Jakarta
Icha dan Naena pun membantu Bianca. Mereka bertiga tidak mendapatkan luka prah jadi mereka bertiga sudah boleh pergi dari rumah sakit. Selena pun memperhatikantiga orang disampingnya yang ternyata adalah Icha dan Naena. Selena pun kembali menyapa.
“Hai Mba Icha” ucap Selena.
“Oh Mba Selena” ucap Icha.
“Mba tidak apa-apa?” Tanya Selena.
“Alhamdulillah kami tidak apa-apa Mba” ucap Icha.
“Mba sendiri juga baik-baik saja” ucap Icha yang merasa enggan menanyakan keadaan Selena.
Ya Icha bukannya sombong, hanya saja Selena masih mencari celah untuk bisa memakai jasa Bianca Management untuk pernikahannya.
“Iya, saya Alhamdulillah baik-baik saja. Cuma Mas saya ini nakal disuruh lari dia malah balik ke lantai dua” ucap Selena menunjuk Gio.
Icha dan Naena yang melihat ke arah Gio, sedikit terheran-heran. Mereka berdua seakan pernah melihat pria ini. Tapi dimana ya? Selena memang belum pernah mengajak calon suaminya bertemu mereka. Tiba-tiba Icha teringat pria yang Selena panggil sebagai Mas adalah pria yang ada di videonya waktu itu. Icha pun menoleh ke arah Bianca.
“Bii, itu pria yang dipukuli Willy ya?” Tanya Icha sambil berbisik.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya. Icha pun berbisik kepada Naena memberitahukan kepada Naena kalau pria yang bersama Selena adalah pria yang dipukuli oleh Willy, karena sudah berani menggangu Bianca.
“Lalu kenapa dia bisa bersebelahan denganmu?” Tanya Naena juga sambil berbisik.
Bianca hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Icha dan Naen pun berdekatan kepada Bianca.
“Ya Tuhan dia benar-benar p****************g. Padahal dia sudah mau menikah tetapi masih saja mengganggu istri orang” ucap Icha.
“Iya padahal Selena cantik” ucap Naena juga.
Gio yang merasa tiga wanita disampingnya itu sedang membicarakannya pun segera berdeham sehingga membuat tiga orang wanita itu kikuk.
“Mas, ini Mba Icha dan Mba Naena dari Bainca Management” ucap Selena kepada Gio.
“Oh, WO yang kamu bilang tidak bisa mengadakan acara di luar Jabodetabek itu?” Tanya Gio dengan nada menyindir.
Bianca yang tahu urusan akan semakin rumit menarik dress baju Icha, memberikan kode untuk mereka bisa segera pergi. Sebelum Gio dan Selena berbicara macam-macam lagi. Dan sepertinya Selena belum tahu jika Bianca itu adalah Bianca yang ingin dia temui selama ini.
“Hei, kenapa kami tidak bisa menggunakan jasa kalian?” Tanya Gio.
Sepertinya aksi kabur mereka bertiga pun gagal karena Gio sudah lebih dulu bertanya.
“Ya, karena kami sudah lama tidak bisa mendekor untuk acara di luar kota” jawab Icha.
“Bandung tidak terlalu jauh dari Jakarta” ucap Gio.
“Iya, tapi itu sudah menjadi peraturan di Management kami” ucap Icha.
“Oh siapa pemilik Management kalian, saya ingin menemuinya?” Tanya Gio dengan nada angkuh.
Icha melirik ke arah Bianca. Bianca pun menggelengkan kepalanya agar Icha tidak mengatakan bahwa Bianca adalah pemilik Bianca Management. Sayanganya Selena sudah menjawab lebih dulu sehingga membuat Bianca menunduk.
“Pemiliknya Bianca dan Willy. Aku sudah mencoba untuk menemui mereka berdua tetapi mereka sedang sibuk di luar kota katanya” ucap Selena.
Mendengar nama Bianca dan Willy tentu saja Gio menaikkan sebelah alisnya. Gio pun melihat ke arah Bianca yang menunduk. Gio tahu berarti Selena belum tahu Bianca itu yang mana. Ingin rasanya Gio tertawa, tetapi dia menahannya.
“Sibuk ke luar kota ya” ucap Gio dengan nada menyindir.
“Maaf kami duluan ya” ucap Icha yang mencoba untuk menghindari percakapan mereka, karena tahu Bianca akan terpojok nanti.
“Ke luar kota mana Bianca dan Willy?” Tanya Gio dengan sengaja kepada Icha.
“Maaf, tapi saya tidak berhak memberitahukan keberadaan mereka. Permisi” ucap Icha yang langsung menarik Bianca dan Naena pergi meninggalkan Selena dan Gio.
Setelah sudah menjauh dari ruang IGD mereka bertiga pun bernafas lega akhirnya bisa kabur dari Gio dan Selena. Mereka semua melangkah ke mobil Icha dan segera masuk ke dalam mobil.
“Bii, jujur kenapa kalian bisa bersebelahan?” Tanya Naena yang curiga.
“Terus tadi kalau tidak salah, Selena bilang Gio kembali ke lantai dua” ucap Icha menambahkan.
“Hem, jangan bilang kalau dia sengaja ke lantai 2 buat menyelamatkan kamu” ucap Naena dan Icha bersamaan dan menatap ke arah Bianca yang duduk di bangku penumpang tengah.
“Ya, memang kenyataannya seperti itu” ucap Bianca dengan pelan.
“So sweeet” ucap Icha.
“Ish” ucap Naena menepuk bahu Icha.
“Ya habisnya mau gimana lagi, aksi Gio memang romantis bangat. Coba dia sudah lari keluar, tapi demi menyelamatkan Bianca dia rela balik lagi ke lantai dua” ucap Icha sambil terkekeh dan mendapat tatapan horor dari Bianca.
“Cha” ucap Naena mengingatkan.
“Maaf, maaf” ucap Icha.
“Aku tidak habis pikir ya, sebenarnya dia kenapa ya sampai ngejar-ngejar kamu gitu Bii?” Tanya Icha bingung.
“Aku mana tahu, tanya saja dia” jawab Bianca acuh.
Ponsel Bianca tiba-tiba berdering. Bianca pun segera mengambil ponsel dari tasnya. Bianca melihat ternyata Papi yang menghubunginya. Bianca pun meletakkan jari telunjuknya ke atas bibir agar Icha dan Naena tidak bersuara, lalu Bianca mengangkat telepon dari Papi.
“Halo Pi” ucap Bianca.
“Halo Bii. Kamu keluar rumah hari ini?” Tanya Papi to the point.
Inilah yang Bianca takutkan Papi tahu dia keluar dari rumah.
“Papi melihatmu masuk berita terkini saat kecelakaan di dalam mall” ucap Papi lagi yang membuat Bianca tidak akan bisa berbohong.
“Iya Pi” ucap Bianca.
“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Papi.
“Aku alhamdulillah baik Pi” ucap Bianca.
“Syukurlah. Kalau begitu cepatlah pulang” ucap Papi.
“Iya Pi, ini Icha dan Naena akan mengantar Bianca pulang” ucap Bianca.
“Hati-hati di jalan” ucap Papi.
“Iya Pi, terima kasih” ucap Bianca.
Bianca tahu pasti Papi kecewa kepadanya karena sudah keluar rumah, padahal Papi sudah memperingatkannya untuk tidak keluar rumah sementara waktu. Bianca menghela nafasnya. Dia akan menjelaskan kepada Papi nanti saat bertemu.
“Ada apa Bii?” Tanya Naena.
“Kalian tahu tidak, Papi itu memperingatkan aku tidak keluar rumah dulu sementara waktu” ucap Bianca.
“Kenapa?” Tanya Icha dan Naena bersamaan.
Bianca menggelengkan kepalanya.
Tok Tok
Saat mereka bertiga sengan bingung, tiba-tiba kaca mobil Icha di ketuk dari luar. Mereka bertiga yang di dalam mobil pun melihat ke arah jendela dan ternyata yang mengetuk itu Gio.
“GIO” ucap Bianca, Icha, dan Naena bersamaan.
“Mau ngapain dia kesini?” Tanya Bianca bingung.
Gio pun mengetuk lagi jendela kaca mobil Icha.
“Gimana Bii, buka tidak?” Tanya Icha.
“Buka sajalah” ucap Bianca.
Icha menganggukkan kepalanya. Lalu Icha membuka kaca mobilnya.
“Ada apa?” Tanya Icha.
“Mau bertemu dengan pemilik Bianca Management” jawab Gio yang melihat ke arah bangku belakang.
Pastilah Icha tidak bisa berbohong kali ini. Gio sudah tahu siapa Bianca.
“Pak, atau Mas. Maaf ya, kami tidak bisa dan itu sudah peraturan. Itu pun juga sudah persetujuan dari Bianca” ucap Naena.
“Bagaimana kalau aku menawarkan kalian penjahit-penjahitku untuk menjahit kebaya kalian?” Tanya Gio.
Icha, Naena dan Bianca tentu saja menatap Gio dengan bingung. Bagaimana Gio bisa tahu kalau saat ini mereka sedang pusing memikirkan siapa yang akan menjahit kebaya-kebaya mereka.
“Oh, jadi kamu yang sengaja menaruh tikus-tikus menjijikan itu ke wadrobe kami, lalu yang membuat kecelakaaan di mall itu juga kamu. Dasar laki-laki kurang ajar” ucap Icha yang memukul bahu Gio dengan tasnya.
Naena dan Icha pun terkejut dengan aksi brutal Icha. Naena dan Bianca juga segera memisahkan Icha agar tidak memukul terus Gio. Bisa-bisa pukulan Icha mengenai kepala Gio yang diperban dan bisa lebih panjang masalahnya.
“Auw, Auw. Kamu seenaknya saja menuduhku” ucap Gio yang menghindar.
“Nah, sekarang kamu menawarkan bantuan, padahal kami tidak menceritakannya kepadamu? Kalau bukan kamu pelakunya, mana mungkin kamu bisa tahu semua?” Tanya Icha dengan ketus.
Tentu saja Icha marah. Karena semua koleksi kebaya rancangannya tidak ada yang selamat.
“Bianca ayo kita bicara” ucap Gio menatap Bianca.
“Biacaralah disini kepada kami” ucap Icha.
“Bianca aku ingin berbicara berdua denganmu” ucap Gio.
“Tidak bisa. Kami tidak akan membiarkan sahabat kami yang sudah menikah berdua dengan pria yang akan menikah” ucap Icha dengan ketus.
“Bianca kamu yakin, ini untuk kelangsungan Management kalian” ucap Gio.
Bianca pun berpikir, sebenarnya dia juga ingin tahu apa benar yang Icha tuduhkan kepada Gio itu. Tetapi kalau benar masa iya Gio mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan Bianca. Bianca pun benar-benar bingung dengan semua masalah ini.
“Bii, kamu coba berbicara dengannya ya. Kita akan menunggu di belakang” ucap Naena.
“Na, jangan” ucap Icha.
“Cha, kita mau masalah kita selesaikan. Jadi biarkan Bianca bicara dengan Gio. Kita tetap ada di dekat mereka” ucap Naena.
“Okey” ucap Icha.
Bianca pun keluar dari mobil Icha dan melangkah menghampiri Gio yang sudah melangkah menjauh dari mobil Icha.
“Bicara disini saja” ucap Bianca berdiri di depan Gio.
Bianca sengaja berdiri di depan Gio yang masih bisa terlihat oleh Icha dan Naena.
Mata Gio terus menatap ke belakang Bianca. Gio melihat ada mobil yang sepertinya sedang berjalan ke arah mereka. Dan dengan sengaja mobil itu berjalan hingga ingin menyerempet Bianca dengan sangat cepat.
Gio pun segera menarik tangan Bianca lalu memeluknya dan menghindari mobil itu. Bianca terkejut lalu dengan cepat dia melepaskan pelukan Gio dan mendorong Gio.
“APA YANG KAMU LAKUKAN?” Bentak Bianca tidak suka.
“Kamu hampir saja di tabrak oleh mobil itu” ucap Gio menunjuk mobil yang sudah keluar dari parkiran.
“Jangan bohong” ucap Bianca.
“Aku tidak bohong, tanya saja kedua sahabatmu disana” ucap Gio menunjuk ke arah Icha dan Naena.
Bianca pun menatap ke arah mobil Icha. Disana Icha dan Naena terliha sama-sama terkejut dengan apa yang terjadi dan mereka lihat tadi.
“Apa ini juga termasuk perbuatanmu?” Tanya Bianca.
“Kamu masih saja curiga kepadaku” ucap Gio menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tentu saja Bianca bingung karena Gio sepertinya selalu tahu Bianca dalam bahaya.