PROLOG
Di sebuah kamar yang bernuansa monokrom, ada seorang wanita yang sedang duduk di sofa dekat jendela, sambil memandangi kotak bekas sepatu yang sudah terlihat usang. Kotak itu ditemukan saat membereskan kamarnya tadi.
Wanita itu pun mengetuk-ngetukkan jarinya di atas kotak usang itu, sambil menimbang-nimbang apakah harus dia buka atau tidak, baginya ini adalah keputusan yang sulit.
Tiba-tiba sang wanita dikejutkan dengan sebuah tangan yang menepuk bahunya dibarengi sebuah bisikan ditelinganya.
“Sayang lagi apa sih?” bisikan itu membuat wanita itu kegelian karena hembusan pria itu mengenai kulitnya.
“Aku nemu hartu karun!” serunya.
“Wow? Ayo kita buka!” Pria yang antusias itu pun kini duduk di samping wanita yang sedang menatapnya dengan keheranan.
Sang pria pun segera tersenyum lembut padanya, “Kenapa?”
“Ini kan isinya .…”
“Aku tau kok, kenapa? Kamu masih belum siap buat melihatnya lagi?” selanya sambil mengambil jari yang dari tadi mengetuk kotak itu dan menggenggamnya. Sang wanita pun tersenyum samar.
“Sayang, kita seperti sekarang ini karena bermula dari situ kan? Jadi, ayo kita lihat lagi kenangan indah kita dulu tanpa harus melihat kejadian tak mengenakan dibaliknya,” terang sang pria sambil menatap lembut.
Sang wanita itu pun mencerna setiap perkataan tadi, sambil terus menatap pria yang selalu dia kagumi itu, lalu dia pun tersenyum sebagai jawaban dirinya siap membuka kotak usang itu.
Pria itu pun tersenyum lega, lalu segera merangkul wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Lalu mereka pun bersamaan membuka kotak usang itu dengan perlahan sambil menatap dan melempar senyum.
Setelah meletakkan tutup kotak itu di meja, mata mereka pun kini tertuju ke dalam kotak berisikan beberapa barang yang membuat mereka tersenyum lebar ketika melihatnya kembali.
Sang wanita pun segera mengambil frame foto berukuran 4R itu. Ujung jarinya menelusuri permukaan foto yang berisikan 2 pria dan 2 wanita yang saling merangkul serta tersenyum lebar dengan pemandangan kebun teh di belakangnya.
Mengingat-ingat kembali segala sesuatu yang dulu pernah terbagi di antara 4 orang itu.
Acha, yang selalu tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang putih itu. Mengenakan kaos couple berwarna hitam dengan orang disebelahnya, yaitu Rama. Pria yang selalu memakai jaket jeans itu membuka lebar mulutnya seperti sedang teriak bahagia.
Berbanding terbalik dengan orang disampingnya, Tari. Wanita itu tersenyum manis sambil merapatkan bibirnya dan menyipitkan matanya. Kemudian disampingnya ada Adit, pria itu tersenyum agak kaku karena memang dia tipe pria yang jarang tersenyum saat di foto, tapi mata sipitnya lah yang tersenyum menggambarkan kebahagiaan.
Foto empat orang sahabat yang dulu selalu menghabiskan waktu bersama disela penatnya pekerjaan. Wanita itu pun meletakkan kembali foto itu di dalam kotak, lalu tersenyum ke arah pria yang sudah menjadi suaminya kini. Tiba-tiba pikirannya kembali pada hari-hari pahit manis itu, beberapa tahun silam.
****************
Chapter 1
Tari Dwi Laras, wanita berumur 20 tahun yang sedang kuliah jurusan manajemen, di sebuah universitas swasta di Kota Bandung. Dia tinggal hanya berdua dengan sang ibunda, sedangkan sang ayah sudah meninggal karena sakit saat Tari kelas 2 SMP.
Neni, nama bundanya Tari. Beliau memiliki toko kue di ruko dekat rumah yang mereka tinggali. Usaha kuenya selalu ramai dan sudah terkenal di kawasan sekitar rumahnya.
Tari pun sering membantu bunda ditokonya meskipun mereka sudah memiliki 2 pegawai. Meskipun begitu, sebagai anak yang berbakti dia suka membantu ibunya. Sehingga dia pun merasakan perjuangan bundanya untuk membiayai sekolahnya.
Oleh sebab itu, saat kuliah dia pun memilih kelas karyawan karena ingin membayar uang kuliahnya sendiri agar tak menyusahkan bundanya terus.
Tapi 1 bulan yang lalu dia habis kontrak kerja di kantor tempatnya bekerja, membuat dia harus kembali mengirimkan lamaran ke beberapa kantor yang membuka lowongan pekerjaan. Kemudian seminggu yang lalu dia baru melakukan interview di 2 kantor yang berbeda tapi sampai sekarang belum ada kabar hasil interview itu.
“Gimana Nak? Sudah ada hasil interview minggu lalu?” tanya bunda pada anaknya yang sedang duduk di meja kasir sambil menatap terus ponsel yang tergeletak di meja.
Tari pun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban untuk sang bunda.
"Ya udah sabar aja, jadi kan bunda bisa santai sedikit karena ada kamu yang bantuin jaga toko di sini." Hiburnya pada anak gadis yang terlihat murung sedari tadi.
"Idih Bunda mah tapi kan Tari bosen di sini terus seharian," keluhnya.
"Makanya punya pacar, biar bisa diajak nge-date," goda sang ibunda lagi, yang malah mendapat dengusan dari anaknya itu.
"Aku masih nggak percaya sama yang namanya cowok Bun," celetuk Tari.
"Eh kamu nggak boleh gitu, nggak semua cowok jahat sayang. Kamu masih trauma? Atau gagal move on?" ledek bunda lagi sambil membereskan barisan kue di etalase.
"Ih Bunda, aku tuh bukan gagal move on atau trauma. Aku tuh cuma lebih selektif aja gitu cari cowoknya," sanggah sang anak panik.
"Tapi wajar juga kok kalau kamu trauma sama cowok," jelas bunda yang tahu isi hati anak semata wayangnya itu.
"Lah tuh kan jadi bener wajar kan Bun. Gimana aku nggak trauma coba, aku kan baru pertama kali pacaran eh malah diselingkuhin, sama temen sendiri pula, gimana aku nggak sakit hati Bun. Eh ...." Tari pun segera menutup mulutnya rapat karena secara tak sadar malah curhat kembali pada bundanya lagi.
Sebenarnya bunda tau kisah pacar pertama anaknya itu karena Tari memang tipe yang selalu cerita dengan bundanya. Tapi dulu dia berjanji akan melupakan kenangan buruk itu pada bundanya. Namun, nyatanya dia malah keceplosan mengatakan tentang hal itu lagi.
Sedangkan bunda malah terkekeh geli melihat tingkah anak semata wayangnya itu.
"Tuh kan Bunda mah gitu, selalu ledek aku kan!" gerutunya sebal.
Wanita paruh baya itu pun segera menghampiri anaknya yang sedang merajuk itu. "Sayang, wajar kalau kamu merasa seperti itu. Tapi ingat jangan pukul rata semua cowok seperti itu dong karena bunda yakin masih banyak cowok yang lebih baik di luar sana. Jadi, kamu harus belajar membuka hati lagi yah sayang," tuturnya sambil mengelus rambut sang anak.
Tari pun mendengarkan dengan baik perkataan wanita yang sangat dia sayangi itu dengan seksama, lalu menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Dert dert dert …
Terdengar getaran dari ponsel, 2 wanita itu pun segera melihat ponsel yang tergeletak di atas meja itu. Bunda pun menyuruh anaknya untuk segera mengangkat teleponnya.
Tari pun mengangkat panggilan telepon itu dengan perasaan was-was.
"Hallo selamat siang, ini benar dengan saudari Tari?" sapa seorang wanita di ujung sana.
"Ya dengan saya sendiri," jawab Tari gugup.
"Kami dari PT. Indoshop ingin mengabari kalau anda lolos interview dan bisa langsung bekerja besok."
Tari pun segera menutup mulutnya kaget, dia masih tak menyangka dapat kabar baik hari ini. Sang ibu pun menjadi penasaran melihat ekspresi sang anak.
"Hallo Mbak Tari, Hallo!" panggil orang di ujung sana
Tari pun tersadar, "Ah iyah maaf Mbak, terima kasih yah Mbak atas infonya."
"Baik, ya sudah kalau begitu saya pamit, selamat siang." Sambungan telepon terputus.
Tari pun tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya itu, dia pun segera memeluk sang bunda yang berada disampingnya sedari tadi.
Bunda pun segera membalas pelukan anaknya itu, dia pun turut senang mendengar sang anak sudah kembali mendapat pekerjaan. Padahal sebenarnya bunda masih mampu membiayai kuliah anaknya itu. Akan tetapi, Tari lah yang kekeh ingin kuliah sambil bekerja karena katanya untuk menambah pengalamannya, serta dia ingin belajar mandiri. Jadi, bunda pun ikut mendukung apa yang diinginkan oleh putrinya itu.
"Selamat yah sayang! Jadi kamu sekarang kerja di mana?" tanya sang bunda.
"Itu loh bun PT. Indoshop, dia itu perusahaan toko online yang cukup besar di indonesia. Ah pokoknya aku senang sekali bisa bekerja di sana, sepertinya nanti aku bakal mendapatkan pengalaman yang sangat banyak," terangnya sangat antusias.
Bunda pun bersyukur melihat anaknya terlihat sangat bahagia seperti itu. Tari termasuk anak yang pintar, saat sekolah pun dia selalu juara kelas. Sehingga tak heran jika dia sekarang bisa bekerja di perusahaan yang cukup besar itu.
Perasaan bahagia masih menyelimuti gadis itu, ditambah musik yang sedang mengalun dalam toko itu adalah lagunya Pharell William - because i’am happy yang menurutnya sangat pas dengan suasana hatinya sekarang. Lalu gadis itu pun mulai bersenandung, sambil menggerakkan badannya menari mengikuti alunan musik itu.
Sedangkan sang bunda pun tersenyum lebar melihatnya dan pergi ke dapur untuk melihat pekerjaan pegawainya. Tari masih asik dengan kegiatan menyanyi serta menari itu, saking asyiknya dia tak sadar jika ada seorang pria yang sedang melihatnya.