Pagi setelah waktu subuh itu benar-benar masih sepi. Belum ada perahu lain yang bersandar dari melaut atau perahu yang beroperasi mengambil wisatawan dari Mandeh. Perahu kami satu-satunya yang berjalan ke antara hutan bakau itu. Seperti sengaja ingin mendahului ayam yang berkokok dan matahari yang meninggi.
Beruntung aku memiliki suami dengan kondisi fisik yang kuat. Tubuhnya yang tinggi tegap tak bermasalah dengan tubuh kecil mungilku yang harus dibopongnya ke manapun pergi. Kesejukkan udara pagi yang cukup menusuk tidak seberapa kurasakan karena Arga terus membagi hangat tubuhnya dengan menetapkanku dalam pelukan. Lewat celah di antara lengan dan tubuhnya aku mencoba menyapukan pandangan. Tidak seluruhnya tertangkap mata, tetapi bisa aku pastikan seluruh yang ada di dalam perahu bersikap siap siaga. Yang gerak-geriknya paling gelisah, tak lain adalah anak bungsu Pak Royan, Firdaus. Sepertinya, dia yang bertugas menjadi benteng di sebelahku.
Pendar cahaya matahari mulai berganti dari biru gelap menjadi biru keabuan. Dengan keadaan tubuh yang masih terkulai lemas seperti kehabisan tenaga, aku menengadah menatap langit. Hal itu menjadi pilihanku karena memandang sekitar hutan bakau tak akan menimbulkan rasa aman. Sebentar itu, aku merasa bebas lepas dari ancaman.
Akan tetapi, mesin penggerak perahu mendadak mati. Lajunya seketika melambat dan akhirnya berhenti. Keheningan spontan tertingkahi keluh kesah ketakutan Tammi yang langsung terdengar.
“Duh, kok, berhenti di sini, sih?”
“Tenang, Tam!”
“Gimana mau tenang? Ini bahaya, Bang!”
“Iya, aku juga tahu. Tapi jangan buat seisi perahu jadi panik, Sayang!”
“Takut … takut Bang … kalau takut disuruh tenang, gimana caranya?”
“Jangan takut, Tam! Tahan sedikit!”
“Ck!” Ucapan terakhir Arshi disambutnya dengan decikan sambil mengepal kedua belah tangannya di depan wajah.
Bujukkan Arshi tidak diindahkannya. Aku tahu istri adik iparku itu amat sangat ketakutan. Tammi melipat bibirnya ke dalam dengan napas terlihat mulai sesak. Setelah itu, dia mengentak-entakkan kaki ke lantai perahu. Aku sebenarnya juga kembali digigit rasa takut. Namun, tak cukup tenaga untuk mengekspresikannya, selain hanya menggenggam lebih kuat lengan jaket yang dikenakan Arga. Selain itu, suamiku sigap memeluk lebih rapat sedangkan matanya awas memindai ke sekeliling perahu.
“Kenapa perahu kita, Pak? Kenapa kita berhenti di sini?” Terdengar tanya Arshi pada Pak Royan.
“Saya tidak yakin. Coba, Bang Arshi, tetap di tempat!” perintah Pak Royan membuat Arshi yang tadi beringsut mendekati Pak Royan segera duduk kembali.
Dari celah lengan dan tubuh Arga aku tetap mengintip. Kini hatiku tak lagi dibiarkan melemah. Zikir berserah diri dan minta pertolongan Sang Pemilik Semesta tetap kugaungkan di dalam benak.
‘Hasbunallahu wa nikmal wakil!’
Sementara Pak Royan menyelisik sekeliling hutan mangrove, Husin berusaha keras menghidupkan mesin perahu kembali. Firdaus sigap ikut membantunya sedangkan Bu Rohana terlihat berdiam dengan mulut komat-kamit.
“Sepertinya dia mencoba menjebak kita di sini, Pak,” ucap Husin.
“Usahakan aja mesin perahu itu segera menyala, Husin!” perintah Pak Royan.
“Iblis celaka!” maki Husin bernada geram.
“Cepat saja nyalakan mesin perahu ini, Sin!” bentak Bu Rohana.
“Jangan khawatir, Mak! Kita `kan ramai,” sahut Firdaus.
Lepas anak bungsu Pak Royan berkata itu, terdengar pekik Tammi yang melengking. Aku sempat mengernyit menahan terjangan gelombang nada tinggi yang keluar dari mulutnya. Suasana hening mencekam tadi berubah jadi riuh, tetapi makin mencekam.
“Aaa … !!!”
Detik selanjutnya perahu oleng. Berayun ke kiri dan ke kanan. Kurasakan Arga bertahan tetap duduk dan tidak tumpah dari perahu dengan cara memegang pinggirnya.
“Iblis celaka! Cepat kau keluar! Biar kupatahkan batang lehermu!” sumpah serapah Husin terdengar lantang.
Kali ini Pak Royan membiarkan anaknya berekspresi sekenanya. Namun, usai makian lantang Husin, si Firdaus yang berdiri tidak jauh dariku tercebur ke air. Setelah kelebatan angin puyuh kecil menamparnya. Aku memicing sebentar dan saat membuka mata, kulihat Husin sigap ikut mencebur untuk menyelamatkan adiknya.
Arga tidak tinggal diam. Dia menurunkanku dari pangkuan lalu didudukkan di lantai perahu dan dekat dengan kakinya. Aku tahu dia bermaksud apa, tidak lain karena ingin turun tangan membantu Firdaus dan Husin. Sekelebatan Arshi kulihat turut mendekat dan ikut mengulurkan tangannya. Dua abang beradik kini berusaha menolong dua abang beradik anak Pak Royan. Kulihat Husin telah mendapatkan Firdaus, keduanya saling berangkulan dalam air laut yang mengeruh.
“Cepat naik!” seru Arga pada mereka. Tangannya terulur dengan tubuh condong ke luar perahu, begitupun Arshi.
Akan tetapi, tidak semudah perkiraanku. Lumpur pasir yang teraduk saat kedua anak Pak Royan berenang terlihat semakin keruh. Tertangkap oleh mataku pasir dalam air itu perlahan menjadi solid dan membentuk formasi berputar tepat di sekeliling Husin dan Firdaus. Tampaknya semua bisa menyaksikan hal itu serupa perangkap sehingga membuat Arga dan Arshi berteriak serempak.
“Cepat naik! Pegang tanganku! Naik!”
Tekanan tubuh Arga dan Arshi pada satu dinding membuat berkurangnya keseimbangan dan perahu menjadi oleng. Beruntung Tammi cukup sigap menarik tubuhku ke sisi yang berlawanan untuk membuat perahu kembali seimbang. Sementara itu Arga dan Arshi akhirnya berhasil meraih Husin dan Firdaus. Tak butuh waktu lama setelah itu, kedua anak Pak Royan bisa kembali naik ke atas perahu.
Bertepatan dengan waktu itu, gulungan angin yang menampar Firdaus hingga jatuh ke dalam air, kembali mengepul datang dari arah depan perahu. Air laut di antara hutan mangrove itu tersibak dan memercik ke kanan dan ke kiri. Pak Royan maju ke depan sambil merapal ayat Alquran. Ketika gulungan angin itu menerpanya, Pak Royan membentangkan tangan dengan keras. Ada geram menggema bersama pecahnya gulungan angin puyuh. Aku bergidik sambil menutup telinga.
Mesin motor perahu yang ternyata tidak berhenti dicoba untuk dinyalakan oleh Bu Rohana sontak bekerja kembali. Sejurus perempuan empat puluh tahun yang gempal itu menjalankan perahu. Setelah itu, Pak Royan mengambil alih kemudinya. Kami pun terlepas dari jebakan yang dibuat oleh si iblis. Lebih beruntung lagi karena perahu memasuki hutan bakau yang sedikit meranggas sehingga sinar matahari lebih terang dan rasanya menjadi lebih aman. Ada haru yang menyelimuti hatiku tiba-tiba. Melihat mereka berjibaku menyelamatkanku yang bukan siapa-siapa. ‘Mereka orang-orang baik,’ pikirku.
Mesin perahu menderu. Sesekali meliuk, berbelok menyusuri celah hutan bakau yang airnya tersibak oleh perahu. Pak Royan menambah laju perahu agar cepat dapat meninggalkan hutan bakau itu.
Perasaan tertekan akibat kejadian yang barusan kamu alami membuat masing-masing terjaga. Arga kembali meraihku dalam pangkuannya dan meminjamkan jaketnya pada Firdaus yang menggigil kedinginan.
Perasaanku akhirnya menjadi tenang ketika tak lama kemudian berpapasan dengan perahu-perahu nelayan yang baru pulang melaut. Ketegangan juga terlihat ikut mereda pada yang lainnya ketika lokasi Mandeh yang dituju sudah semakin dekat. Ternyata dengan kecepatan maksimal perahu, hanya perlu kurang dari empat puluh menit untuk mencapainya.
Tiba di Mandeh, mobil sewaan yang didapat Arshi dari aplikasi online, telah menunggu. Kami akan segera menuju Bandara. Di sini sudah ramai. Rasa takutku ternyata segera berkurang saat berada di tempat umum dan banyak orang, tidak seperti sebelumnya. Aku pun meminta Arga untuk menurunkanku dari gendongannya.
“Ga, turunin aku, Ga! Aku mau jalan sendiri.” Begitu pintaku.
“Jangan, Nil! Kamu masih terlalu lemah. Lebih baik kugendong dari pada aku harus jalan tertatih mengikutimu.”
“Aku akan jalan cepat.”
“Kamu belum kuat, Sayang.”
“Coba dulu.”
“Tidak, Nil! Aku gak mau makhluk itu datang mengganggumu saat kamu berada di luar jangkauanku.”
“Malu, Ga. Dilihat banyak orang, tuh.”
“Biarin, Sayang! Jangan pikirkan apa yang dipikirkan orang lain!”
Arga benar-benar tidak memberi kesempatan padaku untuk berjalan sendiri. Dia tetap menggendongku sehingga masuk dan duduk di dalam mobil sewaan. Sementara itu, seluruh barang bawaan kami, diangkut oleh Arshi dan Husin.
Di Mandeh, ternyata kami harus berpisah dengan Bu Rohana, Husin dan Firdaus. Tidak aku sangka Pak Royan ternyata diminta oleh Arga untuk mengawal kami sampai tiba di Jakarta. Mungkin persetujuan itu mereka buat saat aku pingsan lama tadi.
Sedih, saat melihat Pak Royan berpesan banyak pada dua anaknya, agar menjaga Bu Rohana. Hatiku terenyuh sekaligus merasa berdosa telah menyebabkan Pak Royan harus meninggalkan keluarganya sementara. Apalagi saat beliau berpesan agar kedua anaknya selalu berhati-hati serta tidak meninggalkan salat.
“Husin, Daus! Jaga emak kalian, selama Bapak gak ada di rumah! Jangan lupa salat!” Begitu ucapan jelasnya.
Mengingat pesan beliau tentang salat, akhirnya aku pun teringat belum melaksanakan salat Subuh.
“Ga, aku belum sholat subuh,” bisikku di telinga suamiku.
“Nanti di bandara aja, ya, Sayang!” sahut lelakiku itu sambil mengusap pipi dengan punggung jari-jarinya.
Percakapanku dengan Arga terpotong, saat Bu Rohana datang mendekati jendela mobil sewaan. Aku duduk di kursi pada sisi jendela itu. Beliau berpesan, “Bang Arga, jagain Kak Danila, ya!”
“Siap, Bu,” sahut Arga menunjukkan kesigapan.
Setelah itu Bu Rohana beralih padaku. “Kak Danila, yang kuat, ya! Kuncinya hanya satu, pasrah pada Allah subhanahu wata’ala.”
Cepat aku mengangguk meski terlalu lemah. Mata Bu Rohana berkaca-kaca dengan bibir gemetar dan hidung sedikit berkedut sambil menggenggam jemariku. Beliau tampak begitu khawatir, membuatku tercekat. Aku mencoba berpikir tentang separah apakah keadaanku, tetapi tidak memperoleh jawaban. Ada rasa enggan untuk bertanya dengan Pak Royan karena belum siap dengan jawabannya.
Kulihat Arga mengangguk takzim, dengan tatap mata yang penuh kekhawatiran pula. Menyadari begitu banyak kekhawatiran, akhirnya mengundangku untuk bertanya pada suamiku. Selepas Bu Rohana pergi, aku pun bertanya, “Ga, aku gak bisa ditolong, ya?”
Arga tidak langsung menjawab. Hanya menatapku lekat sambil segera merangkulku.
“Aku bersamamu, Sayang,” ucapnya setelah itu.
Sedih, karena tidak mengerti dengan apa yang sedang berlaku pada diriku. Akhirnya, hanya bisa bersandar di d**a Arga. Kembali pasrah, memasrahkan diri pada Sang Pemilik Semesta.
**WMB**
Giza, 10092021