Benar dugaan Bianca sepuluh menit setelah Willy mengatakan dia akan pulang sekarang, kini suara mobil sudah terdengar di depan rumahnya Bianca pun bergegas berdiri dan membukakan pintu untuk Willy.
Bianca membuka pintu dan memasang senyum di wajahnya. Willy melangkah menuju pintu dan berhenti di depan Bianca. Tanpa Willy sadari Bianca segera memeluk dan mencium pipinya.
“Terima kasih kamu sudah pulang” ucap Bianca.
Bianca menggandeng tangan Willy dan mengajaknya masuk. Bianca melangkah membawa Willy ke ruang makan. Bianca menarik kursi untuk Willy. Lalu membalikkan piring yang ada di atas meja. Bianca menuangkan air putih ke dalam gelas untuk Willy.
“Kamu mau aku bikinkan kopi atau teh manis hangat?” Tanya Bianca.
“Tidak perlu cukup air putih saja” ucap Willy menegak gelas air berisi air putih yang sudah dituangkan oleh Bianca.
Bianca menyendokkan mie goreng ke dalam piring Willy. Lalu saat Bianca ingin menyendokkan nasi, Bianca bertanya kepada Willy dia mau pakai nasi atau tidak.
“Mau pakai nasinya?” Tanya Bianca dengan semangat.
“Tidak, ini saja cukup” ucap Willy.
Bianca senang sekali, setidaknya Willy tidak ketus atau bersikap dingin. Bianca duduk di samping Willy dan ikut menyendok mie goreng ke dalam piringnya.
Di tengah malam ini Bianca bersama Willy menikmati makan mie goreng bersama. Walaupun mie goreng itu sudah dingin, tetapi Bianca merasa semangat untuk memakannya kali ini, karena akhirnya dia bisa makan dalam satu meja lagi dengan suaminya. Makan Bianca pun lahap malam ini berbeda saat dia makan tadi pagi dan siang hari.
“Kamu mau nambah?” Tanya Bianca ketika melihat mie goreng di piring Willy sudah habis.
“Tidak” jawab Willy singkat.
“Okey” ucap Bianca.
Bianca pun menghentikan aktivitas makannya yang tinggal sedikit lagi, lalu dia menuangkan kembali air putih ke dalam gelas Willy yang masih kosong. Setelah itu Bianca melanjutkan makannya kembali.
Bianca pun menyelesaikan makannya lalu dia meminu air putih di gelasnya. Willy masih duduk di tempatnya. Hati Bianca senang sekali Willy masih duduk di ruang makan menunggunya selesai makan.
“Kamu mau aku siapkan air panas untuk mandi?” Tanya Bianca.
“Tidak aku bisa sendiri” ucap Willy.
“Atau mau aku temani mandi?” Tanya Bianca dengan nada meledek.
Willy pun menatap Bianca dengan tajam.
“Tidak, aku bisa sendiri” ucap Bianca sambil terkekeh.
Bianca sengaja langsung menjawab pertanyaannya sendiri, karena dia tahu Willy pasti akan menjawab tidak aku bisa sendiri. Bianca pun sengaja untuk tetap tersenyum di hadapan suaminya. Padahal di dalam hatinya Bianca sedih suaminya selalu menolak apa yang dia tawarkan.
“Aku akan merapikan piring kotor, kalau kamu mau mandi, silahkan mandi saja aku bisa sendiri di dapur” ucap Bianca sambil berdiri mengambil piring kotor bekas dirinya dan Willy.
Bianca melangkah ke dapur membawa piring kotor. Bianca pun menoleh sekilas dan melihat Willy juga sudah berdiri dan hendak melangkah. Bianca pun memilih melanjutkan langkahnya menuju dapur. Bianca meletakkan piring kotor ke dalam wastafel.
Bianca menyalakan kran air hingga airnya mengalir keluar. Bianca sengaja mendiamkan air itu keluar tetapi dia belum melanjutkan aktivitas mencucinya. Punggung Bianca bergetar yang menandakan bahwa dia menangis di depan wastafel.
“Kenapa sesakit ini rasanya diabaikan oleh suami sendiri?” Tanya Bianca di dalam hatinya.
Bianca pun masih terisak. Bianca tidak bisa membohongi hatinya saat ini. Sakit suaminya masih saja marah kepadanya. Walau Bianca sudah sedikit senang karena bisa makan malam bersama, tapi semua penolakkan Willy membuat hatinya tidak kuat.
Willy adalah pria yang Bianca sangat cintai. Dan Bianca sungguh tidak kuat menerima semua perlakuan Willy kepadanya. Mungkin dulu saat rasa cinta Bianca belum begitu dalam Bianca bisa mencoba untuk melawan dan meminta berpisah.
Tetapi saat ini Bianca akui rasa cintanya kepada Willy begitu dalam ditambah mereka sudah mempunyai Aditya. Bianca tidak berani meminta untuk berpisah. Untuk melawan saja Bianca tidak mau, karena Bianca tahu Willy sangat keras jadi Bianca mencoba mengalah dan bersabar.
Tanpa Bianca sadari Willy memperhatikannya dari balik dinding. Willy melihat Bianca terdiam dan punggungnya bergetar. Willy akui hatinya pun sakit saat ini melihat istrinya menangis. Tetapi Willy harus berbuat bagaimana? Bianca sudah mengkhianatinya saat ini.
“Semoga kamu bisa sadar dan mengakui semua kesalahanmu Bii” ucap Willy pelan.
Willy pun berbalik dan melangkah pergi menuju kamar.
Bianca sudah selesai mencuci piring, lalu dia juga sudah selesai merapikan meja makannya. Bianca melihat jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Bianca pun juga sudah mengantuk dan berkali-kali menguap.
Sebelum menuju kamarnya, Bianca mencuci wajahnya dan memastikan wajahnya tidak terlihat sembab karena menangis. Bianca tidak ingin Willy tahu kalau dia menangis. Bianca pun melangkah menuju kamar setelah semuanya sudah rapi.
Bianca membuka pintu kamarnya dan melangkah menuju lemari. Bianca melihat Willy sudah terlelap di balik selimut. Bianca tersenyum sedih. Bianca pun menggelengkan kepalanya. Sudahlah dia tidak mau memikirkan kesedihan lagi, yang terpenting malam ini Willy bisa tidur lagi dalam satu ranjang bersamanya.
Bianca melangkah ke kamar mandi. Bianca mengganti pakaiannya lalu menggosok giginya. Setelah ritual sebelum tidurnya selesai, Bianca menuju ranjangnya. Bianca naik ke ranjang dan bergabung bersama dengan Willy.
Sesaat Bianca menatap punggung Willy, karena Willy tidur memunggunginya. Bianca tahu pasti Willy saat ini tidak ingin dia ganggu. Bianca pun berbalik ikut memunggungi Willy. Bianca mencoba memejamkan matanya. Lagi-lagi satu tetes air mata keluar.
Willy tidak pernah seperti ini. Setiap tidur pastilah dia memeluk Bianca sebagai gulingnya. Tetapi malam ini melihatnya saja tidak. Bianca tetap memejamkan matanya, punggungnya yang bergetar sebentar segera dia tahan.
Bianca tidak ingin menangis lagi. Bianca tidak ingin Willy melihatnya menangis. Bianca ingin tunjukkan kalau memang Bianca tidak salah dan tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Gio. Jadi Bianca harus tetap tenang.
Pagi ini Bianca bangun lebih pagi. Bianca melihat Willy masih dalam posisinya. Bianca beranjak dari ranjangnya. Lalu dia melangkah menghampiri Willy. Bianca menunduk dan mendekatkan wajahnya ke wajah Willy, lalu Bianca mengecup bibir Willy sekilah.
“Selamat pagi” ucap Bianca.
Bianca terdiam sebentar menunggu respon suaminya. Tidak ada respon apa-apa. Bianca pun memilih untuk melangkah ke kamar mandi. Tenang dan sabar itu yang selalu Bianca ucapkan di dalam hatinya. Biasanya setiap bangun tidur selalu ada ciuman selamat pagi. Biarlah kini hanya Bianca yang mencium Willy. Setidaknya Bianca akan tetap melakukan kebiasaannya yang biasa dia lakukan bersama Willy.
Bianca mencuci wajahnya, menggosok gigi. Setelah selesai Bianca segera pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Di dapur seperti biasa sudah ada Bi Inah yang sedang menyiapkan untuk sarapan pagi.
“Pagi Bu” ucap Bi Inah.
“Pagi Bi” ucap Bianca.
“Hari ini mau masak apa Bu?” Tanya Bi Inah.
Bianca berpikir sebentar. Dia ingat kalau kemarin masakan yang dia masak untuk sarapan tidak disentuh sama sekali oleh Willy. Willy justru memilih menghubungi Mami untuk membuatkannya nasi goreng. Sudahlah mau dimakan atau tidak yang terpenting Bianca sudah membuatkan sarapan untuk suaminya.
Lalu Bianca mengingat semalam Willy sudah mau makan masakannya. Semoga saja pagi ini Willy mau juga makan masakannya. Bianca pun memilih untuk membuat masakan yang simple.
“Bi bantu aku siapkan sayuran ya. Aku mau membuat nasi goreng sayur saja dan telur dadar” ucap Bianca.
“Baik Bu” ucap Bi Inah.
Bianca pun segera berkutik di dapur membuat nasi goreng sayuran dan telur dadar di bantu oleh Bi Inah. Nasi goreng dan telur dadar tidak butuh waktu lama. Tiga puluh menit Bianca sudah selesai dan masaknnya sudah tersaji di atas meja. Tidak lupa Bianca menyiapkan secangkir kopi dengan sedikit gula untuk Willy.
Bianca menuju kamarnya untuk mandi. Ternyata di kamar mandi sudah ada Willy, karena di ranjang kini sudah kosong. Bianca memilih untuk merapikan ranjangnya. Setelah selesai meraikan ranjang Bianca beralih ke arah lemari.
Bianca mengambilkan kemeja berwarna putih, lalu jas berwarna navy dan celana panjang dengan warna yang sama. Bianca pun mengambilkan dasi bergaris-garis. Bianca meletakkan pakaian Willy di atas ranjang.
Pintu kamar mandi terbuka, Willy pun keluar menggunakan bathrobe berwarna putih. Bianca tersenyum menatap suaminya. Sedangkan yang di tatap hanya membuang pandanganya dan enggan melihat Bianca.
“Aku sudah menyiapkan kemeja dan jas kamu” ucap Bianca.
“Ya” jawab Willy.
Suasana canggung pun mulai terasa. Biasanya mereka tidak seperti ini, tetapi karena sikap Willy yang dingin ini membuat Bianca juga menjadi canggung pada suaminya sendiri.
“Aku mandi dulu ya. Nanti kita sarapan bersama ya. Aku sudah membuat nasi goreng sayur dan telur dadar” ucap Bianca.
“Ya” jawab Willy.
Bianca pun tersenyum, lalu dia melangkah ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya. Untuk saat ini Bianca sengaja akan mempercepat waktu mandi agar Willy tidak terlalu lama menunggunya. Bianca sampai tidak mencuci rambutnya pagi ini. Bianca hanya menggunakan pewangi rambut agar rambutnya tidak tercium aroma ranjangnya.