***
"Menikahlah denganku."
"Kyaaaaa!" sedari tadi Irene heboh sendiri sembari memeluk boneka beruang besar pemberian Orion. Rasanya ia akan gila hanya karena mengingat apa yang dikatakan oleh Orion untuknya tempo hari. Irene tersenyum mencoba mengingat kembali bagaimana dengan manisnya Orion mengucapkan kata-kata indah itu kepadanya. Kata-kata yang seperti ingin mengajak menikah, membuatnya senang bukan kepalang. Akhirnya setelah enam tahun mereka bersama, Orion ada niat untuk menikahi dirinya. Ia pikir pria tampan itu masih sibuk meniti kariernya sebagai seorang wirausahawan. Apakah pernikahan menjadi satu-satunya jalan untuknya dan Orion bersama dalam artian yang berbeda?
Mimpi yang begitu sempurna di siang hari. Kalau memang benar itu hanyalah mimpi, tolong jangan bangunkan dia. Karena mimpi itu adalah impian yang selama ini selalu diinginkannya.
Sebagai perempuan yang telah sabar menemaninya bertahun-tahun, wajar bila Irene menginginkan hal seperti pernikahan.
Berusaha untuk mengalihkan pikirannya, Irene beringsut dari posisi rebahannya. Menaruh boneka beruang besar itu di sudut ranjang lalu mengenakan sendal bulunya. Berniat untuk keluar mencari makanan sembari jalan-jalan cari angin.
Irene harap cara ini berhasil untuk mengenyahkan Orion dari kepalanya. Ia ingin sebentar saja tidak memikirkan Orion, dan menghabiskan me timenya yang hanya sekedar keluar cari makanan ini.
Irene melangkah keluar dari kost-annya dengan kaos berwarna putih kebesaran serta celana pendek yang dipakainya membuatnya terlihat cantik walau sederhana.
Drttt. Drtt.
Belum sampai dua langkah meninggalkan kost-an, ponsel warna silver milik Irene berbunyi. Sontak Irene langsung mengambil ponselnya dari saku celana dan sedikit terkejut begitu melihat nama dalam panggilan itu, bersamaan dengan senyumnya yang merekah. Irene mendengus geli menatap layar ponselnya.
"Baru juga gak mau mikirin kamu, kamu udah nelepon lagi aja," celoteh Irene masih dengan senyumnya, belum mengangkat panggilan masuk itu. "Jadi, aku harus banget mikirin kamu setiap hari ya?"
Lima menit berlalu, barulah Irene mengangkat telepon itu setelah menggumam tidak jelas. Saat ia baru mengangkatnya, suara berat itu menyerobot masuk ke dalam indra pendengarannya. Membuat Irene terkekeh karena di dalam telepon itu Orion cerewet sekali tidak seperti biasanya.
"Kamu mau ngajakin aku jalan?" ulang Irene ketika dirasa ia salah mendengar. Ada rasa bahagia yang menyerbu tatkala Orion mengajaknya jalan-jalan, tetapi dia tidak mau kepedean makanya ia mengulang lagi pertanyaan Orion tadi.
"Iya. Kamu mau 'kan?" ucap Orion tertawa merdu, mengeluarkan eye smilenya. Pria itu bisa menebak Irene tersenyum senang di seberang sana.
"Tentu saja mau! Kapan?" tanya Irene antusias. Seketika itu juga dia membayangkan kencan mereka yang diwarnai dengan keromantisan.
"Jam 7 malam, di Restoran favorit kita. Sekalian ketemuan sama client, gapapa kan?"
Mendengar Orion akan mengajak clientnya, Irene menjadi semakin berdebar. Kalau Orion sudah mengajaknya makan malam bersama client, bukankah nanti dia akan dikenalkan? Kira-kira pria itu akan mengenalkannya sebagai siapa ya? Apa hanya seorang kekasih? Atau bahkan calon istri?
Hanya membayangkan hal itu saja sudah cukup membuat wajahnya merona kembali. Bisa tidak sih pria itu tidak mengacaukan perasaannya barang sehari?
Pembicaraan telepon itu tidak berlangsung lama. Karena setelah Orion berkata akan mengajaknya dinner, pria itu mengakhiri telepon. Irene pun menerimanya dan kembali memasukkan ponselnya ke saku.
"Ah, jadi gak sabar buat dinner nanti," tukas Irene sembari menatap langit yang cerah saat itu. Menorehkan senyum manis andalannya.
"Nanti pakai baju apa ya?"
Sementara itu Orion sedang sibuk menandatangani beberapa dokumen yang baru saja dibawakan sekretaris untuknya. membaca lalu menandatangani isi perjanjian dengan beberapa perusahaan lain yang sekiranya akan menguntungkan perusahaannya juga.
"Sudah saya tandatangani semua," ujar Orion ketika sudah selesai menorehkan tinta diatas materai dokumen terakhir. Sekretarisnya yang merupakan wanita gemuk berusia matang beranjak dari duduknya dengan susah payah karena kelebihan berat badan, lalu mengambil semua dokumen itu dan mohon pamit undur diri dari hadapan bosnya.
Sekretaris pribadi itu sudah lama mengabdi bahkan sejak Ayah Orion masih memegang perusahaan. Jadi, jangan berfikir kalau cerita ini akan mengisahkan kisah cinta antara bos dengan sekretarisnya sendiri seperti yang kalian harapkan. Karena wanita gemuk tadi pun sudah berusia setengah abad dan sudah memiliki satu cucu. Tidak mungkin bukan kalau Orion akan menyukai wanita yang jauh lebih tua darinya?
Belum lama sekretarisnya itu pergi, panggilan telepon masuk dari ponsel Orion. Pria itu sedikit tersentak, lalu segera mengangkat telepon. mengernyitkan dahi heran karena yang meneleponnya adalah mamanya. Sebenarnya ada apa?
"Halo, Ma?"
"Nak, tolong cepat pulang. Papa mu tiba-tiba dadanya sakit. Sekarang Mama udah di rumah sakit peduli kasih. Tolong cepet nyusul kesini ya," cerita Miranda, mamanya Orion dengan nada suara panik. Membuat Orion langsung membeku di tempat, tak dapat berfikir jernih untuk beberapa saat. Ia terlalu syok dengan kabar yang tiba-tiba ini.
"Oke, Ma. Aku pulang saat ini juga," putusnya dengan perasaan yang campur aduk. Setelah menutup telepon itu, Orion tanpa pikir panjang langsung membenahi barang-barangnya lalu berjalan dengan langkah cepat keluar ruangannya.
"Papa!!!"
Orion pun sudah sampai di rumah sakit, berlarian seperti orang gila di koridor rumah sakit sembari memanggil papanya. Ada perasaan sesak yang tidak bisa dijelaskan saat ia sudah berada persis di depan ruang ICU dengan Miranda yang sudah bersimbah airmata. Wanita berusia lebih dari setengah abad itu menghampiri anak semata wayangnya, memeluk tubuh tegap itu yang suasana hatinya tak beda jauh dengannya. Mereka saling berpelukan, saling menguatkan satu sama lain. Tak perduli jika kini beberapa pasang mata melihat ke arah mereka dengan berbagai macam tatapan.
"Papa bakal baik-baik aja kan, Ma?" ucap Orion, sepelan bisikan. Pria itu menyeringai, tatapannya terasa hampa. Saat itu juga potongan demi potongan saat bersama papanya terekam jelas di kepalanya seperti film yang diputar. Sumpah demi apapun, ia sangat takut kehilangan papanya. Takut Tuhan mengambil papa dari sisinya sekarang juga.
"Pasti, Nak. Papa pasti sembuh, dia cuma sakit biasa aja kok," balas Miranda berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa suaminya baik-baik saja. Walau di dalam hati kecilnya, ia tidak yakin apa suaminya bisa bertahan saat ini.
Di tengah suasana yang kalut itu, seorang pria berbaju serba putih serta teteskop di lehernya keluar dari ruangan ICU. Menghampiri ibu dan anak itu yang langsung melepaskan pelukan mereka dan menatapnya dengan penuh tanya dan harap cemas. Orion lah yang pertama kali bersuara.
"Gimana kondisi papa saya, Dok? Papa saya gak kenapa-napa kan?" tanya Orion beruntun. Detak jantungnya sudah berdetak kencang menunggu jawaban dari sang dokter yang seakan sangat lama.
Dokter itu malah melempar pertanyaan balik. "Anda anak Pak Zunai?"
"Iya, saya anaknya. Bagaimana kondisi bapak saya, Dok?" sahut Orion dengan cepat. Ia penasaran sekali dengan kondisi terbaru papanya saat ini.
Yang ditanya malah menghela napas panjang, membuat Orion semakin negative thingking.
"Mari ikut saya ke dalam, ayah anda pasti sudah menunggu anda di dalam." hanya itu yang dokter katakan, tanpa menjelaskan secara langsung apa yang terjadi pada Orion dan juga mamanya. Orion pun menurut saja dan mengekor di belakang dokter, meninggalkan Miranda sendiri.
"Saya gak boleh ikut masuk ke dalam, Dok?" sela Miranda seakan mencegah mereka pergi. Wanita tua itu hanya heran, mengapa hanya Orion saja yang boleh masuk ke dalam, sedangkan dia tidak?
"Pak Zunai hanya ingin anaknya saja yang masuk menemuinya. Anda mohon bersabar menunggu di luar," jawab Dokter yang membuat Miranda mau tak mau menuruti perkataannya walau dengan berat hati.
"Papa!!" Orion berlari menghampiri brankar papanya yang sudah terbaring lemah disana. Mengalihkan pandang ke arahnya dengan wajah yang sudah pucat pasi. Airmata pria berusia 30 tahun itu tak dapat dibendung lagi, ia lalu menghambur ke pelukan papanya yang sudah tidak bisa bangun. Menaruh kepalanya di perpotongan leher ayahnya yang hanya bergeming tak bereaksi selain melirikkan matanya. Dunia seorang Orion Pranaja Setyawan seketika runtuh ketika melihat ayahnya tak berdaya seperti ini.
"Nak ...," ucap Zunai dengan suara parau. Nafasnya tersengal-sengal, sedangkan bibir pucatnya bergerak lambat. Membuat Orion langsung melepas pelukan itu dan mengalihkan atensi ke arah ayahnya yang sedang sekarat.
"Iya, Pa?" Orion menunggu apa yang ingin dikatakan papanya itu padanya. Sedang Zunai Pranaja terlihat kesusahan dalam berbicara, tetapi sekuat mungkin ia mencoba untuk menggerakkan bibirnya walau susah.
"Anakku ... se-sepertinya ... u-umurku ... sudah ... ti-tidak lama lagi. Pa-pahh ...."
"Papa jangan ngomong kek gitu. Aku yakin papa bisa sembuh kembali seperti sedia kala. Ayolah pa, bertahanlah. Katanya mau liat Orion nikah sama nimang cucu," tekan Orion berusaha menyemangati papanya. Herman hanya bisa tersenyum tipis saat anak laki-laki yang ia sangat cintai itu mengatakan hal seperti itu padanya. Namun setelah itu ia terbatuk batuk hebat sampai Orion panik dan memanggil Dokter agar segera memeriksa papanya. Dokter dan Suster yang dipanggil langsung sigap memeriksa sang papa yang sudah semakin hilang kesadarannya. Namun, di tengah- tengah helaan nafasnya yang semakin melemah, Orion sempat mendengar sang papa berkata.
"Nikahh ... hilahh ... a-anakh ... dari ... gu-guruhh ... spiritual ... papahhh ...."
Dan setelah kalimat papanya yang terakhir itu, semua seakan menjadi gelap untuk Orion Pranaja Setyawan.
"Papa!!!"