Seorang pria masuk ke dalam toko kue berniat membelikan beberapa roti dan kue untuk camilan teman kantornya. Namun, saat masuk ke dalam dia malah disuguhkan oleh seorang wanita muda yang sedang asyik menari sambil menyanyi mengikuti alunan musik dalam ruangan itu.
Awalnya pria itu pun memilih menghiraukannya dan sibuk memilih roti. Namun, ketika sudah selesai, dia mencoba memanggil wanita itu untuk membayar. Akan tetapi, tak ada respons sama sekali membuat pria itu agak kesal juga.
Jadi, dengan terpaksa dia pun malah memperhatikan gadis yang sedang asyik sendiri itu. Nyatanya lama-lama pria itu pun malah terhibur dan tanpa sadar membuatnya tertawa kecil. Namun, dia pun segera sadar lalu kembali memasang wajah datarnya.
Saat Tari menari memutar badannya, dia baru tersadar ternyata ada seorang pria yang sedang berdiri di dekat meja kasir. Gadis itu pun terpaku di tempatnya. Dia sangat malu karena nyatanya ada seorang pria yang sedari tadi melihatnya menari dan menyanyi. Jadi sudah berapa lama orang itu di sana? pekiknya was was sambil memejamkan mata.
"Ehemm,"
Deheman pria itu membuat Tari tersadar, lalu membuka matanya perlahan, sambil celingak-celinguk mengamati sekitar, berharap ada pegawai lain di sana agar dia bisa kabur sebentar. Namun, nihil karena pegawai bundanya itu selalu berada di dapur. Rasanya dia ingin kabur saja dari sana, tapi tak mungkin karena dia harus melayani pembeli yang datang itu.
"Mbak sudah selesai konsernya? Saya mau bayar!" ketus pria itu.
Tari kaget mendengar perkataan pria itu, bisa-bisanya pria dihadapannya menyela seperti itu, gerutunya dalam hati. Dia pun terpaksa segera menyeret kakinya menuju meja kasir. Sedangkan sang pria menahan senyum melihat ekspresi kesal wanita itu.
"Ah iyah silahkan kalau mau bayar!" seru Tari yang kini berada di meja kasir.
Pria itu pun segera meletakkan nampan yang berisi beberapa macam roti dan kue. Tari pun segera menghitungnya lalu memasukkan ke dalam kotak dengan perasaan kesal dan malu tentunya jika mengingat pria itu sedari tadi melihatnya menari.
"Semuanya jadi 80.000 Pak," terang Tari pada pria yang berpakaian rapi seperti pekerja kantoran itu.
Sang pria pun mengerutkan alisnya, tak menyangka dia akan dipanggil ‘Pak’ oleh gadis itu, apakah dia memang terlihat se-tua itu? Gerutunya dalam hati. Lalu dia pun mengambil dompet di saku jaketnya dan memberikan uang untuk membayar kuenya itu.
Tari pun mengulum senyum ketika melihat ekspresi pria yang dia sebut Pak itu. Padahal sebenarnya dia pun tahu pria itu tidak tua-tua amat, hanya saja dia ingin membalas perkataan pria itu tadi saja. Setelah menerima uangnya Tari pun memberikan kotak kue padanya.
"Terima kasih, silahkan datang kembali!" seru Tari sambil tersenyum.
Pria itu pun mengambil kotak kue itu sambil memperhatikan wajah gadis itu, lalu tiba-tiba dia mengerutkan keningnya ketika mengingat pernah melihat wajah gadis itu, sepertinya dia pernah bertemu dengannya, dan sekarang mereka pun tak sengaja bertemu kembali. Memikirkan hal itu dia pun tersenyum simpul.
Tari pun kebingungan melihat ekspresi pria dihadapannya itu. Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Kenapa ekspresi wajahnya seperti itu? Eh lalu Tari pun segera tersadar kenapa malah memikirkan orang yang tak kenal itu. Lalu dia pun memilih menghiraukannya dan sibuk merapikan uang yang tadi diterimanya. Sedangkan pria itu keluar dari toko dengan berseri-seri.
*******
Keesokan harinya
Seorang gadis masih asik tertidur pulas di balik selimutnya yang hangat. Saat dia masih asik dalam dunia mimpinya, tiba-tiba ia dikagetkan oleh tiupan angin di telinganya membuatnya kegelian dan segera membuka matanya lebar. Lalu dia pun menghela napasnya berat ketika melihat sang bunda yang sedang menyilangkan tangannya di depan d**a.
"Lihat jam berapa ini? Ini kan hari pertama kamu kerja. Masa kamu mau terlambat."
Tari pun segera melihat jam yang menggantung di dinding kamarnya menunjukkan pukul 06.50. Gadis itu pun segera berdiri dan melesat pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tak butuh lama 5 menit kemudian dia sudah keluar dari kamar mandi, dilanjut segera mencari baju untuk hari pertamanya bekerja.
"Aduh ini anak gadis mandi kok cepet amat? Kamu mandi apa wudhu?" omel bunda yang masih berada dalam kamar sambil membereskan kasur yang ditiduri anak semata wayangnya itu.
"Udah deh Bun, aku bisa telat ini. Mana hari ini hari pertama kerja lagi," tuturnya sambil sibuk menyiapkan diri.
"Yah salah siapa susah bangun, padahal sedari tadi alarm-mu bunyi loh. Ya udah nanti Bunda antar pergi ke kantor sekalian mau keluar."
"Serius Bun? Oke kalau gitu." Tari pun menjadi semangat karena artinya dia tak usah menunggu ojek online yang lama itu.
"Iyah udah cepet kamu siap-siapnya, terus sarapan! Bunda tunggu di ruang makan!" perntah bunda lalu pergi keluar kamar.
Tari pun degan cepat mengoleskan make-up ke mukanya, serta meluruskan rambutnya yang sebahu itu dengan catokan agar terlihat rapih karena tadi dia tak sempat untuk keramas. Setelah selesai dia pun segera keluar kamar menuju ruang makan.
"Ayo cepat sini makan dulu!" seru bunda yang sudah menyiapkan satu piring nasi goreng dan segelas s**u di meja.
Tari pun segera melihat jam yang melingkar di tangannya. "Udah jam segini Bun, kslau sarapan nggak akan keburu deh. Kita pergi sekarang aja yuk Bun!"
"Ya udah asalkan minum dulu susunya! Kamu nggak boleh biarin perutmu kosong!"
Tari pun menurut, segera minum segelas s**u itu. "Udah ayo Bun!" ajaknya sambil mengelap bibirnya dengan tisu.
"Kamu yakin mau pakai gituan ke kantor?" Bunda menahan tawanya.
Tari pun kebingungan, "Apa sih Bun?"
Bunda pun menunjuk ke arah kepalanya. Tari pun baru sadar lalu melepas rol poninya itu.
"Untung aja, Giman Bun udah cantikkan Putri Bunda ini?" tanya Tari sambil merapikan poni depan tipisnya itu.
"Pastinya udah cantik dong, kayak siapa dulu dong?"
"Bundaa!" jawab mereka bersamaan lalu tertawa bersama.
"Eh ayo cepat, kamu makin terlambat nanti!" Mereka pun segera pergi menggunakan motor matic yang dikendarai bunda.
Jarak dari rumah kekantornya memerlukan waktu 30 menit untung saja jalanan ramai lancar dan mereka menggunakan motor jadi Tari bisa cepat sampai kekantornya.
“Makasih banyak Bun, love you!” serunya sambil memberikan helm pada bundanya dan tak lupa mencium tangannya.
“Love you too, semoga lancar, semangat!” ujar sang bunda, Tari pun tersenyum lebar, lalu dia pun mulai masuk ke dalam gedung yang mempunyai 10 lantai itu dengan perasaan gugup dan excited.
Suasana loby masih cukup ramai, gadis itu pun mengedarkan pandangannya mencari letak lift, sambil sesekali melihat jam yang melingkar ditangannya sudah menunjukan pukul 07.50 tandanya dia hampir telat membuatnya panik.
Untungnya dia sudah menemukan letak lift yang berada di sebelah kanan, gadis itu pun bergegas lari menuju lift yang pintunya hampir menutup itu, lalu dia menjulurkan tangannya dengan cepat agar pintunya tak jadi tertutup. Berhasil pintunya mulai terbuka kembali, Tari pun menghela napasnya lega.
Tari pun segera masuk ke dalam lift, mengambil posisi di samping agar bisa bersandar ke dinding lift. Gadis itu pun mengatur napasnya yang masih terengah-engah sambil menunduk. Akan tetapi Tari merasa sedari tadi ada yang terus memperhatikannya, dia pun mulai mengangkat kepalanya dan melihat ada 2 orang pria dan 1 wanita yang sedang menatapnya dengan tatapan yang berbeda membuat dia kebingungan.
Apakah ada sesuatu di wajahnya yang membuat mereka menatapnya seperti itu? Atau pakaiannya kah yang salah? Apa dia sudah menyebabkan masalah dihari pertamanya bekerja, tapi apa? batinnya khawatir karena dia sangat yakin 3 orang itu adalah senior kantornya.
Di saat dia sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba seorang pria yang berpotongan rambut spiky itu mendekat ke arahnya sambil mengulurkan tangan dan berkata,
“Maukah kamu menjadi pacarku?”
Tari pun hanya bisa melongo, terpaku ditempat, dan menatap aneh pria aneh yang berada dihadapannya ini.