Yohanes tertawa lagi mendengar ucapanku barusan. Kali ini tawanya terbahak-bahak, seolah ia mendengar lelucon terlucu yang pernah ia dengar dari manusia. Eh atau bukan manusia? Sesungguhnya aku ini apa?
"Kau bukan vampir, Oh My Lady," katanya dengan nada yang kembali formal. Mungkin karena ia menyadari kalau aku sedikit tersinggung karena ia tertawa di depanku. "Berarti sekarang kau percaya kalau aku betulan vampir kan?" tanya Yohanes lagi, memastikan apakah aku percaya atau tidak. Well....
"Anggap saja aku percaya kalau kau bukan manusia dan sebenarnya vampir. Lalu, apa yang akan kau buktikan untuk membuatku percaya kalau aku bukan manusia biasa, dan makhluk sepertimu? Dan kau bilang aku memiliki bau semalam? Aku baru saja mandi dan kata orang bauku enak kok, tidak mungkin sampai sebegitunya."
Yohanes menyeringai, ia berjalan mendekat padaku, membuatku refleks mundur dan tanpa sadar, ia sudah mengurungku di dalam kungkungan lengannya. Tangannya menumpu di tembok sedangkan aku terjebak di tengah-tengahnya. "Itu benar. Baumu, enak," bisik Yohanes di telingaku.
Mungkin saat ini telingaku memerah karena begidik geli. Kenapa Yohanes harus berbisik begitu di atas telingaku sih? Ternyata tanggapan bahwa vampir adalah makhluk penggoda itu benar ya? Pantas saja di film-film vampir selalu digambarkan dengan wujud yang sempurna. Tampan dan cantik. Kulitnya seputih s**u, dan tatapannya lugas serta tajam. Keindahan dan kengerian, bercampur jadi satu.
"B-Bau apa?"
"Darahmu, My Lady. Bau darahmu itu membuat makhluk seperti kami mendekat. Kami bisa mengenali baumu yang sangat mulia bagi kami. Berada di dekatmu, membuat nafsu kami memburu. Kau adalah perwujudan dari makhluk itu."
Ini pertama kalinya aku mendengar ada yang berkata begitu kepadaku. Maksudnya apa? Nafsu memburu tiap di dekatku?
Aku langsung teringat dengan ucapan Gerald tiap kali dia ada di dekatku. Ia selalu ingat dosa. Apakah maksudnya karena nafsunya jadi memburu ia jadi ingat dosa? Aku masih tidak mengerti. Apakah itu bisa menjadikan bukti kalau aku bukan manusia? Hal itu masih tidak berlaku apapun menurutku. Nafsu manusia, hanya mereka sendiri yang bisa mengaturnya. Aku bukanlah bagian dari sesuatu yang mengatur hal itu.
"Oh kau masih tidak percaya. Oke. Kalau begitu, aku akan mengatakan hal konkrit lain yang akan membuatmu lebih percaya," katanya lagi. Wajahnya benar-benar dekat dariku. Dari posisiku ini, aku tidak bisa melihat wajahnya, selain bibirnya yang terlihat sangat seksi dan menggoda.
Aku menggelengkan kepala. Astaga Bianca! Bisa-bisanya aku berpikir soal bibir orang lain! "Darahmu aktif ketika umurmu menginjak 18 tahun. Sekarang kamu umur berapa?"
Aku menghitung umurku sendiri. Sekarang umurku 20 tahun. Itu berarti sudah 2 tahun darahku aktif? Darahku aktif apa? Omong-omong, aku juga sudah keluar dari panti asuhan 2 tahun yang lalu. Aku bekerja keras banting tulang untuk bisa menyewa apartemen dan mengumpulkan uang untuk kuliah. Dan akhirnya tahun ini aku bisa kuliah.
"20," jawabku.
"Itu sudah matang. Apa kau tak pernah merasakan hal aneh tiap kali kau berjalan di kegelapan malam?"
Aku memikirkan kalimat Yohanes. Memang beberapa kali aku sering pulang larut malam karena mengajar les tutor dan juga bekerja part time sampai pukul 2 pagi. Saat kembali ke apartemen, setiap melewati lorong gelap, aku selalu merasa ada yang mengikutiku. Tapi setiap aku berbalik, tidak ada siapapun yang berada di belakangku. Bahkan saat aku mengecek dengan kembali lagi ke belakang, aku masih tidak melihat ada siapapun di sana.
Lalu beberapa kali aku selalu dibilang bicara sendirian oleh teman part timerku. Padahal aku tidak pernah merasa aku bicara sendirian. Apakah maksudnya itu? Aku bicara dengan hantu.
"Akhirnya kau mulai menyadarinya ya. Tapi, itu bukan hal konkret yang akan aku bicarakan," kata Yohanes lagi, menjelaskan kalau hal yang barusan aku ingat-ingat, bukanlah yang ia maksud. Jadi, maksudnya, meskipun aku sudah hampir percaya kalau aku bukan manusia biasa ini, dia bilang masih ada hal lain yang akan membuat aku lebih percaya lagi kalau aku memang bukan manusia?
"Sekarang, selama dua tahun ini, apa yang kau lakukan selama tidur?"
Aku mengerutkan dahi. Apa yang kulakukan saat tidur? Ya tidurlah. Apalagi. "Memangnya apa yang dilakukan orang tidur selama tidur? Ya tidur. Paling berguling kanan kiri," jawabku sedikit bingung.
"Kau pikir semua yang kau lihat itu mimpi ya? Saat kau tidur?"
Jantungku seolah berhenti berdetak saat Yohanes bilang hal tersebut. Tunggu, darimana ia tahu kalau aku suka bermimpi? "Contohnya semalam. Apa kau pikir kejadian semalam juga hanya mimpi? Apa kau pikir aku bisa mendeteksi baumu, karena aku berada di dalam mimpimu dan datang kepadamu begitu?"
Yohanes menyeringai. "Tidak My Lady. Kau lah yang mendatangiku. Kau mendatangiku karena kau tahu aku akan menjadi pengikut setiamu. Jadi karena itu, biarkan aku mengurusmu," ujar Yohanes lagi. Ia mencium pipiku, membuat aku merasakan kegelian dari sana. Jantungku berdebar-debar. Apa ini? Kalau aku bukan manusia, seharusnya jantungku tidak berdebar-debar kan?
Lagipula, mungkin alasan kenapa aku begini, karena Yohanes yang terlalu dekat jarak wajahnya dengan wajahku, sudah begitu tanpa izin, dia mencium pipiku begitu saja. Aku yang belum siap, tentu saja terkejut dong? Benar! hal itu wajah Bianca. Jangan merasa dirimu aneh.
"Mendatangi bagaimana sih?" tanyaku mencoba untuk tetap waras meskipun Yohanes sepertinya sengaja menggodaku agar aku tidak fokus.
"Kau melepaskan ruhmu, dan berjalan-jalan di sana. Saat ruhmu pergi, banyak penjagamu yang menjaga tubuhmu karena tubuhmu yang kosong, banyak diincar setan yang berkeliaran. Apakah kau tak merasakannya? Saat kau mencabut ruhmu sendiri dan berkeliaran di sekitar sini?"
Kali ini aku tak bisa berkata apapun lagi. Ini gila. Apa sih yang Yohanes katakan? Jelas-jelas aku hanya bermimpi. Mana mungkin aku melepaskan ruhku dari tubuh? Itu hal yang mustahil. Tunggu, apa benar ya? Soalnya aku jelas ingat semua hal yang aku alami dalam mimpi.
Beberapa saat lalu saat aku bermimpi pergi jalan-jalan keliling komplek, aku bertemu dengan Mrs. Covinsky dengan Choky yang baru kembali dari mini market. Lalu Chocky mengenaliku, otomatis menggogongiku. Aku mengusap kepalanya membuat Chocky merebahkan diri di tanah karena kebiasaannya saat denganku. Lalu saat bangun dan keesokan harinya aku ingin membawa Chocky jalan-jalan, Mrs. Covinsky bercerita kalau semalamnya dia mengalami hal yang persis sama seperti di mimpiku.
Waktu itu aku pikir itu hanya kejadian yang kebetulan sama saja dengan mimpiku. Ternyata, apa yang aku lihat, adalah hal yang benar-benar kualami?
"Argh, sudah jam segini. Sepertinya aku terlalu lama di sini," ucap Yohanes yang langsung melepas kungkungan lengannya terhadap tubuhku. Aku yang sudah bisa bernapas lega, mengikutinya. "Aku harus kembali ke mansion. Bawahanku pasti mencariku semalaman," katanya sambil memakai jaket kulit hitamnya yang ia taruh di kursi yang ia duduki sebelumnya saat pagi tadi menungguku bangun tidur.
"K-Kau mau pergi?" tanyaku, seolah tidak rela. Bukannya tidak rela. Sekarang saat aku sudah menyadari semuanya, banyak pertanyaan mulai bermunculan di benakku. Tapi dia mau pergi? Lalu siapa yang akan menjawab semua pertanyaanku ? Aku bisa mati penasaran kalau pertanyaan dalam benakku tidak langsung terjawab.
"Tenang saja. Aku akan kembali. Aku tak akan membiarkanmu menungguku terlalu lama." Yohanes mengedipkan sebelah mata padaku.
Ah sial. Kedipan matanya membuat jantungku seolah baru saja ditembak dengan panah. Kenapa aku bisa terpesona dengan Yohanes yang jelas-jelas sudah kuketahui sebagai vampir? Tapi, Yohanes belum bilang aku ini makhluk apa? Kenapa ia bilang akan menjadi pengikutku? Kenapa? Kenapa semua ini terjadi padaku?
"Aku akan segera kembali. Selamat tinggal My Lady," katanya berayun di jendela. Saat ia menyelesaikan kalimatnya. Aku melihatnya terjun bebas dari jendela, membuat aku melotot dan langsung berlari ke jendela untuk menyelamatkannya. Namun saat aku melihat ke jendela, Yohanes sudah berada di lantai bawah, dengan tubuh yang baik- baik saja. Bahkan ia langsung berjalan santai ke jalan besar seolah tak ada yang terjadi saat ia lompat dari lantai 7 apartemenku barusan.
Aku membalikkan badan dan mendorong diriku ke tembok dengan terkejut. Itu, betulan terjadi di depan mataku. Yohanes bukan manusia. Dia vampir. Aku, juga bukan manusia biasa. Aku ini apa?
***
"Hei, kau melamun ya?" Aku terkejut mendengar suara Gerald yang tiba-tiba berada di belakangku. Sejak kapan aku melamun ya? Aku melihat es batu yang sudah bertumpuk penuh di keranjang yang aku bawa, saat ini sudah ada beberapa yang jatuh berceceran di atas lantai.
Ini pasti karena semalam dan tadi pagi kedatangan Yohanes ke rumahku. Apapun kerjaan yang kukerjakan, tiba-tiba jadi kacau karena aku yang terlalu sering melamun. "Kau ada masalah?" tanya Gerald yang ikut membantu aku membersihkan lantai karena es mulai mencair begitu mengenai lantai.
"Hanya sedikit kepikiran sesuatu," jawabku merasa bersalah. Padahal pasti ruang depan sangat ramai karena antrian pesanan. Tapi Gerald sampai harus mendatangi aku karena butuh es batu ya.
"Tidak usah terlalu dipikirkan. Sekarang fokus saja bekerja ya?" katanya dengan nada lembut. Aku mengangguk. Sedikit merasa terkesima karena tidak biasanya Gerald mau berlama-lama mengobrol denganku. Paling banyak ia menyuruhku sesuatu lalu pergi begitu saja. Ini mungkin kali pertama Gerald mau berada di lingkungan sempit dan hanya berdua denganku juga mengajakku mengobrol banyak.
"Cepat bawakan es nya ke depan," kata Gerald lagi sambil tersenyum. Aku mengangguk. Gerald pergi lebih dulu dari ruang pendingin, sedangkan aku mengurangi es batu yang terlalu penuh di keranjang es yang aku bawa. Setelah itu, aku kembali ke depan, dimana Gerald saat ini sedang sangat sibuk mengetik pesanan dari orang-orang yang membeli minuman di restoran tempat kami bekerja.
"Maaf, dan terima kasih sudah membantuku tadi, Gerald," ucapku saat menaruh es batu di tempatnya. Gerald menatapku dengan alis berkerut dan bingung.
"Membantu apa? Kau tidak lihat sekarang ini banyak customer di depan? Cepat buatkan pesanannya," kata Gerald sambil memberikan beberapa kertas pesanan ke arahku.
Aku membelalakkan mata lagi dengan terkejut. Tunggu dulu tunggu. Yang tadi itu, bukan Gerald? Lalu...siapa?
Bulu kudukku meremang dan berdiri. Aku memejamkan mata. Jangan-jangan, seperti yang Yohanes bilang. Mereka yang tak kasat mata, sekarang ini sudah tidak lagi bersembunyi untuk menampakkan dirinya padaku?
Aku bisa gila!