri ini tahu apa yang terjadi pada Saraswati. Mati 'kecelakaan' setelah menulis visum yang salah pihak. Itu pesan yang sangat jelas untuk seluruh profesi. Mencari forensik yang berani sama sulitnya dengan mencari pengacara yang berani—dan kita tahu betapa pendek daftar itu."
Alika sudah memikirkannya semalaman. "Kita tidak cari yang berani secara terbuka. Kita cari yang punya alasan pribadi. Saraswati mengajar, bukan? Dia dosen forensik. Dia punya murid. Murid yang mengaguminya. Murid yang mungkin merasa berutang padanya."
Mata Bu Hartati menyipit, menghargai. "Anak Pramesti memang berpikir seperti Pramesti."
Butuh tiga hari bagi Reno untuk melacak bekas-bekas murid Saraswati lewat catatan universitas dan jejaring alumni kedokteran. Sebagian besar kini bekerja di rumah sakit, menolak dihubungi, atau bahkan tidak menjawab. Tapi satu nama menonjol: **dr. Yoga**, yang dulu asisten pengajar Saraswati, kini dokter forensik di sebuah rumah sakit daerah, jauh dari ibu kota dan jauh dari sorotan.
Mereka menemuinya di sebuah kedai kopi sederhana dekat rumah sakit tempatnya bekerja. Yoga, pria berusia akhir tiga puluhan dengan wajah lelah dan mata waspada, mendengarkan Alika dengan hati-hati.
"Saya tahu kenapa Anda mencari saya," katanya akhirnya. "Dan saya tahu apa yang terjadi pada Bu Saras. Semua orang di profesi ini tahu, walau tidak ada yang berani mengatakannya. Dia dibunuh. Bukan kecelakaan."
"Anda kenal beliau dekat?" tanya Alika.
"Beliau yang mengajari saya bahwa forensik itu bukan soal menyenangkan jaksa atau pembela," kata Yoga, menatap kopinya. "Forensik itu suara terakhir orang mati. Tubuh tidak bisa bohong; cuma orang yang membacanya yang bisa." Ia menelan ludah. "Beliau pernah cerita ke saya, samar-samar, soal sebuah kasus yang membuatnya takut. Tidak menyebut nama. Cuma bilang, 'Yoga, kalau suatu hari kamu diminta menulis sesuatu yang kamu tahu salah, dan kamu menolak, kamu harus siap dengan akibatnya. Aku menolak.' Beberapa bulan kemudian beliau mati." Suaranya pecah. "Saya selalu bertanya-tanya kasus apa itu."
Alika meletakkan salinan visum asli di atas meja, perlahan. "Ini kasusnya, Dok."
Yoga membaca visum itu lama sekali. Tangannya, Alika perhatikan, mulai gemetar—bukan karena takut, melainkan karena marah yang ditahan tujuh tahun akhirnya menemukan sasarannya.
"Arah luka kanan-atas ke kiri-bawah," gumam Yoga, jari telunjuknya menyusuri catatan tulisan tangan Saraswati. "Untuk luka tusuk frontal seperti ini, dengan kedalaman dan sudut ini... ya. Pelaku kemungkinan besar kidal. Dan catatan suhu serta lebam mayat ini—" ia menunjuk satu baris, "—waktu kematian jam tujuh sampai delapan malam, itu konsisten. Sangat konsisten. Ini bukan tebakan. Ini analisis yang teliti." Ia mengangkat wajahnya, dan air mata berkilau di matanya. "Ini tulisan tangan beliau. Saya kenal cara beliau menulis 'kidal' dengan huruf yang miring itu. Ini asli."
"Dok," kata Alika pelan, "maukah Anda bersaksi? Maukah Anda berdiri di pengadilan dan mengatakan apa yang baru saja Anda katakan?"
Yoga menatap visum itu, lalu menatap Alika, dan untuk sesaat keheningan menggantung berat di antara mereka—keheningan yang sama yang telah membungkam selusin orang sebelumnya.
Lalu Yoga melipat tangannya di atas meja, dan mengangguk satu kali, mantap.
"Bu Saras menyelamatkan saya dari kebodohan saat saya muda," katanya. "Sekarang giliran saya. Saya bersaksi."