Oh ayolah sadar Bianca! Kenapa aku sampai bisa berpikir kalau aku bukan manusia sih? Ugh, sepertinya aku terlalu banyak menonton film fantasy. Di dunia ini, banyak hal bisa terjadi bukan? Aku sendiri juga sering merasakan dejavu, seolah pernah melakukannya namun aku melakukannya lagi.
Jadi, bisa saja bukan hal ini yang sedang terjadi kepadaku? Aku menatap dengan lekat lelaki yang berada di hadapanku ini. Wajah tampannya masih persis seperti yang ada di mimpiku. Eh tapi tunggu. Kenapa aku bisa mengingat mimpiku dengan jelas ya? Padahal semalam aku tidak minum alkohol atau minum obat tidur agar membantu proses kecepatan tidurku.
"Kau masih pikir ini mimpi?" tanya lelaki itu lagi dengan mata menyelidik.
Dilihat seperti itu, tiba-tiba aku jadi begidik ngeri. Meskipun mempesona, aku bisa merasakan kengerian yang buas dari tatapan matanya. Bulu kudukku bahkan berdiri saking ngerinya. Kenapa orang asing ini tiba-tiba jadi banyak bicara kepadaku? "Aku Yohanes. Anda bisa memanggilku, Yohan."
Lelaki yang mengakui dirinya bernama Yohanes itu, kemudian meraih tanganku. Aku bisa merasakan tangannya sedingin es memegang jemariku yang hangat. Ini kan musim panas! Bahkan orang-orang kebanyakkan memakai singlet saja untuk tidur di malam hari karena hawa panas yang menyengat meskipun malam-malam. Tapi, kenapa tangan pria ini begitu dingin. Lagi dan lagi, persis seperti yang ada di mimpiku. Pelukannya terasa sangat dingin. Seolah tubuhnya tidak bernyawa. Seolah ia bukan manusia.
Karena tidak ada manusia normal yang memiliki suhu sedingin itu, terutama di musim panas bukan? Kalau bicara soal sains, memang ada sih orang yang kemungkinan memiliki suhu tinggi seperti itu jika habis masuk ke ruang pendingin dan dibekukan bertahun-tahun dengan metode ilmiah yang aku lupa namanya. Tapi, itu pun belum pernah ada yang berhasil. Ah aku ini bicara apa sih? Lagi-lagi tidak fokus ke masalah di depanku.
"Suhu tubuhku memang dingin. Dan seperti dugaanmu, My Lady. Aku memang bukan manusia." Lelaki bernama Yohan itu memberikan salam kepadaku setelah mengatakan kalimat yang terdengar begitu konyol.
Aku tertawa dengan gurauannya. Astaga, ternyata orang makin kesini makin lucu ya? Aku pikir tidak ada lelaki yang betah bersamaku terlalu lama. Bahkan Gerald saja merasa was-was tiap kali satu shift bersamaku. Dia bilang setiap berada di sekitarku, ia merasa panas dan juga sadar dosa. Padahal, aku tidak melakukan apa-apa. Lucu kan? Tapi kenapa lelaki ini berbeda? Ia bahkan mengucapkan gurauan kepadaku.
Kenapa kuanggap gurauan? Mohon maaf. Di zaman ini, mana mungkin ada orang yang bukan manusia? Aku bisa melihat kakinya menapak di tanah. Kalau ia hantu, lalu kenapa aku bisa memegang tubuhnya? Meskipun suhu tubuhnya sedingin es, tapi aku masih percaya kalau dia manusia. Lebih mudah percaya kalau dia manusia yang sedang bergurau daripada percaya kalau dia bukan manusia.
"My Lady. Apakah pernyataanku masih belum cukup meyakinkanmu sampai kau terus bertanya-tanya apakah aku bergurau atau tidak?"
Mataku kini membelalak dengan sempurna. Tunggu dulu ya. Bukankah sejak tadi aku terus-terusan berpikir di dalam kepalaku sendiri? Tapi, kenapa Yohanes bisa mendengarnya? Apa aku secara tidak sengaja mengucapkannya ke luar dari pikiranku? Tapi tidak, aku yakin sejak tadi aku hanya terdiam sambil menatap Yohan dengan bingung.
Kupandangi raut wajah Yohanes yang kini tertawa kecil. Apakah dia membaca pikiranku lagi? Hanya dengan raut wajahku? "Benar, aku membaca pikiranmu, My Lady. Menurutku, Anda sangat menggemaskan."
U-Ugh. Sial. Kenapa aku jadi terpesona dengan tutur kata lembutnya barusan? Lagi-lagi Yohanes mencium tanganku dan aku merasakan tangannya yang sedingin es merebak ke indra perasaku. Aku masih tidak ingin percaya. Tapi dengan fakta yang ia suguhkan, dari mulai ia yang betulan muncul dari mimpiku, lalu tangannya yang sedingin es, ia yang mengaku bukan manusia, lalu kemampuannya membaca pikiran. Kalau dia memang manusia, berarti dia punya kekuatan super dong? Tapi mana mungkin ada manusia memiliki kekuatan super di dunia ini?
Ah lagi-lagi aku terlalu banyak nonton film fantasy. Kudengar gelak tawa Yohanes lagi di depanku. "Tapi wajahmu tampan sekali untuk ukuran makhluk yang bukan manusia. Apa kamu hantu?" tanyaku pada akhirnya, mengeluarkan suara emasku.
Mendengar suaraku, Yohanes tersenyum simpul. Seolah sudah lebih yakin lagi dengan aku yang ada di depannya. "Aku mengikuti bau tubuhmu kesini. Saat kehilangan bau tubuhmu di persimpangan, kebetulan kau keluar rumah untuk memperjelas bau tubuhmu. Harusnya kamu tahu makhluk apa aku ini."
Lagi-lagi aku begidik ngeri. Tapi aku berani sumpah. Aku sama sekali tak mengerti dengan apa yang diucapkan Yohan. Dia bisa mencium bau tubuhku dari kejauhan? Apa maksudnya? Apakah mimpi yang aku kira mimpi itu sebetulnya sungguhan terjadi? "Kamu masih pikir kamu manusia biasa juga?" tanya Yohanes lagi yang semakin membuat bulu kudukku merinding dan berdiri.
Apa katanya? Aku bukan manusia biasa? Gila ya? Sejak kecil aku sudah diasuh di panti asuhan kristiani dan dirawat dengan baik oleh para biarawati. Kalau aku bukan manusia dan hantu sepertinya. Harusnya sudah sejak lama aku mati kepanasan tiap kali ada di gereja atau ikut berdoa di gereja dong? Tapi buktinya sampai sekarang aku masih hidup dan sehat. Bicaranya kali ini sangat keterlaluan!
Kalau dia bilang dia bukan manusia, aku masih bisa toleran, karena ia membicarakan dirinya sendiri. Tapi kalau aku? Aku bahkan tidak mengenalnya sama sekali sebelum ini. Bisa-bisanya dia bilang kalau aku bukan manusia.
"Aku bukan hantu," keluh Yohanes saat ini mengerutkan mata di wajah tampannya. Tidak ada lagi senyum keluar dari wajahnya itu, melainkan seringai yang membuat bulu kudukku lagi-lagi merinding. "Kau masih belum bisa menebaknya?" tanyanya lagi, kali ini meskipun ia berbisik, aku bisa mendengar suaranya dari tempatku berada dengan jelas, seolah ia berbisik di depan telingaku.
Karena merasa geli, aku memejamkan mata selama beberapa detik dan saat membuka mata, Yohanes menghilang. Eh? Kemana perginya dia? Bukannya harusnya dia ada di depanku? Harusnya kalaupun dia jalan pergi, aku masih bisa melihat tubuhnya berjalan beberapa langkah menjauh. Apa ini? Kemana dia pergi.
"Mencariku?"
Kali ini suara Yohanes terdengar di belakangku. Aku membalikkan badan untuk melihatnya. Dia benar-benar berada di belakangku. Tunggu, sejak kapan dia sudah berada di belakangku. Aku yang panik dan hanya bisa membelalakkan mata kemudian tambah panik lagi, begitu melihat Yohanes menyeringai, sekarang ini dua taring muncul dari mulutnya. Taring yang terlihat tajam seperti taring kelelawar.
"Sudah kubilang aku bukan manusia. Aku, vampir."
Mendengar ucapannya, aku sudah tak sanggup lagi. Seluruh tubuhku lemas, jadi aku tiba-tiba saja jatuh pingsan. Semuanya gelap, saat aku merasa tubuhku diangkat oleh Yohanes karena wajahnya lah yang terakhir kulihat sebelum aku benar-benar menutup mata.
***
Ah, tubuhku yang terasa sakit saat ini jadi tidak terasa begitu sakit. Aku terbangun sambil menarik tanganku ke atas tinggi-tinggi. Kenapa tidurku nyenyak sekali ya? Aku mimpi apa semalam? Biar aku rangkum dulu. Kalau tidak salah, semalam aku bermimpi kalau aku mulai terbang lagi dan menganggu Choky. Lalu aku pergi ke taman, dan bertemu dengan seorang lelaki. Lelaki itu tiba-tiba memanggilku dan saat terbangun, aku bertemu dengan dia lagi? Eh? Tunggu! Bagaimana aku bisa di atas kasurku saat ini?
Apakah kejadian itu hanya bunga tidurku saja? Apa aku semalam bermimpi di dalam mimpi?
"Tidak, kau tidak bermimpi."
Medengar suara itu, mataku membelalak kaget. Aku terduduk dari posisiku dan menatap ke arah depan, tepatnya, dimana ada kursi yang menghadap ke kasurku. Jadi, sejak tadi lelaki ini berada di sana? Melihatku tertidur dan menungguku bangun sejak semalam?
Aku menatap ke sekelilingku, dan ternyata saat ini sudah pagi. Yohanes berdiri dari kursiku, kemudian memastikan tak ada cahaya mentari masuk ke dalam kamarku saat ini. Ah iya benar juga. Dia kan vampir. Pasti dia takut matahari. Tapi, bukankah harusnya bukan itu yang kucemaskan? Harusnya aku mencemaskan diriku sendiri karena mungkin alasan dia mengikutiku kemari adalah karena ingin menjadikan aku sebagai mangsanya.
Yohanes tertawa lagi saat ini. Ada apa? Dia membaca pikiranku lagi? "Tidak. Aku tidak akan meminum darahmu meskipun aku kehausan. Darahmu sangat sakral untuk kaum kami. Tubuhmu tidak boleh rusak sedikitpun. Jadi, sini biar kucek tubuhmu. Apakah kau benar-benar masih utuh atau tidak."
Yohanes mendekat, dan hampir akan membuka bajuku saat aku langsung mendorongnya menjauh. "Hei! Aku ini perempuan tahu!" omelku dengan marah. Enak sekali dia bilang mau mengecek tubuhku dengan seenak jidat. Kalaupun dia perempuan, tetap saja aku tidak mau. Kan mereka tidak ada hubungannya denganku.
"Tenang saja. Aku sudah sering melihat tubuh wanita. Meskipun tubuhmu mungkin menarik tapi aku tak akan berani melakukannya."
Ugh! Dia bicara apa sih? Wajahku jadi panas mendengar ucapannya. Apakah kamarku belum kunyalakan pendingin ya? Aku menengok ke arah AC tapi aku yakin AC kamarku masih menyala sejak semalam. Tapi kenapa wajahku jadi panas terutama bagian telingaku sih? "K-Kau bicara apa sih? Aku tak mengizinkan siapapun menyentuh tubuhku, sekalipun orang itu adalah presiden!" kataku dengan lantang.
Akhirnya Yohanes mengalah. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas, tidak jadi mengecek tubuhku. "Lagipula aku sudah mengeceknya saat kau tidur."
"Apa?" Aku sontak menyentuh tubuhku sendiri dan menatap Yohanes dengan tidak percaya. Apa yang dia lakukan terhadap gadis suci sepertiku hah? Dia sudah gila ya? Dia bahkan bisa masuk ke kamarku padahal aku tidak memberitahukan password apartemenku kepadanya.
"Aku tidak masuk lewat pintu," ujarnya. Ia menunjuk ke arah jendela kamarku dan mengangguk seolah mengatakan bahwa ia membawaku masuk lewat jendela. Artinya, ia bisa terbang, atau ia melompat tinggi dari bawah ke atas, untuk mencapai apartemenku.
"Benar, aku melompat. Tapi tidak melompat dalam satu lompatan. Aku melompat dari balkon ke balkon."
Aku kemudian menelan salivaku berat. Ternyata, aku bertemu dengan vampir sungguhan. Hal logis apa lagi yang harus aku curahkan untuk berpikir kalau dia bukan manusia?
Aku langsung turun dari kasur, dan membuka tirai jendelaku hingga membuat cahaya matahari masuk seluruhnya ke dalam kamarku, dan menghiasi seluruh isi kamarku, termasuk ke Yohanes. Sekarang aku bisa melihat apakah dia vampir sungguhan atau tidak. Karena dari yang kutahu, vampir tidak bisa bertemu dengan cahaya matahari karena hal tersebut akan membuat tubuhnya terbakar.
Kalau tubuhnya terbakar, berarti dia sungguh-sungguh vampir dan aku senang kalau dia hangus. Tapi kalau tidak, itu berarti dia berbohong dan ini satu-satunya hal logis yang sudah kupikirkan untuk menentang ucapannya. "Ide yang bagus," kata Yohanes yang ternyata sama sekali tidak terbakar di atas kasurku.
Hah? Katanya vampir. Kok tidka terbakar terkena sinar matahari? Bohong nih pasti!
"Kamu terlalu banyak menonton film tentang vampir ya? Kami memang sensitif terhadap cahaya. Tapi cahaya apapun terlebih matahari, tidak membuat kami terbakar dan hangus seperti yang kamu pikir dan perkirakan. Singkatnya, tubuh kami seperti kelelawar, tapi berbentuk manusia. Kami tidak tidur, tidak makan selain darah. Makan bisa, tapi hanya sekedar dikunyah karena tidak ada rasanya. Kami suka alkohol. Meskipun tidak membuat kami mabuk."
Apa-apaan itu. Aku kan tidak bertanya apapun. "Hanya sekedar memberitahu saja," ujar Yohanes lagi.
"Jadi kau betulan vampir?" tanyaku untuk memastikan sekali lagi.
"Haruskah aku menculik salah satu orang di apartemen ini, lalu mengisap darahnya di depan matamu supaya kau percaya kalau aku betulan vampir?" tanya Yohanes dengan beraninya.
Aku ingin sekali mengumpat. Tapi apa daya? Mungkin Yohanes sungguh-sungguh dengan kalimatnya. Kalau dia betulan menculik orang untuk dia isap darahnya bagaimana? Nanti ada kasus dong di apartemenku. "Tapi sebetulnya sejak semalam aku sudah melakukannya sih. Soalnya, kau menganggu waktu makanku bulan ini," kata Yohanes lagi.
Aku refleks mundur saat ia bilang begitu. Aku merogoh leherku. Jangan-jangan yang ia maksud, ia meminum darahku lagi. Kalau iya, mungkin itu alasan kenapa aku tidur sampai pulas.
"Sudah kubilang aku tak akan membiarkan darahmu keluar satu tetes pun dari tubuhmu," ujar Yohanes. "Biar kutebak. Kau juga tidak menstruasi kan seperti wanita lain?"
Aku terbelalak lagi. Bagaimana ia bisa menebaknya? Kejadian ini sudah lama ingin kututupi sendirian. Tiap kali melihat teman seumurku di panti mendapatkan menstruasi pertamanya, aku selalu beringsut iri. Sampai kemudian para biarawati juga bingung kenapa aku tidak kunjung mengalami menstruasi saat aku mulai sekolah SMA. Akhirnya, karena tak mau dibawa ke rumah sakit atau pergi ke klinik untuk memeriksakan diri. Juga tak mau dianggap aneh oleh temanku yang lain. Aku berbohong soal menstruasiku dengan memberi obat merah ke atas pembalut dan mencucinya seolah aku baru saja mendapatkan menstruasi.
Setiap bulan setelah itu, aku selalu berbohong soal hal itu. Maafkan aku Ya Tuhan. Itu adalah kebohongan pertama yang kulakukan selama di panti asuhan. Aku kini merasa bersalah kepada para biarawati. Harusnya aku membiarkan mereka memeriksakan diriku saja. Kalau begitu caranya, aku jadi tahu kan ada apa dengan tubuhku?
"Aku benar kan?" ujar Yohanes sekali lagi.
"Kau tidak membaca pikiranku lagi?"
"Tidak. Dari kau memikirkan soal kebohonganmu, aku sudah berhenti mendengarkan pikiranmu," ujarnya jujur. Oh ternyata kemampuannya itu mendengar toh. Aku pikir membaca pikiran.
"Yohan, b-berarti apakah aku...vampir juga?"
Tiba-tiba aku jadi mual menyadari kalau aku mungkin bagian dari kehidupan Yohanes.