***
Sudah berapa lama Orion tidak menghubunginya?
Irene hanya bisa termangu memikirkan kekasihnya itu yang sudah tidak mengabarinya selama seminggu. Semenjak telepon kemarin itu, Irene seakan lost contact dengan pria itu. Orion hilang bagaikan ditelan bumi. Teleponnya mendadak tidak aktif, sosial medianya dinonaktifkan, ia bertanya kepada teman pria itu pun tidak ada satupun yang tahu. Begitu juga dengan karyawan di kantornya, tidak ada satupun yang mengetahui kemana bos mereka menghilang. Irene cemas sampai ia tidak nafsu makan selama berhari-hari. Ia awalnya marah karena pria itu tak kunjung menghubunginya padahal ia sudah sangat siap sekali untuk diajak makan malam dengan pria itu sesuai rencana awal mereka. Namun, begitu ia ke rumah pria itu, tidak ada pria itu disana. Asisten rumah tangga maupun satpam yang ditanyai sama sekali tidak mengetahui keberadaan majikan mereka. Rasa marah itu terganti menjadi rasa panik, Sebenarnya kemanakah pria itu pergi?
Irene yang saat itu sudah rapi dengan gaun sederhana berwarna putih serta riasan ala kadarnya bergegas pergi menuju akad nikah sahabatnya. Walau masih dengan hati yang galau karena Orion tidak ada kabar, Irene tetap memaksakan pergi karena tidak enak sudah diundang oleh sahabatnya untuk menjadi saksi akad nikah yang dilangsungkan pada hari ini. Ya, sahabat masa kecilnya itu akan menikah. Irene sendiri kaget saat wanita berhijab lebar itu tiba-tiba meneleponnya dan menceritakan kabar bahagia itu. Sedikit membuatnya terheran-heran, karena sahabatnya itu terlihat tidak pernah dekat dengan satupun pria. Namun, tiba-tiba sudah menikah saja. Irene tertawa miris begitu mengingatnya. Betapa jodoh tidak ada yang tahu. Dia yang sudah pacaran bertahun-tahun kalah dengan Khadijah yang tak pernah dekat dengan satu pria pun tiba-tiba menikah. Betapa beruntungnya sahabatnya itu, Irene menjadi iri. Apakah ia bisa menyusul sahabatnya itu menikah?
Merasa telah memikirkan hal yang tidak perlu, Irene menggelengkan kepalanya cepat lalu mengunci kamar kost-annya. Sedikit tergesa karena ojek online yang dipesannya telah datang.
"Semoga aja aku gak telat ke akad nikahnya Ijah," cetus Irene di dalam hati setelah sudah naik ke atas motor, memindai pemandangan di sekitarnya dengan pikiran yang menerawang jauh. Irene berharap, ia dapat tepat waktu hadir seperti yang sudah direncanakannya. Di dalam hati dia juga penasaran, siapakah sosok suami Khadijah itu? Apakah pria itu berasal dari lingkungan pesantren seperti wanita lemah lembut itu ataukah hanya orang biasa? Irene hanya bisa menyimpan tanya itu di dalam hati.
"Saya terima nikah dan kawinnya Khadijah binti Husain Ghifari dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah!!"
"Alhamdulilahirobbilamiin."
Di tengah sukacita pengantin baru itu serta beberapa saksi yang sengaja dihadirkan pada akad nikah yang dilaksanakan pada pagi hari tersebut, seorang wanita cantik dengan terusan sederhana berwarna putih menatap sendu pasangan pengantin yang terlihat mesra itu. Airmatanya perlahan meluruh membasahi pipi lalu jatuh ke dagunya. Hujan tiba-tiba turun membasahi bumi. Seolah bumi pun ikut menangis bersama Irene yang tak henti-hentinya mengelap kasar airmatanya dengan punggung tangan. Wanita beriris hazel itu hanya bisa diam membisu di ambang pintu Masjid. Dia tak mempunyai kekuatan untuk melangkah kesana, kakinya seakan lemas tak bertenaga. Irene tak percaya dengan hal ini, tetapi dia tidak menyangka kalau yang akan menjadi pengantin wanitanya adalah Khadijah, seseorang yang sudah dia anggap sebagai saudaranya sendiri. Dia masih ingat jelas betapa bahagianya wanita berhijab itu tatkala menghubunginya di telepon. Mengatakan kalau sebentar lagi dia akan menikah dan Irene diminta untuk datang menjadi saksi atas akad nikahnya bersama calon suaminya tersebut.
"Ren, sebentar lagi aku akan menikah. Aku harap kamu datang ya ke akad nikahku."
"Oh ya? Kok mendadak? Kok kamu gak pernah kasih tahu aku kalau kamu sedang dekat dengan seseorang."
"Ya, aku pun juga tidak menyangka kalau nantinya dia akan menjadi suamiku. Tiba-tiba dia datang melamar saja dan mengkhitbahku. Aku tanpa pikir panjang langsung saja menerimanya, karena aku telah menyukainya sejak lama. Ahh Irene, betapa beruntungnya aku menikah dengan pria yang selama ini kusukai."
Irene sama sekali tidak menyangka kalau pria yang dimaksud oleh Khadijah di telepon adalah kekasihnya sendiri. Ini semua begitu mendadak untuknya, membuat dia tidak bisa berpikir jernih. Sejak kapan mereka saling kenal?
"Irene!!"
Netra abu milik Khadijah tiba-tiba menangkap sosok Irene yang sedang menatap ke arahnya. Seketika itu juga wanita berhijab itu memanggilnya, membuat Irene menoleh dengan cepat ke arah sahabatnya itu dan langsung tercekat di tempat. Bulir keringat mengalir di pelipisnya. Tuhan, mengapa semua ini terjadi padanya? Dosa apa yang dia perbuat dahulu hingga ia harus menghadapi hal serumit ini? Berhadapan dengan sahabat dan kekasihnya sendiri dalam kondisi ia sedang terluka hebat seperti ini sama sekali tidak diinginkannya. Dia bahkan ingin kabur saja setelah itu jika saja Khadijah tidak segera memanggilnya. Irene berusaha rileks dan terlihat biasa saja di depan Khadijah. Ia menghela nafasnya pelan, perlahan mengukir senyuman tipis yang terlihat seperti dipaksakan di depan Khadijah.
"Y-ya?"
"Sini! Aku mau kenalin kamu sama suami aku." Khadijah mengayunkan tangannya, memberi kode agar Irene mendekat. Raut wajah bahagia yang dipancarkan oleh sahabatnya itu seakan menyindirnya. Membuatnya merasakan patah hati yang lebih hebat dari sekedar ditinggal menikah. Ini semua seperti mimpi buruk untuk Irene.
Sementara pengantin prianya tampak kaku saat Irene dengan langkah terpaksa berjalan ke arah mereka. Netra hitam kelamnya tak bisa lepas dari Irene yang terlihat sok tegar dengan menyunggingkan senyum untuk mereka. Orion pun tidak menyangka kalau semua ini terjadi padanya. Dia tidak tahu sebelumnya kalau istrinya mengenal kekasihnya sendiri. Dilihat dari gesture yang ditunjukkan Khadijah pada Irene, menunjukkan kalau mereka kelihatan dekat sekali. Orion hanya diam saja melihat interaksi diantara mereka. Perasaan bersalah semakin menguasainya saat Irene harus melihat dirinya bersanding dengan wanita lain.
Ini sungguh kejam.
"Irene, kenalin ini suamiku, namanya Orion. Dia orang yang aku ceritakan di telepon tempo hari loh," jelas Khadijah dengan wajah riang, berbanding tebalik dengan Irene yang hanya diam dengan wajah lesu. Dia melirik Orion sekilas yang kini hanya menundukkan pandangannya dalam, tak berani menatapnya. Irene tersenyum pedih ketika Khadijah memperkenalkan seseorang yang jelas-jelas sudah sangat ia kenal dengan baik. Namun ia berusaha memainkan perannya untuk terlihat biasa saja di depan semuanya.
"Nah, ini sahabat aku, Mas. Namanya Irene Pramesti, dipanggil Irene atau ga 'Rere'. Tapi kalau aku sih seringnya panggil Irene," ujar Khadijah lagi menunjuk sahabatnya untuk diperkenalkan kepada suaminya. Orion hanya mengangguk pelan dengan senyum tipis di wajahnya tatkala Khadijah memperkenalkan 'kekasihnya' sendiri padanya. Dia hanya diam saja setelah itu, bingung ingin bersikap seperti apa di depan kedua wanita itu.
"Irene. Salam kenal, Mas Orion."
Orion terpaku menatap uluran tangan itu. Perlahan ia mengangkat pandangannya, menatap Irene yang sedang memakai topeng untuk menyembunyikan lukanya. Bertingkah seolah mereka memang tak pernah saling mengenal sebelumnya. Ini sungguh sangat menyesakkan.
"Orion. Salam kenal, ya."
Orion menyambut uluran tangan itu dengan senyuman, seolah dia ikut dalam sandiwara tersebut. Betapa ini sangat menyakitkan untuk keduanya, terlebih lagi Irene. Dia hanya bisa tersenyum dan tersenyum sampai ia memutuskan untuk pulang lebih awal dari yang seharusnya.
"Aku pulang dulu ya, Jah." Irene yang sudah tidak tahan lagi dengan semua ini buru-buru berpamitan pada Khadijah. Khadijah berusaha untuk menahan Irene agar lebih lama disana, tetapi Irene tetap bersikeras untuk pulang dengan berbagai alasan. Dan terpaksa, Khadijah mengiyakan kepulangan sahabatnya itu. Bahkan mereka belum sempat berfoto untuk mengabadikan momen ini.
"Selamat atas pernikahannya, Khadijah." Irene mengukir senyum palsu saat mengatakannya. Kemudian iris hazelnya bergulir menatap Orion, tatapannya berubah menjadi sinis. "Dan juga Mas Orion."
"Makasih, Ren. Aku doakan semoga kamu cepat menyusul ya," sahut Khadijah tersenyum penuh. Senyumnya yang seakan tak berdosa itu menyakiti Irene. Namun tentu saja dia tak menunjukkan terang-terangan kesedihan yang dirasakan. Wanita itu hanya menghela napas dalam, lalu tersenyum tipis. Berusaha tegar menghadapi ini semua.
"Iya, Jah. Aku pulang dulu ya."
"Iya, Ren."
Jika Khadijah adalah wanita yang paling bahagia hari ini, Irene justru sebaliknya. Ada hati yang tersakiti di dalam pernikahan ini, dan itu adalah Irene. Yang harus mengikhlaskan kekasihnya bersanding dengan sahabatnya sendiri.