Ini aneh. Dalam mimpiku, aku tidak bisa melihat wajah orang yang tidak kukenal di kehidupanku, alias wajah mereka akan terlihat samar-samar dan itu terjadi tidak hanya pada wajah, tetapi juga tubuh, meskipun itu bagian tubuh tertentu. Anehnya, kenapa aku bisa melihat wujud seorang lelaki dengan jelas di mimpiku? Apakah dia orang yang kukenal?
Berbekal rasa penasaran ala detektifku, akhirnya aku diam-diam terbang mengikutinya. Lelaki ini berjalan dengan santai. Mengenakan jaket kulit hitam, dan juga skinny jeans yang melekat di kaki rampingnya. Aku bisa melihat rambutnya yang agak bergelombang. Huh, parah sekali. Aku jadi semakin penasaran.
Suaranya, aku bisa lihat ia mengobrol di ponsel dan meskipun samar aku bisa mendengar suaranya dari kejauhan. Tapi, aku sama sekali tak mengenali suaranya. Siapa ya kira-kira dia? Jujur saja, aku hanya mengenal beberapa pria di hidupku. Selama hidup di panti asuhan, aku sama sekali tidak pernah bertemu dengan seorang pria selain pastur gereja karena panti asuhanku hanya menerima anak perempuan saja.
Lelaki yang kukenal pun bisa kuhitung pakai jari. Gerald, Mr.Hood, bosku di restoran, lalu... huh, astaga. Serius aku hanya kenal dua orang itu saja? Kehidupanku memang kacau ya. Aku bahkan belum pernah berkencan sama sekali. Jangankan pacarana, lelaki yang kukenal saja hanya dua orang.
Omong-omong, ternyata lelaki ini berjalan ke arah sebuah mansion.
Dari kejauhan aku bisa melihat mansion ini berpendar terang dan penuh hiruk pikuk dan hingar bingar suara gaduh. Sepertinya ada pesta di sana. Aku melihat puluhan mobil mewah berjajar di parkiran. Taman yang luas terhampar di depan mansion. Pohon besar ada di beberapa sudut taman, lengkap beserta kursi taman dan juga perkarangan bunga. Gila, baru kali ini aku melihat sebuah tempat sebegini mewahnya.
Aku berhenti terbang dan berjalan mengikutinya perlahan. Aku tahu, perlakuanku ini lebih seperti menguntit, tapi apa salahnya kulakukan ini di mimpiku sendiri? Aku bahkan pernah tidak sengaja melihat pasangan m***m yang melakukan hal tidak senonoh pada waktu tengah malam di sebuah taman kota, dan gilanya. Mereka benar-benar melakukannya di publik. Meskipun keduanya terlihat samar, aku tetap merasa jijik melihatnya.
Oke, aku juga tidak tahu mengapa aku bermimpi hal seperti itu oke? Pasti aku benar-benar kesepian. Apa sebaiknya aku mencari pacar ya? Hahahaha.
Asik dengan pikiranku sendiri, tiba-tiba saja lelaki itu berhenti berjalan dan membalikkan badan. Ia memiliki rahang yang lumayan tajam, dan wajahnya sangat putih dan bersih. Bibirnya tipis dan menawan. Aku bisa melihat matanya yang tiba-tiba mengeluarkan cahaya, dan melihat ke arahku seolah-olah ia bisa…melihatku?
Oh, aku juga tidak tahu mengapa ujung kalimatku terlihat seperti pertanyaan. Sebenarnya, ia bisa melihatku atau tidak? Sumpah, aku jadi takut, terlebih setelah melihat matanya yang tiba-tiba bercahaya. Aku akhirnya memutar balikkan badan, berniat untuk pulang.
Namun tubuhku langsung terasa dingin ketika sebuah tangan memegang pundakku dari belakang. Hal ini membuatku membalikkan tubuhku dan entah ini hanya ilusi mataku atau kenyataan, ternyata yang memegangku adalah lelaki yang sejak tadi kuikuti itu!
“Akhirnya aku menemukanmu, My Lady.”
Mataku mengerjap beberapa kali sambil menatap wajahnya penuh kebingungan. Sumpah demi tuhan, aku tidak pernah melihat wajahnya di restoran, atau mengenalnya di kehidupanku. T-tapi, aku tak bisa berhenti menatap wajahnya karena sangat tampan.
Ia mengerling sambil tersenyum, membuat poin pesonanya semakin meningkat sambil menarikku ke pelukannya seolah kami saling mengenal. Huh, ada apa ini? Apa aku kesepian ya sampai memiliki mimpi aneh begini. Masa aku bermimpi dipeluk orang asing, yang wajahnya sama sekali tidak samar-samar tapi sama sekali tak kukenali. Dan lagi, ia 100% tampan, yang sampai detik ini, aku merasa dia adalah orang dengan wajah tertampan yang pernah kutemui.
Eh, tapi. Tadi dia memanggilku kan? Dia…memanggilku apa?
“My Lady,” panggilnya seolah bisa membaca pikiranku.
Mengapa ia memanggilku begitu? Sebetulnya apa yang terjadi di sini. Lelaki ini melepaskan pelukannya, yang harus kuakui tidak terasa hangat sama sekali. Hal ini menyadarkanku bahwa memang apa yang terjadi saat ini sepertinya memang hanya mimpi.
Tiba-tiba saja aku merasa tubuhku tertarik ke atas. Seolah ada yang menarikku. Aku yang kebingungan, mencoba untuk menggapai tanah, namun anehnya tubuhku malah tertarik dengan cepat membuatku meninggalkan lelaki itu yang menatapku dengan mata tajamnya yang memicing.
Saking cepatnya tarikan pada tubuhku, aku sampai tidak bisa melihat apapun, dan tiba-tiba saja semuanya terlihat gelap. Sepertinya mimpiku sudah berakhir. Waktunya bangun, Bianca!
***
Deru napasku sangat memburu. Aku terbangun dengan keringat mengucur deras di tubuhku, belum lagi peluh juga sudah membasahi keningku. Mimpi apa itu? Mengapa aku merasa ketakutan setengah mati? Mengapa tiba-tiba saja tubuhku terhempas seolah itu adalah ruh yang kembali ke tubuhku lagi?
Aku melihat jam di nakasku dan ternyata masih belum masuk ke tengah malam. Tiba-tiba aku terkejut ketika teringat bahwa aku tadi mengikuti seorang lelaki ke depan sebuah mansion mewah dan saat tubuhku terhempas tadi, entah itu hanya hayalanku atau apa, tapi aku melihat lelaki itu berlari mengikutiku sampai kemudian semuanya gelap dan bayangan lelaki itu menghilang.
Lagi-lagi karena rasa penasaran, aku akhirnya memakai jaket tebal untuk keluar dari apartemenku menuju lantai dasar dan keluar dari gedung. Aku hanya ingin memastikan bahwa apa yang kualami benar-benar mimpi dan setelah itu aku akan kembali melanjutkan tidur.
Setelah beberapa menit aku menengok ke kanan dan kiri tetapi tak ada seorangpun yang kukenal, aku akhirnya bernapas lega karena itu berarti, kejadian tadi benar-benar hanya mimpi dan bunga tidurku. Namun, rasa lega ini tak berselang lama setelah aku membalikkan badan dan aku melihat lelaki tadi berdiri di belakangku, dengan pakaian yang sama persis seperti yang ada di dalam mimpiku, sambil tersenyum padaku dengan wajah menawannya.
“K-KAU?!”
“Mengapa terkejut begitu? Bukankah kau keluar untuk memperjelas baumu…,My Lady?”
DEG
Tiba-tiba ketakutan dalam diriku seolah berkumpul menjadi satu. Semua pikiranku tentang yang nyata dan yang tidak tiba-tiba saja tercampur menjadi satu. Jadi, yang tadi bukan mimpi? Bagaimana bisa aku melakukannya? Maksudku, apa yang selama ini kulakukan? Makhluk apa lelaki menawan ini?
Ia membicarakan apa? Bau? Bauku? Ia bisa mencium bauku? Apakah dia memiliki indra penciuman yang tajam dan sensitive? Tapi…aku kan sudah mandi.
Tunggu, bukan itu hal yang harus kupertanyakan lebih dulu. Pertanyaan terbesarnya adalah…apa aku masih manusia ? Apakah selama ini aku manusia?
Aku ini…siapa?