Seperti janji Arga, sesampainya di bandara kami akan menunaikan salat Subuh terlebih dahulu. Arga mengantar ke toilet lalu Tammi menolongku untuk berwudu. Setelah itu, aku dan Tammi bersama-sama menunaikan salat Subuh di musalla khusus perempuan. Sedangkan, Arga, Arshi dan Pak Royan di musalla laki-laki.
Lepas mengerjakan ibadah fardu itu, Arga sudah menunggu di pintu musalla. Dengan sabar dia menuntunku berjalan menuju kursi tunggu sebelum boarding pass. Sementara itu, Tammi dan Arshi sibuk mengusahakan tiket untuk Pak Royan agar bisa berangkat untuk ikut bersama kami. Beliau terlihat tenang, duduk di kursi tunggu yang letaknya tepat di hadapanku dan Arga. Kuperhatikan jarinya tak pernah berhenti menghitung zikir dangan tatap mata khusuk dan terlihat begitu tawaduk.
Perhatianku pada Pak Royan terputus ketika Arga mengusap dan mengecup pucuk kepalaku sebelum merapatkan pelukan. Kubalas dengan meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Terselip rasa aman menyadari diriku berada di antara orang-orang yang tidak akan membiarkanku celaka.
“Apa kabar, Sayang?” tanya Arga menarik perhatianku.
Aku menengadah menatapnya. Wajah lelaki tampan yang menikahiku selama setahun ini, terlihat lebih bersih dan bening setelah terkena air wudu. Dia semakin tampan, pikirku. Sebentar itu pikiranku penuh olehnya.
“Nil? Apa kabar?” Arga mengulang pertanyaannya, sekali ini sambil menjawil pucuk hidungku. Senyum terbit dengan sendirinya di bibirku ketika merasa dipergoki sedang mengaguminya.
“Kamu ngerasa aman, ya, sehabis salat Subuh?” Arga mencoba menyimpulkan keadaanku karena aku tidak juga menjawab setelah dua kali ditanya.
“Ngerasa tenang dan aman, Ga,” sahutku akhirnya dengan suara yang masih lemah.
Arga tersenyum mendengar pengakuanku. “Alhamdulillah,” ujarnya sambil mengeratkan genggaman tangannya pada lengan atasku.
Setelah itu, lamat dan halus terdengar lelakiku itu berzikir, segera kuikuti dalam hati. Suasana religius yang tercipta, perlahan menimbulkan ketenangan batin luar biasa, sekaligus membuatku merasa begitu terlindung. Tidak hanya karena lengan kokoh Arga yang melingkar di tubuh, tetapi juga ruh yang mengisi raganya sekarang.
Rasa nyaman yang aku peroleh karena merasa terlindungi, membuat kantuk akhirnya terundang. Rasa takut dan khawatir bisa kuenyahkan sementara begitu saja. Aku jatuh terlelap di tengah hiruk pikuk calon penumpang pesawat yang mulai ramai berdatangan, setelah Arga berkata, “Tidurlah, Sayang! Nanti kalau sudah mau berangkat akan aku bangunkan. Atau kalau kamu mau aku gendong sampai masuk dalam pesawat juga gak apa-apa.”
Celoteh Arga berikutnya tidak sempat aku dengar karena duniaku terburu senyap. Namun, kesenyapan dalam lelapku buyar seketika saat hal aneh terjadi. Rasanya seperti dalam mimpi, tetapi telingaku begitu jelas mendengar seseorang memanggil namaku. Seakan berniat membangunkan dengan suara paraunya.
“Danila!”
Aku tersentak bangun, spontan beringsut menegakkan badan. Gerakan tubuh yang menyentak membuat perhatian Arga dan Pak Royan langsung tertuju padaku. Dua pasang mata itu segera memindai keadaanku.
“Ada apa, Sayang?” tanya Arga terburu dengan tatap mata mulai awas.
Aku tidak bisa memberi jawaban segera karena tidak yakin dengan apa yang terdengar. Apalagi setelah sebentar menilik ke sekitar, tidak kutemukan seseorang yang kira-kira memiliki suara separau seperti itu. Entah suara laki-laki, entah suara perempuan. Akan tetapi, terdengar seperti suara seseorang yang sudah sangat tua.
“Ada apa, Nil?” Arga bertanya kembali.
Aku menggeleng setelah memastikan tidak ada laki-laki atau perempuan tua di sekitar.
“Seperti dengar sesuatu,” kataku mencoba menjelaskan.
“Dengar apa, Sayang?”
“Gak tau, Ga. Mungkin hanya mimpi,” simpulku untuk membuat Arga tidak bertanya lebih jauh atau Pak Royan ikut mengintrograsiku.
“Kalau kamu merasa ada apa-apa, cepat bilang, ya, Sayang!” pesan Arga.
“Ya,” cepat kusahuti sambil mengangguk.
Pak Royan ikut mengangguk, seperti dirinya juga punya pesan yang sama seperti yang Arga sampaikan. Namun, beliau sepertinya memilih untuk tetap awas dan berjaga dengan caranya.
Sesaat setelah itu, Tammi dan Arshi datang. Mereka membawa kabar gembira. Keduanya terlihat tersenyum semringah.
“Beres, Ga,” ucap Arshi seraya mendekat dengan langkahnya yang cepat dan tegap.
“Dapat tiket untuk, Pak Royan?” Arga bertanya.
Arshi mengangguk. Terlihat kedua adik iparku itu tidak hanya mendapatkan tiket untuk Pak Royan, tetapi di tangan mereka terdapat beberapa kotak makanan. Aromanya langsung terhidu oleh hidungku begitu Arshi menyodorkan salah satu kotak ke tanganku, sementara Tammi membagikan air mineral.
“Sarapan dulu!” kata Arshi setelah itu sambil mengenyakkan dirinya di samping Pak Royan.
“Iya, nih, biar kita semua punya tenaga. Terutama Kak Nila, nih. Ayo, Kak Nil akita makan dulu!” Timpal Tammi ikut duduk di kursi tunggu di samping Arshi. Terdengar dia mulai tampil seperti biasa, ramah dan banyak berkata-kata.
Nyaris serempak semua membuka kotak makanan masing-masing. Isi kotak makanan itu, nasi goreng dengan acar timun, telur mata sapi, dan sepotong ayam goreng keremes. Harumnya menguar begitu aku membuka penutup kotak makanan yang terbuat dari plastik itu. Rasa lapar yang mengigit tiba-tiba kurasakan. Saliva sempat hampir menetes sebelum sendokan pertama memasuki mulutku. Tak peduli sekeliling, aku pun makan dengan lahap karena begitu lapar rasanya.
“Enak, Sayang?” Arga sempat bertanya.
Tanpa menoleh aku mengangguk keras untuk menjawabnya, mulutku terlalu penuh. Mungkin karena melihatku sangat bernafsu makan, akhirnya Arga menyodorkan kotak makanan bagiannya.
“Makanlah, Sayang!” perintah Arga.
Cepat kuterima dan langsung melahap isinya. Padahal, seharusnya aku sudah merasa kenyang karena satu porsi nasi kotak itu, ukuran biasa aku makan. Namun, entah kenapa rasa lapar malah terundang lebih menjadi-jadi. Selain itu, tak ada pula rasa ingin untuk berbagi. Rasanya aku ingin memakan semua dan menghabiskan seluruh makanan yang terlihat. Bahkan, makanan yang sedianya untuk Tammi juga aku rebut dan habiskan. Sampai Arshi perlu membelikan beberapa kotak lagi. Setelah itu pun rasanya aku tidak kenyang-kenyang, rasa lapar terus saja terpancing.
Akhirnya Pak Royan sengaja datang mendekat lalu menepuk bahuku agar mau berhenti.
“Cukup!”
Seketika itu juga, aku pun berhenti. Rasa heran dengan diriku sendiri segera datang menghantui. Namun, Arga dan Arshi terlihat memasang wajah datar sementara Tammi terlihat ketakutan.
“Aku lapar sekali,” ucapku padanya.
Tammi tidak menyahut, malah beringsut duduk menempel dengan Arshi. Di situ aku baru sadar, kalau aku tidak berperilaku biasa. Yang makan tadi seperti bukan diriku.
Dalam detik yang sama, aku langsung merasa mual. Makanan yang telah memasuki perut, rasanya tak hanya sudah memenuhi lambung, tetapi sampai ke kerongkongan. Sontak perutku bergejolak sehingga gelombang gerakkan ototnya bisa dilihat di permukaan baju yang kukenakan. Sigap Arga menampung isi perut yang akhirnya kumuntahkan seluruhnya ke dalam kantong plastik. Lepas dari situasi itu aku merasa lemas kembali. Seperti kain lap basah tubuhku teronggok di kursi, tanpa daya.
Tak hanya satu dua mata, tetapi banyak mata yang tidak sengaja melintas, akhirnya memperhatikanku. Mengundang rasa tidak nyaman sekaligus membuatku merasa malu.
“Arga, aku kenapa?” tanyaku padanya, berharap mendapat jawaban yang paling benar.
Sayangnya hanya senyum bisu yang aku dapat. Setelah itu, dengan tatapan sedih dia berbisik, “Tidurlah Sayang, supaya kamu punya tenaga dan kuat! Aku selalu bersamamu.”
Pertanyaanku yang tidak terjawab menimbulkan rasa penasaran. Aku segera mencoba mencari tahu lewat kedua adik iparku. Namun, seperti takut menjadi tempat bertanya, Arshi dan Tammi sengaja membuang tatapan matanya ke mana-mana. Ketika aku ingin bertanya pada mereka.
Hanya Pak Royan yang berani menatapku. Akan tetapi, beliau pun tidak memberiku jawaban, selain menekankan sebuah nasihat, “Jangan lepas zikir, Kak Danila, meski dalam hati!”
“Tapi, saya kenapa, Pak?” cecarku kesal.
Pak Royan menarik napas panjang sebelum menjawab.
“Ada yang lain, masih bersamamu.”
Usai mendengar jawaban Pak Royan, aku pun tercekat. Sekilas pandanganku langsung menyapu Arshi, Tammi, dan terakhir ke Arga. Tammi langsung menunduk, seperti tidak mampu melihatku, sementara Arshi dan Arga menatap dengan rasa takut campur khawatir. Hal itu membuatku merasa sangat bersedih.
Arga meraihku kembali masuk dalam dekapan, sambil berkata, “Kita hadapi ini bersama, Sayang. Aku tidak akan meninggalkanmu. Karena itu aku minta Pak Royan untuk menemani kita sampai pulang ke Jakarta, agar bisa bertemu dengan Opa Buyut Jayden.”
“Opa Buyut Jayden?” tanyaku tidak mengerti kenapa Arga menyebutkan nama Opa Buyutnya yang baru dikenalkan padaku saat pernikahan Arshi dan Tammi berlangsung tiga minggu lalu.
Arga mengangguk lalu lanjut menjelaskan, “Ya, karena perkiraanku beliaulah yang menitipkan peliharaannya denganmu, meski tidak bermaksud untuk mengganggu.”
“Aku tidak mengerti, Ga,” ungkapku sambil tak kuasa menahan tangis. Tiba-tiba saja hidung terasa pedas dan rongga mataku terisi air mata. Tanpa mengerjap air mata itu mengalir deras melintasi pipi.
“Kak Danila, yang dititipkan beliau padamu itu tidak untuk mengganggu, tapi berguna untuk membuka mata batin, karena itu Kak Danila jadi bisa melihat mereka.” Pak Royan membantu Arga untuk menjelaskan.
Penjelasannya membuatku semakin ketakutan. Hatiku menolak keras. Tidak ingin menerima titipan makhluk gaib manapun. Terbukanya mata batin itu sudah sangat mengganggu. Bagaimana mungkin dinyatakan tidak untuk mengganggu? Keluh benakku.
“Sebenarnya tidak perlu dibuang, jika bisa menerima, memelihara, dan mengendalikannya. Kalau mau percaya, malam tadi itu, dia juga yang ikut menghambat yang lain untuk masuk menguasai Kak Danila,” tambah Pak Royan.
Sebentar aku tercengang. Kebingunganku yang telah merasakan rasa panas dan dingin bersamaan malam tadi, terjawab setelah mendengar penjelasan beliau. Namun, tidak ada alasan untuk menerimanya. Hatiku benar-benar keras menolak.
Spontan aku menggeleng dengan air mata kian deras meluncur di pipi. Ada rasa takut lain yang menyelusup hati ini. Aku takut lebih bergantung pada kekuatan makhluk itu dari pada kekuatan Allah subhanahu wata’ala. Kehilangan iman itulah sangat mengerikan bagiku.
“Kita akan buat dia pergi dari tubuhmu, Sayang. Aku janji,” putus Arga agar tangisku mereda, “Bertahanlah sampai kita bertemu dengan Opa Buyut Jayden. Mumpung beliau masih berada di rumah Papa.”
Aku mengangguk keras untuk menunjukkan kesungguhan. Saat itu juga aku sempat berharap, apa pun yang bersemayam di tubuhku saat ini, tidak mencelakai diriku dan orang lain.
“Tidurlah! Supaya kamu tidak melihat apa-apa,” perintah Arga setelah aku mampu menguasai diri untuk tidak menangis lagi.
Tidak lama setelah boarding pass akhirnya burung besi siap untuk memberikan tumpangan dan menghantarkan kami ke Jakarta. Genggaman tangan Arga yang tidak pernah lepas dan bahunya yang selalu siap menjadi sandaran, membuat rasa takut sedikit berkurang. Secercah harapan masih ada, aku ingin segera mengakhiri masalah ini secepatnya.
**WMB**