Pikiranku melayang seperti melayang terbangnya pesawat setelah beberapa menit sebelumnya melaju kencang di landasan pacu. Tangan Arga terulur untuk menutup kaca jendela ketika menyadariku menatap nanar ke luar sambil bergeming.
“Nil! Tidurlah, Sayang!” pintanya.
Aku tahu, dia meminta itu agar aku merasa nyaman dan tidak ketakutan. Akan tetapi, gumpalan awan putih di awal pagi itu seperti sengaja memintaku untuk menikmati keindahannya. Kupegang tangan Arga, agar dia mengurungkan niat untuk menutup kaca jendela pesawat.
“Jangan ditutup jendelanya, Ga!” pintaku lirih.
“Tapi, sebaiknya kamu tidur, Sayang.”
“Aku ingin melihat awan itu.”
Arga menghela napasnya dan tidak menyahut, sepertinya dia keberatan, tetapi sebentar terpaku menilikku.
“Awannya cantik, Ga.”
“Iya, tapi, aku ingin kamu bisa beristirahat, Sayang. Walaupun sebentar.”
“Biarkan aku jatuh tertidur sambil melihat awan dan langit itu, ya, Ga! Di sana aku tidak melihat ada apa-apa,” jelasku.
Akhirnya suamiku menarik tangannya. Dia mengurungkan niat untuk menutup jendela pesawat setelah mendengarkan penjelasanku. Sejurus kemudian dia meraih tubuhku agar bisa didekap rapat pada rusuknya lalu mengecup pucuk kepala. Sontak rasa damai merajai hati saat itu. Dengan perasaan sedikit ringan kuteruskan untuk menikmati pesona alam di luar jendela pesawat.
Bergumpal-gumpal awan putih bersih yang bertebaran dan disorot sinar matahari pagi, begitu indah terlihat. Seperti tersihir, pikiranku melayang dan mengambang seperti awan-awan itu. Berarak menuju satu ingatan kental tentang Opa Buyut Jayden yang aku kenal tiga minggu lalu.
Setelah melihat beliaulah akhirnya aku tahu, dari mana Papa Arif, Arga dan Arshi memperoleh ketampanan setara orang Eropa. Ternyata mereka memiliki garis keturunan blasteran Belanda. Sementara dari trah Mama Armitha, mereka mendapat sekian persen keturunan Arab pula. Gen multi etnis itu berkumpul pada Arga, Arshi dan Armiya, membuat mereka menjadi terlihat berbeda dari orang Indonesia pada umumnya.
Mata Arga yang memiliki netra coklat terang ternyata sama persis dengan Opa Buyut Jayden. Bentuk wajah oval panjang dan bulu mata tebalnya juga. Untuk hidung mancung lancip lurus, rambut hitam tebal, dan kulit putih kekuningannya dia dapat dari Mama Armitha.
Entah kenapa, saat pernikahanku dan Arga dilangsungkan setahun lalu, Opa Buyut tidak hadir. Namun, beliau hadir saat pernikahan Arshi dan Tammi. Oleh sebab itu, aku terhitung baru mengenalnya meski sudah menjadi anggota keluarga besar Bapak Arif Darmawan selama setahun ini. Meski baru mengenalnya, beliau tidak sungkan menunjukkan kesesuain sikap denganku. Setiap kali berbicara denganku, pandangannya selalu lekat dan terkesan mengagumi. Hal itu pun beliau ungkapkan secara verbal, menyatakan suka dan mengagumiku langsung pada Arga.
“Beruntung sekali kamu mendapatkan gadis ini, Arga. Opa kagum dan senang melihat istrimu.” Begitu kata beliau. Namun, beliau tidak menyatakan alasannya.
“Ah, Opa! Jangan terlalu dalam mengenali Danila. Arga gak mau nanti saingan dengan Opa,” sahut suamiku berseloroh, saat menanggapi pernyataan Opa Buyut Jayden yang kunilai sebagai bentuk basa-basi saja waktu itu.
Sore itu, tepatnya seminggu yang lalu. Saat Arshi dan Tammi, selama tiga hari menginap di hotel untuk berbulan madu. Aku mendapat kesempatan beramah tamah lebih dekat dengan Opa Buyut yang usianya diperkirakan lebih seratus tahun itu. Meski sudah sangat sepuh secara usia, tetapi beliau masih sehat dan bicaranya juga tidak melantur. Bahkan menurutku, belum ada tanda-tanda penurunan daya ingat padanya. Hal itu membuatku juga kagum pada beliau sekaligus sedikit khawatir karena walau bagaimanapun, beliau berumur banyak.
“Ga, Opa Buyut biar sudah tua, tapi bicaranya masih baik, ya. Kalau cerita, alurnya jelas dan runtun, bahkan masih ingat tempat dan tanggal kejadian,” ceritaku pada Arga sore itu. Sehari sebelumnya aku memang sempat mengobrol tentang masa perjuangan rakyat Indonesia melawan Belanda dengan Opa Buyutnya itu.
“Hm,” sahut lelakiku seperti setengah hati mendengarkan.
Kuamati dia yang sedang berbaring manja dengan berbantalkan perutku. Tubuhnya yang menelungkup sengaja bersaling silang. Dua kakinya yang panjang seakan siap menggunting sebelah kakiku. Sementara sebelah tangannya memegang ponsel yang sedang dipelototi dan sebelah yang lain menyelip di antara punggungku dan kasur.
“Ga …!” panggilku.
Sebentar dia menengadah, mengalihkan perhatian dari game di ponselnya untuk sesaat. Tatapan kami persis beradu di puncak tinggi dadaku.
“Kamu gak suka, ya, aku bicara tentang Opa Buyut?”
“Aku gak bilang begitu, Danila …! Hanya, aku sendiri merasa kurang mengenal Opa Buyut. Karena beliau selama ini sangat misterius.”
Kudengarkan penjelasan Arga sambil mengusap rambut tebal hitam legamnya.
“Kamu tadi bilang apa, Nil?” lanjutnya bertanya.
“Aku bilang, Opa Buyut Jayden walau sudah sepuh, tetapi pikirannya masih bekerja dengan baik, Ga. Seperti tidak terjadi penuaan padanya. Bicaranya juga masih teratur, runtun, dan jelas.”
“Oh, itu. Iya, Nil,” sahutnya sambil kembali menekuri ponselnya. “Makanya keluarga gak ada yang khawatir membiarkan beliau hidup menyendiri di rumahnya, tanpa ada yang mengurus sampai sekarang. Karena beliau masih cekatan dan mandiri.”
“Tapi, `kan, tetap aja kasihan, Ga. Udah tua dibiarin sendiri.”
“Begitu maunya beliau, Sayang.”
“Jika mau diajak tinggal bersama, kupikir lebih baik.”
“Menurutku juga begitu, sih. Papa dan Mama juga bilang begitu. Dengan alasan itu Papa ingin membuat Opa Buyut merasa betah tinggal di sini. Supaya gak perlu pulang ke rumahnya di kampung sana.”
Aku mengangguk. Pemikiran Arga, Papa Arif, dan Mama Armitha sering sejalan denganku.
“Gimana kalau sesekali kita undang tinggal bersama kita di apartemen Tiara, Ga?” usulku ketika pikiran itu melintas begitu saja.
“What?” Arga terkesiap. Sontak kepala dan setengah badannya tegak dan menatapku. Ponsel diletakkannya dengan sembarang.
“Ya, itu kalau kamu setuju, Ga.”
Sejurus lelakiku itu bangun dari menelungkup lalu mengambil posisi berdiri di antara dua belah tungkaiku. Sementara dua tangan Arga menopang tubuhnya yang condong padaku.
“Kok, kamu perhatian banget sama Opa Buyut? Kamu tertarik sama beliau?”
“Arga!” Sergahku manja. Mataku yang segaris lurus dengannya ikut melotot.
Aku tahu tuduhan itu hanya selorohnya, tetapi tetap tidak enak saat di dengar. Akhirnya aku jadi memberengut. Reaksiku memberengut malah membuat Arga terpingkal kecil.
“Kamu lucu, kalau cemberut,” ungkapnya dengan wajah menyongsongku cepat. Sudah menjadi kebiasaannya, suka mengadu pucuk hidung bangirnya yang runcing dengan pucuk hidungku yang mungil.
Aku berusaha mengelak. Sekali luput dari serangan adu pucuk hidung itu bukan berarti membuat Arga berhenti. Justru akan membuatnya semakin tertantang untuk melakukan hal itu berulang kali. Lelakiku yang senang dirinya menjadi dominan akan menunjukkan kekuatannya jika kutolak. Semakin mengelak kian keras pula usahanya untuk mendapatkanku. Demikianlah Arga.
Sebentar dia bergeming dengan tatap mata menajam dan senyum tersimpul di bibir. Aku tahu dia sedang menyusun strategi, aku pun melakukan hal yang sama. Tak terelakkan, akhirnya terjadi pergelutan tidak terencana itu. Lelakiku terpingkal keras saat dirinya tak berhasil melakukan hal yang dia mau. Sementara itu, aku merasa puas telah berulangkali berhasil mengecohnya dengan cara berkelit cepat ke kanan dan ke kiri sampai sempat menelungkup.
Tidak kusangka, bergelutan tidak terencana itu berujung pada ajakkan kegiatan membunuh rindu olehnya. “Ayo, Nil!” ajaknya sambil menjatuhkan tubuhnya tepat di atasku. Sebentar membuatku meringis menampung beban tubuhnya sekaligus.
“Ayo, apa?” tanyaku pura-pura tidak mengerti dengan napas sedikit berat.
Arga tak menjawab dengan kata. Matanya yang berubah menajam dan menatap sayu membuatku tahu apa yang dia inginkan. Jenak berikutnya dia mulai mencumbu. Dua tangannya aktif menjalari kulit terbukaku dan menyelip ke mana dia suka. Buatku yang memiliki ketergantungan padanya, sejak dia berhasil membawaku ke puncak asmara, tentu tidak sanggup untuk menolak. Cumbuannya refleks kusambut tanpa rasa jemu.
Akan tetapi, sangat disayangkan, sebelum cumbuan itu berubah panas, kami mendengar seseorang mengetuk pintu kamar. Sontak pagutan kami terurai saat itu juga. Aku dan Arga saling menatap, seperti sama-sama mengaktifkan pendengaran. Kami menunggu apa yang terjadi setelah mendengar bunyi ketukan.
“Bang Arga … Kak Nila … dipanggil Ibu, ditunggu minum teh di ruang keluarga.” Suara Mbok Tirah terdengar di depan pintu kamar.
**WMB**
Giza, 10092021