***
Sejak kapan Irene dan Khadijah saling mengenal?
Itulah yang terus dipikirkan oleh Orion sedari tadi bahkan sampai akad nikah selesai. Ia terus memikirkan kemungkinan- kemungkinan dan spekulasi tentang Irene yang mengenal Khadijah begitu pula sebaliknya. Tentang bagaimana kedua wanita itu bisa saling mengenal dan berteman tanpa dia ketahui. Orion memijit pangkal hidungnya, merasa tak habis pikir. Sepuluh tahun ia berpacaran dengan Irene, ia sama sekali tidak mengetahui siapa saja teman wanita itu. Menyesal juga Orion sempat tidak pernah mau tahu soal teman atau orang-orang di sekitar wanita itu. Karena dia pikir ia menjalin hubungan dengan Irene, maka dia hanya harus tahu segalanya tentang wanita itu, bukan hal lain. Kini, Orion menyesal sekarang tidak banyak tahu tentang Irene dan sekitarnya. Kalau ia dari awal tahu Khadijah ada hubungannya dengan Irene, ia pasti akan menolak mentah-mentah pernikahan ini. Kalau sudah seperti ini kan, repot jadinya. Apalagi Irene mengetahui kebenarannya di depan mata kepalanya sendiri. Kalau saja mereka tidak saling mengenal, Orion pasti akan tenang menjalani biduk rumah tangga bersama Irene, istri sahnya tanpa memikirkan Khadijah. Rasa bersalahnya pada wanita yang sudah lama menemaninya itu terus terbayang di kepalanya. Dan Orion bukanlah tipekal pria yang sudah menyakiti hati perempuan lalu pergi begitu saja. Dia harus menemui Irene di kost-annya dan meminta maaf padanya. Yap, semoga dengan cara itu, Irene mau memaafkannya.
"Mas Orion, ini tehnya." di tengah kegelisahan hatinya, Khadijah datang menghampirinya. Membawa baki yang berisi teko dan cangkir untuk mereka berdua. Orion pun langsung menoleh cepat ke arah wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya tersebut dan langsung mengukir senyuman tipis. Mengusap rambut yang selalu klimis itu ke belakang, guna menetralkan kegugupannya. Sedangkan Khadijah sudah duduk bersamanya di ranjang mereka yang dihias sedemikian rupa.
"Diminum tehnya, Mas. Nanti keburu dingin," ujar wanita yang kini memakai piyama lengan panjang berwarna pastel serta kerudung instant berwarna putih yang menutupi rambutnya hingga ke d**a. Sepertinya Khadijah memang belum seberani itu membuka hijabnya di depan pasangan sahnya. Ia hanya menundukkan kepala malu-malu menunggu respon dari Orion. Wanita itu benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Iya, makasih ya. Nanti saya minum," jawab Orion dengan senyuman khas dirinya. Membuat Khadijah yang sempat melirik senyuman itu langsung memalingkan wajah. dibuat salah tingkah oleh suaminya sendiri. Beginikah rasanya jatuh cinta?
"E-emm, iya, Mas."
Setelah itu keheningan langsung melanda mereka. Pengantin baru itu tampak diam membisu dengan pikiran mereka masing-masing. Orion mulai menyesap teh buatan Khadijah, sedangkan Khadijah sendiri hanya diam membisu menggoyangkan kaki-kakinya yang tak tergapai lantai dengan perasaan berdebar. Wanita berhijab itu takut membuat kesalahan di hari pertama dia sudah menjadi istri dari lelaki itu. Seperti, teh yang dibuatnya tidak enak gitu?
"Tehnya enak, manisnya pas," komentar Orion setelah meminum teh itu. Ia pun langsung menaruh baki berisi teh itu ke nakas, lalu menatap manik abu milik Khadijah yang kini terbelalak lebar karena mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Orion. Tatapan mereka saling terkunci saat itu juga.
"Manisnya pas kayak kamu," ucap Orion setelah jeda sesaat. Membuat Khadijah semakin bersemu atas ucapannya yang tidak terpikirkan itu. Khadijah diam membatu, sedangkan Orion tertawa kecil melihat ekspresi istrinya yang menurutnya sangat lucu. Khadijah memang masih polos soal pria maupun cinta.
"Mas pergi dulu ya, sebentar aja kok." setelah puas menggoda istrinya hingga wajahnya bersemu bagai kepiting rebus, Orion tanpa beban langsung melenggang keluar kamar meninggalkan Khadijah yang masih diam saja seakan terhipnotis. Bahkan Khadijah tidak sempat menanyakan pria itu mau kemana.
"Mas Orion bikin malu aja," monolog wanita cantik itu sembari memegang dadanya yang masih berdebar tidak karuan. Dia tidak menyangka kalau kalimat receh seperti tadi saja cukup meluluhlantakkan hatinya hingga seperti ini.
***
Orion membelah malam dengan motor ninja berwarna hitamnya menuju ke kost-an Irene. Melaju dengan kecepatan cukup tinggi tanpa memakai jaket. Ia hanya mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih yang ia kenakan saat akad nikah dan juga celana bahan berwarna hitam. Orion bahkan belum sempat mandi ataupun berganti baju. Tujuannya malam itu hanyalah menemui Irene dan menceritakan segalanya. Ya, pria itu harap Irene mempercayai omongannya walau kecil kemungkinan wanita itu mau mempercayainya. Ia harus menjelaskan pada Irene sebelum wanita itu membencinya lalu mengutuk dirinya. Di dalam hati kecilnya ia masih sangat mencintai Irene. Walau awalnya ia ingin mencoba melupakan wanita itu.
Dan sampailah ia di kost-an Irene yang tidak berpagar itu. Orion langsung turun dari motor sportnya kemudian melangkah menuju pintu kost-an wanita itu. Mengetuk pintu beberapa kali sembari menyerukan nama sang Wanita.
"Irene, ini aku Orion. Tolong buka pintunya, aku mau menjelaskan sesuatu padamu," ucap Orion setengah berteriak sambil terus mengetuk pintu. Tidak peduli jika ini sudah malam dan dia akan dilabrak oleh beberapa warga yang biasa ronda keliling karena bertamu di rumah wanita yang hanya tinggal sendirian.
"Irene!!"
Setelah ketukan kedua, barulah pintu berwarna coklat itu terbuka. Menampilkan seorang wanita cantik dengan pakaian tidurnya, menatap ke arah sang tamu dengan sorot mata yang menajam. Irene sepertinya sudah membenci pria di hadapannya ini.
"Kamu mau ngapain lagi ke sini? Bukankah harusnya sekarang kamu menikmati malam pertama bersama 'Istrimu'?" cerca Irene sarkastik. Ada penekanan kata ketika dia mengucapkan kata 'Istrimu'. Jelas sekali wanita itu benar-benar kecewa padanya.
"Bagaimana aku bisa melakukan semua itu, kalau sedari dulu yang ku inginkan cuma kamu," balas Orion cepat dengan wajah serius. Menatap intens Irene yang sedikit tersentak karena ucapannya.
Irene tertawa sinis saat Orion mengucapkan kata menggelikan itu, menampilkan smirk menyebalkannya pada pria yang terus menatapnya tanpa berkedip.
"Apa, Mas? Aku gak salah denger? Yang kamu inginkan cuma aku?" ucap Irene membuat mimik wajah seperti ingin menahan tawa. Namun setelah itu ekspresinya berubah menjadi marah. Irene berteriak keras. "Kalau mas memang hanya menginginkan aku, mengapa mas sekarang malah menikah dengan wanita lain?! Apakah mas sadar kalau ucapan mas padaku hanyalah omong kosong?!"
"Makanya aku datang kesini buat menjelaskan semuanya. Aku akan menjelaskan kesalahpahaman diantara kita. Jadi, tolong dengarkan," tutur Orion masih bersikap tenang. menempelkan kedua tangannya pada bahu Irene yang hanya ditutupi cardigan syal itu. Menatap manik mata coklat milik Irene yang masih berkilat marah saat menatapnya.
"Jadi begini." Orion menelan salivanya pelan, membasahi kerongkongannya yang kering. Menghela napas perlahan, Orion kembali berkata, "Aku menikahi Khadijah karena wasiat ayahku. Kamu tahu Irene? Ayahku sudah meninggal dua minggu yang lalu. Bahkan saat napas terakhirnya, dia ingin aku menjalankan wasiat ini. Aku tidak punya pilihan lain Ren, aku mengiyakan saja permintaan ayahku itu dan langsung mengkhitbah Khadijah sesuai permintaan beliau. Wasiat itu bahkan sudah diurus oleh pengacara keluargaku dan sudah tertulis diatas kertas. Kalau aku melanggarnya, aku tidak akan mendapatkan warisan yang ditinggalkan ayahku."
"Apa? Papa kamu meninggal? Innalilahi wa innailaihi raji'un." Irene kaget begitu mengetahui hal ini. Alih-alih merasa marah seperti yang dia tunjukkan tadi, Irene langsung merasa bersalah. Seketika langsung teringat akan sosok penuh wibawa tersebut yang selalu ia lihat dari kejauhan saat tak sengaja berkunjung ke Rumah Orion.
"Walau begitu, aku tetap akan menikahimu, Ren," kata Orion dengan nada minta diyakinkan. Memegang kedua tangan halus Irene kemudian menciumnya. Membuat Irene tersentak kaget dengan apa yang dilakukan oleh pria itu kemudian melepaskan tangannya dari pria itu. Menatapnya dengan keki.
"Kamu itu sudah menjadi suami dari wanita lain, tak pantas jika kamu melakukan ini padaku," tegasnya. Tak ingin (mantan) kekasihnya melakukan hal yang lebih dari ini. "Dan lagi, hal konyol apa yang baru saja kamu ucapkan padaku, menikahiku? Kamu ini sudah gila ya, Mas!?"
"Aku ini memang gila, gila karena mencintaimu," balas Orion acuh. Tak peduli jika reaksi yang ditampakkan oleh wanitanya seperti itu. Ia sungguh tidak peduli. Rasa cintanya pada wanita di hadapannya ini terlalu besar.
"Mas, ka-kamu!" Irene tak dapat berkata-kata lagi. Ucapan Orion terakhir benar-benar membuatnya speechles. Tak dapat dipungkiri juga, ia masih mencintai pria itu, walau terkadang ia membencinya. Ia masih ada keinginan untuk bersama dengan pria tampan itu, tetapi mau bagaimana lagi? prianya sudah menjadi suami dari wanita lain. Bahkan Orion adalah suami dari sahabatnya sendiri, dia tak mungkin tega menghancurkan rumah tangga sahabatnya hanya karena keegoisannya sendiri. Tak seharusnya ia 'ada' di dalam ikatan suci tersebut.
"Tunggu aku lima tahun lagi, Irene Pramesti. Aku berjanji lima tahun lagi aku akan menikahimu dan menceraikannya. Karena di dalam perjanjian itu, aku bebas melanjutkan pernikahanku atau tidak dengannya setelah lima tahun aku menikahinya. Setelah aku berhasil sepenuhnya mendapat harta warisan dan jabatan penuh dari ayahku, aku akan segera menceraikannya dan menikahimu, Sayang. Jadi bagaimana? Apakah kamu bersedia menjadi wanita simpananku dulu?" ucap Orion dengan sepenuh hati. Menatap dalam manik mata coklat milik Irene yang menatapnya seakan tak percaya. Hal konyol apa yang baru saja dikatakan Orion pada Irene tadi. Rencana itu benar benar begitu jahat, dan Irene tak percaya kalau Orion akan sejahat itu demi bisa bersamanya. Apakah yang harus dia lakukan sekarang, setuju atau tidak dengan permintaannya?