Suasana malam itu cukup lengang. Sementara Yifei dengan cepat melajukan mobilnya menembus jalan. Tiba di tujuan, ia bergegas keluar setelah memarkir mobilnya. Sejenak bertanya-tanya apa yang sedang dilakukannya saat ini? Mengapa ia datang ke tempat ini?
Di tempat tersebut, berjajar beberapa mobil mewah. Yifei kemudian memperhatikan penampilannya yang kusut-masai. Ia bahkan tidak berganti pakaian karena langsung ke tempat tersebut setelah bekerja.
'Ini benar-benar memalukan, sebaiknya aku pergi saja," ucap gadis itu dalam hati sambil menggenggam kartu nama di tangannya erat-erat.
Yifei hendak kembali ke mobilnya saat seseorang memanggilnya. Ia menoleh dan melihat Leo berjalan ke arahnya dengan cepat.
"Kau sudah datang, kenapa mau pergi? Ayo masuk dulu. Ada yang ingin kutunjukkan padamu," ujar pria itu lagi.
"A-ku ... sebenarnya aku ...."
"Ayo!" ajak Leo sambil meraih tangan gadis itu dan menggandeng masuk ke tempat pameran. Yifei tidak bisa menolak. Ia menurut saja.
Di dalam, Leo menemani Yifei melihat foto-foto yang berukuran besar tergantung di dinding. Foto pantai, pegunungan, tumbuhan, bahkan bunga dan buah terpajang di sana. Yifei tidak pernah mengagumi sebuah foto. Akan tetapi semua gambar yang diambil Leo menurut dia sangat indah.
"Leo?" ucapnya sambil mendekat dan mengamati nama yang tertera pada salah satu foto.
"Itu adalah nama populerku sebagai fotografer," ujar Leo yang berdiri di sampingnya.
"kurasa itu lebih muda diingat."
Jantung Yifei kembali berdesir saat Leo kemudian tersenyum padanya. Seseorang mendekat dan berkata hendak membeli lukisan Leo. Pria itu kemudian pamit kepada Yifei yang kembali mengalihkan perhatian pada foto lembah berpelangi di hadapannya.
***
Leo membuka botol minuman dan memberikan pada Yifei. Mereka sedang duduk di bangku taman yang berada tidak jauh dari tempat pameran. Acara tersebut sendiri sudah berakhir. Yifei cukup takjub ternyata banyak orang yang membeli foto milik Leo.
"Aku senang kamu datang. Tadinya aku mengira kamu tidak akan datang. Acara ini pasti akan membosankan," ucap Leo tiba-tiba. Yifei yang sedang minum langsung terbatuk berulangkali.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya pria di sampingya itu sambil menepuk punggung Yifei.
"Jangan tergesa-gesa kalau sedang minum."
Yifei hanya mengangguk. Ia kemudian mengajukan pertanyaan untuk mengalihkan perhatian.
"Jadi kau sangat menyukai fotografi?"
Leo mengangguk.
"Benar, semua hal yang menjadi obyek akan tertangkap jelas melalui kamera."
Yifei mengangguk. Apakah hal ini juga yang dirasakan pembunuh itu? Menghentikan waktu agar keindahan yang tertangkap kamera tidak hilang seiring waktu?
"Kau menanyakan hal ini. Apa karena juga tertarik pada fotografi?" tanya Leo sambil menoleh menatap gadis itu.
"Tidak. Aku hanya penasaran saja."
Kali ini ganti Leo yang mengangguk. Yifei kemudian pamit karena malam semakin larut.
"Jika bukan membahas foto, masih bisakah kita bertemu?" tanya Leo tiba-tiba. Yifei yang sudah berjalan agak jauh berhenti melangkah. Berbalik dan mengangguk. Keduanya kemudian sama-sama tersenyum.
***
Wajah Yifei berbinar cerah saat sebuah pesan masuk ke ponselnya keesokan hari. Ia bergegas keluar dari kantor. Hari sudah menjelang sore, suasana di tempat itu juga tidak terlalu.
Lidah Yifei tercekat kelu. Netranya menatap tidak percaya saat Leo berjalan ke arahnya. Setelan putih dengan jaket hitam panjang dan celana panjang berwarna senada membuat pria itu semakin tampan. Beberapa gadis yang kebetulan lewat di sana juga berhenti sejenak dan terpaku melihat Leo. Akan tetapi, tatapan cowok itu hanya tertuju pada sosok Yifei yang sedang berdiri di halaman kantor tersebut.
Rona merah menjalar di wajah Yifei saat melihat Leo tengah melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum. Desir di jantungnya terasa seolah makin bertalu.
'Pria ini, apa tidak sadar bahwa ia begitu memikat?' ucapnya dalam hati.
Leo berjalan semakin dekat. Ia lalu menyodorkan kotak makanan yang dibawanya pada Yifei.
"Meski hanya makanan restoran, kau harus memakannya agar tetap sehat. Kau begitu kurus pasti selama ini makanmu tidak teratur. Mulai sekarang, aku yang akan mengurusmu," ucap Leo.
Yifei tertegun sejenak.
"Kau ini bicara apa?" ucapnya tidak lama kemudian dengan suara berbisik.
"Aku akan bertanggung jawab menjagamu," jawab Leo sambil mengacak pelan rambut gadis itu. Para gadis yang tadi terpaku melihat hanya bisa mendesah kecewa sambil melanjutkan perjalanan mereka. Pria yang begitu tampan itu ternyata sudah punya kekasih. Kelihatannya meski kekasihnya biasa saja, ia begitu mencintai wanita itu. Begitulah yang bergaung di benak mereka.
"Kau ini benar-benar membuatku malu," ucap Yifei. Akan tetapi, Leo hanya tersenyum sambil meraih tangannya. Menggandeng gadis itu menuju taman yang berada tidak jauh dari sana.
"Sekarang kau makan dengan tenang. Aku akan menjagamu," ucap Leo setelah mereka duduk di bangku.
Yifei hanya mengangguk. Ia segera membuka kotak makanan yang dibawanya. Saat melihat isinya, Yifei tercengang. Isinya adalah beberapa makanan mahal yang dijual di restoran mahal. Yifei sendiri bukan tidak pernah memakan makanan itu, tetapi rasanya aneh saja seorang pria yang baru dikenalnya membelikan makanan yang begitu mahal.
"Makanlah, makanan ini sangat lezat. Aku sudah pernah memakannya," ucap Leo lagi.
Yifei masih tetap diam. Pandangannya beralih pada sosok pria di sampingnya itu.
"Ada apa? Apa kau curiga padaku?"
"Bukan begitu, hanya saja, kita baru saling mengenal. Kenapa memberikan makanan mahal untukku?" tutur Yifei dengan hati-hati. Ia takut Leo akan marah dan tersinggung. Mengira dirinya menolak makanan pemberiannya. Akan tetapi, Leo justru kembali tersenyum.
"Karena aku merasa tertarik padamu," jawabnya.
Yifei tertegun mendengar jawaban yang tidak terduga tersebut. Dalam hati, ia tidak ingin percaya, apa benar Leo tertarik padanya? Gadis itu selalu merasa dirinya bukan sosok yang bisa dengan mudah menarik perhatian kaum adam. Gayanya yang biasa saja bahkan cenderung berantakan tentu bukan daya tarik untuk para lelaki.
Ingatan Yifei melayang ke masa saat dia masih remaja. Sebagai gadis yang hanya tinggal dengan sang ayah, ia cenderung tomboy, apalagi ayahnya yang juga seorang komandan polisi mendidik dengan keras. Melatih fisik putri semata wayangnya agar tidak mengalami nasib seperti sang ibu yang meninggal di tangan perampok. Hal itu pula yang mendorong Yifei memutuskan menjadi seorang polisi.
Saat itu, dia masih begitu muda. Tertarik dan jatuh cinta pada seorang pemuda yang tidak lain adalah teman sekolahnya. Akan tetapi, pemuda tersebut lebih menyukai sahabat Yifei yang anggun dan feminim.
"Aku butuh kekasih, bukan bodyguard," ucap pemuda itu saat Yifei menanyakan alasan dia memilih sang sahabat. Mendengar jawaban tersebut, Yifei patah hati. Akan tetapi, hal itu tidak mengubah jati diri dan keinginannya, ia tetap bertekad menjadi seorang polisi. Akhirnya setelah berusaha keras, mimpi itu tercapai. Dan kini ia telah menjadi detektif yang disegani, sedang sang ayah masih menjadi kepala polisi di kota berbeda.
***
Yifei terkesiap saat Leo menjentikkan jarinya.
"Kenapa malah diam saja?" ujar pria itu sambil mengambil makanan dengan sumpit dan menyodorkannya di depan gadis itu.
"Apa aku tidak boleh menyukaimu?" lanjut Leo sambil menatap lekat Yifei.