Sudah tiga hari tidak ada keributan diantara Bianca dan Willy. Tentu saja itu membuat Bianca senang. Ya, walaupun sikap Willy masih dingin kepadanya. Willy juga kini selalu bisa sarapan dan makan malam bersama Bianca. Tidak ada lagi moment Willy menghubungi Mami untuk membuatkan sarapan untuknya.
Sebenarnya ini adalah hari sabtu. Tadinya Bianca ingin meminta Willy mengajaknya dan Aditya jalan-jalan. Tetapi pagi tadi Willy berangkat ke kantor, dia bilang ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Bianca pun tidak jadi mengatakan kalau dia ingin meminta Willy mengajaknya jalan-jalan.
“Bu, tidak jadi pergi?” Tanya Bi Inah yang baru saja pulang dari pasar.
“Tidak Bi. Willy sedang ada pekerjaan” jawab Bianca sambil tersenyum.
“Oh begitu. Ibu mau Bibi buatkan minuman?” Tanya Bi Inah.
“Terima kasih Bi. Nanti kalau saya mau, saya panggil Bibi. Bibi rapikan saja dulu belanjaannya” ucap Bianca.
“Baik Bu. Bibi permisi ya” Bi Inah.
Bianca tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Bukan hanya Bianca yang senang tidak ada keributan lagi, tetapi Bi Inah, Mina dan jug Pak Eko mereka bertiga yang sering berbincang bersama menceritakan sedihnya mereka melihat Bianca dan Willy yang tidak akur pun kini terlihat senang. Ya, tentu saja semua itu mereka lihat dari wajah Bianca yang tidak terlihat sedih ataupun sembab karena setelah menangis.
Bianca kini hanya menonton televisi, di sampingnya ada Mina dan Aditya. Ponsel Bianca berdering, dengan cepat Bianca meraihnya karena Bianca kira itu adalah Willy. Tetapi senyum diwajahnya menghilang ketika melihat nomor yang Bianca tahu itu adalah nomor Gio.
Bianca terdiam melihat layar ponselnya. Padahal sudah bagus sekali semenjak Willy pulang pria ini tidak menghubunginya. Tetapi kini pria ini menghubunginya lagi. Ya, walaupun Gio sudah cukup banyak membantunya, tetapi Bianca tidak ingin membuat Willy kembali marah.
Bianca pun akhirnya memilih untuk menolak panggilan dari Gio. Lalu Bianca juga terpaksa memblokir nomor Gio itu agar tidak bisa menghubunginya lagi. Biarlah jika Gio ingin membicarakan tentang acara pernikahan Selena bisa dengan Icha dan Naena. Karena Bianca juga sudah mengataka kepada Icha dan Naena kalau Bianca untuk menghandle acara pernikahan Selena.
Tugas Bianca membuat dekorasi sudah selesai dan Icha bilang Selena senang melihat hasil dekor Bianca. Jadi sudah tidak ada yang harus Bianca lakukan lagi. Bianca melakukan semua ini hanya agar rumah tangganya dengan Willy tetap baik-baik saja dan tidak bertengkar lagi.
Lima menit setelah Bianca memblokir nomor Gio, kali ini Selena yang menghubunginya. Bersamaan dengan itu Willy sudah pulang. Bianca yang tahu pasti Gio yang menghubunginya menggunakan nomor Selena pun terpaksa tidak mengangkatnya. Bianca memilih untuk menghampiri Willy.
“Kamu sudah pulang Will, aku buatkan kopi ya” ucap Bianca.
“Ya” jawab Willy singkat.
Bianca pun tersenyum lalu segera melangkah ke dapur untuk membuatkan kopi. Sementara itu Willy memilih ke kamar untuk mengganti pakaiannya dan cuci tangan sebelum menemui Aditya. Ketika sudah selesai membuatkan kopi Bianca pun membawa kopi itu ke ruang televisi, karena Bianca tahu Willy pasti akan kesana menemui Aditya.
Bianca melangkah dengan tersenyum-senyum sambil memikirkan dia akan mencoba berbicara dengan Willy dan meminta untuk sore ini mereka bisa jalan-jalan keluar bersama. Bianca rindu sekali bisa keluar bersama Willy lagi.
Saat sudah sampai ruang televisi senyum di wajah Bianca memudar, ketika melihat Willy sedang memegang ponsel Bianca dengan wajah dinginnya. Pikiran Bianca pun langsung berkelana bahwa Gio masih menghubunginya lalu Willy yang mengangkatnya. Bianca pun mulai ketakutan akan Willy kembali marah padanya.
“Tenang Bii, kamu tidak melakukan apa-apa dengan Gio, jadi jangan takut. Katakan saja yang sebenarnya” batin Bianca menyemangatinya.
Bianca pun melanjutkan langkahnya untuk menghampiri Willy. Lalu Bianca melihat Mina melangkah pergi membawa Aditya. Bianca yakin pasti Willy yang meminta Mina pergi membawa Aditya, dan itu tandanya Willy memang mau marah kepadanya. Bianca mencoba tetap tenang.
“Ini kopinya Will” ucap Biancamemperlihatkan kopi di tangannya.
Akhirnya yang Bianca takutkan pun terjadi. Willy menghempaskan tangan Bianca yang memegang kopi hingga cangkir kopi yang di tangan Bianca terlempar. Bianca pun terkejut, di tambah kopi yang masih panas itu sedikit mengenai tangannya.
“Will ada apa?” Tanya Bianca.
“Apa maumu?” Tanya Willy dengan nada dingin.
“Mauku, tentu saja kita seperti biasa lagi. Tidak bertengkar” jawab Bianca.
“Tapi kenapa kamu berbohong kepadaku?” Tanya Willy sambil membanting ponsel Bianca ke lantai.
Bianca melihat ponselnya yang langsung retak dan Bianca yakin pasti ponselnya rusak saat itu juga. Bianca memejamkan matanya, bukan masalah ponselnya rusak yang membuat Bianca sedih. Tetapi ketidak percayaan Willy kepadanya.
“Will aku tidak berbohong” ucap Bianca.
“Kamu masih saja mengelak. Jelas-jelas selingkuhanmu itu menghubungimu dan sepertinya kamu sengaja menamainya kontaknya dengan nama seorang wanita. Itu agar bisa mengelabui dirku rupanya” ucap Willy menatap Bianca tajam.
Benar dugaan Bianca Willy pasti mengangkat telepon dari Selena yang ternyata itu adalah Gio. Bianca menatap Willy dan mencoba menjelaskan yang sebenarnya.
“Will nomor itu memang nomor Selena” ucap Bianca.
“Oh, jadi kamu sudah tahu kalau dia sejak tadi menghubungimu. Lalu saat aku pulang kamu sengaja tidak mengangkatnya agar tidak ketahuan denganku” ucap Willy.
“Apa saja yang sudah kalian lakukan bersama, bertemu, pegangan tangan, berpelukan, berciuman, atau kalian sudah sampai tidur bersama” sindir Willy.
“CUKUP WILL” ucap Bianca dengan nada membentak dan menampar Willy karena sudah tidak tahan dengan tuduhan Willy yang memang tidak benar itu.
“Kau berani menamparku” desis Willy mencengkram tangan Bianca.
“Maaf” lirih Bianca.
“Aku marah karena kamu menuduhku dengan perbuatan yang tidak aku lakukan” ucap Bianca menatap Willy sedih.
“Aku benci wanita pembohong” ucap Willy sambil mendorong tubuh Bianca hingga terjatuh duduk di sofa.
“Will ayo kita bicara” ucap Bianca yang masih mencoba tidak emosi seperti tadi.
“Ini kita sedang bicara” ucap Willy.
“Tolong jangan gunakan emosimu dulu. Tolong dengarkan semua penjelasanku dulu” ucap Bianca memohon.
“Semuanya sudah jelas” ucap Willy.
“Will aku mohon dengarkan semua penjelasanku” ucap Bianca berlutut di kaki Willy.
“Apa lagi yang mau kamu tutupi dariku?” Tanya Willy.
“Tidak ada Will, aku ingin mengatakan yang sebenarnya agar kamu tidak salah paham lagi kepadaku” ucap Bianca.
“Salah paham. Kamu pikir aku salah paham kepadamu. Lalu yang aku lihat kamu berpelukan, berdekatan dan jalan bersama dengan pria selingkuhanmu itu kamu bilang aku salah paham” bentak Willy yang emosi lalu menampar pipi Bianca.
Willy kini diselimuti kembali amarahnya ketika mengingat semua foto-foto Bianca bersama Gio yang sudah dia bakar.
Bianca memejamkan matanya lalu memegang pipinya yang terasa perih karena tamparan Willy. Bianca pun meneteskan air matanya melihat Willy tidak percaya kepadanya dan kembali kasar kepadanya.
“Will” lirih Bianca.
Bianca tidak dapat berpikir lagi dengan yang Willy tuduhkan kepadanya. Hatinya saat ini kecewa kepada Willy. Sepertinya saat ini percuma Bianca menjelaskan yang sebenarnya kepada Willy. Willy masih diselimuti amarahnya dan tidak akan mendengarkannya.
“Kenapa diam?” Tanya Willy menatap Bianca tajam.
Bianca kembali menatap Willy. Bianca pun berdir dan langsung memeluk Willy. Tetapi dengan cepat Willy melepaskan pelukan Bianca dan mendorongnya kembali hingga kembali terduduk di sofa.
“Aku tidak suka tubuh kotormu yang sudah disentuh oleh pria selingkuhanmu itu” ucap Willy.
Bianca mencengkram kedua tangannya. Bianca mencoba tahan dan menahan emosinya, tetapi Willy terus saja menuduhnya melakukan perselingkuhan yang jelas-jelas tidak Bianca lakukan. Apalagi Willy sampai menuduh kalau Bianca sudah tidur dengan Gio.
Bianca pun menangis dia tidak menyangka Willy berpikiran pendek sekali. Tidak bisakah Willy berpikir jernih. Mereka sudah melalu masalah yang besar bersama-sama. Tetapi kenapa Willy masih belum percaya kepadanya.
“Aku baru tahu kamu wanita seperti ini. Jangan harap aku mau memelukmu, aku tidak sudi memeluk tubuhmu yang pernah disentuh laki-laki itu” ucap Willy.
Bianca sudah tidak kuat dengan tuduhan Willy itu. Bianca yang sudah menahannya pun sepertinya sudah mulai tidak tahan lagi. Bianca berdiri dia menghapus air matanya, bagi Bianca percuma dia menangis Willy juga tidak akan pernah percaya kepadanya.
“Cukup Will” ucap Bianca menatap Willy.
“Terus saja kamu tuduh aku. Aku mencoba berbicara yang sebenarnya juga percuma kamu tidak akan percaya” ucap Bianca lagi.
“Tentu saja” ucap Willy.
“Kalau begitu teruskanlah sampai kamu menyesal” ucap Bianca yang memilih pergi untuk mengakhiri pertengkaran ini.