Bali
Gunardi tertawa penuh kemenangan melihat Willy begitu marah dan emosi. Gunardi pun memilih meninggalkan Willy sendiri di dalam Villa itu. Gunardi juga sengaja mengembalikan ponsel milik Willy dan dompetnya.
Gunardi yakin dalam waktu dekat Willy dan Bianca akan segera bercerai. Kalau itu sudah terjadi Luna akan menjadi satu-satunya istri Willy. Gunardi melangkah dengan perasaan sangat bahagia membayangkan perceraian Willy dan Bianca.
Gunardi memang sengaja memasang mata-mata di dekat Bianca. Gunardi akan mencari tiap celah untuk bisa membuat Bianca terlihat buruk di mata Willy. Itulah mengapa Papi dan Gio melarang Bianca keluar rumah.
Gio sudah tahu Gunardi yang mengirim mata-matanya. Tetapi Papi belum tahu tentang Gunardi. Mereka berdua hanya takut kedua mata-mata itu akan menyakiti Bianca. Padahal mata-mata itu hanya diminta untuk memata-matai saja tanpa menyakiti Bianca.
Beralih ke Willy. Willy memukul meja makan dengan keras hingga kaca meja makan itu berhasil pecah dan tangannya pun berlumuran darah. Bagaimana perasaannya tidak emosi melihat istrinya sangat dekat dengan pria yang akan menghancurkan rumah tangganya itu.
Disana terlihat foto Gio yang sedang menyelamatkan Bianca. Kalian tahu bagaimana posisi Gio saat itu. Dia berdiri dengan punggungnya memayungi Bianca yang berjongkok, lalu wajah mereka berdua saling bertatapan. Padahal saat itu Bianca sedang terkejut karena melihat Gio ada disana.
Foto yang lain menunjukkan tangan Bianca yang memegang kepala Gio. Di dalam foto terlihat Bianca sangat mencemaskan Gio dan sangat mesra sekali. Padahal yang sebenarnya Bianca terkejut karena kepala Gio mengeluarkan darah.
Lalu foto selanjutnya adalah saat di dalam IGD. Entah kenapa mereka di tempatkan bersebelahan itu karena tidak sengaja. Foto itu memperlihatkan wajah Bianca yang sedang melihat ke arah Gio yang belum sadar dan sedang di periksa oleh dokter.
Foto lainnya inilah yang membuat Willy tambah emosi, adegan dimana saat itu wajah Bianca dan Gio sangat dekat dan seperti orang mau berciuman. Willy sangat muak melihatnya. Willy pun mengambil semua foto yang berserakan di lantai itu, tanpa ingin melihat foto yang lainnya lagi.
Willy membawanya ke halaman Villa. Willy mengeluarkan korek api lalu membakar semua foto itu. Sakit sekali hatinya. Willy tidak menyangka Bianca setega itu kepadanya. Willy melihat semua foto itu hancur menjadi debu.
Bersamaan dengan apinya padam Willy pun merosot ke tanah. Willy menahan untuk tidak menangis, tetapi melihat kenyataan Bianca bermesraan bersama Gio disaat dirinya tidak ada tentu saja hatinya sangat sakit.
“Kenapa kamu tega Bii?” Tanya Willy dengan lirih.
“Jadi benar selama ini kamu ada main dengan Gio. Apa karena aku sudah tidak sekaya dulu? Harta Gio itu harta orang tuanya Bii. Bukankan kita berjanji untuk memulai usaha kita sendiri” ucap Willy dengan sedih dan marah.
“Katakan apa kekuranganku sampai kamu tega kepadaku seperti ini?” Tanya Willy dengan marah.
“Apa kurangnya diriku di dalam hidupmu, sampai kamu berhubungan dengan Gio?” Tanya Willy lagi.
Willy pun meneteskan air matanya. Hatinya sangat sakit melihat kenyataan istri yang dia cintai bersama pria lain. Pikiran Willy pun berkelana jauh saat ini.
Willy mengira Bianca dan Gio memang sedang berkencan berdua di dalam mall. Pantas saja Gio memberikan hadia gelang yang sangat mahal kepada Bianca. Ternyata mereka berdua memang sedang menjalin sebuah hubungan.
Willy pun terbayang saat pertemuannya dengan Gio di restoran hotel. Saat itu Willy curiga kenapa Gio bisa berhenti di mejanya dan Bianca. Apalagi wajah Bianca seperti tidak tenang. Willy tersenyum sinis, jadi yang Bianca seperti itu karena ketakutan jika hubungan mereka ketahuan.
“Apa saja yang sudah kalian berdua lakukan dibelakangku?” Tanya Willy dengan sinis.
Hujan pun turun seakan ikut dengan kesedihan Willy. Willy masih terus di tempatnya tanpa beranjak. Masa bodoh dengan guyuran hujan yang membuat dirinya basah kuyup. Saat ini hatinya hancur karena pengkhianatan Bianca.
Ingin rasanya Willy kembali ke Jakarta dan menusuk Gio dengan tangannya sendiri. Willy ingin tahu siapa yang Bianca bella jika mereka berdua bergelut. Suaminyakah atau justru selingkuhannya. Pantas saja Bianca tidak mencari keberadaannya, karena dia senang dengan kepergian Willy dengan begitu dia akan lebih leluasa bertemu dengan Gio.
Sepertinya setan sudah menguasai diri Willy, sehingga terus dan terus Willy berpikiran negatif terhadap istrinya sendiri. Di bawah guyuran hujan yang sangat deras dan pikiran yang kacau Willy pun pingsan dan jatuh ke tanah.
Willy membuka matanya perlahan, lalu dia pun bersin.
“Will, kamu sudah sadar?” Tanya seorang wanita yang ada di kamarnya.
Mata Willy pun terbuka sempurna lalu dia melihat Luna duduk di ranjangnya. Luna menempelkan punggung tangannya di kening Willy untuk mengecek suhu tubuh Willy.
Willy terdiam dan terkejut, sejak kapan Luna ada di villa ini. Willy pun mencoba mengingat, dia ingat sebelum pingsan dia ada di halaman dengan kondisi hujan besar. Lalu kenapa saat ini dia ada di kamar. Willy melihat pakaiannya kini sudah berganti.
“Syukurlah kamu tidak demam” ucap Luna.
Willy mencoba bangun dari ranjangnya dan duduk. Saat tangan Luna ingin memegang pipinya, Willy segera menepisnya.
“Ada apa Will?” Tanya Luna terkejut.
“Sejak kapan kamu disini?” Tanya Willy dengan tatapan tajam.
“Baru sekitar 10 menit” jawab Luna.
“Tahu dari mana kamu aku disini?” Tanya Willy lagi.
“Kakek dan Doni” jawab Luna bingung dengan sikap Willy.
Tidak lama Doni mengetuk pintu, dan Luna pun menyuruhnya masuk. Doni masuk dengan membawakan segelas teh manis hangat dan sup krim jagung yang juga masih panas. Luna meminta Doni meletakannya di atas nakas.
“Tolong taruh disini Don” ucap Luna.
“Baik Bu” ucap Doni.
Willy menatap Doni tajam. Willy pun juga bingung kenapa Doni bisa ada disini juga. Sepertinya Willy harus berbicara dengan Doni berdua.
“Luna tolong tinggalkan aku dengan Doni berdua” ucap Willy.
“Tapi kamu minum teh hangatnya dulu” ucap Luna.
“Aku bukan anak kecil lagi. Jadi keluarlah sekarang” ucap Willy.
Luna yang masih bingung dengan sikap Willy pun akhirnya memilih keluar. Luna tidak ingin Willy marah. Setelah Luna keluar, Willy meminta Doni mengunci pintu kamarnya agar Luna atau siapun masuk ke dalam kamar ini.
“Doni tolong kunci pintunya” ucap Willy.
“Baik Pak” ucap Doni menganggukkan kepalanya.
Doni melangkah ke arah pintu, lalu dia mengunci pintu kamar Willy. Setelah itu dia melangkah kembali dan berdiri di hadapan Willy.
“Doni jawab saya dengan jujur” ucap Willy menatap Doni tajam.
“Siap Pak, saya akan menjawab semua pertanyaan Bapak dengan jujur” ucap Doni.
“Kenapa kamu dan Luna bisa ada disini?” Tanya Willy.
“Satu jam yang lalu Pak Gunardi menghubungi saya dan meminta saya datang ke Villa ini. Beliau bilang keadaan anda sedang tidak baik. Saya memang belum bisa menghubungi Bapak selama empat hari ini dan saya panik juga khawatir. Lalu saya pun mempercayai ucapan Pak Gunardi untuk datang kesini. Saat saya datang kesini hujan berhenti, saya masuk dan mencari Bapak tidak ada dimanapun. Sampai saya menemukan Bapak pingsan di halaman” ucap Doni menjelaskan bagaimana dia bisa sampai di Villa ini.
Ternyata Doni yang membawa Willy ke dalam kamar, lalu menggantikan semua pakaian Willy. Setelah itu Gunardi kembali menghubunginya, agar Doni menghubungi Luna dan memberitahukan kondisi Willy saat ini. Luna sangat panik karena mengetahui Willy pingsan dan sudah ada di villa milik kakeknya. Luna pun juga langsung segera datang ke villa itu.
Willy memijit keningnya yang tidak terasa pusing karena sakit, tetapi pusing karena memikirkan masalah yang terjadi di dalam kehidupannya. Willy kesal sekali dengan Gunardi, kenapa juga dia harus mendatangkan Luna saat ini.
“Pak pekerjaan proyek dengan perusahaan Pak Gunardi sudah selesai. Apa tim kita sudah boleh kembali ke Jakarta?” Tanya Doni.
“Ya, kembalikan mereka ke Jakarta” ucap Willy.
“Baik Pak” ucap Doni.
“Doni, selama saya di Bali yang dulu apa kamu pernah melihat istri saya jalan dengan pria lain?” Tanya Willy.
“Ibu Bianca” ucap Doni.
“IYA, MEMANG SIAPA LAGI ISTRI SAYA” ucap Willy yang emosinya kembali memuncak.
“Maaf Pakk. Maaf” ucap Doni yang langsung menunduk.
“Jawab cepat” ucap Willy.
“Selama Bapak di Bali dulu, Ibu tidak pernah datang ke kantor. Saya juga tidak pernah melihat Ibu jalan keluar dengan pria lain” ucap Doni.
“Apa kamu yakin? Atau Ibu pernah menggantikan saya bertemu dengan klien atau yang lainnya?” Tanya Willy lagi.
“Tidak Pak. Sekalinya Ibu menggantikan Bapak, cuma waktu pesta saja” jawab Doni.
Willy pun kembali memijit keningnya. Ya, selama ini dia memang tidak meminta Doni atau orang untuk mengikuti Bianca. Karena Willy percaya Bianca tidak akan mengkhianatinya. Tetapi saat ini rasa percaya Willy semakin terkikis kepada Bianca.
“Kita kembali ke Jakarta tiga hari lagi” ucap Willy.
“Baik Pak. Tapi bagaimana dengan Ibu Luna?” Tanya Doni.
“Saya akan mengurusnya” ucap Willy.
“Siap Pak” ucap Willy.
Willy pun penasaran sedikit, bagaimana bisa Doni membuat Luna bisa sabar tidak menanyakan keberadaannya di Jakarta.
“Oh ya Doni, apa Luna merepotkanmu?” Tanya Willy.
“Awalnya iya Pak. Tetapi lama-lam tidak. Ibu Luna setiap hari selalu menanyakan keadaan Bapak kepada saya. Saya bilang Bapak baik-baik saja. Dia pun menanyakan apa Bapak itu seorang playboy atau mempunyai wanita lain. Lalu saya bilang Bapak adalah pria yang setia, dingin terhadap perempuan, possesif, arrogant jadi mana ada perempuan yang mau kepada Bapak” ucap Doni dengan menunduk takut Willy marah.
Tentu saja Willy kesal dengan ucapan Doni yang menjelekkannya itu. Willy pun menatap tajam kepada Doni.
“Maaf Pak. Saya melakukan itu agar Ibu Luna berhenti menanyakan Bapak itu pria setia atau tidak. Karena dia takut Bapak memiliki wanita lain” ucap Doni.
Willy menghela nafasnya kasar.
“Keluarlah tinggalkan saya sendiri. Dan jangan membiarkan Luna masuk dulu kesini” ucap Willy.
“Baik Pak” ucap Doni.
Doni pun keluar dari kamar Willy. Willy menatap jendela. Willy pun terdiam. Willy tahu dirinya memang adalah laki-laki setia, tetapi kenapa semua wanita selalu mengkhianatinya. Hati Willy pun kembali sakit melihat kenyataan dirinya kembali tersakiti lagi oleh wanita.
“Aku kira kamu wanita yang berbeda dengan para mantanku Bii, tetapi kamu sama saja seperti wanita-wanita itu yang tidak setia kepada kepadaku” lirih Willy.
“Apa aku harus menjadi pria yang tidak setia untuk membalas sikap kalian semua kepadaku, kalau itu bisa membuat kalian menyesal, aku akan melakukannya?” Tanya Willy dengan nada sedih dan marah.