Sekitar pukul setengah tujuh malam, Wijaya pergi ke rumah sakit bersama ibunya. Mereka naik taksi, sebab Wijaya tidak bisa konsentrasi dalam mengendarai mobil. Menahan rasa mulas saja rasanya susah. Mereka telah sampai di rumah sakit terdekat. Mereka melangkahkan kaki ke sebuah ruangan IGD agar segera mendapatkan tindakan.
“Maaf, Mas, sebelumnya makan apa?” tanya seorang dokter yang sedang melakukan pemeriksaan terhadap Wijaya.
“Makan seblak, Dok.”
“Apa ada riwayat penyakit sebelumnya?”
“Saya ada maag, Dok. Apa berpengaruh?” tanya Wijaya masih memegang perutnya.
“Kamu tahu, kalau ada maag, lalu kenapa memaksa makanan pedas?” tanyanya memberikan sebuah obat agar dikonsumsi. “Apa sebagai pelampiasan rasa stress?” sambungnya sembari kembali duduk di bangku yang tidak jauh dari tempat tid