Bianca memilih untuk melangkah pergi meninggalkan Willy. Bianca tidak ingin hatinya bertambah sakit jika terus bertengkar dengan Willy.
“Mau kemana kamu?” Desis Willy menahan tangan Bianca.
“Aku tidak mau melanjutkan pertengkaran ini” ucap Bianca.
“Kamu mengakuinya kalau memang kamu salah” ucap Willy tajam.
Bianca pun berbalik menatap Willy.
“Ya aku mengakui kalau aku memang sudah salah” ucap Bianca.
Willy mendengarnya bertambah emosi karena Bianca akhirnya mengakui perselingkuhannya. Kedua tangamnya pun mencengkram tangan Bianca dengan keras.
Bianca merasakan pergelangan tangannya terasa sakit dan perih karena Willy mencengkramnya dengan keras.
“Aku mengakui kalau aku salah karena sudah membohongimu waktu itu. Dan aku mengakui kalau aku kini telah salah menilaimu. Aku kira kamu sudah menjadi orang yang lebih dewasa ternyata, kamu masih saja seperti ini. Kita pernah berjanji untuk saling percaya bukan. Tapi mana janjimu. Kamu tidak percaya kepadaku” ucap Bianca.
Tentu saja Willy tidak terima dengan ucapan Bianca itu.
“Kamu yang sudah menyia-nyiakan kepercayaanku. Kenapa kamu yang menyalahkanku” ucap Willy.
“Aku tidak menyalahkanmu. Tapi ini kenyataannya. Sudahlah, aku tidak ingin melanjutkan pertengkaran ini” ucap Bianca dengan suara mulai lemah.
“Apa maksudmu tidak ingin melanjutkan pertengkaran ini?” Tanya Willy.
“Jadi kamu masih ingin bertengkar, kalau begitu bertengkar saja sendiri. Aku ingin menidurkan Aditya” ucap Bianca yang hendak berbalik.
“Kamu ingin meninggalkanku” desis Willy tajam kembali menarik tangan Bianca.
Bianca menatap Willy. Dia mengambil nafas dalam-dalam.
“Apa kamu ingin aku melakukan itu semua?” Tanya Bianca.
“Jangan berharap kamu bisa pergi dariku. Aku pastikan tidak akan memberikan kamu kebebasan begitu saja. Kamu pikir aku akan menceraikanmu agar kamu bisa bersama pria selingkuhanmu itu. Tentu saja aku tidak akan membiarkan kalian bahagia bersama” ucap Willy panjang lebar.
Bianca menggelengkan kepalanya. Willy diselimuti amarahnya dan tidak bisa berpikir jernih.
“Aku sudah pernah meninggalkanmu dulu bukan. Kamu masih tidak belajar dari peristiwa lalu. Aku meninggalkanmu, lalu kamu menyesalinya dan ketika kamu sudah sadar, ternyata kecelakaan yang akhirnya memisahkan kita dalam waktu yang panjang. Apa kamu ingin kita seperti itu lagi agar kamu menyadarinya?” Tanya Bianca menatap Willy.
Willy menatap Bianca dengan tatapan tajam.
“Aku tidak ingin itu terjadi lagi. Diantara kita sudah ada Aditya. Dan yang lebih penting dari itu adalah aku sangat mencintaimu dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu walau apapun yang terjadi. Berpisah darimu membuat hatiku hampa. Aku selalu merindukanmu” ucap Bianca.
“Satu lagi tuduhanmu yang mengatakan aku berselingkuh itu sangat menyakiti hatiku Will. Padahal aku tidak pernah melakukannya. Tetapi jika kamu tetap keras kepala menuduhku seperti itu, silahkan saja. Tapi sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengakuinya” ucap Bianca lagi.
Sore hari Bianca sudah memandikan Aditya. Sejak pertengkarannya dengan Willy siang tadi kini Bianca dan Willy belum saling berbicara lagi.
Bianca memilih untuk menghindari dari Willy. Bianca tidak ingin terjadi pertengkaran kembali dari rumah tangganya. Jika mereka terus bertengkar, Bianca takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Anak Mama sudah ganteng” ucap Bianca yang sudah selesai memakaikan baju Aditya.
Bianca lalu menggendong Aditya, lalu menyusuinya. Bianca menatap Aditya dengan tersenyum. Tetapi hatinya sampai saat ini masih sakit.
Willy di kamarnya baru saja selesai mandi. Dia keluar dari kamar mandi. Willy melihat bajunya sudah disiapkan oleh Bianca di atas ranjang. Tetapi Willy tidak melihat keberadaan Bianca di dalam kamar mereka.
Willy memakai baju yang Bianca siapkan. Setelah selesai Willy pun melangkah keluar dari kamarnya. Willy melangkah ke kamar Aditya. Willy ingin melihat wajah putra kecilnya itu untuk menghilangkan semua masalahnya.
Saat Willy membuka pintu terlihat Bianca sedang menyusui Aditya. Willy pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar. Willy tahu saat ini dia dan Bianca sama-sama dalam emosi. Dan Willy tidak ingin bertengkar di hadapan Aditya putra kecil mereka.
Willy merasa haus sekali, lalu dia melangkah menuju dapur untuk mengambil minum. Sebelum sampai dapur Willy menghentikan langkahnya ketika mendengar pembicaraan Bi Inah dan Minah di dapur
“Bi, kasihan Ibu ya. Padahal Ibu baik bangat” ucap Mina.
“Iya, Bibi juga tidak tega melihat Ibu sering menangis” ucap Bi Inah.
“Bi, ko Bapak tega ya bilang Ibu selingkuh. Padahal Ibu tidak melakukan apa-apa. Selama di rumah saja Ibu tidak pernah menelepon laki-laki, menerima tamu laki-laki saja tidak” ucap Mina.
“Ya, jelas tidaklah. Ibu itu cinta sekali sama Bapak. Waktu tahu Bapak mau pulang Ibu itu semangat sekali masak. Ibu sampai tidak sarapan untuk menunggu Bapak pulang. Sampai malam Ibu akhirnya tidak makan. Ibu menahan laparnya hanya untuk bisa makan bersama Bapak. Tapi Bapak tidak pulang dan baru pulang sepertinya tengah malam. Lalu Ibu tuh sering nangis. Apalagi saat pagi yang Bapak sudah pulang terus Ibu sudah siapin makan, eh Bapak milih menghubungi Ibu Mami minta dibuatkan nasi goreng. Masakan Ibu sama sekali tidak disentuh. Mereka berdua makan di ruang televisi dan Ibu makan sendirian di ruang makan. Ibu tuh nangis sedih bangat” ucap Bi Inah.
“Bi, jangan-jangan yang waktu itu aku bilang benar ya” ucap Mina.
“Bilang yang mana?” Tanya Bi Inah.
“Itu loh yang Bapak punya wanita lain. Coba Bibi pikir jelas-jelas Ibu baik-baik saja disini dan yang sering pergi Bapak. Harusnya Ibu yang curiga sama Bapak karena sering pergi” ucap Mina.
“Hush, jangan ngomong sembarangan. Nanti Ibu atau Bapak dengar kamu dimarahi” ucap Bi Inah memperingatkan Mina.
“Ya maaf Bi. Habis aku kasihan sama Ibu. Apalagi saat Bapak nampar pipi Ibu dan membentak-bentak seperti tadi siang. Aku tidak tega Bi” ucap Mina.
“Yasudah kita doakan saja semoga Ibu sama Bapak bisa segera baikan lagi seperti dulu” ucap Bi Inah.
“Bi aku kalau punya suami kayak Bapak, aku tinggalin. Enak saja main tangan, Bapakku dikampung saja tidak pernah mukul anak perempuannya. Ibu juga harusnya tinggalin saja Bapak. Biar tahu gimana rasanya kehilangan Ibu yang sangat baik” ucap Mina lagi.
“Lagi juga mana ada orang yang mau sama kamu yang cerewet gini. Sudah-sudah jangan ngomong macam-macam lagi, sana lihat Aditya” ucap Bi Inah meledek Mina.
Willy pun mengurungkan niatnya untuk ke dapur. Willy berbalik dan melangkah keluar. Willy tidal menyangka sampai pembantunya saja membela Bianca.
Willy duduk sendirian di bangku taman. Dia masih teringat ucapan Bi Inah dan Mina tadi. Willy pun hatinya menjadi kembali ragu. Dia pun jadi bertanya-tanya apa yang dia tuduhkan kepada istrinya itu benar atau tidak.
Willy baru tahu jadi waktu menunggunya pulang Bianca belum makan seharian. Lalu saat pulang juga Willy meminta jatah suaminya dan tidak menuntaskannya. Willy tahu Bianca juga sering menangis. Willy pun berpikir apa benar dia adalah pria yang jahat.
Tetapi jika Willy teringat akan foto-foto Bianca bersama Gio, dan ucapan Gunardi yang membuatnya panas membuat Willy bingung. Mami juga yang biasanya membela Bianca dan baik kepada Bianca kini terlihat menjauh. Willy jadi berpikir kalau Bianca memang selingkuh.
Willy memijit keningnya. Kepalanya sangat sakit memikirkan Bianca sebenarnya selingkuh atau tidak. Selama ini juga Bianca belum menjelaskan apa-apa. Bianca hanya mengatakan dia tidak selingkuh.
Jelas saja Bianca tidak menjelaskan apa-apa, Willy tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. Willy sudah terlanjur emosi kepada Bianca.
“Apa aku harus dengarkan saja dulu penjelasannya?” Tanya Willy dalam hatinya pelan.
“Kamu memberikan dia kesempatan untuk menjelaskan, itu tandanya kamu memberikan dia kesempatan untuk berbohong dan membela dirinya sendiri atas perselingkuhannya” ucapan Gunardi pun terngiang kembali di pikirannnya membuat Willy jadi semakin ragu dan bimbang.