Bianca menghentikan langkahnya di ruang tamu. Bianca tidak melanjutkan langkahnya karena suaminya sudah pergi. Momen yang seharusnya dia lakukan menemani suaminya berangkat dan menggendong anaknya kini digantikan oleh Mami.
Bianca menelan salivanya. Hatinya tercubit karena Mami dan willy kini tidak menganggapnya sama sekali. Bianca hanya bisa tersenyum kecut.
“Tenang Bii. Kamu harus tetap kuat” ucap Bianca menyemangati dirinya sendiri.
Setelah Willy pergi Mami pun juga pergi dan memberikan Aditya kepada Mina. Mami juga pulang tidak berpamitan kepadanya, padahal Mami tahu ada Bianca di ruang tamu. Bianca hanya tetap berdiri dan diam melihat Mami pergi.
Siang hari Bianca sedang menyusui Aditya. Bianca memegang ponselnya sejak Willy berangkat kerja, Willy sama sekali tidak menghubunginya. Bianca menciumi puncak kepala Aditya. Bianca berpikir apa dia harus mencoba menghubungi Willy atau tidak. Tapi kalau dia menghubungi Willy, lalu Willy kembali marah kepadanya bagaimana?
Bianca menghela nafasnya, lalu menatap Aditya yang sudah terlelap. Bianca dengan pelan-pelan bangun dari ranjang. Bianca melangkah keluar dari kamar Aditya. Rencananya Bianca akan tetap mencoba menghubungi Willy.
Baru saja Bianca keluar dari kamar Aditya ponselnya bergetar. Bianca pun langsung melihat siapa yang menghubunginya ternyata Icha. Bianca melangkah ke ruang televisi dan menerima telepon dari Icha.
“Halo Cha” ucap Bianca.
“Bii aku sudah kirm draft desain permintaan Selena ke emailmu kemarin sore. Kamu sudah melihatnya” ucap Icha.
Bianca menghela nafasnya. Sejak kemarin dia tidak mengecek email masuk diponselnya sama sekali.
“Belum” ucap Bianca.
“Oh begitu. Ya, nanti kamu cek ya. Kalau ada yang kurang jelas kamu bisa kabari aku. Biar aku yang tanyakan kepada Selena” ucap Icha.
“Okey” ucap Bianca.
“Bii, minggu depan kita akan mulai kembali menjahit kebaya. Kebetulan Pak Tho akan kembali minggu depan. Aku membuat perubahan sedikit dari desain kebaya kita Bii” ucap Icha.
“Iya tidak apa-apa Cha. Bagus itu” ucap Bianca.
“Iya Bii. Oh ya, Willy sudah pulang ya?” Tanya Icha.
“Sudah Cha” ucap Bianca.
“Hem, bagaimana masalah kalian?” Tanya Icha.
“Sepertinya dia masih marah Cha” jawab Bianca.
“Kamu yang sabar ya. Aku yakin Willy nanti akan mengerti. Apa perlu aku dan Naena membantumu membicarakan semuanya kepada Willy?” Tanya Icha.
“Terima kasih Cha. Aku akan mencoba menjelaskan semuanya kepada Willy dulu. Kalau aku butuh bantuan kalian aku pasti menghubungi kalian” ucap Bianca.
“Okey. Kamu tetap sabar dan tenang ya” ucap Bianca.
“Iya, terima kasih ya” ucap Bianca.
Bianca mengecek email dari Icha. Bianca pun membaca draft yang Icha berikan. Permintaan Selena tidak terlalu sulit. Dia hanya sederhana, dia minta dekorasi dengan tema berwarna biru muda, dan memakai adat sunda modern.
Bianca melihat sudah jam satu siang. Bianca berpikir apa Willy sudah makan siang atau belum ya? Bianca pun mencoba menghubungi Willy untuk menanyakan suaminya sudah makan siang atau belum. Kalau misal belum Bianca akan mencoba mengajak suaminya makan siang bersama.
“Halo Will” ucap Bianca.
“Ada apa?” Tanya Willy dengan nada dingin.
“Kamu sudah makan siang?” Tanya Bianca mencoba tetap tenang.
“Sudah bersama Doni” jawab Willy.
“Oh syukurlah. Aku kira kamu belum makan” ucap Bianca tersenyum sedih.
Bianca terdiam sebentar berharap Willy menanyakan dirinya sudah makan atau belum. Sayangnya pertanyaan itu sama sekali tidak keluar dari bibir Willy. Padahal hanya sedikit pertanyaan saja itu sudah bisa mengobati hati Bianca yang sedih saat ini. Satu perhatian kecil tapi sangat berharga bagi Bianca.
“Aditya sedang apa?” Tanya Willy.
Lagi-lagi Bianca tersenyum sedih. Willy tidak menanyakannya, tetapi menanyakan putra mereka. Tidak apa-apa yang penting Willy masih perhatian kepada anak mereka.
“Baru saja tidur” jawab Bianca.
“Oh” ucap Willy singkat.
“Will, nanti malam kamu makan malam di rumah seperti biasakan” ucap Bianca.
“Aku pulang larut malam ini” ucap Willy.
“Jam berapa?” Tanya Bianca.
“Tidak tahu” ucap Willy.
“Aku akan menunggumu. Kita makan malam bersama ya” ucap Bianca dengan sengaja memaksa agar dia dan Willy bisa makan malam bersama.
“Terserah” ucap Willy singkat.
“Baiklah, aku akan menunggumu pulang malam nanti” ucap Bianca sedikit senang.
Malam ini Bianca sudah menyiapkan kembali makan malam. Karena tahu Willy akan pulang larut Bianca menyiapkan makan malam jam sepuluh setelah Aditya sudah tidur. Bi Inah pun ikut membantu Bianca menyiapkan makan malam.
Untuk malam ini Bianca tidak banyak memasak, Bianca hanya membuat mie goreng dan salad buah-buahan saja. Setelah semuanya siap Bianca pun menunggu Willy pulang. Bianca duduk di ruang tamu. Bianca ingin dia yang membukakan pintu suaminya.
Setidaknya dimulai dari malam ini dia akan mencoba untuk berbicara baik-baik kepada Willy. Bianca berharap malam ini Willy mau mendengarkan semua penjelasannya. Karena Bianca tidak ingin terus bertengkar seperti ini. Bianca ingin rumah tangganya kembali harmonis.
Satu jam tidak ada tanda-tanda Willy pulang. Bianca memakluminya, karena Willy memang akan pulang larut. Bianca pun di ruang tamu membawa sketsbook-nya. Sambil menunggu Willy Bianca menggambar sketsa dekorasi untuk pernikahan Selena.
Dua jam berlalu sudah, Bianca juga sudah hampir menyelesaikan desain pelaminan Selena. Willy belum juga ada tanda-tanda datang. Bianca terus menyelesaikan desainnya. Sketsa pelaminan dan gedungnya sudah selesai. Kini Bianca hanya tinggal memberi warnanya saja.
Bianca menguap. Ini sudah beberapa kali menguap. Bianca melihat jam di tangannya. Bianca menghela nafasnya. Sudah jam satu dini hari. Tidak terasa Bianca sudah lama menunggu Willy. Untung saja Bianca sambil membuat sketsa dekorasi sehingga Bianca tidak terlalu merasa bosan.
Bianca pun berdiri, lalu Bianca melangkah ke arah jendela. Bianca membuka gordennya sedikit dan mengintip keluar. Sepi dan sunyi, tidak ada tanda-tanda kepulangan Willy. Bianca berbalik, Bianca merapikan alat tulis dan bukunya, lalu dia bawa ke kamarnya dan menyimpannya.
Bianca mengambil ponselnya. Bianca menyalakan ponselnya, Willy sepertinya juga tidak menghubunginya ataupun memberikan pesan. Akhirnya Bianca pun mencoba menelepon Willy. Tidak ada salahnya dia menghubungi suaminya, ini sudah jam satu dini hari jadi wajar jika dia menghubungi suaminya.
“Ada apa?” Satu pertanyaan dengan ketus terdengar saat Willy mengangkat telepon dari Bianca.
“Kamu dimana?” Tanya Bianca.
“Masih dikantor” jawab Willy.
“Ini sudah jam satu malam. Kamu belum pulang?” Tanya Bianca yang mencoba tetap bersabar.
“Aku sudah katakan bukan kalau aku akan pulang larut” jawab Willy.
“Iya aku tahu. Tapi setidaknya kamu pulang dan beristirahat. Besok pagi kamu bisa kembali menyelesaikan pekerjaanmu” ucap Bianca.
“Jangan terlalu banyak mengatur hidupku” ucap Willy ketus.
Bianca mencengkram ponselnya. Willy masih saja dingin dan kasar kepadanya.
“Kamu pulang jam berapa?” Tanya Bianca.
“Aku tidak tahu” jawab Willy.
“Kalau begitu aku yang akan datang ke kantormu. Pasti kamu belum makan malam” ucap Bianca.
“Kamu akan kesini dan meninggalkan Aditya sendirian di rumah” ucap Willy dengan kesal.
“Oh ya, aku lupa kalau kamu memang sering meninggalkan Aditya sendirian di rumah” ucap Willy dengan nada menyindir.
“Aku tidak seperti itu Will. Lagi pula Aditya sekarang sudah tidur dan ada Mina juga Bi Inah” ucap Bianca mencoba menahan emosinya.
Padahal di dalam hatinya sudah menangis, karena Willy terus saja menuduhnya macam-macam.
“Terlalu banyak alasan” ucap Willy.
“Aku akan siap-siap” ucap Bianca dengan sengaja tidak menimpali ucapan Willy.
“Kemana?” Tanya Willy kasar.
“Ke kantormu” jawab Bianca.
“Jangan macam-macam Bii” ucap Willy.
“Aku tidak macam-macam. Aku hanya ingin datang ke kantor suamiku dan mengajaknya makan malam bersama apa itu salah?” Tanya Bianca yang akhirnya air mata pun menetes di pipinya.
“Aku akan pulang sekarang” ucap Willy.
Bianca terdiam, akhirnya sikap nekatnya yang dia sengaja lakukan agar Willy luluh dan pulang berhasil. Sebenarnya Bianca juga hanya menggretak Willy saja kalau dia akan mendatangi kantor Willy. Ini sudah larut malam, Bianca juga tidak akan tega meninggalkan Aditya.
Tetapi jika tadi Willy masih keras kepala dan tidak akan menjawab dia pulang kapan. Bianca mungkin juga akan keras kepala untuk ke kantor Willy. Bianca mungkin akan meminta Pak Eko menyupirinya.
Untungnya Willy luluh, dia akan pulang. Bianca pun lega, dan kini Bianca menunggu Willy di ruang tamu. Tidak apa dia akan menunggu Willy, yang penting saat ini suaminya dalam perjalanan pulang. Jarak kantor Willy dari rumah juga tidak begitu jauh. Jika jalanan lancar seperti malam hari ini, sepuluh menit juga akan sampai.