Gadis itu berlari dengan napas terengah. Ia terseok dan terjatuh. Sambil meringis menahan sakit, ia berusaha untuk bangkit berdiri, tetapi sosok berjubah hitam muncul tepat di belakangnya. Melingkarkan tali string di lehernya. Sang gadis berusaha berniat melawan untuk bertahan hidup, tetapi tangannya tidak bisa digerakkan.
'Apa yang terjadi padaku? Mengapa seperti lumpuh? Aku ingin hidup!' seru gadis tersebut dalam hati.
'Mungkin rasa takut telah membuatku lumpuh.'
"Jangan berusaha melawan. Percuma saja. Sudah takdirmu untuk menyerahkan nyawamu padaku," bisik orang di belakangnya tersebut.
Sang gadis akhirnya pasrah saat kegelapan menyelimuti dirinya dan membawa dia menuju keabadian.
***
Yifei diam terpekur. Netranya tidak lepas dari sosok yang terbujur kaku di hadapannya. Tangan dan kaki gadis tersebut diikat dengan pita merah. Detektif Huang berjalan menghampiri sambil menggeleng. Ini adalah korban ketiga dan mereka kembali tidak menemukan petunjuk apa pun.
"Kita harus mencari tahu apakah ada orang yang menguntit dia," ucap Yifei pelan. Detektif Huang hanya mengangguk. Saat ini hanya sosok yang mengambil foto menjadi satu-satunya tersangka. Masalahnya mereka tidak tahu siapa orang tersebut.
"Ini adalah kasus pembunuhan berantai, tetapi kita bahkan tidak mendapatkan apa pun yang membuat kita semakin dekat pada pelakunya," desah Yifei pelan.
Detektif Huang hanya mengangguk. Ia juga mencemaskan hal yang sama. Kini keamanan orang-orang semakin terancam.
"Mungkin kita harus memberlakukan jam malam," ucap Yifei.
"Aku akan mengusulkan hal itu pada Pak Han. Jika beliau setuju, maka kita harus segera membuat pengumuman."
Yifei hanya mengangguk. Cara ini mungkin tidak terlalu efektif, tetapi ia juga tidak punya solusi lain.
***
Pak Han menggeleng saat detektif Huang mengutarakan usulnya.
"Tidak bisa. Ini sama dengan mengakui ketidakmampuan kita."
"Tapi kita tidak punya pilihan jika tidak mungkin banyak lagi yang menjadi korban. Kita harus menjaga keamanan orang-orang sebelum pembunuh itu tertangkap."
Pak Han duduk merenung.
"Ini hanya masalah waktu. Kita butuh waktu untuk menangkap pembunuh itu, tapi sebelum dia tertangkap, dia adalah ancaman untuk orang lain," desak detektif Huang lagi. Akhirnya Pak Han mengangguk setuju.
"Baiklah, lakukan saja rencanamu itu."
***
Setelah pengumuman melalui konferensi pers, orang-orang bersikap waspada. Banyak orang tua yang melarang anak gadisnya beraktivitas di luar rumah pada malam hari. Keamanan juga ditingkatkan dengan penambahan jumlah personil polisi yang berjaga di setiap sudut kota. Meski begitu, pembunuhan tetap saja terjadi. Yifei merasa frustasi saat mayat seorang gadis dengan tangan dan kaki diikat pita merah kembali ditemukan. Seperti sebelumnya, kali ini tidak ada jejak apa pun dari sang pembunuh.
Yifei dan yang lain akhirnya kembali ke kantor. Tidak dinyana ternyata terjadi kericuhan beberapa saat setelah mereka tiba.
"Aku tidak terima. Dia seenaknya saja mengambil fotoku!" teriak seorang gadis sambil menunjuk pria muda di sampingnya yang tidak lain adalah Leo.
Leo menggeleng sambil tersenyum.
"Nona, sudah kukatakan berapa kali, aku tidak mengambil fotomu. Kalau tidak percaya, silakan saja periksa kameraku."
Perempuan berambut lurus tersebut hendak meraih kamera, tetapi petugas mengambil kamera itu lebih dulu. Sementara Yifei dan yang lain mendekat karena merasa tertarik. Kasus pembunuhan yang mereka tangani berkaitan dengan foto dan kini ada kasus yang mirip.
Petugas mengembalikan kamera tersebut kepada Leo.
"Tidak ada apa-apa di dalamnya. Hanya foto biasa saja," ucapnya pada gadis yang mengadukan Leo.
"Baiklah, kurasa ini salah-paham, aku minta maaf," ucap gadis itu akhirnya. Ia kemudian bangkit berdiri dan bergegas pergi.
Leo juga berniat pergi, tetapi tiba-tiba terdengar suara memanggilnya saat ia sampai di ambang pintu.
***
'Apa yang kulakukan? Kenapa aku memanggil dia?' gumam Yifei dalam hati. Yang lain menatap heran.
"Ada apa? Bukankah dia tidak bersalah? Apa kamu curiga padanya?" tanya detektif Huang dengan suara setengah berbisik.
"Tidak, hanya saja ada yang kutanyakan padanya. Mungkin bisa membantu kasus kita."
Leo bergegas menghampiri. Yifei kemudian mengajak pria itu untuk duduk. Keduanya kemudian duduk saling berhadapan dengan dibatasi meja berbentuk pesergi.
"Ada apa, Detektif? Kurasa kasusku sudah selesai," ujarnya.
"Kenapa kau suka memotret?"
"Apa?"
Yifei berdehem sejenak.
"Aku tahu ini mungkin terdengar aneh, tapi aku ingin tahu tentang alasanmu suka mengambil foto."
Leo tersenyum tipis.
"Karena menangkap hal yang asli."
"Maksudmu?"
Yifei melipat tangan. Tatapannya masih bertumpu pada pria di hadapannya. Sosok memikat yang tidak ayal menimbulkan desir halus di hatinya.
'Ada apa juga denganku? Ini bukan saatnya untuk tertarik dengan pria ini!' tegurnya pada diri sendiri. Sementara Leo masih memasang senyum memikat di wajahnya.
"Maksudku adalah sebuah foto menangkap hal yang nyata dari sesuatu yang tidak mungkin terulang. Waktu bisa berlalu dan semua mungkin berubah, tetapi momen yang terabadikan di dalam sebuah foto akan tetap sama."
Jawaban Leo hanya membuat Yifei mengangguk. Leo kemudian mengeluarkan kartu namanya.
"Namaku Luo Yunxi, jika penjelasanku masih belum jelas, kau bisa datang ke sana. Kebetulan aku mengadakan pameran foto di hari Jumat besok."
Yifei segera menerima kartu nama itu. Leo masih tetap menatap gadis detektif itu sambil tersenyum. Yifei merasa semakin salah tingkah. Akan tetapi, ia berusaha mengendalikan diri dan menerima kartu nama itu.
"Apakah aku diperbolehkan pergi?" tanya Leo dengan senyum yang tetap sama. Yifei hanya mengangguk. Pria itu segera bergegas. Ia menuju ke pintu keluar, tetapi sampai ambang, ia berhenti dan menoleh kembali kepada Yifei yang masih menatapnya.
Raut wajah gadis itu menjadi semerah tomat, apalagi saat Leo kembali tersenyum padanya. Yifei yang jantungnya berdegup keras segera menyembunyikan diri di balik tumpukan laporan. Salah satu laporan bahkan dibukanya meski ia tidak membaca isinya.
Yifei terlonjak dari duduknya karena terkejut saat seseorang mengetuk mejanya.
"Hei, sadarlah, dia sudah pergi. Lagipula mana bisa kau bersikap tersipu-sipu begitu pada seorang tersangka?" tegur orang tersebut yang tidak lain adalah detektif Huang.
"Dia bukan tersangka. Bukankah dia terbukti tidak bersalah?" sahut Yifei sambil mengangkat wajahnya.
"Apa kau lupa tersangka kasus 'Pita Merah' adalah seorang yang hobi memotret? Jika demikian, ia termasuk salah satunya."
"Kalau begitu kau bisa memasukkan banyak orang sebagai tersangkanya," sahut Yifei sambil bergegas bangkit berdiri. Ia berjalan menjauh.
"Hei, jangan marah, aku hanya mengingatkanmu!" seru detektif Huang, tetapi Yifei terus saja berjalan tanpa menoleh.
"Dasar gadis itu. Aku 'kan hanya menasehati dia," keluh lelaki itu kemudian.
***
"Ini menyenangkan. Aku sudah bertemu denganmu," ujar Leo sambil menatap foto Yifei. Ia duduk sambil tetap memegang foto yang berada di tangannya tersebut.
"Kita pasti akan menikmati permainan ini," ujarnya sambil menyeringai.