Beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam akhirnya berlalu. Kesadaran Arga terkumpul juga. Aku tahu hal itu dari caranya menegakkan tubuh dengan tersentak, kemudian menoleh padaku.
“Nil?”
Aku tidak bisa menjawab. Mulutku terkunci, leherku tercekat, dan seluruh sendi terasa dipaku ke lantai papan.
“Danila!”
Kali ini panggilannya lebih keras. Tangannya meraba pipiku, kemudian menepuknya pelan berulang-ulang. Aku hanya sanggup menggerakkan bola mata, kuarahkan ke atas, ke tempat makhluk itu melayang. Berharap suamiku mengerti.
Sayangnya, Arga tidak melihat apa-apa. Yang dilihatnya hanya istrinya yang terbujur kaku dengan mata membeliak ke arah kaso atap.
“Pak Royan!” teriaknya kemudian. “Pak Royan! Tolong, Pak!”
Suara Arga memecah malam. Detik berikutnya kudengar gaduh dari balik seprai yang digantung sebagai partisi. Arshi terbangun sambil mengumpat kaget. Tammi memekik. Kemudian bunyi pintu kamar yang dibuka tergesa dari ruang belakang.
Makhluk itu tidak beranjak sedikit pun. Justru seringainya melebar, seakan menikmati semua kepanikan yang terjadi di bawahnya. Perlahan dia menurunkan tubuhnya, semakin dekat, semakin dekat, sampai hawa panas dari kulitnya yang merah membara benar-benar terasa di wajahku.
Lampu minyak yang tergantung di dinding mendadak bergoyang keras, padahal tidak ada satu pun jendela yang terbuka. Bayangan yang ditimbulkannya berayun ke sana ke mari, membuat seisi ruang tamu itu terlihat seperti bergerak sendiri.
“Ya Allah!” pekik Bu Rohana yang datang paling belakang.
Pak Royan tidak berteriak. Beliau tidak juga bertanya apa-apa. Lelaki itu langsung berlutut di sisi kepalaku sambil merapal sesuatu dengan suara rendah dan cepat. Sebelah tangannya diletakkan di atas ubun-ubunku.
Sontak seluruh tubuhku menggelinjang. Bukan aku yang menggerakkannya. Punggungku melengkung ke atas, tumitku menghentak-hentak lantai papan, dan dari tenggorokanku keluar bunyi geraman yang bahkan tidak kukenali sebagai suaraku sendiri.
“Pegang, Bang! Pegang bahunya!” perintah Pak Royan.
Sigap Arga menahan kedua bahuku, sementara Husin memegangi kakiku. Firdaus berlari ke belakang lalu kembali dengan segelas air putih.
“Kak Tammi, jangan lihat! Bawa ke belakang, Bang!” seru Bu Rohana pada Arshi.
“Tammi gak mau ditinggal!” pekik istri adik iparku itu sambil menangis.
“Ya, sudah, di sini aja, tapi baca ayat kursi! Jangan berhenti!” sahut Bu Rohana tegas.
Aku mendengar semua itu. Aku mendengar setiap kata, setiap langkah, setiap isak. Akan tetapi, tidak sepotong pun sanggup kubalas. Yang bisa kulakukan hanya menggaungkan zikir dalam benak, sekeras yang bisa kulakukan di sana.
‘Laa haula wa laa quwwata illa billah. Laa haula wa laa quwwata illa billah.’
Setiap kali kalimat itu bergaung di kepalaku, kurasakan hawa panas di wajah sedikit menjauh. Setiap kali rasa takut menyusup dan memotong zikirku, hawa panas itu kembali menekan. Saat itulah aku menyadari satu hal. Pertarungan ini tidak terjadi di lantai papan rumah Pak Royan, melainkan di dalam dadaku sendiri.
Pak Royan meniupkan bacaannya pada segelas air pemberian Firdaus, kemudian memercikkannya ke wajahku.
“Astagfirullah!” Arga terpekik.
Air itu, entah bagaimana, menguap begitu menyentuh kulitku. Bunyinya berdesis seperti air yang jatuh ke wajan panas. Kulihat Husin mundur setapak dengan wajah pias.
“Bang Arga, panggil nama istri Abang! Terus panggil!” perintah Pak Royan.
“Danila! Danila! Danila!”
“Jangan berhenti, Bang!”
“Danila! Aku di sini, Sayang! Aku di sini!”
Suara Arga masuk ke telingaku bercampur dengan lantunan Pak Royan dan tangis Tammi. Semuanya bertumpuk menjadi satu. Dalam tumpukan bunyi itu, aku merasa ditarik dari dua arah sekaligus. Satu menarikku turun, satu lagi menahanku tetap di sini.
Makhluk itu menggeram. Suaranya begitu berat sehingga membuat lantai papan ikut bergetar. Sesuatu yang panas dan pekat menyentuh bibirku, seperti hendak dijejalkan masuk ke dalam mulut.
Saat itu, mendadak muncul rasa yang tidak pernah aku duga. Bukan takut, melainkan muak. Rasa muak yang begitu besar sampai membuatku ingin meludahi wajah buruk rupa itu.
‘Aku ini hamba Allah! Kamu bukan siapa-siapa!’ pekik benakku.
Sekonyong-konyong, kunci pada mulutku terlepas.
“Allahu akbar!” Kata itu meluncur dari mulutku dengan suara parau dan bergetar, tetapi cukup keras untuk didengar semua orang di ruangan itu.
Detik berikutnya, terdengar lolongan yang memekakkan telinga. Bukan dari mulutku. Lolongan itu datang dari atas, dari kaso atap yang sedari tadi tersibak. Kaso-kaso itu berderit hebat, kemudian sesuatu melesat keluar bersama embusan angin yang menampar seluruh dinding papan rumah itu.
Setelah itu, senyap.
Tubuhku jatuh terkulai di lantai papan. Kekakuan hilang, tetapi bersamanya hilang pula seluruh tenaga yang kumiliki. Aku bahkan tidak sanggup mengangkat jariku sendiri. Rasanya seperti seluruh isi tubuhku dikuras keluar lewat satu teriakan tadi.
Bau busuk yang memenuhi ruangan sejak tadi ikut menghilang. Yang tertinggal hanya bau minyak tanah dari lampu dan bau asin laut yang menerobos dari sela-sela papan dinding.
“Danila!” Arga menyambar tubuhku dan memeluknya erat-erat. “Sayang, kamu dengar aku?”
Aku hanya mampu mengerjapkan mata.
“Alhamdulillah,” ucap Pak Royan sambil mengempaskan embusan napasnya. Peluh membanjir di dahi lelaki itu, padahal udara malam di pulau ini begitu dingin.
Tammi masih terisak di pelukan Arshi. Bu Rohana bergegas mengambil kain sarung untuk menyelimuti tubuhku. Sementara Husin dan Firdaus sibuk memeriksa atap dari luar dengan senter.
“Gimana, Sin?” tanya Pak Royan ketika anak sulungnya kembali masuk.
“Gak ada apa-apa, Pak. Kasonya utuh semua,” lapor Husin.
Kudengar Arga mendengkus. “Gak mungkin gak ada apa-apa. Tadi bunyinya keras banget.”
“Memang gak akan ada apa-apa, Bang,” sahut Pak Royan tenang. “Yang tadi bukan urusan kayu.”
Suamiku terdiam. Untuk pertama kalinya sejak kami tiba di pulau ini, aku tidak mendengar bantahan keluar dari mulutnya.
Beberapa lama kami hanya duduk di lantai papan tanpa ada yang berani tidur kembali. Pak Royan menyalakan lampu minyak yang kedua, membuat ruangan itu menjadi lebih terang. Bu Rohana menyeduh teh manis untuk semua.
“Kak Nila tadi lihat, ya?” tanya Bu Rohana sambil menyodorkan gelas ke bibirku.
Aku mengangguk lemah.
“Bentuknya gimana, Kak?” Tammi ikut bertanya dengan suara serak sisa menangis.
“Tam!” sergah Arshi.
“Tammi cuma pengen tahu, Bang. Biar kalau Tammi lihat, Tammi gak kaget.”
Pertanyaan itu membuatku bingung harus menjawab apa. Bagaimana caranya menerangkan sesuatu yang tidak ada padanannya di dunia ini? Sesuatu yang bahkan tidak sanggup kusebut namanya.
“Gak usah diceritakan, Kak Nila,” potong Pak Royan. “Semakin sering diceritakan, semakin lekat dia di kepala kita. Semakin lekat di kepala, semakin gampang dia masuk.”
Perkataan itu langsung menutup mulut Tammi. Arga meraih tanganku dan menggenggamnya erat, seakan takut aku ikut lesap kalau genggaman itu dilepasnya barang sekejap.
“Pak, sebenarnya apa yang mereka mau dari istri saya?” tanya Arga akhirnya.
Pak Royan tidak langsung menjawab. Beliau menyeruput tehnya lebih dulu, kemudian meletakkan gelas itu di lantai papan.
“Nanti kita bicarakan lagi, Bang. Sekarang yang penting Kak Nila istirahat dulu.”
Jawaban yang menggantung itu justru membuat hatiku semakin ciut. Ada sesuatu yang beliau ketahui dan sengaja ditahan. Aku tidak tahu apakah harus bersyukur karena tidak diberitahu, atau justru harus semakin takut karenanya.
“Bang Arga,” panggil Pak Royan setelah suasana benar-benar tenang.
“Ya, Pak.”
“Besok pagi, sehabis subuh, kita berangkat.”
“Bukannya tadi Bapak bilang mau antar setelah matahari naik?”
“Berubah, Bang. Sehabis subuh.” Pak Royan menatap lurus pada Arga. “Kalau kesiangan, jalur bakaunya sudah ramai perahu wisata. Ribet kalau harus berhenti di tengah.”
Aku tahu itu bukan alasan yang sebenarnya. Dari cara beliau mengucapkannya, dari cara Husin dan Firdaus saling melempar pandangan, jelas ada alasan lain yang sengaja tidak dikatakan di depanku dan Tammi.
“Saya ikut, Pak,” Bu Rohana menimpali. “Biar ada yang jagain Kak Nila sama Kak Tammi di perahu.”
“Kami juga ikut, Mak,” sambar Firdaus cepat.
“Kamu di rumah!” bentak Husin pada adiknya.
“Ikut, Bang! Aku gak mau di rumah sendiri!”
“Sudah, ikut semua!” putus Pak Royan mengakhiri perdebatan dua bersaudara itu.
Malam itu tidak ada lagi yang benar-benar tidur. Arshi memilih duduk bersandar di dinding dengan Tammi tertidur di pahanya. Husin dan Firdaus bergantian keluar masuk memeriksa keadaan di luar. Sementara Arga sama sekali tidak melepaskan pelukannya dariku sampai azan Subuh terdengar dari musalla kecil di ujung kampung.
Aku menunaikan salat Subuh sambil duduk, dengan Bu Rohana yang membantuku berwudu. Sejujurnya, aku bahkan tidak yakin sanggup menahan tubuh ini tetap tegak. Namun, entah dari mana datangnya, ada rasa tenang yang menetes sedikit demi sedikit ke dalam hatiku setiap kali dahiku menyentuh tikar pandan.
Selesai salat, Arga membopongku keluar rumah. Udara subuh menusuk sampai ke tulang. Langit masih berwarna biru gelap dan belum ada satu pun ayam yang berkokok.
“Hati-hati, Bang! Papannya licin,” peringat Husin sambil menyorotkan senter ke arah dermaga kecil.
Kurasakan langkah Arga menuruni dermaga papan itu satu per satu dengan sangat hati-hati. Kepalaku bersandar di dadanya dan aku bisa mendengar degup jantungnya yang berpacu jauh lebih cepat dari biasanya.
Firdaus lebih dulu melompat ke perahu untuk menerima tas ransel. Bu Rohana menyusul sambil menggenggam tangan Tammi. Arshi membantu ibunda dua bersaudara itu duduk. Pak Royan berdiri paling belakang, matanya tak pernah berhenti memindai gelapnya barisan pohon bakau di seberang teluk kecil itu.
“Bismillahi majreha wa mursaha,” ucap beliau sebelum menyalakan mesin.
**WMB**