Detektif Huang sedang memeriksa keadaan rumah dan juga halaman. Dia juga menghampiri tetangga untuk menanyakan beberapa hal.
Sementara di dalam rumah, Yifei tengah menanyai Jason.
"Apa kau mengenal Nona Yang Feiyang?" tanya Yifei setelah beberapa saat.
"Hubunganmu tidak baik dengannya bukan?"
"Ada apa ini? Apa Feiyang membuat masalah lagi dan sekarang ia membuat pengaduan pada polisi?" sergah Jason. Tatapan matanya tampak mengejek Yifei.
"Jadi benar kalian memang memiliki masalah?"
"Tentu saja. Siapa yang tahan dengan perempuan paranoid sepertinya? Beritahu dia sebaiknya jangan mencari masalah dengan berbohong lagi."
"Aku tidak akan bisa memberitahunya, tapi apa maksudmu dengan dia berbohong?"
Jason mendengus keras sambil tertawa.
"Hubungan kami tidak berjalan baik. Dia selalu melukai dirinya sendiri saat aku mengatakan akan mengakhiri hubungan. Jadi kuberitahu dia bahwa sekarang aku mencintai Liuye, dia pasti berbuat hal aneh lagi hingga melibatkan kalian untuk datang ke sini. Entah tindakan nekat apa yang dilakukannya, tapi aku sudah muak."
"Kau mencampakkan Feiyang karena menjalin hubungan dengannya?"
"Benar. Mana tahan aku menjalin hubungan terus dengannya?"
"Kau pasti merasa sangat kesal padanya hingga membunuh dia."
Tawa di wajah Jason lenyap, bahkan gadis bernama Liuye di sampingnya membeliakkan mata tidak percaya.
"A-pa ... apa maksudmu? Apa yang terjadi pada Feiyang?" tanya gadis itu dengan suara bergetar.
"Jadi kau juga mengenalnya? Benar, Feiyang sudah meninggal."
Liuye terlihat tidak percaya. Ia membekap mulutnya menahan tangis sambil jatuh terduduk di lantai.
"I-ni tidak mungkin. Feiyang tidak mungkin meninggal," ucapnya sambil terisak.
Jason segera bertindak untuk membantu gadis itu berdiri, tetapi Liuye justru menepis kasar tangan pemuda itu.
"Ini semua gara-gara kamu. Kalau saja kamu tidak terus mendekati dan merayuku, hal ini tidak akan terjadi. Aku tidak akan kehilangan sahabatku. Feiyang mungkin merasa sangat tertekan karena ditinggal olehmu sehingga bertindak nekat!"
Jason hanya diam. Yifei bergegas menghampiri dan membantu gadis itu berdiri.
"Jadi kau adalah sahabatnya?" tanya Yifei sekali lagi pada Liuye. Dalam hati, Yifei tidak ingin percaya, ternyata orang terdekat bahkan bisa menyakiti kita. Persahabatan Feiyang dan Liuye luluh-lantak hanya karena seorang pria seperti Jason.
"Itu benar," jawab Liuye sambil mengangguk.
"Seharusnya aku tidak melakukan ini. Sahabat macam apa aku bahkan saat Feiyang tertekan, aku malah ...."
Gadis itu melirik tajam ke arah Jason kemudian membuang pandangan ke arah lain.
"Hei, kau menyalahkan aku? Apa kau lupa bahwa kita memang saling tertarik satu sama lain?" tegur Jason sambil bergegas menghampiri.
"Jika kita bisa menahan diri dan tidak mengabaikan Feiyang, dia tidak akan mengakhiri hidupnya!"
"Gadis itu memang sudah gila sejak awal. Semua yang terjadi bukan kesalahan kita!"
Tamparan keras melayang di pipi Jason meninggalkan bilur merah di sana. Pemuda itu tidak terima, ia hendak memukul balik Liuye yang masih emosi. Yifei segera menengahi kedua orang tersebut.
"Entah drama apa yang sedang kalian mainkan, tapi Feiyang meninggal bukan karena bunuh diri."
Keduanya diam tertegun mendengar ucapan Yifei.
"Feiyang meninggal karena dibunuh."
Yifei kemudian menoleh kepada Jason.
"Kami sedang melakukan penyelidikan dan kau adalah tersangka utama. Kelihatannya kau juga memiliki motif kuat untuk menghabisi Feiyang."
"A-ku ... aku tidak melakukannya," ucap Jason dengan suara lemah. Ia tampak ketakutan.
"Aku memang merasa kesal padanya, tapi aku tidak membunuh dia."
"Lalu apa yang kaulakukan pada jam sebelas semalam?"
"Aku ... aku bersama dia," jawab Jason sambil menunjuk Liuye.
"Apa benar seperti itu?" tanya Yifei sambil mengalihkan tatapan pada Liuye. Gadis itu hanya mengangguk dalam diam. Jason terlihat lega.
Yifei hanya bisa menahan kesabaran melihat mereka. Bukankah keterlaluan, setelah mengkhianati orang yang dicintai, bahkan pengkhianat itu tidak terluka? Ternyata benar, orang terdekatmu bisa jadi adalah orang yang melukai hatimu.
"Mungkin dia adalah pelakunya," ucap Jason tiba-tiba.
"Apa maksudmu?" tanya Yifei kembali fokus dengan tugasnya sebagai detektif.
"Liuye pernah mengatakan bahwa ada orang yang menguntitnya. Orang tersebut bahkan mengambil fotonya tanpa ijin. Saat itu, aku tidak percaya dan menyangka dia hanya berbohong untuk menarik perhatian atau berhalusinasi, tapi sekarang kurasa orang itu benar-benar ada."
"Liuye juga pernah menceritakan tentang itu padaku," timpal Liuye.
"Tapi aku juga tidak percaya padanya. Saat ia bilang akan melapor pada polisi, aku justru melarang. Aku juga merasa dia berbohong saat itu. Kebohongannya pasti akan terbongkar jika ia melapor pada polisi."
'Pembunuh itu ternyata telah mengintai korbannya beberapa hari sebelumnya. Kasus ini mungkin memang pembunuhan berantai,' gumam Yifei dalam hati.
***
"Foto?" tanya detektif Huang sambil menoleh sekilas pada Yifei.
"Maksudmu pembunuh itu menguntit dan mengambil foto dari korbannya?"
Yifei mengangguk pelan. Detektif Huang memukul kemudi dengan kesal.
"Seharusnya mereka melaporkannya. Jika mereka melakukannya, pembunuh itu sekarang mungkin sudah meringkuk di penjara dan nyawa gadis itu tidak akan melayang."
"Mereka tidak menanggapi serius ucapan Feiyang, karena menyangka gadis itu berbohong seperti sebelumnya."
"Tetap saja, mereka benar-benar keterlaluan. Mengkhianati orang terdekat mereka sendiri."
Yifei mengangguk.
"Pengkhianatan orang terdekat memang paling menyakitkan. Karena itu, sebaiknya kita jangan terlalu mudah percaya dengan orang," ucapnya.
Detektif Huang diam sejenak.
"Kalau begitu, kita harus mencari orang yang suka mengambil foto diam-diam. Ini tidak akan mudah. Begitu banyak orang yang memiliki kamera."
"Bagaimana hasil forensik?"
Detektif Huang menggeleng.
"Tidak ada. Seperti sebelumnya, menurut detektif Cheng, ahli forensik juga menduga pembunuh adalah orang yang sama seperti sebelumnya karena kesamaan pada kedua kasus ini."
"Jika demikian, maka kita harus bertindak cepat, karena mungkin pelaku sekarang sudah mengincar korban selanjutnya."
***
Abadi. Benar, semua orang yang berada di dalam foto tersebut adalah abadi. Itu adalah penampilan terbaik. Tawa mereka tidak akan hilang. Wajah mereka akan tetap sama meski waktu berlalu dan mereka tidak lagi ada.
Leo tersenyum dan kembali menjepit foto yang baru saja dia cetak.
"Alangkah bagusnya jika keabadian bisa dipertahankan," ucapnya sambil menatap foto tersebut. Ia kemudian menatap hasil foto-fotonya selama ini, sebagian dari mereka memang telah berada dalam keabadian.
Ia kemudian meraih dan menatap foto Yifei.
"Kuharap kita segera bertemu. Aku sudah tidak sabar lagi, tapi aku yakin kau sedang berada di jalan untuk menemukanku. Setelah itu, kita lihat saja apa kau bisa mengalahkanku."
Leo tersenyum sombong dan menggantung kembali foto gadis itu. Ia kemudian bergegas keluar dari ruangan tersebut.